
Shabina baru saja akan keluar dari ruang kerjanya ketika mendengar ponselnya berbunyi. Ia merogoh tasnya mencari-cari ponsel itu, tadi saat beres-beres mau pulang ia langsung saja memasukkan ponselnya asal. Begitu melihat nama penelfon di layar, ia langsung menggeser tombol hijau.
“Halo, Assalamu’alaikum ...”
“Wa’alaikumsalam … Na?”
“Ya”
“Kamu dimana?”
“Baru mau keluar kantor …”
“Oh ya? Ini masih di kantor?”
“Iya, kamu udah nyampe?”
“Maksudnya?”
“Iya, tadi kan kamu di jalan waktu aku telfon … ini udah nyampe ke tempat tujuan?”
“Oh … udah, udah kok …”
“Terus ini sekarang kamu dimana?”
Hening sesaat.
“Tadi kamu nelfon aku kenapa Na?”
“Mhm, tadi cuma mau nanya kapan kamu pindahan, tapi aku udah tanya Claire …”
“Cuma itu?”
“Aku juga tanya di mana tempat tinggal kamu selama di Bandung sama Claire …”
Hening sesaat.
“Yan?”
“Hm?”
“Gak papa kan aku tanya dimana kamu tinggal? Waktu itu kamu belum bilang dimana, dan aku pikir mungkin aku bisa bantu waktu kamu pindahan …”
“Jadi kamu udah bikin keputusan?”
“Maksudnya?”
“Keputusan tentang kita, jadi kamu udah tahu pengin apa? berarti gak usah tunggu sampai bulan depan? Langsung nikah aja nih kita???”
“Yan! apaan sih ... aku kan gak bilang apa-apa!”
“Tapi dari kata-kata dan pertanyaan kamu kayaknya aku udah tau kamu mau bilang apa”
Shabina mendengus kesal.
“Mulai deh …”
“So?”
“Apanya?”
“Yes?”
“Ya belum lah Yan! belum lagi seminggu dari kita bikin keputusan itu …”
“Jangan terlalu lama mikirnya … “
“Iya … “
Hening.
“Kamu kayaknya sibuk banget ya di kantor?”
“Kenapa? Kok tiba-tiba tanya gitu?”
Hening lagi.
“Kenapa …? Kecarian aku ya …?”
Shabina tidak menjawab. Ah, bodoh! Bodoh!. Kenapa juga ia harus menanyakan pertanyaan yang menyiratkan itu! Argh, kadang mulutnya susah diajak kerja sama, meluncurkan kalimat tanpa persetujuannya dulu.
“Iya, Na?”
“Mm-Hm?”
“Mm-Hm …? Apa tuh maksudnya?”
“Ah, udah ah … aku jadi telat keluar kantor gara-gara kamu. Udah y-“
“Tunggu dulu, Na!” potong Cillian
Shabina menunggu Cillian berbicara.
“Sorry beberapa hari ini aku gak berkabar, iya, sibuk banget di kantor karena mau pindahan.” Cillian memberi jeda beberapa detik, sebelum melanjutkan perkataannya.
“Kalau kamu kecarian aku, aku di Bandung kok …”
“Apa?!” ucap Shabina spontan.
“Ini lagi di rumah kamu … nge-teh sama nenek …”
“Hah?!”
∞
Shabina menatap pemandangan di depannya tak percaya, Cillian benar-benar di rumahnya, sedang minum teh dengan nenek, Shelby, dan Claire?!. Yang benar saja, berarti Claire tadi berbohong padanya. Lalu ia melihat seorang laki-laki asing, sepertinya teman Cillian, pikir Shabina.
Mereka sedang minum teh sore dengan santai di ruang tengah, ditemani beberapa penganan khas bandung.
“Assalamu’alaikum …” ucap Shabina memberi salam, yang dijawab serempak oleh mereka berlima.
Shabina melempar pandangan ke arah Cillian -yang dibalas dengan senyum tak berdosa.
“Kok gak ngabarin dulu mau ke Bandung Yan …?” tanya Shabina sambil berjalan mendekati sofa ruang tengah tempat mereka berkumpul.
“Kebetulan ada meeting sama klien siang tadi … memang gak direncanain awalnya kok. Terus Claire merengek minta diangkut”
“Iya memang gak direncanain, tapi gak ngabarin karena mau kasi surprise ke Kak Na tuh …” celetuk Claire.
“Terus kamu ikut-ikutan, iya ...?” celetuk Shelby.
“Ya gimana … kasian banget Mas Ian, sampe wanti-wanti aku supaya gak keceplosan. Katanya mau tau kak Na kangen gak sama dia …”
Cillian hanya terkekeh pelan mendengar pengakuan adiknya, tanpa berusaha mengelak ataupun mengatakan bahwa itu tidak benar.
Wajah Shabina terasa panas, sudah lama rasanya pipinya tidak terasa panas. Gawat, sebentar lagi bisa-bisa pipinya memerah karena menahan malu.
“Hah?” ucap Shabina masi memegangi pipinya.
“Jadi, kangen atau nggaaak?” goda Claire.
Shabina tak menjawab, memilih memelototi Shelby dan Claire, pipinya masih terasa panas. Ia melihat sekilas ke arah Cillian, bagus, ia sedang tersenyum kecil sambil menyeruput tehnya. Shabina jamin, sekarang pipinya benar-benar memerah.
Seakan menyadari perasaan Shabina, nenek tiba-tiba bersuara -setelah cukup menikmati pertunjukan di depannya. “Na … sini duduk dulu …” ucap nenek tersenyum, sambil menepuk sofa di samping kanannya.
“Oh Na, ini teman kantorku … Ray, dia bareng sama aku pindah ke kantor Bandung. Ray, ini Shabina” ucap Cillian.
Shabina mengangguk sambil tersenyum ke arah Ray, yang dibalas anggukan juga senyum yang sama oleh Ray.
“Jadi, kamu juga interior designer?” tanya Shabina ke Ray.
“Iya, gue bareng masuknya sama Cillian” jawab Ray sopan sambil mengangguk.
Shabina mengangguk paham.
Shelby bangkit dari sofa, “Kak mau teh kan? bentar aku ambilin ya”
“Oh boleh, tolong ya … thanks El” ucap Shabina.
Hening sesaat, lalu Shabina kembali membuka suara.
“Jadi kapan pindahannya?” tanya Shabina sambil menoleh ke arah Cillian.
“Besok, sebagian barang-barang kecil udah aku bawa di mobil, tapi beberapa barang lagi dikirim besok dari Jakarta”
“Ray juga tinggal satu apartemen sama kamu?” tanya Shabina lagi.
“Iya, tapi beda unit … masih sebelahan sih” jawab Cillian yang diiyakan Ray dengan anggukan. “Selesai ini rencananya mau langsung ke sana …”
“Oh, udah bisa ditempatin? Malam ini nginap di sana?” tanya Shabina lagi, sambil meraih cangkir teh yang disodorkan Shelby.
“Udah, sebenarnya perabot di sana udah lumayan lengkap” jawab Cillian sambil tersenyum.
“Baguslah kalau begitu, tidak perlu beli banyak perabot lagi ya …” kata nenek.
“Iya nek, Alhamdulillah …” balas Cillian.
“Eh iya, berarti Mas Ray sebaya dengan Mas Cillian?” tanya Shelby yang sudah berkumpul bersama mereka kembali.
“Iya, kami sebaya … makanya bisa nyambung begini, ya kan Yan?” ucap Ray sambil melirik ke arah Cillian.
Cillian hanya mengangkat bahu sambil memiringkan kepala sedikit, tidak menjawab.
“Mereka tuh solmet kak El, solmettt” celetuk Claire.
Mereka terkekeh melihat ekspresi Claire ketika mengucapkan kata ‘Solmet’ sambil menautkan kedua tangannya.
“Haha … oh gitu, Mas Ray orang mana? Jawa juga?” tanya Shelby lagi.
“Iya, sekampung sama Cillian, di Malang … hehe” balas Ray sambil mengangguk.
“Claire? Kamu nginap di sini aja malam ini …” ucap Shabina sambil menoleh ke arah Claire.
“Rencananya memang gitu kok Kak Na, hehe …”
Shabina mengangguk sambil tersenyum ke arah Claire. “Kapan mulai pindahan ke kos baru?”
“Masuk kuliahnya mulai kapan?” potong Shelby bertanya.
“Masuknya ntar dua minggu lagi, jadi mungkin aku bakal pindahan weekend seminggu sebelum masuk …”
“Nanti kabari kami, biar dibantu pindahannya …” ucap Shabina pada Claire, yang dijawab dengan anggukan cepat dan senyum lebar.
Cillian dan Ray sudah siap-siap untuk berangkat ke Apartemen. Lalu Shabina berkata pada Cillian di depan pintu rumah, ketika yang lain sudah menuju ke taman depan.
“Yan, besok kabari kalau mau beres-beres apartemennya, biar kami ikut bantu” ucap Shabina. Shabina awalnya ragu ingin menawari bantuan untuk pindahan Cillian besok, karena itu Apartemen laki-laki, tapi karena besok ada Claire juga Shelby, ya sudah.
Tanpa ia sadari sepertinya ia sangat peduli dengan laki-laki di depannya, sampai menawari bantuan. Apa ia berpikir untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan lelaki ini?
Cillian tak langsung menjawab. Ia hanya menatap perempuan di depannya sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah taman.
“Oke …” ucap Cillian sambil tersenyum. “Buatin aku meat pie ya” sambungnya lagi.
Shabina mengernyitkan dahinya sesaat, lalu tersenyum. “Baiklah” ucapnya mengiyakan.
∞
Shabina baru saja menyiapkan bahan-bahan untuk membuat meat pie lalu memasukkannya ke dalam kulkas, supaya besok tidak terlalu repot. Ia berencana membuat tiga meat pie, dua untuk dibawa besok saat ke apartemen Cillian, satu lagi untuk cemilan mereka di rumah. Sebenarnya meat pie ini kesukaan Shelby, tapi Shabina sudah jarang membuatkannya karena sibuk bekerja.
Selesai dari dapur, Shabina mematikan beberapa lampu yang tidak diperlukan, hanya meninggalkan lampu di dekat dapur agar tetap hidup -cukup untuk menerangi seisi rumah. Ia kembali ke kamarnya, membersihkan muka, lalu bersiap untuk tidur.
Hari ini ia bertemu Cillian kembali, yang tanpa kabar selama empat hari belakangan. Apa iya dia merindukan sosok lelaki itu?
Shabina memiringkan badannya, berbaring menghadap sisi kanannya.
Dia memang sudah mengakui pada diri sendiri, bahwa ia memang tertarik dengan lelaki itu. Mungkin ia juga harus mengakui pada dirinya sendiri, kalau ia memang sedikit merindukan lelaki itu sebelum mereka bertemu hari ini.
Hhhh. Shabina melengos dalam hati. Memejamkan matanya, memutuskan untuk beristirahat.
🌵🌵🌵🌵🌵
here we gooo... two picts of mouth watering meat pie by Shabina 😆😋
gimana gimanaaa... bikin ngiler gaaa???
penampakan setelah di potong ... (pssst, ini slice buat Cillian di ch berikutnya 😶)
🌵🌵🌵🌵🌵
Terimakasih yang sudah setia membaca lika liku hubungan Shabina dan Cillian sampai chapter 16. You ... the readers, means a lot to me 😙
aku tunggu komen serta masukan yang membangun untuk tulisanku ...
Jangan lupa tinggalin jejak kalian yaa...
Kalau kalian suka, please hit ❤ button (I appreciate it sooo much💃)
Simpan sebagai favorite supaya kalian terus update ceritanya Shabina dan Cillian 🤗
pssst, kira2 kalau aku bikin chapter khusus pengenalan karakter kalian bakal suka ngga? aku tunggu feedbacknya ya 🙆♀️💃💃💃
Looove, your not so cute author 🙈
Reeva