Bloom

Bloom
Chapter 11



“Ayo diminum dulu tehnya …” ucap nenek


Mereka sekarang sedang duduk di gazebo yang ada di taman depan rumah Shabina.


Setelah makan siang tadi, mereka mengelilingi mall sebentar, permintaan Claire. Setelah itu mereka pulang. Sesampai di rumah Shabina, Cillian dan Claire disuruh nenek masuk dan dipaksa untuk nge-teh dulu. Yang tentu saja diiyakan Cillian. Tidak mungkin ia sia-siakan kesempatan mulia ini. Kesempatan mengambil hati nenek.


“Mas Cillian mulai minggu depan dipindahin kantor ke Bandung Nek …” ucap Shelby. “Eh salah … maksudnya minta dipindah … “sambungnya lagi dengan nada jahil.


Shabina hanya menggeleng mendengar perkataan adiknya.


“Oh, ya ?” balas nenek sambil menoleh ke Cillian.


“Iya Nek, saya minta pindah … beberapa proyek baru di Bandung perlu pengawasan ketat, kantor cabang sini juga perlu orang dari pusat ..." jawab Cillian tenang sambil tersenyum. Ia tidak berbohong, memang itu alasan ia meminta dipindahkan ke kantor cabang, yeah, setengah alasannya, setengah lagi karena ingin bisa lebih dekat dengan Shabina.


“Alhamdulillah … berarti bisa sering main ke rumah ya … “ ucap nenek.


“Insya Allah Nek … dengan senang hati” jawab Cillian tersenyum lalu menoleh ke arah Shabina.


Shabina melengos pasrah. Rasanya semua ini akan berjalan sesuai skenario Cillian.


Shelby dan Claire saling bertukar pandang kemudian terkekeh pelan.


Sore itu Cillian benar-benar memanfaatkan kesempatannya, dengan sebaik-baiknya. Obrolannya dengan nenek berjalan lebih mulus dibanding obrolan dirinya dengan Shabina. Mulai dari membicarakan saluran TV kesukaan nenek -yang ternyata juga saluran favoritnya, yang membuat Shabina awalny curiga, karena itu saluran memasak, tapi ternyata ia hafal semua nama presenter program memasak itu. Sampai dengan membicarakan jenis tanaman hias. Ya, tidak mengherankan, karena profesinya, Cillian kurang lebih tahu mengenai tanaman hias, terutama yang diletakkan di dalam ruangan.


“Kalian nginap saja …” ucap nenek pada Cillian.


Shabina dan Shelby saling melempar pandang.


“Sudah sore sekali … besok juga hari minggu kan … atau kalian sudah ada acara besok ?” tanya nenek


“Besok saya nggak ada acara Nek … Claire juga” jawab Cillian setelah melihat gelengan Claire. Walaupun tanpa menoleh ke arah Claire pun, ia tahu adik perempuannya itu pasti tidak punya agenda besok, Claire itu anak rumahan.


“Yasudah … menginap saja, bahaya juga menyetir jauh kalau malam …” kata nenek lagi.


Cillian menoleh ke arah Shabina dan menatap perempuan itu seolah meminta persetujuan. Shabina menoleh ke arah Cillian karena merasa seperti sedang ditatap, lalu mengangguk pelan menandakan tidak masalah kalau memang mereka mau menginap.


“Di belakang ada kamar tamu, Cillian bisa tidur di sana … adiknya, aduh nenek lupa … siapa tadi namanya nak?” tanya nenek


“Claire, Nek …” jawab Claire sambil tersenyum lebar.


Claire tampak sangat tertarik dengan tawaran nenek, lalu menoleh ke arah Cillian, menunggu tanggapan masnya itu. Bukan tidak beralasan ia kegirangan dengan tawaran nenek tadi, ia sangat menginginkan punya saudara perempuan yang bisa diajak curhat semalaman, tapi apa daya -ia anak perempuan satu-satunya dalam keluarga.


“Kalau memang diizinkan dan tidak merepotkan … boleh Nek” ucap Cillian sambil tersenyum.


Nenek tersenyum, “Tidak, tidak merepotkan sama sekali. Baiklah … jangan lupa telfon orang tua kalian, bilang kalau kalian disuruh nenek menginap …”


Cillian mengangguk lalu mengambil ponsel dari sakunya untuk mengabari orang tua mereka.


“Ayo, kita masuk ke dalam … sudah mau maghrib. Shelby, kamu cek kamar tamu dulu ya … sudah lama juga tidak dipakai, kan. Ganti dengan sprei baru ya … “


“Iya Nek …” balas Shelby mengiyakan nenek.


Shabina menyusun cangkir-cangkir teh ke atas nampan dan mengangkatnya. Shelby, Claire dan nenek sudah duluan masuk ke dalam. Langkahnya terhenti karena Cillian menghampirinya. Tapi tidak berkata apa-apa.


Shabina mengernyitkan dahinya melihat Cillian hanya berdiri diam menatap Shabina dengan nampan penuh cangkir.


“Kenapa? Udah kabari om dan tante?” Tanya Shabina


“Udah” jawab Cillian sambil mengambil nampan tadi dari tangan Shabina, “Kamu gak papa?”


“Apanya?”


“Aku nginap”


“Ya gapapa … nenek kayaknya juga bakal khawatir kalau kalian di jalan malam-malam …”


“Kamu pakai kerudung kan nanti?”


Shabina memelototi laki-laki itu tak percaya, ingin rasanya ia menoyor kepala lelaki itu. “Ya iyalah!” jawabnya sedikit berteriak kesal.


Shabina berjalan kesal masuk ke dalam rumah, meninggalkan Cillian yang tersenyum geli melihat reaksi Shabina sambil tetap memegangi nampan teh.


Cillian benar-benar ketagihan dengan reaksi Shabina yang menurutnya sangat menggemaskan. Andai saja ia tidak sadar kalau dirinya akan berumur tiga puluh dalam beberapa bulan lagi, dia pasti masih berdiri dengan senyum konyolnya di taman depan rumah Shabina.