Bloom

Bloom
Chapter 03



Sepertinya ia harus banyak berolahraga, pikir Shabina. Ini hari minggu dan jadwalnya untuk beres-beres rumah, mulai dari mengepel seluruh rumah, menggosok kamar mandi, mencuci dan mengganti seprei, mengelap jendela yang dengan ajaib dalam seminggu saja debunya sudah seperti tidak dibersihkan sebulan!, yah, itu resiko punya rumah di daerah padat lalu lalang kendaraan bermotor. Bukan itu saja, minggu ini juga ia berencana membereskan gudang belakang yang sepertinya terakhir kali dibereskan tahun lalu.


Tentu saja harusnya minggu ini adiknya ikut membantu kalau saja ia tidak dipanggil ke kantornya tiba-tiba, urgent katanya, padahal ini hari minggu. Yah, tapi mau bilang apa, Shelby masih terhitung baru disana, anak baru harus nurut dong.


Belum lagi setengah dari pekerjaan rumahnya selesai, badannya sudah pegal-pegal bukan main. Beberapa bulan terakhir ia memang sangat jarang olahraga, bahkan sekedar workout di rumah pun ia kadang malas, imbasnya, sekarang asal mengerjakan sesuatu yang agak berat sebentar saja energinya sangat cepat terkuras dan tentu saja cepat merasa lelah.


Shabina merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu, rencananya sebentar saja. Ia melihat jam di dinding, pukul 11.00. Matanya tiba-tiba berat dan angin semilir dari pintu belakang rumah benar-benar menggodanya untuk memejamkan mata. Ia menyerah, ia akan memejamkan matanya sebentar- mungkin sekitar lima belas menit, pikirnya. Setelah itu ia akan kembali ke pekerjaan rumahnya yang masih seabrek itu.


Nikmat sekali tidur setelah capek membersihkan rumah, batinnya, walau pekerjaannya belum benar-benar selesai.


Kaus oblong berwarna abu-abu kebesarannya yang digunakan setiap ia membereskan rumah sudah basah dengan keringat. Kalau nenek tau ia tidur seperti ini sudah barang tentu kena omel dan buru-buru disuruh ganti baju sambil mengancam, “kalau nanti masuk angin jangan minta nenek gosok minyak angin ke badan kamu Na!” kadang beberapa kali ia bakalan membangkang, karena ia suka saat neneknya menggosok minyak angin ke seluruh tubuhnya yang sudah tentu dengan pembukaan ala nenek terlebih dahulu- omelan maksudnya. Walau masuk angin benar-benar membuatnya menderita, tapi sebanding dengan perasaan dimanja oleh neneknya.


Samar-samar ia mendengar dering telfon, suaranya tidak asing. Itu terdengar seperti nada dering panggilan masuk ponselnya. Sekejap kemudian ia membuka matanya, mengerjap-ngerjap beberapa kali, sekarang rumahnya terasa agak gelap, dilihatnya jam di dinding, pukul 13.00.


Ya tuhan, dia kebablasan sampai 2 jam, batinnya. Shabina mengikat rambutnya, bangun dari sofa dengan nafas panjang, kemudian berjalan menuju jendela depan. Mendung. Dan sekarang ia teringat jemurannya yang baru dijemur pukul 9 pagi tadi. Semoga sudah kering, batinnya, tadi siang cukup terik, semoga saja.


Ia berlari kecil menuju patio di belakang rumah, mengangkat kain-kainnya yang sudah kering, beberapa masih ada yang lembab dan ia berniat membiarkannya di jemuran. Tapi sejurus kemudian ia mengurungkan niatnya karena gerimis mulai turun dan sepertinya bakal menjadi hujan deras.


Sudah pukul 15.00, hujan masih deras dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Shabina sudah mandi dan mengganti baju, sekarang ia berencana menyeduh teh untuk menghangatkan badannya.


Hujan benar-benar membuat mood bersih-bersihnya menguap. Ia menuju kamarnya untuk mengambil ponsel, baru saja ia ingin mengecek ponselnya, sedetik kemudian ada panggilan masuk dari Anne yang membuatnya terperanjat. Tentu saja itu membuatnya kaget, karena Anne memasang profil dengan gambar joker, ya, benar, tokoh psikopat musuh bebuyutan Bruce Wayne a.k.a Batman.


Ia tahu Anne memang konyol kadang nyaris aneh alias nyeleneh, tapi ia tidak menyangka Anne akan tetap begitu setelah punya anak.


“Assalamu’alaikum…. hey apa-apaan foto profilmu itu Anne” ucap Shabina mendengus sebal.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah… HAHAHA, cakep kan? kamu dimana Na?” balas Anne.


“Seleramu memang aneh… tapi syukurlah realitamu gak kayak begitu. Aku di rumah nih, kenapa?” shabina bilang begitu karena memang Anne menikah dengan laki-laki yang normal, maksudnya tidak seperti selera aneh Anne, yang kadang ia pun heran kenapa mereka bisa menikah. Mungkin itu yang namanya jodoh.


Shabina mendengar Anne tertawa setelah mendengar ucapannya, seakan mengiayakan perkataan Shabina.


“Hey, aku telfon kamu beberapa kali dari tadi siang … kamu di rumah ngapain aja sampai gak ngecek-ngecek hp begitu” sahut Anne.


Ah iya, tadi siang ia memang mendengar suara dering ponselnya, in fact, ia terbangun karena nada dering ponselnya tapi kemudian ia lupa karena takut jemurannya kehujanan. Ternyata itu Anne.


“Oh aku dari pagi beres-beres rumah, terus istirahat sebentar ... eh ternyata kebablasan sampai dua jam, haha. Tadi siang kayaknya aku dengar hp-ku bunyi tapi terus aku lupa karena sibuk angkat jemuran ... ternyata itu kamu Anne, Sori haha” balas Shabina.


Ada jeda sebentar sebelum Anne membuka suara, “kamu sendirian? Nenek dan Shelby gak dirumah?” tanyanya, dari suaranya Anne terdengar khawatir.


“Hmm, iya ... nenek hari ini ke rumah om Todi, Shelby di suruh ke kantor tiba-tiba tadi pagi ...” jawab Shabina.


Hening sebentar. Lalu Shabina bersuara “its okay Anne, Im okay….”


“Na, kamu tahu… kalau kamu mau aku bisa nemenin kamu di rumah. Atau kalau kamu kesepian … maksudku, kalau kamu mau kerumahku juga its okay, paling tidak ada yang ngebantu aku jagain Aryan hahaha…” sahut Anne di seberang telfon.


Shabina tahu temannya itu khawatir padanya, setelah Ibunya meninggal Shabina seringkali termenung, dan Anne beberapa kali mengatakan padanya untuk tidak sendirian di rumah kalau itu membuat Shabina kesepian dan sedih.


“Yah … hari ini harusnya Shelby di rumah bantuin aku beres-beres rumah, skenarionya aku gak bakalan di rumah sendirian haha. Thanks Anne, tapi aku ok kok … tenang, nanti kapan-kapan aku main ke rumah ya ... rindu juga nih sama Aryan” kata Shabina


“Okay … kamu tahu kamu bisa mengandalkan aku kan Na …” balas Anne degan suara yang terdengar sangat tulus.


“Yeah … I know” Shabina sadar ia bisa mengandalkan Anne, bukan urusan bisnis saja, tapi juga perasannya. Setelah Ibunya, mungkin Anne yang paling mengerti dirinya. Semoga saja Anne tidak muak selalu menjadi “tong sampah” tempat Shabina meluahkan seluruh ceritanya.


“Jadi … kamu mau ngomong apa tadi sampai nelfon aku beberapa kali?” tanya Shabina.


“Ah iya, hampir aja aku lupa … kamu pasti belum buka group NUTS ’12 kan?” tanya Anne balik.


NUTS ’12 adalah group angkatan mereka, maksudnya Nutritionist angkatan 2012. Tapi hey, NUTS benar-benar mewakili orang-orang di dalamnya, kebanyakan mereka freak, terutama masalah makanan, yap, makanan. Ya, tentu saja yang memberi nama group itu yang paling “nuts”, siapa lagi kalau bukan Anne.


“Emma mau nikah” ucap Anne dari seberang telfon.


Shabina mencoba mengingat wajah Emma teman se-angkatannya, karena karyawannya ada yang bernama Emma juga, dan yang tergambar pertama kali di kepalanya setelah perkataan Anne adalah Emma karyawannya.


Shabina mengakui, ia memang susah mengingat wajah orang, apalagi yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu- walaupun dulu waktu kuliah mungkin pernah jadi teman dekatnya.


Dan ya, ia baru mengingat jelas wajah Emma, Emma pernah beberapa kali sekelompok dengannya dan Anne ketika tugas kuliah dulu. Mereka memang dulu sering belajar bersama. Dan sekarang ia merasa bersalah karena melupakan wajah Emma.


“Emma yang dulu sering sekelompok dengan kita waktu kuliah ?” tanya Shabina lagi.


“Iya, Emma yang itu … Emma Hasibuan” balas Anne.


Ah iya, Emma Hasibuan. Satu-satunya yang bermarga di angkatan mereka. Sekarang ingatan Shabina tentang Emma mulai berdatangan silih berganti di kepalanya.


“Kita diundang ? Kapan acaranya ?” tanya Shabina lagi.


“Haha … iya kita diundang Na, satu angkatan diundang kok. Acaranya hari sabtu besok, di Jakarta” balas Anne. Sekarang suara Aryan, anaknya Anne mulai jadi background sound, memanggil-manggil mamanya dengan bahasa bayi.


“Apa? Jakarta? Serius Anne?” ucap Shabina setengah memekik.


Ketika mendengar acaranya hari sabtu, Shabina sudah agak semangat karena itu bukan hari minggu, yang berarti hari sakralnya untuk istirahat terselamatkan, tapi ternyata itu di Jakarta. Come on.


“Iya Na, Jakarta ... rumah ortunya Emma, kan di Jakarta Na” balas Anne.


Ah iya, Emma penduduk Ibu Kota. Ia baru ingat.


“Sebenarnya sabtu besok mas Alan ada kerjaan ke Bogor Na, kalau nggak ya dia bisa ikutan kita” kata Anne.


Shabina berpikir, Jakarta lumayan juga, pulang dari sana kakinya bisa gempor.


“Gimana? Kamu bisa bawa mobil? Nanti gantian deh … waktu pulang aku yang nyetir” sekarang Anne mulai tawar-menawar dengannya.


“Okedeh, aku bisa. Kamu bawa Aryan?” tanya Shabina lagi.


“Rencananya aku bawa, mas Alan juga suruh bawa aja … soalnya ntar kayaknya bakalan lama kan kita, mau ditinggal lama di rumah neneknya takut rewel …” jawab Anne.


“Oke sip, no problem … jangan lupa bawa baby car seat-nya Anne, soalnya ... aku gapunya” Shabina mengingatkan. Mencoba melucu dengan nada datar.


“Haha ... iya, iya sip” balas Anne mengiyakan. “Oke, nanti aku telfon lagi ya … Aryan mulai ngulah nih … Assalamu’alaikum”


“Ya … wa’alaikum salam …” jawab Shabina, lalu menutup telfonnya.


Sekarang teman angkatannya yang belum menikah bisa dihitung jari, termasuk dirinya. Shabina memang tidak terlalu memikirkan pernikahan, tapi ia juga muak kalau ditanyai terus kapan rencana untuk menikah, dan sudah barang tentu pertanyaan itu akan muncul di acara Emma nanti. Selama ini ia selalu masa bodoh dan pasang muka santai, karena dia memang santai tentang pernikahan. Tapi sabtu besok, ia tidak tahu apa bisa sesantai dulu.


Apa sebenarnya, ternyata, di dasar hatinya yang paling dalam, ia menginginkan pernikahan?.


Shabina memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya, cukup keras, sampai-sampai setelah itu ia merasa kepalanya pusing.


Gila. Gila kau Shabina. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Sekarang ia berbicara pada dirinya sendiri tentang dirinya. You don’t really mean it, you just feel lonely, katanya lagi pada dirinya. Hah! Lonely? Apa barusan itu? Apa kata-kata itu tadi yang keluar dari mulutnya? Sekarang ia merasa konyol dengan fikirannya sendiri.


Ia melengos, berharap dengan begitu benaknya tidak seenaknya saja berbicara atau meracuni fikirannya dengan ide pernikahan. Tapi percuma.


***


Terimakasih sudah mampir sampai di chapter 03 ❤🙆‍♀️


Support kalian adalah penyemangat 💃