
2 Minggu berlalu...
Dor! Dor!
Suara pistol itu menggema di ruang sesi pelatihan yang juga merupakan tes untuk menilai kemampuan tiap peserta pelatihan.
"Mikaela Edgee..." Lagi-lagi nama itu disebutkan.
Tujuh pelatih itu melihat dari lantai satu, dibalik kaca. Sosok yang tampak begitu ringan bergerak, menembak monster virtual yang dibuat sedemikian rupa oleh pemerintah pusat menjadi target layaknya parasit.
Dia seperti menari di hadapan para penonton. Bedanya, wajahnya tampak begitu serius, nyaris tidak sedikitpun berkedip. Dia berada dalam keadaan yang serius. Bisa saja menembak siapapun karena dia dalam keadaan yang sangat mengerikan. Dengan kata lain, dia dalam leadaan kesal. Sayangnya tidak ada Eliza yang dapat menenangkanya. Tidak ada obat.
"Berikan satu pistol lagi kepadanya," pinta Pelatih Gin tehadap pengontrol ruangan virtual.
Sebuah pistol tejatuh dari atas kepala Mikaela. Hebatnya, tanpa melihat dia bisa menangkapnya. Langsung saja dia gunakan. Bisa memegang dua pistol sekaligus merupakan skill yang luar biasa. Mikaela juga tidak memboroskan satupun pelurunya. Semuanya digunakan dengan sangat baik.
"Tambahkan level kesulitanya," ujar pelatih Edanol tampak begitu takjub.
Dia penasaran sampai mana kemampuan luar biasa pemilik gerakan selembut angin itu.
Ini sudah berada di level 26, level tertinggi yang tidak bisa disusul oleh peringkat ke-2 darinya, Angelo, yang masih berada di level 11.
"Empat level lagi," ujar Pelatih Hwan tidak bisa berkomentar lagi, "Dia benar-benar akan lulus jauh lebih cepat dari yang kita duga."
Tidak ada yang mengaku bahwa mereka pernah mecoba pelatihan ini dan hanya mampu berada di level 23 tiap orangnya. Lalu, bagaimana dengan Mikaela? Dia terlalu hebat.
"Setelah ditanamkan Virus Extherotopia, dia langsung berkembang sejauh ini. Benar-benar perkembangan yang sangat mengesankan," puji Oran.
Benar, itulah jawabanya, alasan kenapa Mikaela berada dalam keseriusan tingkat tinggi. Bukan. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Ada hal lain yang membuatnya...merasa 'Marah.' Mungkin itu salah satunya juga.
***
"Hei, hei. Katanya Mikaela masih peringkat pertama, ya?"
"Iya. Aku dengar dia akan lulus cepat. Dia katanya hebat sekali."
Terdengar gosipan-gosipan yang janggal di siswi SMU Bamas yang putrinya. Mikaeal, siapa?
Beberapa orang sudah curiga. Mikaela kita, kah? SMANSA merasa jarang sekali ada anak cowok bernama Mikaela yang secara kebetulan Mikaela mereka ada disana.
Masih belum pulang, bahkan memberi kabar saja tidak ada. Anak itu masih hidup atau tidak? Banyak yang mengkhawatirkanya.
Dia satu kamar dengan siapa? Pasti dengan laki-laki. Tidak, bagaimana jika anak perempuan itu diapa-apakan walaupun dia mirip laki-laki sekalipun. Bisa gawat.
Eliza selalu berlatih menembak. Setiap saat membuat teman-temanya tidak bisa menghiburnya yang memilih menyendiri tanpa Mikaela.
Gadis betambut perak itu sesungguhnya galau berat. Dia sudah 2 minggu lamanya menunggu temanya itu datang. Nyatanya Mikaela tidak akan datang hingga 1 minggu kedepan.
Mikaela tidak akan diantar selama 1 bulan lamanya.
Sayangnya Eliza tidak tahu akan hal itu. Jadi, dia selalu menantikanya, sosok Mikaela yang dia dirindukan. Padahal, dalam batin.
Sungguh, aku akan menghajarnya.
Eliza selalu memikirkan itu disetiap saat sehingga tidak ada pikiran lain yang memenuhi otaknya. Termasuk pikiran betapa tambah bencinya dia terhadap sifat polos Sisi.
"Aku akan memilih patihan pedang sebab Mikaela pernah bilang dia suka melihatku menari pakai pedang sewaktu aku menari daerah di acara...bla-bla-bla."
Tidak ada yang menyangka gadis itu akan semenyebalkan itu dimata Eliza yang mengaku kesal kenapa Mikaela harus memujinya dan kenapa dia harus mendengarkan alasan Sisi itu yang menjadi alasan utamanya memilih menjadi pasukan garis depan.
Yang tambah menjengkelkan bagi Eliza itu Sisi masuk ke dalam Divisi Kelas 1 yang merupakan Divisi Kelas Elit yang akan yang menjadi Divisi unggulan.
Sedangkan dirinya dimasukan ke dalam Divisi Kelas 3, ya itu memang kemauanya sendiri, tapi dia sedang menjengkelkan Sisi, gadis itu lagi-lagi memberi alasan menyebalkan yang membawa-bawa nama Mikaela lagi.
"Aku dengar Mikaela masuk ke Divisi Kelas 1, makanya aku akan berusaha keras untuknya."
Hei, Mikaela siapa yang dia maksud? Setahu Eliza, Mikaela-nya sudah berjanji kepadanya untuk tidak terlihat mencolok. Artinya, Mikaela yang dirumorkan sebagai Penembak Peringkat Pertama di asrama laki-laki bukanlah Mikaela yang dia kenal.
Mikaela yang dia tahu akan memilih pelatihan pedang, itupun dia tidak akan tampak mencolok seperti permintaanya sendiri.
"Dia lulus!"
Keringat kemenangan. Tubuhnya sudah lumayan atletis, bahkan dia sudah dianggap sebagai laki-laki karena betapa datarnya dadanya. Banyak yang melupakan anak laki-laki tampan itu adalah perempuan.
"Mikaela Edgee lulus sebagai Pasukan Divisi Kelas 1 yang sudah siap turun ke lapangan. Sekarang semua peserta akan memanggilnya senior. Dia akan meninggalkan asramanya dan memiliki kamar khusus sendiri di gedung utama."
Apa hanya itu hadiahnya? Lalu, apa maksudnya pasukan yang siap turun ke lapangan?
Sudah aku duga pelatihan ini bukan pelatihan biasa.
Mikaela keluar dari ruangan, kemudia menarik handuk dari tempatnya sevara malas. Dia tahu ada orang lain yang menunggu giliran disitu, dia pura-pura tidak melihat dan duduk, meletakan handuk didepan wajahnya.
"Hebat, senior. Aku kagum denganmu," ujar anak laki-laki yang memiliki lesung pipi yang duduk diseberang.
Mikaela sama sekali tidak menyahut. Apa dia kelelahan? Tidak. Dia hanya tidak mau meladeninya.
Angelo, si peringkat ke-2 yang jauh dibawah darinya. Tapi, dia adalah peringkat pertama dalam gelar Pemegang Pedang Peringakat Pertama di asrama putra.
"Katanya kalau lulus nanti setiap pasangan harus satu penembak dan satu pemegang pedang, bolehkah aku menjadi pasanganmu?"
Angelo adalah siswa dari SMU Bamas, dia pasti belum tahu Mikaela adalah anak perempuan.
"Tergantung," Mikaela menjawab.
Hanya itu, Angelo tahu apa maksudnya. Dia cukup senang mendengar harapan dingin dari orang yang paling dia kagumi itu.
"Aku akan cepat lulus dan menjadi pasanganmu."
Anak itu pergi, giliranya sudah tiba. Mikaela sama sekali tidak menghiraukan. Dia tidak ingin berkerja dengan siapapun. Hanya seorang diri sudah mampu baginya untuk menyelesaikan semua.
Kebanyakan orang dimatanya kelihatan menyebalkan akhir-akhir ini. Makanya moodnya sangat mudah rusak.
Apel sore pun dilaksanakan. Mikaela mendapatkan seragam baru yang didominasi oleh warna putih dengan list merah, dan beberapa pin penghargaan di dada kananya. Dibelakangnya juga duberi jubah yang seiras dengan segam barunya dengan sedikit bulu hewan pada kerah jubahnya. Topi resmi juga terletak rapi diatas kepala, meghalangi poni-poni halusnya yang tampak mengganggu.
Daripada terlihat seperti peserta spesial yang lulus lebih cepat, Mikaela lebih tampak seperti peserta yang diangkat sebagai raja.
Mata dinginya tampak menatap lurus kedepan, melihat gelap pada apapun yang ada didepan. Sosoknya mengagumkan sekaligus menjatuhkan harga diri para laki-laki yang sebenarnya. Dia itu perempuan, bagaimana dia bisa terlihat sangat mirip seperli laki-laki sekarang?
Hais, ini terlalu berlebihan.
Entah apa yang sudah terjadi padanya, Mikaela sama sekali tidak tersenyum seperti teman-temanya lihat biasanya. Mungkin karena pelatihan keras yang terjadi di Divisi Kelas 1 membuat gadis itu tampak begitu dingin, malahan terlihat begitu berbahaya. Ada juga yang mengatakan gadis itu berdarah dingin. Pada saat Divisi Kelas 1 berlatih di gunung selama 3 hari, Mikaela dikabarkan bisa membunuh apapun yang ada didepanya yang sudah membuatnya kesal.
Tidak ada yang bilang seluruh peserta sudah ditanami Virus Extherotopia disetiap hari pada makanan mereka, tahu tidak tahu kemampuan fisik mereka berkembang.
Hanya beberapa orang yang tahu, memilih tutup mulut sebab tidak banyak orang yang suka menjadi kuat berkat virus.
"Mikaela Edgee adalah orang pertama yang lulus lebih awal diseluruh tempat pelatihan. Dari itu dia dibebastugaskan dari pelatihan hingga tiga hari lamanya. Dan akan kembali ke Asrama Putra setelah tiga hari miliknya berakhir."
Tunggu, apa itu artinya dia tidak akan dikembalikan ke asrama putri? Teman-temanya yang kelihatan mempermasalahkan itu berdiskusi sendiri. Lihatlah pada Mikaela, dia tampak tidak peduli.
Pemilik paras tampan ini sekarang bisa berdiri sejajar dengan para pelatih, tidak, dia jauh lebih hebat sebenarnya.
"Saya ingin ke asrama putri," pintanya setelah apel selesai.
Beberapa pelatih jelas sekali berautkan tidak setuju. Dia adalah bibit yang berharga disini. Mereka tidak akan melepaskanya.
"Saya hanya berniat menemui teman saya. Tidakbolehkah saya ke sana?" Mikaela bisa membaca suasanya.
Tentu saja dia dibolehkan. Hanya bersinggah saja, kan.
"Tapi, dengan satu syarat. Kau harus mengenakan seragam ini kemanapun kau pergi."
"Baik."
Sudah dia duga, pasti ada apa-apanya dibalik seragam yang menurutnya mewah ini.
°°°