Black in Black

Black in Black
Pohon 18



"Mereka kembali. Sang tokoh utama juga. Luar biasa."


Semua para petinggi senggidik. Orang baru didepan mereka itu tampak mengerikan dengan rambut ikalnya. Dilayar dalam ruang rapat itu menampilkan siapa-siapa yang berhasil selamat dari projek pertama angkata perang muda. Yang paling mencolok itu si berstelan putih dengan jubahnya yang mewah.


"Diakah lulusan pertama?"


"Iya, tuan. Namanya-"


"Mikaela Edgee. Siapapun tahu namanya. Banyak yang tidak percaya foto pemuda tampan yang beredar di internet itu benar-benar dia. Multitalenta pula. Reputasinya bahkan mengalahkan para selebriti."


Semua orang terdiam, enggan buka mulut. Orang didepan mereka itu berbahaya, lebih berbahaya daripada orang sebelumnya yang mewakili para petinggi negara.


Mereka tidak menyangka para petinggi mengirimkan orang lagi secara mendadak. Terlebih, orang seberbahaya ini.


"Jika dilihat dari perawakan anak ini, sudah bisa ditebak betapa menariknya dia. Oh, apa itu? Apa tangan kananya memang tidak ada?"


Benarkah? Para petinggi baru mengetahuinya. Mikaela kehilangan tangan kananya.


Bagaimana bisa!?


***


Sementara Mikaela dirawat secara intensif di rumah sakit khusus, dipanggilah 3 orang saksi yang paling pertama menyaksikan orang yang dianggap melenyapkan 'Bunga Bencana' tersebut.


Diantaranya, Edgar Palova, Anggelo dan Tama.


Anggelo dan Tama memiliki kesaksian yang sama. Mereka baru datang dan melihat Mikaela dan Edgar sudah berada disana dalam keadaan yang dimandikan darah.


Namun, ketika giliran kesaksian Edgar, dia membantah dugaan mengenai dirinya yang membelah seluruh parasit yang ada disana. Dia mengaku dia baru saja terbangun dan menemukan Mikaela sudah duduk bersantai di atas bangkai 'Bunga Bencana'. Melihat tangan kanan Mikala yang tidak ada, dia langsung saja disibukan dengan memikirkan satu hal yang terjadi sebelum kesadaranya menghilang. Dia menduga Mikaela memberikan tangan kananya atas negosiasi yang diinginkan pihak kriminal, 'Rabbits' dan 'Owl' sebagai pengganti dirinya yang tidak ingin mengikuti mereka. Mungkin saja Mikaela juga menjual tanganya itu untuk memusnahkan 'Bunga Bencana'. Dan bisa jadi itu juga untuk menyelamatkanya. 'Rabbits' mengoyakan perut Edgar, dari itu Mikaela menyerah untuk tidak terus melawan mereka.


Banyak sekali kemungkinan yang mungkin terjadi. Dan Edgar merasa tidak pantas menerima pujian soal dirinya yang membantu Mikaela.


Melawan satu parasit saja Edgar tidak ada, apalagi menghabisi semuanya yang ada di sana.


Mustahil. Begitulah yang terlintas dibenaknya.


TOK! TOK!


"Apa Anda sudah siuman, Nona Mikaela?"


Seseorang ingin masuk ketika dia hendak menyuap brownis coklat ke dalam mulutnya. Alisnya seketika menyudut sedari menyuruh masuk.


"Silakan."


Jengkel. Tentu saja. Sudah satu harian dia tidak makan


Sosok berambut ikal dengan kulit seputih porslein masuk. Bulu mata yang lebat dan gelap, membuatnya terkesan tajam walaupun disuduti bibir yang menawan di wajah simetrisnya.


Orang penting. Sudah pasti. Seseorang yang berani melihatnya dengan tatapan jenaka adalah orang yang kuat akan teritimidasi oleh mata Mikaela. Saat ini mungkin dia dalam kedaan yang baik-baik saja. Moodnya baik. Makanya dia juga akan membalas senyuman seseorang dengan senang hati.


"Oh, senang akhirnya ada yang menjenguk saya,"


"Siapapun ingin menjenguk Anda. Sayangnya tidak boleh sembarang orang memasuki ruangan orang penting ini. Beruntung sekali saya dibolehkan."


Hoho, pandai berbicara dia.


Mikaela merasa tertarik. Dia melanjutman suapanya, memakan brownis itu dengan asal. Seperti anak kecil dengan menggunakan tangan kiri.


"Bolehkah saya membantu Anda?"


"Tidak. Sejak kecil saya sudah diajarkan untuk mandiri. Tangan kanan saya sebelumnya pernah patah, jadi ibu saya membiarkan saya tidak makan dengan bantuanya. Tidak disangka saya harus menggunakan tangan kiri saya lagi," ungkap Mikaela terdengar bersahabat.


Terlalu terbuka dan terlalu mencurigakan. Anak tampan didepanya itu bersikap begitu polos. Hanya itu? Tidak, itu tidak cukup menutupi pertanyaan besar yang akan menghujamnya.


Tertuliskan 'Mendes' di seragam pria itu. Sudah Mikaela duga. Dia merasa sosok didepanya itu tampak sedikit familiar.


Mendes adalah salah satu nama hakim ternama yang juga diangkat sebagai utusan para petinggi negara. Orang  yang memiliki mata yang tajam lagi-lagi menggelutinya. Lebih berbahaya dari orang yang sebelumnya. Mikaela akan kerepotan jika tidak segera mengurusnya.


"Saya harap Anda membawa donat untuk saya. Donat yang bertoping-kan coklat parut," ujar Mikaela terdengar seperti anak-anak.


Dia juga mengembungkan pipinya. Anak perempuan ini terlihat aneh dimata Mendes. Dia tahu Mikaela adalah perempuan, tapi Mikaela yang ada dibayanganya itu merupakan sosoknya orang yang jarang tersenyum dan serius. Mustahil Mikaela memiliki sisi imut seperti ini, Mendes berpikir begitu.


"Apa maksud-"


Mendes tidak habis pikir, namun dia berusaha mempertahankan senyuman ramahnya.


"Kalau begitu, setelah saya-"


"Tidak bisa, saya maunya sekarang," telunjuk Mikaela berdetik didepan wajah Mendes.


Gadis ini sengaja. Apa boleh buat. Segera Mendes meraih ponsel dari sakunya dan meminta Jeremi yang entah siapa untuk mencarikanya donat yang diinginkan Mikaela tersebut.


"Anda akan mendapatkan yang Anda inginkan," ucap Mendes terdengar jelas dirinya mengaku baru saja dimanfaatkan gadis ini.


Mikaela mengembangkan senyuman termanisnya, "Terimaksih, Tuan Mendes."


Ah, dia menyebut namanya. Mendes merasa terkesan pemilik wajah anak-anak itu berani menyebut namanya dengan lancar.


Apa yang salah? Mikaela melihat raut itu berubah sesaat seakan dia baru saja melempar jarum ke padanya. Dia merasa harus sedikit berwaspada.


"Saya penasaran kemana tangan kanan Anda pergi. Bisakah Anda katakan kepada saya?"


Mendes mengitimidasinya dengan cara yang halus. Terlalu to the point. Mikaela tidak kalah jujurnya juga.


"Donat," tagih Mikaela.


Sudah pasti itulah yang akan dikatakanya. Dia bukan anak-anak yang mudah dibodohi.


Mikaela memasang topeng yang dibuatnya khusus untuk Mendes seorang. Mendes tahu itu dan mengikuti alur. Gadis didepanya ini bukanlah gadis biasa yang sudah dilaporkan utusan yang sebelumnya. Dia memiliki bakat yang aneh untuk anak seumuranya. Dia bukanlah anak remaja yang biasa.


"Apa yang sedang Anda pikirkan, Tuan Mendes?" Mikaela memergokinya.


Mendes sesaat terdiam melihat Mikaela yang melihatnya dengan tatapan menegejek.


Dia pun tersenyum hangat, "Apa yang Anda pikirkan itulah jawabanya."


"Donat keju," kata Mikaela langsung, "Saya juga mau itu. Bagaimana Tuan Mendes bisa tahu? Hebat..."


Bagus. Dia terkena jebakan gadis ini lagi.


"Ini pesanan Anda. Mohon diambil..."


Sejak tadi Mendes sudah menahanya, gejolak panas yang membakar dadanya. Mikaela dengan sengaja membuatnya jengkel. Donat coklat dan keju. Tidak lupa juga Donat toping kacang, hasil jerit payahnya memperangkapi Mendes, sang pengacara. Dia sendiri sepertinya tidak pegal tersenyum.


"Donatnya banyak. Seperti yang dirumorkan, Anda sangat kaya ya, Tuan Mendes. Sepertinya saya akan cepat menyukai Anda."


Gadis itu baru saja menghinanya walaupun tidak ada satupun kata yang merujuk ke sana. Mikaela memakan donat itu lagi-lagi menggunakan tangan kirinya.


"Ayo, katakan. Bukankah Anda ingin mengintrogasi saya?" ungkap Mikaela to the point setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah.


Mendes sudah tidak bernafsu berbicara denganya lagi. Yang memenuhi pikiranya saat ini adalah bagaimana dia bisa memberi pelajaran kepada anak ini dengan tanganya sendiri.


Lihat, tidak pernah ada orang yang seberani dia.


Bagi Mikaela juga tidak pernah ada orang yang semenyenangkan seperti Mendes. Mendes selalu terpaku pada asas monotonya yang sudah dianggap sebagai rumus dasar.


Kenapa dia tidak melabraknya saja, sikap Mikaela yang sengaja kekanak-kanakan. Itu karena Mendes terlalu menyepelekan lawan bicaranya.


***


Karena lahan yang awalnya dikuasai oleh sebuah pohon Extherotopia sudah dimusnahkan secara menyeluruh, banyak petugas dikerahkan untuk membersihkan banyak bangkai disana. Sebagian besar bangkai tersebut sudah dibakar.


Beberapa ilmuan menduga bangkai Extherotopia yang terbakar itu bukan berasal dari api. Melainkan dari sengatan listrik.


Apa Mikaela membawa beberapa membawa muatan yang mampu menghantar listrik? Ide yang cemerlang sebab dengan begitu tubuh induk Extherotopia yang terkenal bisa beregenerasi dengan cepat akan terhambat oleh aliran listrik.


Bagaimana dia bisa tahu itu? Tidak. Mereka akan mencurigai ada unsur campur tangan oleh buronan elit, 'Rabbits' dan 'Owl'. Mereka kuat, lebih kuat daripada mutan yang ada.


Sayangnya itu alibi yang sengaja dibuat.


"Sebelum aku benar-benar kembali, aku melihatnya. Dia menghancurkan semua hanya dengan tangan kirinya setelah memberikan tangan kananya kepada kami. Dia bahkan memiliki kemampuan yang luarbiasa. Dia mampu membuat aliran liatrik dari jantungnya dan mengalirkanya secara teratur melalui tanganya. Sengatan itu mungkin sebesar 7 juta sengatan dari petir. Kemampuan itu mampu menghancurkan satu negara dalam sekedip mata. Aku pikir menyerahkan tangan kananya itu adakah pilihan yang bijak sebab tidak ada yang tahu bagaimana besarnya bencana jika dia juga menggunakan tangan pokoknya itu. Dia benar-benar monster. Tidak. Itu mungkin bisa disamakan dengan dewa. Nafsu membunuhnya meningkat pesat ketika melihat darah, untungnya dia tidak memakanya."


Penjelasan itu akan menjadi berita besar yang mampu membuat bencana.


°°°