Black in Black

Black in Black
Pohon 5



1 Minggu Kemudian...


"Kita akan merindukan kelas ini," ujar seseorang.


Eliza dan beberapa teman sekelasnya terhenti ketika hendak keluar. Benar. Mereka akan merindukan tempat damai ini, dan juga pelajaran yang membosankan.


Ini adalah perpisahan. Mereka harus berlama-lamaan melihat tempat ini sebelum akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Sebab bisa jadi ini adalah untuk terakhir kalinya. Entahlah. Beberapa orang berpikir mereka hanya akan mengikuti pelatihan biasa dan akan pulang setelah itu.


"Ah, Mikaela? Kenapa kau pakai seragam anak cowok?" Pergok salah satu temanya yang baru melihat Mikaela muncul di pintu masuk kelas.


Benar, gadis itu memakai seragam khusus anak laki-laki. Ya, semua orang yang ikut pelatihan mendapatkan seragam khusus seperti seragam resmi. Seragam khusus untuk anak laki-laki ya untuk laki-laki, untuk anak perempuan ya untuk anak perempuan. Benar-benar bagus. Dan kenapa anak itu justru mendapatkan seragam laki-laki?


"Aku sudah minta ganti, tidak tahu kenapa mereka malah memberiku ini," jelas Mikaela juga terdengar keberatan.


Meskipun begitu, gadis itu kelihatan sangat cocok memakainya. Sekarang benar-benar seperti anak laki-laki. Pas sekali ditubuhnya. Dan juga untuk dada ratanya.


Tampan.


Beberapa anak perempuan justru memujinya begitu.


Mereka semua akhirnya pergi meninggalkan kelas. Seluruh sudut sekolah pun menjadi sepi seketika. Pagi ini, sensasi yang berat.


Para siswa-siswi berpamitan kepada guru-guru mereka. Sebelum pada akhirnya mereka dimasukan ke dalam bus militer milik pemerintah. Dan dipisahkan antara bus laki-laki dan perempuan. Yang memisahkanya adalah tentara yang hanya melihat pada seragam.


Wah, apa?


"Gawat, dimana Mikaela?" Tanya salah satu teman sekelasnya yang khawatir.


Kemudian, mendapatkan gadis itu sudah melambai pasrah dari arah menuju mobil khusus laki-laki.


Sudah terlambat.


Mikaela juga beristruksi tidak apa-apa. Ya, sepertinya dia baik-baik saja. Sedangkan Eliza terdiam membisu. Dia mau duduk bersama Mikaela, tapi gadis itu justru tertimpa masalah.


Bukanya khawatir, dia malah kelihatan sangat jengkel terhadap Mikaela.


"Heh? Mikaela. Kenapa kau disi- Ohh..."


Kata teman laki-laki Mikaela yang sebangku denganya. Dilihatnya pemilik wajah yang melihatnya lemas itu memakai seragam laki-laki.


Pantesan.


Dia tidak akan berkomentar. Biarkan saja.


Anak laki-laki itu juga memiliki sedikit dendam terhadapnya. Mikaela pernah memenangkan kontes sebagai orang tertampan yang ada disekolah.


Pada hari itu kelas Mikaela sepakat membuat acara penyambutan adik kelas mereka tahun ini bertema kafe dimana para pelayanya bertukar gender. Banyak junior yang mengira Mikaela adalah anak laki-laki. Makanya mereka memilih Mikaela disebuah kompetisi pemungutan suara, dia memang cantik dan menjadi sangat tampan dengan rambut pendek. Padahal dia sangat cantik kalau memiliki rambut panjang seperti dulu. Entah kenapa dia memotongnya.


"Mikaela gabung sama anak cowok. Gimana nih? Kan tempat pelatihan kita jauh sama punya anak cowok. Bagaimana cara ngomongnya, ya? Tentaranya sangar banget lagi. Aku takut," teman-temannya khawatir.


Eliza baru tahu itu, soal tempat pelatihanya dan juga soal betapa pedulinya teman-teman Mikaela yang dianggap Eliza tidak berguna selama ini. Sekarang dia mengerti kenapa Mikaela sering menyuruhnya bersosialisasi dengan orang-orang.


Pada akhirnya Mikaela tidak terselamatkan.


Angakatan khusus untuk laki-laki berkumpul disuatu lapangan luas. Hebatnya tidak ada bus anak perempuan tiba sejak tadi. Itu membuat Mikaela semakin lemas, dia tidak bisa jauh dari Eliza-nya. Bagaimana ini bisa terjadi kepadanya?


Salah satu tentara mengambsen nama. Ya, ini adalah kesempatan bagi Mikaela untuk mengaku di akhir pengabsen ini.


"Megan Santosi!"


"Siap!"


"Mikaela Edgee!"


Heh!? Mikaela sempat melongo sesaat. Namanya ada di daftar absen anak laki-laki?


"Siap!" Tapi, mesin penjawab otomatisnya bereaksi.


Dia mengerutkan dahinya dalam. Siapa yang memberinya biodata yang salah sampai-sampai namanya benar-benar dimasukan ke dalam kelompok laki-laki.


"Maaf, sir! Saya izin mencela," ujar salah satu pemuda secara lantang.


"Maaf, sir. Sepertinya ada kesalah. Mikaela Edgee itu adalah anak perempuan. Kami semua mengenalnya."


Hoh, akhirnya ada yang berani angkat suara.


"Benarkah?" Tanya tentara itu menyeringai sadis.


Tidak terduga, anak laki-laki yang berniat membantu Mikaela itu diberi hukuman push-up 30 kali.


Semua terdiam mendengarnya menghitung setiap kali push-up-nya di atas tanah secara lantang. Mikaela membeku, dia tidak mau merepotkan orang lain.


"Maaf, sir. Kenapa dia dihukum?"


Mikaela akhirnya angkat bicara sendiri dengan suara yang terdengar parau seakan dia akan murka kalau tidak diberi jawaban yang benar.


"Siapa namamu, nak?"


"Mikaela Edgee," jawab Mikaela tanpa embel-embel 'sir'.


Tentara itu mengernyit, dia tidak suka melihat tatapan tajam dari mata Mikaela.


"Selama 30 hari kedepan tidak boleh ada yang keluar dari wilayah ini. Bahkan hanya sekadar mengantarkan nona ini ke asramanya," ujar tentara itu menjelaskan, "Seharusnya Anda katakan lebih awal, nona. Pihak kami tidak ingin repot hanya untuk mengurus Anda."


"Saya sudah mengatakanya sebelum masuk bus, tapi mereka tidak mendengarkan."


Mikaela terdengar tambah jengkel mengingatnya lagi. Pasti dia dikira mesum kalau dia terus mengaku anak perwmpuan dan masuk kesana.


Ya, itulah letak kesalahanya. Teman sebangku Mikaela yang tadi diam-diam ikut merasa bersalah dalam hal ini. Seharusnya dia membantunya juga.


Mikaela akhirnya juga diberi hukuman. 30 kali push-up.


Menyebalkan.


Dia itu hanyalah anak perempuan. Banyak yang khawatir gadis ini akan stres berat sebab di asrama putra ini tentu saja akan mendapatkan pelatihan yang jauh lebih keras daripada di asrama putri.


"Kau akan sekamar denganku, Mikaela."


Anak laki-laki yang membantunya tadi itu kelihatan masih mengkasihaninya. Tidak ada dendam, tabah sekali walaupun dia terkena masalah karena membantu.


"Maaf membuatmu kerepotan," Mikaela mengungkapkan rasa bersalahnya, "Aku tidak tahu pelatihan ini jauh lebih kejam daripada Eskul PASKIBRA."


"Tidak apa-apa, Mika. Aku kan leader, sudah seharusnya aku bertanggung jawab."


Gadis itu memilih diam. Dia yakin anak laki-laki itu hanya menghibur saja.


Neil, itulah nama panggilanya. Anak laki-laki tampak baik hati itu mengemasi barang-barangnya ke dalam lemari mini yang ada disetiap sudut kasur Ada 4 kasur dalam satu kamar.


Aneh.


Mikaela pikir dalam gedung besar ini memiliki 2 kasur saja ditiap kamarnya, karena semua menempatinya begitu. Ruanganya juga kecil.


"Aku penasaran sekolah darimana yang akan satu gedung dengan kita. Oh, iya. Aku pikir sebaiknya kita menyembunyikan identitasmu itu dari anak sekolah yang lainya, ya. Tidak ada yang tahu teman sekamar kita orangnya seperti apa," jelas Neil.


Benar. Mikaela tidak tahu soal ini. Mereka akan sekamar dengan anak dari sekolah lain yang busnya baru saja sampai di halaman.


Mereka melihatnya dari lantai atas itu, dari jendela kecil yang kusam. Sekolah yang memiliki seragam yang sama, tapi dengan lambang sekolah yang berbeda yang ada dilengan mereka.


"Akhirnya mereka sampai," ujar Neil terdengar senang.


Tapi, Mikaela menyipitkan matanya. Dia sama sekali tidak senang melihat dua teman sekamar mereka lagi  berasal dari sekolah lain. Bukan. Bukan itu masalah sebenarnya.


Ada beberapa orang yang sempat melihat ke arah mereka dengan senyuman lembar. Lebih tepatnya senyuman tersembunyi.


Apa mereka sangat merasa senang?


Tentu saja. Ini akan menjadi sangat menyenangkan.


°°°