Black in Black

Black in Black
Pohon 10



"Pendeteksi Extherotopia berbunyi!"


Beberapa orang geger melihat simbol merah besar muncul di layar besar mereka, jauh dari bebera Km dari tembok Kota M.


Extherotopia yang sudah berusia 3 bulan akan terdeteksi secara otomatis oleh alat yang diletakam setinggi beberepa meter diluar tembok. Semacam sinar X jarak jauh.


Ini kabar yang tidak bagus. Terutama untuk kota M.


"Gawat! Kita belum menyelesaikan pelatihan. Bagimana kita bisa menghadapi masalah ini tanpa bantuan tambahan dari pemerintah?"


"Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka sudah memeriksa ada beberapa retakan di tembok yang belum teridentifikasi karena apa. Sangat dikhawatirkan jika itu disebabkan karena akar yang sudah masuk ke dalam tembok untuk melakukan petunasan,"


"Kenapa bisa secepat ini?"


"Aku dengar Kota K sudah meluluskan satu orang terbaiknya. Bagaimana jika kita meminta bantuan dari mereka saja? Anggota kita yang ikut dalam pelatihan belum apa-apa ketimbang mereka. Aku yakin mereka akan menerimanya jika kita membayar mahal."


***


Tidak bisa.


Beberapa petinggi di kota K tidak bisa menerimanya. Mereka seperti disogok dalam hal ini. Bukan. Jika ini terjadi di kota mereka sendiri, mereka akan berusaha keras melatih anak-anak mereka untuk menghadapinya. Pasti Kota M melalaikan pelatihan ini sehingga mereka beranggapan mereka sama sekali belum siap untuk menghadapi 'Bunga Bencana'.


Beberapa petinggi masih mempertimbangkan permintaan itu, bukan karena uang, melainkan atas rasa kemanusiaan. Jadi, mereka datang ke beberapa tempat pelatihan yang ada di Kota K. Terutama ke tempat pelatiham yang sudah meluluskan satu orang lulusan terbaik mereka.


Beberapa pelatih berkeringat dingin. Mereka tidak menyangka ini akan terjadi, para petinggi datang untuk melihat kemampuan anak didik lulusan terbaik dari para pelatih disini. Dan mereka sangat memaksa untuk bertemu denganya.


"Mikaela Edgee menghilang. Seharusnya ini hari terakhirnya kami meliburkanya. Jika dia tidak datang, entah apa yang akan kami lakukan..."


"Kenapa kalian justru meliburkanya?" Pertanyaan itu tentu saja keluar.


Banyak hal yang ingin mereka tahu mengenai Mikaela dengan latar belakangnya yang membosankan. Anak sespesial itu mana mungkin hanya bermodalkan ketangguhan dan kecerdasanya saja. Dia itu lebih misterius dilihat bagaimana dia tahu ada alat pelacak yang tersebar didalam seragam yang harus dikenakanya. Terlebih, dia itu perempuan. Tidak ada yang ingin kedok bagian itu terbongkar.


"Kami akan berusaha mencarinya,"


"Dia terkenal akan kedisiplinanya, dia pasti akan segera kembali."


Beberapa pelatih berusaha meredakan kemarahan para petinggi Kota K. Ya, ternyata pelatihan disini lebih lalai dari yang mereka duga. Mereka juga mulai meragukan lulusan terbaik di pelatihan ini.


"Maaf sudah membuat suasanaya tidak enak. Saya hendak pulang setelah matahari terbenam. Sepertinya saya akan menagih hal ini dilain hari," ujar seseorang dengan suara ramahnya.


Mikaela muncul dari arah pintu. Raut wajahnya tampak sebal, bukan karena dia kembali terlalu awal. Itu karena jubahnya.


"Rasanya konyol memakai ini. Katakan, bagaimana saya harus menghadapi ini? Mereka memaksa saya memakai ini dan membiarkan saya pulang seperti orang aneh. Saya bermaksud melatih fisik saya, tapi merela mengharuskan saya memakai ini kemanapun saya pergi. Pergerakan saya benar-benar lamban karena benda ini," jelas Mikaela langsung saja mencampakan jubah mewah itu dari punggungnya ke lantai.


Tubuhnya begitu? Siapa orang ini?


Beberapa para petinggi heran mengenai Mikaela yang tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan. Persis seperti yang ada di foto, tapi tidak terduga dia memang memiliki tubuh seramping itu. Karena melihat dia mengenakan baju yang begitu formal, mereka enggan menanyakanya.


Anak muda itu...lulusan terbaik?


"Saya adalah Mikaela Edgee. Saya dengar para petinggi mencari saya," ungkap Mikaela duduk disalah satu kursi kosong di meja rapat.


Melihat bagaimana para pelatih membiarkanya, sudah pasti dialah Mikaela Edgee yang dikenal hebat itu.


Tubuhnya tidak besar seperti yang dibayangkan. Bagaimana mereka bisa meluluskanya begitu saja? Jangan bilang hanya karena ketampananya saja.


Ataupun dia mengatakan hal yang sebaliknya secara tidak langsung.


Beberapa pelatih heran. Dia sepertinya menghilang dalam 3 hari itu hanya untuk melepaskan ketegangan pada wajahnya. Jujur saja, mereka sangat mengingat wajah tajam Mikaela yang memancarkan aura gelap sebelumnya. Dan sekarang wajahnya tampak tersenyum bebas. Bukan. Dianmalah seperti orang dewasa yang menyembunyikan sosok asli yang tidak terduga.


"Saya sudah tahu tujuan Anda datang kemari. Anda ingin memastikan seberapa siapnya anggota kami. Sayangnya kami harus mengatakan ini, kami tidak bisa memberi bantuan kepada Kota M. Anggota kami belum terlalu siap untuk menghadapi Extherotopia secara langsung," jelas Mikaela merubah tatapanya menjadi tajam, "Kami belum bisa mengorbankan anggota kami untuk mati. Kami harap Anda tidak memaksa."


Kalimat terakhirnya terdengar sengaja menusuk telinga. Entah dapat informasi darimana anak ini, dia ternyata sudah tahu tujuan para petinggi, informasi yang belum tersebar di muka umum.


Mendengar sejak tadi bagaimana anak lulusan terbaik itu berbicara dengan hebatnya, para petinggi sepertinya mulai tertarik dengan sosok Mikaela ini.


"Bagaimana kita bertaruh, Nak Mikaela. Kalau pihak kami menang, kau harus turun ke medan perang bersama seluruh angkatanmu."


Terdengar tidak menyenangkan. Para pelatih juga terlihat jelas tidak senang mendengarnya. Bukankah itu terdengar menjengkelkan?


Tersirat senyuman tipis dibibir Mikaela, "Anda mengajak saya bermain taruhan? Berarti Anda akan memepertaruhkan apapun yang akan saya minta, bukan?"


Seperti yang diharapakan, anak muda itu mudah sekali terpancing ternyata. Para petinggi menganggap anak itu cukup percaya diri dalam hal ini. Mereka berpikir karena lulusan terbaik, anak yang hebat berbicara itu sangat membanggakan kemampuanya yang mungkin saja belum seberapa.


Mereka merasa ada hal yang unik dari anak pandai bicara ini. Tapi, apa? Dan mereka mengabaikanya. Insting itu, anak muda yang terlihat bengal itu sangatlah berbahaya.


Daripada mengharapkan kalau anak itu memang benar hebat bertarung, para petinggi lebih mengaharapkan stelan putih kebanggan yang dikenakanya itu kotor.


Mikaela tampak begitu menyebalkan dengan kilatan misterius dalam matanya. Seperti orang dewasa. Duduk berada diantara mereka saja menurut para petinggi bocah itu tidaklah pantas.


"Katakan, Anda ingin menghadapkan saya dengan siapa? Arjudan yang mana?" tanya Mikaela dengan seringaianya yang tampak mengerikan.


Tebakan yang tepat sekali! Bagaimana bisa!? Para petinggi langsung kaget mendengarnya. Darimana dia bisa tahu?


Ceklek!


Diletakan sebuah pistol yang mengarah tepat pada salah satu para petinggi berada. Mikaeal membuat seluruh ruangan seketika menegang.


Darimana dia dapat pistol itu? Pistol asli! Anak ini bermaksud menembak orang tua!?


"Jika saya menang, bolehkah saya membunuh Anda?" Anak itu mengatakanya dengan enteng, "Saya pikir itu balasan sepadan atas betapa lancangnya Anda mengambil taruhan berupa nyawa teman-teman saya...dengan mudahnya lagi. Karismatik Anda yang saya kagumi benar-benar bohong. Bagaimana saya bisa memaafkan Anda yang sudah mengecewakan saya ini? Katakan, maukah Anda menerima taruhan saya?"


Para petinggi itu menggidik. Ya, mereka menyadari kesalahan mereka. Tapi, sebenarnya mereka tidak bersungguh-sungguh dalam taruhan mereka.


Salah satu tangan kanan dari petinggi itu membisikan sesuatu. Sesuatu hal yang mengejutkan yang membuat para petinggi harus berbicara dengan serius kepada anak yang ada didepan mereka itu segera.


Akan menjadi kesalahn fatal jika mereka masih mempermainkan anak itu. Sekarang anak itu benar-benar terlihat menakutkan setelah dilihat dengan benar.


Para pelatih tidak tahu apa yang terjadi, mereka hanya mengerti ada suatu hal yang tidak mereka pahami diantara kedua belah pihak. Mereka tidak mungkin menanyakanya saat ini.


"Maaf atas kelancangam kami. Kami sebenarnya tidak bersungguh-sungguh dalam taruhan ini. Kami hanya ingin mengecek seberapa pantas Nak Mikaela mendapatkan gelar yang dikhawatirkan akan menimbulkan banyak konflik masa. Kami juga ingin meminta bantuan atas dasar kesatuan umat manusia jika kami bisa memastikan sendiri seberapa siapnya para anggota dalam pelatihan ini."


Yah, memang kalimat tersebut yang diharapkan Mikaela. Para pelatih takjub sekaligus bingung dengan apa yang sudah mereka dengar. Para petinggi membuang harga diri mereka karena sesuatu.


Mikaela dihormati? Apa yang sudah terjadi?


°°°