
Setelah beberapa waktu yang cukup lama, seluruh peserta khusus pelatihan di Kota K akhirnya lulus dari pelatihan yang ada di distrik mereka yang sengaja dibuat begitu tertutup dari dunia luar.
Disitu didapatkanlah peringkat-peringkat tertinggi yang memiliki kemampuan terkuat setelah menjalani beberapa ujian dan penyeleksian ketat yang diawasi langsung oleh Mikaela.
Peringkat ke-10, Lisa.
Peringkat ke-9, Evanka.
Peringkat ke-8, Didian.
Peringkat ke-7, Ariana.
Peringkat ke-6, Sofia.
Peringkat ke-5, Stela.
Peringkat ke-4, Edgar Palovi.
Peringkat ke-3, Anggelo.
Peringkat ke-2, Eliza.
Dan yang terakhir, peringkat pertama sebagai iblisnya di Black in Black, Mikaela Edgee.
Diujian terakhir, Mikaela memberikan ujian sekaligus kejutan untuk semua orang yang menunggu di aula.
Semuanya berkumpul kecuali Eliza. Hingga acara dimulai, mereka semua melihat fakta yang sangat mengejutkan dari peringkat 1 dan 2 yang berdiri di depan aula.
"Stela, katakan... Berapa persen kemungkinan kita bisa menyerang mereka?" Tanya Evanka.
Stela gemetaran hebat. Dia bahkan sedikit tidak mampu mengatakanya bahwa kemungkinan mereka hidup adalah, "...0%."
Mereka tidak akan pernah melupakan hal ini diseumur hidup mereka.
***
Sudah 3 bulan berlalu...
Pelatihan Militer Kota K mendapatkan sebuah undangan dari Kota D. Bukan. Ini namanya panggilan perkerjaan dimana yang memanggil ini sangat memerlukan bantuan dari seseorang yang sangat berpengalaman seperti Mikaela, sang lulusan pertama yang dirumorkan sebagai orang pertama yang mampu melenyapkan 'Bunga Bencana' untuk datang sebagai peresmian anggota pelatihan mereka yang sudah lulus.
Kota D adalah kota yang dikenal sebagai salah satu kota terelit yang ada di Indonesia.
Mikaela memenuhi panggilan itu. Bukan karena Kota D merupakan kota terelit. Dia datang bersama 9 anggota inti sebagai anggota dari oranisasi Black in Black.
Ya, mereka sudah menjadi sebuah organisasi tanpa diketahui oleh pemerintah. Kalau tahu pun mereka tahu pemerintah tidak akan mempermasalahkanya. Mereka hanya memberikan julukan, tidak masalah bukan?
Saat itu juga Ariana dan Edgar diminta laporanya mengenai 'Rabbits' dan 'Owl' oleh wakil dari para petinggi negara. Untuk pertama kalinya mereka bisa keluar dari tempat pelatihan yang sengaja dibuat tertutup oleh Mikaela. Jadi, mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengirimkan laporan selama pelatihan.
Dengan berat hati mereka mengatakan mereka tidak menemukan keduanya di Kota K. Ditempat pelatihan mereka, maksudnya. Mereka menutupi diri dari sebuah kebohongan yang tentu saja sangat sulit untuk dikatakan.
Bukan soal tempat pelatihan mereka yang sudah diambil alih oleh Mikaela yang hanya menyisakan 9 orang pilihanya. Ini perihal lain.
Mereka tidak bisa mengatakanya karena sebuah kutukan.
***
Orang-orang berseragam biru gelap itu pun mengangguk paham.
Daripada konspirasi besar yang dibuat oleh Mikaela, konspirasi yang dibuat oleh penduduk Kota D jauh lebih hebat lagi. Karena itulah kenapa orang yang memakai jubah raja itu datang bersama dengan senyumam hangat dan wajah cerahnya yang mengerikan.
Menurutnya konspirasi yang dibuat oleh kota yang didatanginya itu cukup mengkhawatirkan. Tanpa dia beritahu, kekacauan itu bisa dirasakan samar-samar oleh teman-teman seangkatanya. Dari aroma hangat yang mematikan. Aroma putik.
Sebagin besar dari mereka tidak saling berbicara lagi setelah ujian terakhir. Ya, ujian terakhir Mihaela benar-benqr ekstrim. Padahal yang keluar hanya kata-karta.
Sofia dan Anggelo mengiringi Mikaela dan Eliza yang ada didepan. Sedangkan yang lainya berada di belakang dimana Sisi berada dibarisan paling belakang seperti mengawasi semuanya bersama Karin didalam.
Rasa canggung selalu dirasakan, ujian terakhir itu benar-benar buat syok banyak orang. Namun, makhluk yang paling depan itu kelihatan tidak begitu peduli. Mikaela sama sekali tanpak tidak begitu peduli.
Dalam iringan-iringan meriah setelah turun dari pesawat, mereka pun disambut langsung oleh petinggi tunggal dari Kota D.
Pria tampan yang bernama Wolland. Mikaela sudah tahu itu karena Mendes lah yang memintanya kemari.
Yang membuat aneh itu adalah rambutnya yang berwarna putih. Tidak hanya dia saja, beberapa perkerja disini juga berambut putih.
Ada energi aneh juga yang mengalir dintubuh mereka. Terutama Wolland, energinya nyaris tampak samar.
Wolland, pria karismatik itu menyambut hangat salaman dari Mikaela.
"Senang Anda menyempatkan diri untuk datang kemari, Letnan Mikaela. Merupakan sebuah kehormatan besar bisa bertemu dengan Anda secara langsung."
Hoho, Mikaela sepertinya mulai tertarik dengan orang sopan ini. Apalagi aromanya yang kuat.
"Ya, seharusnya saya yang mengatahan hal tersebut. Kebetulan Anda mengundang kami yang memang sedang menunggu tugas penting."
Ya, kenyatanya memang begitu. Mikaela dan Wolland kelihatan begitu akrab karena keduanya sama-sama memiliki alibi yang sama. Eliza dia memperhatikan, sesekali dia melihat sekeliling, mendapatkan sebuah pemandangan yang cukup tidak menyenangkan dari sekelompok orang yang mengenakan seragam biru gelap yang tampak memeprhatikan dari balik jendela lantai atas. Salah satu dari mereka ada yang menyeringai. Eliza tahu itu. Akan ada hal buruk yang akan terjadi.
Beberapa juga bisa merasakanya. Terutama Stela. Dia mulai mendapatkan gambaran yang tidak bagus ketika sampai.
"Saya pikir Anda akan membawa anggota Anda yang lebih banyak lagi. Kenapa hanya 9 orang saja?" Tanya Wolland penasaran denagn santun.
"Karena suatu alasan yang tidak bisa saya jelaskan, anggap saja hanya ini orang-orang dari pelatihan yang ada di distrik saya," terang Mikaela secara jujur buat Wolland menambahkan senyuman canggung.
Tidak bisa mengatakan alasanya, tapi alasanya dikatakanya di akhir kalimatnya barusan. Apa maksudnya coba?
Mereka berdua berada di mobil yang sama untuk berbincang-bincang lebih lanjut. Sedangkan yang lainya berada di mobil belakang.
"Saya inginya menempatkan Anda berserta rekan-rekan Anda di hotel terbaik yang ada, namun peserta terbaik saya memprotes niat saya tersebut."
Oh, Mikaela melihat mata emas itu. Wolland kelihatan sangat begitu menawan dengan mata indahnya yang mampu menghipnotis orang.
Tanpa berpikir lebih lanjut, Mikaela setuju saja, "Tidak masalah."
°°°