
"Mikaela harus beristirahat hingga tulang pada tanganya benar-benar menyatu. Karena dia memiliki DNA Extherotopia, masalah ini biasanya tidak akan begitu serius selama penanganya tepat," Lucy mulai menggulirkan bola matanya kepada Mendes yang sedari mengangguk paham dengan wajah jenakanya.
Orang itu mencurigainya? Masih?
Wanita itu akhirnya dipulangkan ke kota asalnya. Mikaela yang baru tersadar melihatnya dari jendela kaca. Lucy masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkanya pulang.
Tidak berpamitan lagi.
"Apa kau mengerjainya?" Dia bertanya pada seseorang.
Mikaela Edgee. Bocah itu akhirnya mendapatkan tanganya kembali, dan akan segera mendapatkan hadiah utamanya.
Beberapa orang akan berpikir ini adalah hal yang wajar, seperti yang diharapkam Mendes.
Dalam ruangam rapat semua orang tampak tegang. Para petinggi Kota K dan M, mereka sama-sama terdiam ketika sang bintang utama sengaja datang terlambat dalam undangan.
"Tuan Swan," sebut Mendes untuk sekian kalinya.
Orangtua itu tapak mengkerutkan keningnya sebab hampir semua orang disini sedang menyudutkanya dengan tatapan itimidasi.
Kemudian, datanglah pusat kekacauanya.
Mikaela Edgee. Bocah lancang itu tiba dan tidak bisa menyembunyikan senyuman betapa senangnya dia. Apalagi melihat tatapan sengit dari Swan, Mikaela malah tambah menaburkan senyumanya kemana-mana.
Bisa dibayangkam betapa murkanya Swan terhadap Mikaela jika dilihat dari bagaimana cara Swan melihat Mikaela. Seakan-akan dia akan menelan gadis itu hidup-hidup. Tidak. Jika dia memang memiliki senjata tajam, kapanpun dia akan melontarkanya ke arah Mikaela tanpa segan. Ya, jika saja dia benar-benar kehilangan harga dirinya dalam rapat ini.
***
Seluruh peserta pelatihan militer dari Kota K akhirnya dipulangkan ke kotanya. Tidak hanya itu, mereka juga dibebastugaskan dari pelatihan dan kembali ke kehidupan normal seperti sedia kala. Kecuali, beberapa orang. Hal ini hanya terjadi di tempat pelatihan mereka. Dan para anggota prlatihan dari Kota M tidak tahu akan hal ini, maupun pemerintah pusat.
Beberapa pun orang dipilih atas permintaan Mikaela Edgee, selaku penangung jawab atas dilepaskanya para peserta pelatihan sekaligus pemimpin pelatihan militer Kota K Didistrik XIII selanjutnya. Dia yang akan memimpin pelatihan beserta beberapa anggota pilihanya yang akan menjaga benteng Kota K dari Extherotopia.
Diantaranya ada Anggelo dari SMA Bamas, Ariana dari SMA Bamas, Edgar Palova dari SMA Bamas, Evanka dari SMA Bamas, Didian dari SMA Bamas, Lisa dari SMA Bamas, Sisi dari SMANSA, Stela Rosaria dari SMA Bamas, dan Sofia dari SMA Bamas.
Oh, Mikaela menambahkan satu orang lagi. Eliza dari SMANSA.
Kenapa dia memilih secara acak dari Divisi Kelas Pertama? Kenapa tidak mengambil semua?
Gadis bersurai merah panjang itu diam memikirkanya.
Asrama menjadi kosong. Mereka bebas menempati kamar manapun yang mereka suka. Para pelatih juga tidak ada.
Sekarang mereka menempati asrama putra yang kini menjadi asrama campuran untuk mereka.
Stela Rosaria, nama gadis itu seanggun dengan paras cantiknya. Dia adalah peringkat pertama yang ada di asrama putri. Dan Mikaela memilihnya sebagai salah satu anggota dari pasukan utama di Kota K. Dia terus saja memikirkan waktu namanya disebutkan, Mikaela tersenyum seakan menyapanya dengan ramah. Apa ini semacam perasaan jatuh cinta?
Mikaela tampak tidak sedingin yang dia duga. Mikaela berbaur tanpa segan, makan dimeja makan yang sama seperti yang lainya dan tidur di tempat yang sama.
Kemana orang angkuh seperti yang digosipkan? Mikaela tampak sangat ceria. Lebih tepatnya ketika gadis berambut perak itu berada disisinya.
Divisi Kelas berapa gadis yang bernama Eliza itu?
Karena Stela hapal betul siapa-siapa yang berada di Divisi Kelas Pertama. Yang disini juga semuanya berasal dari Divisi Kelas Pertama. Apa hanya karena Mikaela menyukainya, dia seenaknya membawa Eliza?
Gadis bersurai panjang gelap yang disana juga selalu menempel pada Mikaela. Sisi, si ahli pedang yang entah peringkat berapa.
"Kau ingin berbicara denganku, Stela?" Stela akhirnya mendatangi ruangan Mikaela.
Mikaela sepertinya terlihat sibuk dengan berkas-berkas yang entah berkas apa. Entah kenapa dia berharap setidaknya Mikaela menoleh.
"Apa saya mengganggu Anda, senior?"
Kelewatan formal. Padahal Mikaela sudah mengatakan mulai pelatihan ini dimulai semua orang harus memanggil namanya, bukan embel-embel senior lagi.
"Sebut namaku," pinta Mikaela masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
Stela pun menurutinya, "Mikaela..."
"Ya, begitu. Apa kau membutuhkan sesuatu?"
"Tidak. Saya datang-"
"Saya?" Potong Mikaela pada akhirnya menoleh.
Stela sesaat terdiam, tidak paham apa maksudnya. Ah, ya itu. Apa yang salah dengan kata 'saya'?
"Kau bisa berbicara denganku seperti itu pada saat pelatihan ataupun dalam acara formal. Cobalah berbicara santai denganku diluar dua waktu itu," jelas Mikaela meninggalkan berkas-berkasnya, beralih kepada Stela.
Dipegangnya pucuk rambut Stela, seketika aroma tajam menusuk hidung gadis merah itu. Aroma Mikaela, aroma energi Mikaela.
Baru saja ingin bertanya, Mikaela dengan segera menahan indra menciumanya. Dia mengapit hidung Stela agar tidak merasa terganggu dengan aromanya.
Aneh, pikirnya. Entah apa yang sudah dilakukan Mikaela, dia merasa tubuhnya tambah ringan.
Mikaela dengan sengaja menarik Stela, lalu mendorongnya kuat ke arah jendela. Sialnya, kaca jendelanya pecah. Terlebih, saat ini ruangan Mikaela berada di lantai 5.
Dilihatnya terakhir kali, wajah tersenyum Mikaela.
Jahat sekali. Bagaimana bisa dia mendorong seseorang seperti ini tanpa khawatir?
Stela jatuh ke bawah, terjun bebas dan akan mati dalam sekejap. Kenapa? Padahal dia senang pada saat Mikaela tersenyum kepadanya tadi. Dan ini terlalu cepat terjadi untuk menjadi akhir hidupnya.
Sudahlah. Hidupnya juga sejak awal memang tidak menyenangkan. Perlahan dia menutup matanya dengan pasrah. Bukan. Dia memang sudah rela mati.
Jadilah miliku.
Suara itu membisikinya, suara Mikaela. Terdengar sebuah jentikan jari membuat tubuhnya seketika memanas tanpa alasan.
Dia menggerjap, mendapati dirinya masih berdiri dihadapan Mikaela yang menatapnya dengan senang.
Apa yang sudah terjadi? Stela kebingungan. Jelas sekali wajahnya saat ini memucat, tapi Mikaela seakan tahu jawabanya dari pertanyaanya.
Kaca jendelanya, tidak pecah. Mimpikah tadi?
"Beginilah cara gampangnya," ungkap Mikaela.
Stela baru sadar Mikaela sedang memegang tanganya. Masih. Apa maksudnya? Dia kebingungan.
°°°