Black in Black

Black in Black
Pohon 24



"Apa yang membuatmu khawatir?" Mikaela bertanya kepada Lisa.


Sulit dipercaya memang dia bisa sekelompok dengan Mikaela. Tapi, dia sama sekali tidak bereaksi berlebihan seperti anak perempuan yang lainya. Baginya Mikaela adalah leader yang baik sekaligus partners yang bisa diandalkan. Dia juga sudah tahu bahwa Mikaela itu adalah anak perempuan dengan dada yang super datar.


"Itu, seriusan mau pakai pisau nangkapnya?" Lisa meragu.


Dia adalah ahli pedang peringkat ke-4 di asrama putri.


Saat ini dia dan Mikaela sedang berburu ikan disungai. Sebenarnya ini disebut memancing jika saja pancingan mereka ada.


"Mau bagaimana lagi, kakak lupa bawa senapan," kata Mikaela sebagai kakak kelas tahun ketiga dimana Lisa adalah siswi tahun kedua.


"Kalau pisaunya hilang gimana, ini kan sungai. Gak masuk akal banget kalau Lisa bisa lempar pisau."


Mikaela diam, dia tidak setuju dan terus menatap ke bawah. Lisa jadi meragukan kecerdasan orang yang dianggap brilian disampingnya itu. Bagaimana Mikaela bisa mengatakan hal yang tidak logis seperti tadi?


"Coba sini," Mikaela mengambil pisau dari tangan Lisa.


Entah apa yang sedang dilihatnya, dia seakan sedang terfokus pada suatu tempat, lalu mengarahkan pisau itu ke sana.


Clup. Pisaunya masuk ke dalam air dengan suara yang halus. Memang tampak menuju lurus ke suatu tempat, tapi Lisa tahu orang itu tidak benar-benar serius melakukanya. Bercanda, kah?


Sudah dia duga. Mikaela ini... Cuma main-main.


Secara mengejutkan sebuah ekor panjang beruncing keluar dari sambaran air kuat yang nyaris menebas wajahnya. Untung hanya terkena cimpratan airnya saja.


Syok berat, Lisa melihat ke arah Mikaela yang ikut basah. Binatang apa tadi yang baru saja dilempari Mikaela dengan pisaunya tadi?


"Kakak kira ikan," ungkap Mikaela enteng.


Hah!? Lisa terbelalak tidak percaya. Segera dia menjauhi tepi sungai.


Beneran buaya!?


Yang tadi itu, bukankah Mikaela itu terlalu percaya diri dari mampunya dia lolos dari maut seperti barusan?


Orang itu kelewatan tenang atau apa, pikir Lisa. Oh, ya. Dia lupa. Orang itu juga kan yang katanya mampu mengalahkan 'Bunga Bencana' sendirian. Mungkin wajar saja.


Dilihatnya sunga. Airnya sedikit merah. Mikaela benar-benar mengenai buaya barusan?


"Buayanya banyak, loh. Masih ada tiga. Satu temanya tadi udah kena, makanya mereka gagal buat menerkam kita," Kata Mikaela memberitahunya,


"Bagaimana kakak bisa tahu!?"


"Tentu saja," jawab Mikaela ringan seakan itu bukanlah apa-apa baginya.


Tanpa ragu Mikala mendekati sungai lagi. Lisa ingin mencegahnya, tapi Mikaela memintanya untuk diam dan memperhatikan.


Gila! Mau cari mati dia!?


Batin Lisa.


Air sungainya terlalu tenang. Tidak disangka ternyata ada banyak buaya disana.


Lisa tegang, sangat. Dia nyaris tidak bisa bernafas ketika melihat Mikaela memasukan tanganya ke dalam air.


Lisa terus mengingat ekor buaya yang dilihatnya tadi itu lumayan besar. Gawat.


Mikaela itu sudah gila, pikirnya. Tidak dapat berkata-kata, betapa jengkelnya dia melihat aksi berani Mikaela.


Suara sengatan kasar aneh muncul dari sana. Suaranya seperti suara listrik yang lepas. Dengan kata lain, listrik yang hilang kendali.


Mikaela sedang apa? Tiba-tiba Lisa menjadi begitu penasaran. Hingga pada akhirnya Mikaela seakan kesusahan akan sesuatu hal yang tidak diketahuinya.


Apa? Dia sedang apa? Buayanya tidak ada yang muncul, tuh. Salah lihatkah tadi? Lisa meragukan itu.


Suara sengatanya kembali terdengar. Semakin jelas. Lisa tidak mengerti apa yang sedang Mikaela lakukan sejak tadi.


Secara mengejutkan, timbul deretan ledakan besar dalam air sepanjang sungai. Airnya melambung tinggi hingga menjadi sebuah hujan besar.


Hujan lokal dari air sungai membasahi seluruh tubuhnya. Apa itu tadi? Dilihatnya ke arah Mikaela berdiri. Mikaela berautkan sebal sekaan dia kecewa dengan aksinya sendiri.


Apa benar dia yang buat ledakan dalam air tadi? Bagaimana bisa? Pikiran Lisa langsung dihujami banyak pertanyaan.


***


"Apa ada yang memakai bom tadi?" Tanya Evanka menaruh curiga.


Jelas tadi mereka semua semua mendengar suara ledakan keras. Kemungkinan berasal dari sungai sebab saking kuatnya ledakan itu, muncratan airnya hingga mengenai mereka.


Evanka adalah seksi pemegang kunci gudang persenjataan. Memang tidak ada yang kurang dalam gudangnya, tapi mungkin ada yang menyeludupi beberapa bom untuk menangkap ikan tanpa sepengetahuanya.


Banyak yang saling melemparkan pandangan, mencari siapa pelaku utamanya diatas meja makan ini. Lisa dan Mikaela diam. Jelas-jelas mereka lah yang kelihatan paling mencurigakan disini.


"Mikaela, Lisa. Kalian tahu sesuatu?" Tanya Evanka.


Lisa menggeleng keras, sedangkan Mikaela menelan makananya dengan berat.


Ah, sudah pasti mereka. Jangan ditanya, deh.


"Ajarkan Lisa!" Pinta Lisa keras kepada Mikaela.


Dia sengaja tutup mulut demi ini. Sesuai yang dijanjikan, Mikaela akan mengajarkanya karena dia memang sengaja menunjukan hal itu walaupun kelihatan berlebihan tadi.


"Ok."


Mereka akan berlatih di hutan, di daerah yang jauh dari tempat latihan mereka yang biasa.


Tidak disangka Mikaela tidak sendirian. Dia datang bersama Edgar Palova, Sofia dan Sisi. Lisa tidak tahu harus berkata apa mengenai kelakuan Mikaela ini.


"Karena kalian adalah orang-orang terpilih yang cukup merepotkan, aku akan memberikan guru yang lebih tahu caranya mengendalikan elemen bumi," ujar Mikaela membuat semua orang tidak paham.


Seketika dia menjentikan jarinya didepan semua orang. Saat itu juga, tanpa sebab-akibat Sisi tersimpuh dengan dua tanduk yang lansung muncul dari kepalanya begitu saja.


Semuanya tentu saja kaget sekaligus bingung dengan apa yang telah terjadi kepadanya. Melihat reaksi Mikaela yang santai saja buat Edgar memanas.


Ditariknya kerah baju orang itu dengan kasar. Matanya merah karena marah. Apalagi Mikaela justru terkekeh sebab dia cukup kaget dengan reaksi Edgar ini.


"Apa yang kau lakukan, hah!?"


"Tenang. Dia baik-baik saja," jelas Mikaela enteng.


Baru saja mengatakan hal itu, Edgar mendapatkan tepukan keras dipundaknya. Ditolehnya, semua orang menggidik melihat yang memegangnya adalah gadis bertanduk yang tampak jengkel.


"Jangan menyentuh dia seperti itu, b*ngs*t!" Teriak Sisi menariknya hingga terpelanting cukup hebat.


Edgar tepar. Untung dia bukan manusia biasa.


Paras periang Sisi yang tampak ceria sebelumnya berubah menjadi sosok yang inocent ketika tanduk itu muncul. Mata iblisnya kelihatan menakutkan.


"Karin," Mikaela memanggilnya, Sisi yang ke-2.


Gadis itu sebenarnya keberatan dinamai begitu, tapi apa boleh buat. Ada banyak hal yang membuatnya tidak bisa melawan.


"Ya, ya. Maaf. Orang tidak sopan seperti itu harusnya dihabisi, bukan,"


"Dia itu mengkhawatirkanmu, loh. Baik-baiklah denganya,"


"Dia mengkhawatirkan gadis bodoh ini. Bukan aku."


Sofia dan Lisa terdiam. Mereka tidak tahu harus apa melihat kejadian aneh semacam ini didepan mata mereka. Yang mereka tahu, mereka hanya menonton dan diam karena tidak memiliki urusan.


Semua kembali berkumpul dengan Edgar yang malu setengah mati, harga dirinya dihabisi oleh oleh anak perempuan.


Andai saja dia tahu partners tampan yang dianggapnya lebih kuat didepanya itu adalah perempuan.


°°°