Black in Black

Black in Black
Pohon 22



"Pergi."


BOOM!


Lagi-lagi suara ledakan terdengar. Bentuk tembok gedung ini benar-benar hancur dibuatnya. Berasal dari lobang baru yang dibuat, 'Rabbits' dan 'Owl' muncul dari dana. Mereka melarikan diri setelah ada beberapa tembakan keras dari dalam ruangan yang mereka tinggalkan.


Disana terlihat banyak para Android manusia milik Mendes nenembak. Akhirnya terungkap, pasukan berbahaya milik Mendes. Mereka nyaris tidak bisa dibedakan dengan manusia asli.


"Uwoh, mereka kabur!" ujar Sisi yang hendak mengikuti.


Tapi, muncul sosok yang menghadangnya. Sosok yang memakai pakain khusus berwarna cerah dan wajah cerah juga.


Mikaela.


Dialah yang menghadang jalan Sisi sedari memegang pisau ditangan kirinya disana.


"Jangan ikuti mereka."


Gadis bertanduk itu mengangkat sebelah alisnya, tidak percaya. Mikaela menghentikanya mengejar? Kenapa?


"Kau tidak percaya dengan kemampuanku, Mikaela?"


"Tidak. Aku tahu kau kuat. Makanya aku harus menghentikanmu, nona bertanduk."


Ya, sudah diduganya. Mikaela ini adalah orang yang hebat sekali menyembunyikan aromanya. Bukan hanya itu. Insting gadis itu juga mengatakan bahwa dia harus tunduk dengan orang yang nemiliki pijaran gelap yang ada didepanya itu. Jika tidak, dia akan tamat.


Aneh, pikirnya.


Padahal Mikaela yang aku lihat diingatan gadis ini adalah Mikaela yang berbeda. Bagaimana bisa auranya semenakutkan ini ketika dilihat secara langsung? Apa karena dia menyadari aku adalah orang yang berbeda?


"Kenapa?"


Gadis itu butuh penjelasan. Namun, pemiliki netra yang tampak hangat disana itu justru tersenyum lembut kepadanya.


Kenapa? Gadis cantik bertanduk itu mulai khawatir dengan senyumnya.


"Aku harus bagaimana ya mengatakanya?" Mikaela menyudutkan ujung pisau itu didagunya, sedang berpikir.


***


"Saya tidak tahu harus bilang apa."


Para petinggi berkumpul dalam ruang rapat yang sunyi. Mungkin banyak hal yang mengganggu pikiran mereka. Salah satunya adalah perbaikan gedung utama ini.


Kemudian memikirkan masalah yang terjadi hari ini. Pertanyaan besarnya adalah kenapa buronan itu menyerang gedung? Kemungkinan mereka jugalah yang mengirim Android yang mirip Doc. Lucy untuk membunuh Mikaela.


"Kalian sudah melihatnya. Saya tidak percaya itu dalah Android yang menyamar menjadi Doc. Lucy. Maafkan saya karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak..."


Beberapa para petinggi Kota K, mengangguk pelan memaklumi. Sekaligus tidak percaya hakim yang terkenal selalu benar itu meminta maaf atas kesalahanya.


Lucy yang datang memaksakan diri kemari mungkin sedang dalam perjalanan kemudian diserang. Dilihat dari bukti-bukti mengenai keterangan perihal yang ada, menimbulkan pertanyaan baru lagi.


Kenapa mereka ingin membunuh Mikaela? Kenapa tidak sewaktu di mendan perang saja? Kenapa juga mereka membantu Mikaela menghancurkan 'Pohon Bencana' waktu itu dimana mereka sudah mendapatkan bayaran berupa tangan Mikaela? Ya, Mikaela menjelaskanya begitu.


Banyak yang bisa dijelaskan, tapi tidak ada yang tahu penjelasan yang mana yang lebih masuk akal dalam masalah ini. Apa Mikaela menipu 'Rabbits' dan 'Owl' sehingga mereka datang dan menghancurkan semuanya?


Mereka mungkin berpikir Mikaela tertidur karena bius. Tahu gadis berpotong rambut laki-laki itu bangun, mereka melarikan diri.


Kenapa? Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab.


"Saya tidak begitu tahu perihal awalnya. Intinya yang sudah terjadi disini mungkin dapat saya simpulkan bahwa yang mereka lakukan ini adalah misi pembunuhan. Bisa disebabkan karena pengkhianatan Mikaela, mereka memang tidak bisa membunuh Mikaela sewaktu dimedan perang, atau karena beberapa spekulasi lainya. Nona Mikaela memang mengaku bahwa dia dibantu di medan perang, tapi tidak ada yang tahu bukan apa yang sebenarnya terjadi."


Apa yang didapat dalam rapat itu? Tidak ada. Sebab yang terjadi tidak begitu jelas. Mikaela juga tidak memberikan alasan yang jelas.


"Siapa gadis itu?" Tanya Mendes mengarah pada Sisi yang terbaring di sofa. Tidak ada tanduk dikepalanya lagi. Entah tanduknya kemana.


"Teman."


Sungguh? Bagaimana gadis bersurai panjang itu bisa masuk dalam penjagaan ketat seperti saat ini?


"Bagaimana keadaan Doc. Lucy?" Tanya Mikaela mengalihkan pikiran Mendes.


"Dia baik-baik saja. Mungkin sore nanti dia bisa mengoprasi tangan Anda,"


"Apa lukanya parah?"


"Tidak terlalu. Hanya ada beberapa lebam dan sayatan rumput-rumputan. Oh, iya. Ada sedikit luka bakar di betisnya. Dia mengaku mobilnya diledakan,"


"Oh, tidak terlalu ya?" Mikaela merasa orang didepanya itu terlalu menyepelekan masalah orang lain.


"Saya hanya mengkhawatirkan Anda," ungkap Mendes lembut.


Mikaela tidak bertanya, loh. Mendes yang bilang sendiri begitu.


"Tentu saja. Anda tidak akan mendapatkan orang yang seberani saya hanya untuk berbicara dengan Anda," jawab Mikaela asal.


"Bukan. Saya pikir saya harus mengatakan hal ini agar Anda tidak salah paham lagi."


Soal apa? Mikaela penasaran. Memangnya dia salah paham soal apa?


"Saya menyukai Anda."


Blup. Lampu kewarasan padam seketika. Tidak. Itu hanya perasaan Mikaela.


Bibirnya merapat, gemetar. Perutnya juga tergelitik hebat. Sengaja dia menunduk agar tawanya tidak pecah.


"Saya tahu ini sangat memalukan," ungkap Mendes terdengar kesal.


Dia mungkin menyesal setelag mebgatakanya, tapi Mikaela tahu inulah yang dimaksud orang ini. Rencana yang tidak terduga itu.


"Tidak. Saya sedang terharu," bualan Mikaela semakin menunduk


"Kelihatan bohong sekali,"


"Anda juga sama," gumam Mikaela pelan, "Tapi, sejujurnya saya sangat senang. Ternyata perasaan saya terbalaskan."


Pft! Mereka akan meledak. Wajah mereka sama-sama memerah. Reaksi yang aneh untuk orang yang sama-sama menyatakan cinta.


Ide yang buruk.


Mikaela langsung beranjak tanpa izin masuk ke toilet meninggalkan Mendes yang menunduk. Tidak lama dari itu Mendes juga menunggalkan ruangan Mikaela.


Itu reaksi yang terlalu aneh! Mereka berharap orang-orang tidak terlalu memikirkanya.


Sayangnya ada satu orang yang melihatnya secara langsung dan masih berpura-pura tidur. Dia syok berat. Mikaela-nya.


Mikaela menaruh hati dengan orang itu?


Entah perasaan sedih apa yang melandanya, mungkin itu semacam perasaan cemburu.


"Mau aku bantu untuk menghabisinya?"


Tidak. Biarkan saja. Aku akan menunjukan betapa tulusny aku menyukai Mikaela. Dengan begitu Mikaela akan mencintaiku.


"Kau naif sekali..."


Iblis itu kembali mengingatnya. Mikaela ya? Apa yang pernah dilakukan anak itu kepadanya waktu itu sehingga dia terus memikirkanya? Memikirkan siapa sebenarnya Mikaela itu sebab isi dari jiwa Mikaela itu bukanlah manusia lagi.


°°°