
"Katakan kepada saya bagaimana Anda bisa mengalahkanya, Nona Mikaela?" Mendes melihat gadis yang sibuk bermain kayu yang berbentukan kayu ketapel.
Kesibukan yang terlihat jelas benar-benar dibuat-buat. Atau mungkin masa kecilnys Mikaela dulu itu memang menyedihkan sehingga dia menukarkanya dengan umurnya saat ini.
18 tahun.
Dia itu anak remaja perempuan dengan pakaian laki-laki. Kaos santai panjangnya menutupi tanganya yang hilang.
"Saya tidak suka bercerita soalnya kegitan saya pada saat itu. Sepeti fiksi fantasy, tidak masuk akal kan saya bisa mengalahkanya?"
Gadis ini mau dipuji atau melemparkan urusanya kepada 'Rabbits' dan 'Owl'? Dia benar-benar sibuk dengan mainan yang jelas-jelas sengaja membuat dirinya sibuk sendiri, tidak beralasan pula. Mendes harap dirinya tidak menghajar anak ini sekarang.
***
"Kau pasangan dengan Mikaela, kan?" ujar gadis berambut panjang itu kepada Edgar.
Tipe Edgar sekali, gadis yang memiliki rambut panjang yang tampak menawan. Tidak. Hanya Mikaela yang ada dihatinya. Hanya Mikaela!
"Iya?"
Walaupun yang ditanya itu Mikaela, dia cukup senang ada gadis yang berani mengajaknya bicara sebab rata-rata orang pasti berpikir dirinya itu tukang palak. Ah, dia melupakan tekadnya terhadap Mikaela.
"Syukurlah. Apa kau tahu bagaimana keadaanya? Apa benar tangan kananya dipotong 'Rabbits'? Aku mendengar banyak berita buruk mengenai dirinya. Aku harap semua itu tidak benar."
"Maaf, aku tidak begitu tahu kedaanya. Aku memang pasanganya, tapi aku juga tidak dibolehkan masuk. Kalau soal tangan kananya itu memang benar. Mikaela kehilangan tangan kananya," jelas Edgar agak gugup.
Mendengar kenyataan itu, mata gadis itu langsung saja berkaca-kaca. Pada akhirnya dia meraung, tangisnya pun membuat beberapa orang melihat jahat pada Edgar.
"B-bukan aku!" Jelas Edgar kepada orang-orang.
"Hei, kenapa kau menangis? Orang-orang nyalahin aku, tuh. Nangisnya di tempat lain aja," ujar Edgar lagi kewalahan.
Gadis itu tidak bisa mendengarkanya. Dia terlalu sedih memikirkan Mikaela-nya yang sakit. Dia membayangkan Mikaela tertidur dengan rasa sakit karena lehilangan tanganya. Itulah yang membuatnya sangat sedih.
Padahal gadis itu baik-baik saja. Tidak ada yang tahu bahwa mobil mewah yang keluar lewat gerbang belakang siang tadi adalah mobil Mendes yang diikuti Mikaela.
Sekarang dia sibuk melihat ilalang di aras bukit. Mendes terpaksa mengikutinya. Lagipula dia juga butuh pemandangan semacam ini untuk melepaskan kepenatanya yang tinggal tertutup dari balik tembok.
Tidak jauh dari tempatnya itu pasti ada tempat berbahaya lainya lagi. Entah sampai kapan alam ingin memusnahkan mereka. Sepertinya mereka harus membayar semua dengan hidup penuh rasa ketakutan selama berabad-abad.
Itu karena manusia sendirilah yang memulai perperanganya. Otomatis, mereka jugalah yang harus menanggungnya.
"Tuan, ada sebuah paket. Identitas pengirimnya tidak jelas. Isinya juga bukan semacam logam ataupun sesuatu yang berbahaya. Nona Mikaela meminta kami membakar seluruh barang yang bukan makanan, tapi kata pengirim itu barang ini sangat penting bagi Nona Mikaela. Bolehkah saya diizinkan untuk memeriksanya?" ujar pengawas itu kepada para petinggi.
"Buka saja," kata Petinggi pertama sudah membolehkan.
Pengawas itu pun membuka bungkusnya. Kotak besar, persegi panjang. Beratnya juga lumayan. Semua penasaran apa isinya. Paket yang terlalu mencurigakan. Dan mereka dikejutkan dengan isi dari tambung air itu.
Tangan, sebuah tangan yang terpotong hingga bahu. Kemungkinan itu adalah tanganya.
"Ya? Dia berada disini bersama saya," ungkap Mendes sambil melihat bocah tampan yang mengorek lubang serangga di bawah pohon dekat mobilnya.
Seseorang sedang berbicara denganya lewat ponsel. Orang itu memberi kabar yang mengejutkan mengenai bocah disana. Mikaela.
Tanganya yang hilang sudah ditemukan.
Tidak ada alasan lebih lanjut. Sungguh, yang neminta maaf ini sepertinya tidak benar-benar berniat minta maaf.
"Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini, Nona Mikaela?" Tanya Mendes sudah mulai terbiasa berbicara dengan bocah jadi-jadian itu.
Mikaela duduk di samping kemudinya. Wajahnya mengungkapkan betapa sulitnya dia memahapi apa yang terjadi.
"Mereka sudah gila," ujar Mikaela dengan sifat aslinya.
Mendes terkekeh halus, gadis di sampingnya itu memiliki pikiran yang sama denganya. Memotong tangan seseorang dan mengembalikanya lagi. Apa Mikaela perlu membuat mereka juga merasakan sakitnya?
"Lebih baik begitu. Saya hanya mengkhawatirkan apa tangan yang sudah dipotong itu bisa tersambung lagi. Meskipun Anda makhluk terinvekai sekalipun, kenapa mereka menginginkan Doc. Lusy mengoprasi Anda, ya?"
Yah, itulah celah yang tidak terduga. Mikaela balik menatap mata tajam Mendes.
"Menurut Anda apa? Apa Anda bisa membaca pikiran orang selain saya?"
"Kadang-kadang seseorang mudah sekali ditebak. Anda adalah yang pertama, jujur saja saya sangat kesulit membaca pikiran Anda. Apalagi 'Rabbits' dan 'Owl', orang tidak waras memang sulit ditebak, ya."
Mendes baru saja mengatainya. Mikaela jengkel mendengarnya, tapi dia lebih jengkel dengan orang yang mengirim tanganya kembali.
"Belikan saya banyak donat setelah saya dioprasi!" tuntut Mikaela sekeyika.
"Ya, tentu saja. Sebelum itu sepertinya saya punya banyak waktu untuk mencarinya," ujar Mendes berkiasan, menyangupinua, "Mencari banyak donat yang enak untuk Anda."
Bom waktu baru saja terlontar dari kata-kata Mendes. Mikaela memaksakan senyum, ikut senang mendengarnya. Dalam arti yang sesungguhnya, berupa bentuk kiasan.
"Saya akan sangat menantikanya."
Ya, dalam kepasrahan. Hanya orang yang membuat masalah ini saja yang bisa menentukanya. Ending apa yang akan berlanjut dalam teka-teki besar ini. Indah, buruk, atau bergantung?
***
"Dia akan tertidur panjang. Sang tokoh utama pun sementara itu akan digantikan. Bagaimana menurutmu?"
Wanita itu terdiam, tercengang hebat. Itu 'Owl'? Kenapa berubah? Dimana gadis aggun dan penuh kemisteriusan dalam diam yang dikenalnya dulu? Hilang kah?
"Dia pasti tidak menyukainya," ungkap wanita itu jujur.
"Oh, tidak perlu meminta pendapatnya. Dia sudah berjalan sendirian. Aku juga. Bukankah dia selalu meminta pendapatku ketika melakukan apapun? Aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya."
"Ini terlalu berbahaya. Sebaiknya kau merubah rencanamu," saran satu orang yang sedang men-carger dirinya sendiri di tempatnya.
"Hm? Benarkah? Berikan aku alasan yang masuk akal,"
"Disana pengamananya tambah ketat. Terlebih disana ada Jaksa Hakim Mendes. Aku dengar dia memiliki antek-antek yang merupakan Android manusia. Tidak ada yang tahu seberapa hebat Android yang dia punya. Dan membuat Mikaela dioprasi dan tertidur panjang adalah ide yang paling buruk yang pernah ada. Mereka akan-"
"Tenang saja!" Seru wanita itu cepat, "Kalau kemungkinan terburuknya adalah itu, sebaiknya aku ikut dalam operasi ini seberisiko apapun. Selama itu, buatlah sebuah kekacauan agar operasi ini berjalan dengan sangat buruk. Anak-anaku tidak boleh diambil. Tidak akan aku biarkan!"
'Owl' terdiam dengan betapa seriusnya wanita itu. Padahal dia tidak bermaksud melibatkan siapapun lagi setelah aksi pertamanya. Haruskah dia mencegahnya?
°°°