Black in Black

Black in Black
Pohon 3



Mereka sedang menutup celahnya. Lalu, apa yang mereka tunggu?


Jauh diatas sana, dua orang itu melihat pemandangan di bawah. Banyak perkerja bangunan yang sibuk menutup celah tersebut dengan ketakutan akan kematian yang bisa saja menjemput secara tiba-tiba. Celahnya masih sedikit basah lagi. Dan penjagaanya masih orang-orang kemarin.


Di atas tembok itu ada juga bebrapa orang yang nengawasi luar tembok, tapi mereka tidak menyadari dua orang berstelan gelap disana adalah buronan.


"Aneh. Tidak ada satupun parasit yang muncul."


Pemilik suara ini, 'Rabbits'. Tanpa melihat ke sisi lain dari tembok raksasa ini pun dia sudah tahu itu. Tidak ada pengacau dan juga terlalu sunyi. Situasi sunyi yang mencurigakan.


Kenapa?


"Ada apa ini? Padahal 'Bunga Bencana'-nya masih aktif."


Dia terus saja memikirkanya, ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi yang hebatnyabl mereka tidak dapat menduganya, gelombang serangan macam apa yang akan dilancarkan Extheretopia aktif tersebut. 'Owl' juga ikut berpikir keras. Menurut mereka orang-orang ini bisa bertahan selama berada disini benar-benar beruntung.


Extheretopia yang sudah melakukan revolusi tidak menyerang? Sulit dipercaya memang.


Karena informasi dari bunga raksasa ini hanya sedikit, sulit sekali untuk memperkirakan jarak dan gelombang serangan yang terbilang selalu berubah-ubah sebab Extheretopia diyakini memiliki kecerdasan buatan layaknya robot yang sangat mengerikan untuk ukuran tumbuhan hidup.


Pengetahuan monoton seperti level revolusi yang didapatlan dari informan negri barat, negeri yang membuat Extheretopia itu sendiri hanya mengetahui data itu saja. Tidak ada orang yang berani mendekati ataupum berhasil selamat setelah melakukan observasi. Extheretopia itu sangat berbahaya, berbahaya soal debu putiknya yang mempengaruhi pikiran dan berbahaya dalam hal makhluk yang bergerak dibawah kendalinya.


"Angkatan udara belum mengirimkan bom atom ke sana. Entah apa yang mereka pikirkan, jika pemusnahan ini terlambat, ini bisa berakibat fatal," jelas 'Owl' serius kepada 'Rabbits'.


'Rabbits' menjambak rambut pendeknya, frustasi. Apa dia perlu memenggal sungguhan penjabat-penjabat yang bertanggung jawab atas ini? Setelah dia mengatakan hal penggal-memanggal itu para petinggi negara malah gencar untuk menangkap mereka berdua. Melakukan pemeriksaan remaja di seluruh Indonesia secara serentak benar-benar usaha yang tidak tanggung-tanggung.


Membuat jengkel? Tentu saja.


Tidak memperdulikan ketinggian tembok yang melebihi gedung pencakar langit itu, 'Rabbits' turun


dengan cara melompat begitu saja dari atas. Terlalu malas baginya untuk tampak normal dimana dia sendiri dianggap makhluk yang tidak biasa.


'Rabbits' melandas di sebuah tempat yang aman didekat para pekerja yang sontak saja keget melihat kedatanganya yang membawa angin kencang dari atas.


Mereka langsung saja lari terbirit-birit ketakutan. Beberapa tentara juga berusaha menghentikan mereka.


Salah satunya mendekati 'Rabbits' yang terdiam di tempat, tidak mau membuat semua tambah heboh. Pantasan 'Owl' tidak ikut. Dia tahu toh hal ini akan jadi merepotkan orang.


"Kau datang?" Tentara muda itu terdengar bersahabat.


Mereka tidak khawatir lagi dengan 'Rabbits' karena mereka percaya dua orang buronan itu bukanlah penjahat sebab dialah yang berhasil memenangkan pertarungan mereka dengan para serangga waktu itu.


Rumor mengenai 'Rabbits' dan 'Owl' yang senang membunuh orang juga sudah dijelaskan oleh 'Owl' bahwa itu cuma hoax. Sebab memang ada beberapa orang yang sengaja berpenampilan seperti mereka yang merupakan pembunuh berantai, tapi bukan mutan sepeti mereka.


"Aneh. Apa ini juga terjadi pada saat kami tidak ada?" Tanya 'Rabbits' penasaran,


"Ya, kami juga begitu."


"Kenapa mereka belum memusnahkan 'Bunga Bencana' disana?"


"Pemerintah pusat sedang nerusaha mengembangkan bom atom baru yang lebih kuat sebagai percobaan baru. Mungkin besok-"


"Kenapa mereka begitu bertele-tele!?" Lagi-lagi 'Rabbits' menghela nafas kasarnya dengan sangat jelas.


Tentara itu, yang ber-nametag-kan 'Felix'. Dia hanya berkeringat dingin melihat orang didepanya itu seketika menjadi kesal.


Tentu saja. Beberapa orang disini yang mengetahui itu juga awalnya kesal. Nyawa mereka terancam jika terus berada ditempat seberbahaya ini dimana 'Bunga Bencana' sendiri masih aktif dan.kuga belum dimusnahkan.


Mereka setuju terhadap pendapat 'Rabbits'. Apa ini juga setuju soal pemenggalan penjabat-penjabat itu?


'Rabbits' tiba-tiba menggidik spontan ke arah arah belakangnya.


"Hoh," desahnya spontan.


Sontak 'Rabbits' meloncat keatas, mendarat tepat disamping 'Owl' yang sudah berdiri tegap melihat pada sisi yang gelap. Kemampuan yang sangat menakjubkan. Tapi, para tentara tidak punya waktu untuk itu.


Segara mereka memyusul apa yang membuat 'Rabbits' begitu.


Pohon-pohonya bergoyang  menandakan ada makhluk besar yang kuat sedang mendekat.


Apa itu?


Mata 'Rabbits' yang tajam melihat duri yang terjejer disebuah punggung makhluk yang masih tidak diketahui revolusi dari hewan apa.


Bebetapa tentara yang menaiki tembok dengan anak tangga sampai pada tempat mereka. Sayangnya mereka tidak memiliki mata spesial seperti dua mutan bermata merah itu.


Yang dapat mereka dengar hanya suara gemuruhan yang terdengar menakutkan.


"Apa itu?" Lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama.


Kabut pekat yang ada itu terlihat begitu mengganggu. Hingga meakhluk itu berlari pada dasar tanah yang lapang, mereka masih tidak bisa mengidentifikasikanya.


Namun, 'Rabbits' dan 'Owl' sudah menyelesaikan essay mereka.


"Itu adalah revolusi badak. Tulang-tulang tajam yang keluar dari tubuhnya adalah bentuk pertahan baru baginya. Culanya juga direvolusikan sedemikian rupa untuk menghancurkan tembok," jelas 'Owl' cepat sebelum cula itu sendiri menabrak keras ke tembok.


BUM!!!


Temboknya bergemetar, tapi tembok ini dibuat dengan sangat kokok. Ya, walaupun begitu tembok ini akan retak ketika celah kecil itu membuat retakanya semakin parah.


"Ah, tentu saja. Cerdas sekali," ujar 'Rabbits' enteng.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Tembak!" beberapa tentara dengan gencar menembak ke arah badak itu di bawah, walaupun badak itu tidak terlihat jelas dimata mereka.


Dengan kecepatan penuh, secara mengejutkan sebuah bayangam hitam besar mematuk paruh raksasanya ke arah mereka.


Tertangkap di mata 'Rabbits' dan 'Owl' bebeapa detik yang kaget setengah mati, burung gagak raksasa langsung melayang terbang menjauh setelah gagal mematuk tepian tembok itu hingga hancur.


Untung 'Rabbits' dan 'Owl' berhasil menyelamatkan seluruh tentara sebelumnya beberapa detik sebelum itu terjadi. Tubuh para tentara agak terpelanting ke arah sisi tembok yang lainya akibat gerakan dua orang berstelan gelap itu yang terlalu cepat. Ya, itu lebih baik ketimbang dimakan burung, bukan.


Dua makhluk parasit unggulan, ya? Ratu itu membuat formasi termyata.


"Kalian cepat menjauh dari sini. Ungsikan para pekerja dan hubungi bantuan dari pusat. Tumbuhan parasit itu harus segera dimusnahkan. Jika tidak, katakan kepada mereka akubakan datang dan memenggal kepala mereka segera," perintah 'Rabbits' terdengar mengancam.


"Siap!!!" Semua memberi hormat, kemudian bubar, menuruni tembok dengan teraturnya.


'Rabbits' terkesima sendiri, apa dia baru saja memberi perintah yang keren?


"Sepertinya kita dapat bahan eksperimen baru," ujar 'Owl' menyadarkan, menyiapkan senapan gandanya di kedua tangan, "Aku bukan tipe penyerang jarak dekat. Jadi, kau urus badak itu. Aku urus gagaknya."


"Oke."


Ini pertama kalinya keduanya menghadapi dua makhluk revolusi level tinggi.


Apa mereka bisa menghabisinya hanya berdua saja?


***


"Apa perutmu masih sakit?" Tanya Mikaela.


Eliza hanya menggeleng pelan. Seharusnya dia tidak banyak bergerak dan seharusnya dia membolos jam olahraga saja.


Apa boleh buat. Dia tidak mau fisiknya lebih lemah daripada Mikaela. Ya, setidaknya dalam seminggu sekali dia meregangkan otot-ototnya di pelajaran yang tidak disukainya itu.


"Eliza kenapa? Sakit perut, kah?" Tanya teman sekelas mereka.


"Iya. Aku suruh istirahat, dia gak mau tuh. Ngeyel..." Omel Mikaela yang langsung didelik Eliza tajam.


Mikaela pura-pura tidak melihatnya, dia malah tersenyum simpul, membungkap mulut seketika.


Mikaela pun membawa Eliza ke UKS, satu-satunya tempat yang nyaman untuk berbaring setelah Eliza setuju untuk beristirahat.


"Kau disini saja," ungkap Mikaela menyelimutinya.


Eliza memicingkan mata, "Cepat kemari kalau sudah selesai."


"Gak. Kau harus tidur sampai jam pelajaran ke-3 selesai,"


"Kau mau aku hajar apa,"


"Hehehe... Istirahat saja. Aku akan segera kemari sebelum kau bangun."


Langkah kecil itu berbalik, kemudian.


"Selamat tidur, Eliza."


Sosok itupun lenyap dari balik pintu. Eliza menatap kepergian Mikaela dengan mimik yang sulit diartikan.


Padahal yang paling banyak terluka itu dia. Bagaimana dia bisa secepat itu?


Entah itu hanya ungkapan atau sebuah kalimat petunjuk akan pernyataan sesungguhnya. Intinya, dari balik semua kejadian yang hanya diketahui sedikit orang, kadang seseorang tidak selemah dari yang bisa dilihat.


"Mikaela!"


Gadis itu muncul ketika Mikaela melewati kelasnya untuk kembali ke lapangan.


"Ya?"


"Kau olahraga, kan. Ini, minuman untukmu."


Sisi meberikanya, sebotol minuman berdoda yang tampak menyegarkan. Gadis itu lagi-lagi membuat takjub Mikaela.


"Wah, makasih, Sisi. Kau tahu sekali aku lagi haus,"


"Sama-sama. Oh, iya. Kau habis ngapain di UKS?"


"Oh, itu, Eliz sakit perut. Makanya aku bawa dia ke sana,"


"Dia sendirian aja?"


"Hm, hm. Kalau sempat, bisa gak temanin dia?" Bisa lihat bagaimana Mikaela tersenyum tulus?


"Bisa."


"Makasih."


Dalam batin Mikaela tersenyum miring. Dia sengaja membuat gadis yang dibenci Eliza itu mengganggunya tidur. Itu juga merupakan salah satu kesenangan tersendiri bagi Mikaela.


Kadang menjahili Eliza seru juga.


Mikaela sahabat yang terlalu baik. Eliza akan menghajarnya setelah ini.


Tentu saja.


°°°