
TOK! TOK! TOK!
"Kak Eliza, Jamie tahu kak Eliza ada di dalam. Ayah dan Ibu Jamie minta Jamie buat jemput Kak Mikaela. Kak Mikaela ada, kan?"
Bagaimana dia harus menjelaskanya? Sebab Mikaela tidak bersamanya. Di masih berada di Lab, Mikaela lah yang menyuruh Eliza mengirim pesan ke rumahnya, berbohong soal dirinya yang menginap di rumah Eliza.
Eliza sudah menduga ini akan terjadi. Keluarga Mikaela tentu saja tidak akan melepaskan anak perempuanya untuk menginap ke rumah orang, bahkan dirumah teman dekatnya sekalipun, Eliza. Mereka tidak mempercayai siapapun.
Ya, seharusnya Eliza tidak meninggalkan Mikaela sendirian waktu itu.
"Pasangkan itu lagi kepadaku. Aku tahu dia sudah menyuruhmu melepaskan itu dariku karena tubuhku menolak adanya jaringan itu. Aku tidak peduli seberapa besar risikonya. Aku ingin tambah kuat, aku ingin melindunginya meskipun rasanya sakit sekalipun."
Eliza tidak akan menahan diri lagi setelah ini. Dia akan mengakhiri diamnya.
***
"Hebat. Dalam 4 hari, Divisi Kelas 1 Kota K bisa mengajar seluruh angkatan Kota M dengan sangat baik. Walaupun kemampuan peserta kami tidak seberapa, kami benar-benar merasa terbantu."
Mikaela sama sekali tidak menjawab apapun. Itu bukan usahanya, jadi dia tidak akan menerima satupun kalimat pujian.
"Mikaela Edgee, bisa bicara sebentar?"
Mikaela mendelik, Petinggi dari Kota K menunggunya di ambang pintu. Kebetulan, dia juga ingin membicarakan sesuatu.
Besok mereka bisa bersiap. Mikaela harus meminta bayaranya jika projek ini berhasil. Bayaran mahal yang akan membuat frustasi.
Tentu saja. Dia mau berada dalam posisi merepotkan ini demi tujuan itu.
Pemuda utusan negara itu ingin melihat kemampuan sang bintang. Kebetulan dia membawa soal ujian 'mustahil' sebagai percobaan terhadap Mikaela bersamaan dengan kedatanganya kamarin. Ini adalah soal baru jika soal yang berlevelkan 30 keluaran pertama sudah bisa dituntaskan.
Karena membutuhkan kerja sama tim, Mikaela berpasangan dengan Edgar harus bisa menyelesaikan setidaknya 1 level saja. Kalau bisa. Dengan kata lain, tingkat kesulitan soal ini benar-benar berat. Bahkan dikatakan 'mustahil' karena pembuatnya membuat soal ujian berdasarkan teori terburuk jika perevolusian parasit tidak terduga yang akan menghadapi mereka.
"Start!"
Cara Mikaela memegang dua pistol gandanya, pemuda itu tahu itu adalah cara memegang pistol yang terlalu santai. Dia meremehkanya? Tidak, dia kagum denagnua sebab cara memegang pistol tersebut merupakan tanda bahwa Mikaela sudah biasa menggunakanya.
Sedangkan Edgar sendiri, dia tampak berwaspada penuh terhadap sekelilingnya. Postur tubuhnya dan jarak yang diberikanya dengan Mikaela, jelas sekali dia hanya akan melindungi Mikaela daripasa dirinya sendiri.
Bocah bodoh itu, bagaimana bisa dipasangkan denganya? Dia akan cepat mati karena melindungi makhluk apatis itu.
Maksudnya Mikaela. Gadis itu hanya melihat ke depan sambil terus berjalan.
Monsternya muncul secara mengejutkan didepan.
Ini game gila!
Tanpa suara pula. Siapa sih yang membuat ujian ini, pikir Edgar yang sempat seeangan jatung sesaat. Dengan sigap, Edgar menghadang di depan Mikaela.
DOR!
Tepat mengenai titik vital. Yang nyaris seperti lubang kunci dalam jarak beberapa meter jauh disana. Monster itupun lenyap dari pandangan.
Pemuda utusan yang menonton terbelalak. Kemampuan pertama yang hebat. Dia pikir dua orang itu akan panik dan mendapatkan serangan pertama. Jika dilihat sekilas, posisi Mikaela seperti menembak Edgar.
Tunggu sebentar. Bagaimana Mikaela tahu disana titik vital sekecil itu dimana penglihatanya ditutup Edgar?
"Lindungi dirimu sendiri, barulah melindungi orang," nasehat Mikaela berjalan lagi melewati Edgar.
Baru kali ini Edgar melihat kemampuan Mikaela. Hebat, pikirnya. Anak laki-laki cantik itu memang pro.
Monsternya pun bermunculan secara bersamaan. Benar-benar level 'mustahil'. Didunia nyata, parasit yang berevolusi tidak mungkin datang sebanyak ini secara bersamaan.
Rekayasanya sangat ketraluan, pikir Mikaela.
Belum sempat Edgar mengangkat pedangnya, Mikaela menembak semua monster dengan spekulasi cepat yang tepat. Gerakanya juga luarbiasa cepat. Tidak ada keraguan, dia bahkan tidak menoleh ke arah monster yang menyerang dari belakangnya. Apa-apaan itu? Semacam insting?
Semua orang tercengang. Penembak pro saja belum tentu seakurat itu. Makhluk mutasi macam apa Mikaela ini?
Mikaela Edgee. Dia menyelesaikan level 1 dengan mudahnya. Para petinggi sekarang paham seberapa berbahayanya jika dia menjadi kriminal sungguhan kalau mereka menentang anak ini.
Edgar kini kian terkagum-kagum. Dia merasa tubuh besarnya tidak berguna. Mikaela sangat membuat iri. Bagaimana bisa dengan tubuh sekurus itu bisa memiliki skill yang luarbiasa seperti tadi?
"Terlalu mudah."
Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Mikaela. Dia melihat pemuda tampan di atas sana, sang utusan dari petinggi negara. Dia juga tahu apa yang dia pikirkan.
"Apa 'Rabbits' bisa melihat ini? Aku harap dia tidak gentar."
Seperti menuduh secara tidak langsung, pemuda itu hanya terdiam. Benar, tepat itulah yang sendang dia pikirkan.
***
"Mama. Lihat."
Wanita berambut lurus itu melihatnya, artikel yang tertulis jelas di ponsel anaknya yang berambut maskulin itu.
Sosok berautkan serius seperti orang dewasa dengan wajah kecilnya dibawah topi yang mirip topi polisi berwarna putih.
"Mikaela..." Sebut Wanita itu lembut.
"Mama bilang kakak kalau poting rambut pendek seperti itu persis mirip papa," jeda Jamie sedikit ragu menanyakanya, "Apa papa dulu juga kelihatan seperti ini?"
Pembunuh. Anaku tidak boleh mengikuti jejaknya.
Ada masalah pribadi di rumah. Ini semacam garis keturunan yang sudah lama dikutuk.
Mikaela sebenarnya bukan anak kecil lagi sehingga diharuskan mengikuti seluruh kemauan ibunya. Dia sudah mulai membangkang. Bukan. Dia berusaha mendewasakan diri.
Oleh karena itu, mereka berpikir ada hal yang memicunya. Yaitu adanya salah pergaulan.
Eliza. Dia tidak akan termaafkan.
Pasti anak itu yang terus menuntut kebebasan Mikaela.
°°°