
"Tuan Mendes," lagi-lagi suara itu.
Jika dia bisa mendengarnya, Mendes baru saja berdesah jengkel untuk pertama kalinya menghadapi lawan tersulit yang pernah ada.
Mikaela tersenyum lebar, sempat seperti senyum psikopat yang mendapatkan targetnya yang kebetulan lewat.
"Saya punya banyak beri dari junior-junior saya. Jika Anda sempat, bisakah Anda menghabiskan waktu Anda bersama saya?" ungkap Mikaela dengan sopanya.
Jika pada awalnya Mendes tidak akan melepaskan Mikaela, sekarang Mikaela lah yang tidak akan melepaskanya. Dia menarik tangan pria tampan yang umurnya 7 tahun lebih tua darinya itu seperti anak-anak. Mendes tidak akan menolaknya, dia pikir begitu.
"Maaf, Nona Mikaela. Saya memiliki urusan lain," untuk menyelidikinya sendiri tanpa mengintrogasi makhluk gila donat ini.
Persyaratan gadis itu terlaku banyak. Dia juga memberi alasan yang tidak nyambung dengan alibinya, dan penjelasanya juga tidak cukup kuat untuk menekankan fakta yang terjadi di TKP.
"Tuan Mendes benar-benar sibuk, ya?" Akhirnya gadis itu melepaskan tanganya.
Sayangnya Mendes memberinya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia tidak akan meninggalakan kesan buruk kepada Mikaela walaupun gadis itu sudah menduganya.
Mikaela mendongak, melihat wajah ramah Mendes. Tidak ada mata lawak lagi, berarti orang ini tidak menyepelekanya lagi.
"Kalau begitu, bolehkah aku ikut?" Kalimat bencana.
"Kenapa? Bukankah Anda masih harus dirawat?" Mendes beralasan.
"Anda mengingatkan saya pada kakak sulung saya. Saya jadi ingin terus mengikuti Anda. Kakak sulung saya sudah lama meninggal, dia bilang saya tidak boleh ikut denganya. Haha, kata-kata Anda itu mengingatkan saya lagi."
Benarkah cerita itu? Mendes kadang mudah sekali dibodohi.
"Yah, sepertinya saya bisa mengajak Anda," akhirnya Mikaela berhasil membujuknya.
Sebelum itu dia akan makan siang dulu. Bersama. Dalam ruangan mewah dengan banyak makanan yang enak-enak. Mendes juga membawakan donat untuk Mikaela. Mungkin karena moodnya baik, dia membiarkan gadis tidak sopan itu menemaninya makan. Dia yakin dia tidak akan punya selera makan yang baik jika gadis itu mengatakan hal yang menyebalkan lagi.
"Wah, apa ini yang Anda maksud urusan penting itu, Tuan?"
Terdengar menohok. Mendes cukup tersinggung mendengarnya.
"Tidak. Maksud saya setelah ini,"
"Padahal Anda juga bisa makan bersama saya. Jangan lupa saya juga menerima gaji, loh. Saya mampu membelikan Anda makanan."
Sudah Mendes duga. Gadis ini sangat menyebalkan. Selera makanya seketika hilang.
"Lain kali saya akan melakukanya bersama Anda. Kebetulan saya ingin makan stik hari ini. Bukan. Dari kemarin hari," sepertinya Mendes tahu caranya menghadapi gadis itu dengan berbicara tidak masuk akal juga. Bukankah Mikaela tidak memiliki sifat semenyebalkan ini kepada orang-orang? Dia juga akan begitu.
"Anda benar-benar suka yang berkelas tinggi, ya. Nanti saya mengajak Anda makan makanan yang sekelas dengan saya."
Sudah, sudah. Jika lain kali itu datang, sebisa mungkin Mendes harus menolaknya. Dia yakin gadis ini akan mengerjainya lagi.
***
"Ada kabar?"
"Tidak. Para penjaga disana tidak membeberkan sedikitpun informasi mengenai kedaan Mikaela. Didalam gedung itu hanya berisi orang-orang penting saja. Jika mau mengirim barang kepadanya harus diperiksa terlebih dahulu. Katanya sih sebagian barang selain makanan dibakar, entah karena apa."
Neil mengkhawatirkanya. Berombong-rombong seluruh peserta Kota K ingin menjenguk Mikaeka berserta beberapa teman mereka.
Sayangnya tidak bisa. Sebab dia bersama orang penting itu.
Apa Mikaela berusaha mempengaruhinya? Jawabanya adalah 'tidak'. Terlalu berisiko mempengaruhi orang itu. Mikaela.sama sekali enggan bersekutu dengan utusan petinggi negara tersebut. Terlebih Mendes adalah hakim. Tidak sengaja membuat celah untuknya, Mikaela pasti sudah habis.
"Anda akan kemana, Tuan Mendes?"
"Ke luar tembok, TKP dimana Anda menghancurkan pohon Extherotopia,"
"Apa Anda juga detektif?" Tanya Mikaela.
"Kedengaranya luar baisa. Anda hebat dalam banyak hal ya, Tuan Mendes."
Apa itu pujian?
"Saya harap Anda membaca pikiran saya lagi," ungkap Mikaela terdenhar penuh harap.
"Tidak akan," jawab Mendes spontan secara jujur.
Mikaela tergelitik mendengarnya. Dia tidak akan bertanya kenapa, Mendes tahu sendiri dirinya dipermainkan olehnya.
"Senang melihat Anda baik-baik saja, Nak Mikaela..." salah satu petinggi Kota M menyapanya.
Oh, petinggi yang pernah menolak keras saranya. Mikaela pun tersenyum, memberikan tatapan polosnya.
"Wah, Tuan Swan. Senang bisa melihat Anda juga masih hidup dan bernafas," ungkap Mikaela buat Mendes merasa tergelitik mendengarnya.
Apa maksud darinkalimatbpedanya itu?
"Apa Anda sudah tahu berapa banyak peserta yang tewas?" Tanya Mikaela dengan nada hangat.
Swan terdiam. Inginya dia menyindir anak ini yang ingin mendapatkan hadiahnya, tapi menolak idenya secara keras waktu itu adalah kesalahan fatal. Sekarang dia yang terpojokan. Kalah lagi dari Mikaela ketika sendirian.
Pengecut.
"Sepertinya ada perihal yang tidak saya ketahui disini. Anda bisa menjelaskanya, Tuan Swan?" Mendes ikut menuntut.
Swan semakin membungkam. Dua orang didepanya ini, apa mereka sedang berkerja sama untuk menghancurkanya?
"Tuan Swan yang hebat ini adalah penyetuju utama dalam projek ini, Tuan Mendes. Apa sih yang bisa kami lakukan tanpa persetujuanya? Benar-benar gawat jika Tuan Swan melarang kami turun ke medan perang," Mikaela habis-habisan menyindirnya.
Sepertinya anak ini menjadi sangat menarik menurut Mendes. Dia tahu ada sebuah masalah yang mengarah pada pihak Swan. Mikaela itu cerdas sampai-sampai mampu menbuatnya kewalahan. Jadi, orang yang memiliki pikiran semacama Swan, dibawahnya, Swan bukanlah apa-apa tanpa kekuasanbkasar mata dari sang Mikaela. Sekarang Mikaela lah yang memimpin.
"Jika Anda meneruskan ego Anda, bisa menjadi masalah besar di masa depan. Saya pikir saya harus mengatakanya dengan sangat jelas sebelum saya sendiri yang bertindak," ungkap Mikaela.
Mendes meliriknya, gadis itu baru saja mengeluarkan sifat aslinya untuk pertama kalinya didepan matanya sendiri. Ternyata beginilah sosok penguasa disini. Jika saja Swan tidak mengacaukan sedikit usulanya, mungkin dia tidak akan dipojokan saat ini.
Mikaela dan Mendes berdiri ditingkat yang sama. Hanya ada kata 'berbahaya' di atas kepala mereka. Itu sudah cukup menandakan bahwa dua orang itu adalah kombinasi yang luarbiasa.
"Kami akan membicarakan hal ini lain kali, Tuan Swan. Setelah itu, berbicaralah dengan benar," ujar Mendes menarik Mikaela untuk mengikutinya.
Gadis itu tidak boleh merusak secara sekaligus, lakukanlah nanti secara menyeluruh. Mendes akan mengajaknya lagi ke ruang rapat. Sekarang menurutnya Mikaela begitu cocok dengan pemikiranya jika saja dia mengeluarkan sifat aslinya.
"Saya suka gaya berbicara Anda yang tadi," ungkap Mendes kepada Mikaela.
"Itu tidak cocok untuk Anda, Tuan Mendes. Anda itu tipe orang yang suka anak-anak," ungkap Mikaela bertingkah seperti anak kecil kembali.
Sok tau. Mendes justru benci anak-anak. Dan gadis ini mengetahuinya.
***
"Maaf, dik. Seluruh anak yang ada disini pergi ke Kota M untuk menjenguk teman mereka yang ada disana,"
"Eliza dari SMANSA juga?"
"Iya, dik. Semuanya."
Pemilik rambut maskukin itu seketika meletakan ponselnya ditelinganya, "Maaf, Bu. Kak Eliza tidak ada disini."
Mereka mencarinya, gadis pemilik paras pokerface itu sebenarnya juga tidak berada disana.
Kemana dia? Entahlah. Tidak ada satupun umat yang tahu ada satu orang yang hilang.
°°°