
"Banyak yang bersaksi bahwa 'Rabbits' dan 'Owl' bukan pembunuh berantai yang ada dibeberapa daerah. Mereka mengaku hanya mengambil bangkai beberapa parasit yang mungkin ditujukan untuk eksperimen pada tubuh mereka. Dan mereka tidak pernah membunuh satupun manusia meskipun mereka dengan mudah melakukanya dengan mudah,"
"Kemungkinan mereka adalah mutan Extherotopia tanpa induk. Mereka bergerak tanpa perintah dan dapat beregenerasi seperti tubuh Extherotopia itu sendiri. Beberapa orang menyaksikan pertarungan mereka dengan dua mahkluk parasit yang sudah berevolusi menuju ke tingkat yang lebih tinggi di tembok barat. Luarbiasanya, mereka berhasil menakhlukanya dan membawa bakai parasit tersebut dengan kemampuan yang mengerikan sebelum bom atom pemusnahan Extheretopia datang. Mereka itu benar-benar seperti monster. Dan juga jauh lebih kuat dari parasit-parasit level tertinggi yang pernah masuk ke dalam data tahun itu. Kita harus mendapatkan mereka."
"Mereka merupakan hasil eksperimen yang sangat berguna. Sayangnya tidak ada satupun dokter yang menyerahkan, bahkan mengaku dua mutan itu kepada kita."
"Padahal negara akan terbantu berkat itu, kenapa? Apa mereka memiliki tujuan lain?"
Beberapa petinggi mendebatkan hal ini. 'Rabbits' dan 'Owl' langsung begitu populer di setiap kali rapat diadakan.
Sedangkan tanggapan mereka sendiri.
Kita benar-benar menjadi buronan. Mereka menginginkan kita.
***
Pengumuman. Mulai minggu depan, sekolah sementara akan diganti menjadi pelatihan militer untuk seluruh siswa SMA/SMK di seluruh wilayah Indonesia. Seluruh remaja tersebut diwajibkan ikut dalam pelatihan dan diwajibkan untuk menginap di tempat yang akan ditentukan sebagai tempat pelatihan.
Banyak yang mengerutkan dahi. Apa-apaan ini? Kenapa begitu tiba-tiba. Yang tertepel dengan warna membosankan di mading benar-benar membuat heboh banyak warga seantero sekolah.
"Katanya angkatan militer di seluruh wilayah semakin sedikit. Banyak yang kehilangan nyawa mereka ketika menyerang 'Bunga Bencana' yang ada. Kemungkinan ini adalah penambahan tentara secara memaksa. Dengan kata lain, saat ini kita berada dalam krisis yang tidak dikatakan dimuka publik. Ini benar-benar gawat, kan" kata Ela, teman sekelas Sisi.
Dia mendengarkanya dengan seksama sambil berpikir dalam bayang ketakutan. Memikirkan dunia damai yang ada di belakang halaman sekolahnya, akan sangat mengerikan jika itu dirusak juga.
Sisi terus memikirkanya. Apa akhir dunia mulai dekat?
Dia tidak ingin mati dulu. Padahal dia baru saja menemukan motivasinya untuk hidup. Itu berkat Mikaela.
"Minggu depan akan ada pelatihan militer. Menurutmu aku harus bagaimana?" Sisi bertanya pada Mikaela.
Gadis itu beberapa saat terdiam. Ini adalah masalah yang rumit, dia tidak boleh sembarangan berkata dengan gadis yang akan melakukan apapun atas kepercayaanya yang tinggi terhadap kata-katanya. Padahal dia tidak bisa membuat kata-kata yang mampu menyentuh perasaan seseorang.
"Kau harus serius. Ini adalah perjuangan besar untuk masa depan. Bagiku kuncinya adalah semakin kuat. Anggap saja kau berusaha keras dan terus hidup demi seseorang yang ingin kau lindungi," ungkap Mikaela asal.
Tentu saja asal. Dia tidak pandai memotifasi seseorang, kecuali pada saat dia ingin melakukanya. Dengan kata lain, saat ini dia tidak ingin melakukanya.
"Tapi, aku tidak punya orang yang bisa aku lindungi. Aku juga tidak punya tekad yang kuat untuk itu," Sisi menganggapnya serius.
Mikaela pun terjebak. Dia harus bilang apa? Tidak sengaja dia mengenai masalah pribadi Sisi pada kalimatnya barusan.
"Kalau begitu, cobalah berpikir untuk melindungiku. Memang tidak ada hubunganya sih dengan kehidupanmu, tapi bukanya kau ingin menjadi penulis di masa depan? Aku akan menantikan itu. Aku juga akan berusaha untuk melindungimu. Kita bisa sama-sama berusaha," kata Mikaela.
Sisi melihatnya, Mikaela yang memberikan jawaban yang benar baginya. Misalnya dia bisa melindunginya, apakah Mikaela bisa lebih menyukainya?
Sejujurnya dia sangat merasa iri dengan Eliza yang selalu berada di Sisi Mikaela walupun Eliza tampak sangat begitu dingin.
"Bisa!" Dia seketika membakar semangat.
Kadang itu juga bisa membuat khawatir. Tapi, Mikaela tidak ingin melihatnya mati. Gadis malang ini tidak boleh mati cepat.
Sisi akhirnya pergi dengan suasana hati membara yang sudah mendapatkan pencerahan dari Mikaela. Sedangkan Mikaela sendiri, menghela nafas. Apa-apaan dia itu?
"Kau baru saja memberi harapan cinta dengan seseorang, sadar tidak?" Eliza muncul.
Mikaela hanya tertawa garing, "Sadar, kok. Aku kan tampan."
Eliza mendeliknya tajam. Ups, Mikaela langsung membungkam mulut walaupun dia masih tampak tersenyum mengejek melihat reaksi Eliza.
"Menurutmu bagaimana dengan pelatihan militer secara mendadak ini?" Eliza memilih mengalihkan pembicaraan.
Dia perlu pendapat Mikaela soal ini. Memang gadis berparas lembut didepanya itu selalu terlihat tidak serius, tapi dalam hal yang lebih mengarah pada hal semacam ini, daripada simpati seperti yang dia lakukan kepada Sisi tadi, Mikaela jauh lebih mudah menjawab perihal mengenai hal ini.
"Tentu saja itu ide yang bagus,"
"Kenapa?" Eliza melirik Mikaela yang tampak sedikit mengangkat dagunya.
Dia berada dalam mode yang serius yang ditandai dengan senyuman manis dibibirnya itu lenyap, apalagi cerah matanya. Tidak ada yang bisa melihatnya sisi gelap dari seorang Mikaela selain Eliza.
"Sebab dengan cara ini angkatan militer akan jadi lebih baik dengan member yang lebih berkualitas. Tentu saja, mereka merencanakan sesuatu yang besar dengan anak-anak yang semestinya dikatakan berada dibawah umur untuk ukuran orang yang harus melakukan wajib militer. Cara ini adalah cara yang tepat untuk menemukan 'Rabbits' dan 'Owl', kan. Mereka lolos dari pemeriksaan, tapi tidak akan lolos di tempat khusus yang akan membongkar kemampuan fisik mereka. Para petinggi negara melakukan semuanya dalam waktu yang bersamaan," jelas Mikaela sengan suara sinisnya, "Jika ada orang yang menolak ikut berpartisipasi wajib militer ini, berarti merekalah orangnya. Pemikiran yang bodoh sekali."
Eliza hanya bisa terdiam. Suasanaya jadi sangat aneh ketika Mikaela menjadi serius. Eliza hanya terdiam.
"Hei, apa yang kalian lakukan disitu? Kelas mau dimulai, loh," teriak teman sekelas mereka dari kejauhan.
Mikaela pun langsung menepuk-nepuk pipinya, "Yah, lupakan soal ini, Eliz. Aku jadi lapar kalau terlalu banyam pikiran."
"Ini jam masuk. Bukan jam istirahat,"
"Heh!?"
Eliza yakin Mikaela hanya berusaha ngelawak. Lebih baik begitu, dia lebih suka Mikaela yang konyol ketimbang Mikaela yang serius.
°°°