
Mikaela duduk di singgasananya, menopang dagu dengan senyuman tipis yang sulit diartikan.
Para petinggi dari Kota M akhirnya datang seperti yang dia inginkan. Ini berkat para petinggi Kota K yang bisa diajak kerjasama. Bukan. Ini hanya sebuah pelatihan yang dibuat oleh Mikaela sendiri. Pelatihan mengendalikan orang-orang yang menyepelekan keberadaanya.
Dia sudah mengumpulkan seluruh Divisi Kelas 1, baik putra maupun putri sudah berkumpul di aula. Mereka hanya menunggu intruksi selanjutnya dari Mikaela.
Hanya pelatihan, ya? Yang benar saja.
"Jika benar mereka menginginkan bantuan, seharusnya mereka datang sendiri."
Anak itu mampu mengatur semuanya sendirian. Benar-benar seperti kekejamanya yang samar.
Dia tidak akan memberi hormat kepada para petinggi Kota M seperti rasa hormatnya dengan para petinggi kotanya sendiri setelah mengetahui para petinggi Kota M pernah nermaksud menyogok dengan uang. Ya, seperti itulah unformasinya yang dia tahu dari para petinggi Kota K.
"Saya pikir ada banyak hal yang akan dibincarakan oleh para petinggi Kota M. Apa saya mengundang hanya untuk diam saja?" Mikaela menyinggung.
Tidak ada yang berani angkat suara. Mereka kehilangan suara mereka setelah tahu kekacauan kecil apa yang sudah anak itu lakulan. Apalagi mengetahu bhawa dia melakukanya hanya sendirian, membangun komunitas ini seorang diri dengan tingkat krnagkuhan level dewa itu. Pasti bukan main-main.
***
Mikaela menarik 36 orang Divisi Kelas 1 dari asrma putra dan 23 orang Divisi Kelas 1 dari asrama putri yang bersedia turun langsung ke medan perang yang ada di Kota M.
Mereka dipasangkan secara acak dan memulai latihan secara efisien bersama hingga bisa mencapai level 16. Karena Divisi Kelas 1 dari asrama putri mendapatkan angka yang ganjil, salah satu anak akan dipasangkan dengan Divisi Kelas 1 yang berasal dari asrama putra. Dari itu Mikaela akan memilih pasangan Pemegang Pedang-nya secara acak.
"Edgar Palova," sebut Mikaela buat seseorang tidak bisa terima.
"Senior, saya keberatan!" Suara itu berasal dari si tampan pemilik lesung pipi disana.
Angelo, Pemegang Pedang Peringkat Pertama. Meskipun dia belum lulus, kemampuanya cukup berada di atas rata-rata dari kebanyakan anak disini. Dia merasa Mikaela tidak pantas bersama anak brandalan yang baginya kelihatan bodoh disana itu, Edgar yang tengah menatapnya tudak paham. Menurut Anggelo mereka akan menjadi kombinasi yang buruk jika bersama. Menurutnya hal itu akan berbeda dengan terpilihnya dia.
"Dia tidak akan melindungi Senior dengan benar. Sedangkan saya, saya rela bertaruh nyawa demi melindungi pasangan Penembak saya, hanya Senior Mikaela saja. Selain senior, saya tidak akan memberikan keloyalan yang sama."
Prinsip yang bagus, Mikaela tersanjung mendengarnya. Tapi, tetap saja Mikaela akan meneruskan asas keadilanya. Terlebih, dia tidak suka orang yang memaksa. Semua orang akan mendapatkan pasangan berdasar nama yang muncul, tertulis di atas kertas yang diambil masing-masing dalam dua wadah yang berbeda.
Tanpa pasangan pun sebenarnya dia sudah bisa melindungi dirinya sendiri. Bagunya hal ini cukup merepotkan.
"Saya juga keberatan jika Senior Mikaela menolak saya!" Balas Edgar lantang.
Edgar melihat Anggelo dengan siratan tajam. Mana bisa dia membiarkan orang itu seenaknya. Bagi Edgar ini adalah takdirnya bisa bersama Mikaela.
Sudah lama Edgar menyimpan perasaan aneh jika tidak melihat Mikaela seharian. Bisa dibilang, Edgar menganggap itu sebagai rasa suka, sebagai sesama jenis.
Itu buruk kalau Mikaela tahu.
Mikaela tentu saja merasa hal ini terlalu kekanak-kanakan. Ya, apa salahnya sedikit hiburan. Seperti yang diharapkan, Edgar membuat pernyataan yang bagus.
"Kalau Senior Mikaela berkenan, saya akan mempelihatkan kamampuan saya dengan serius, bukti saya mampu melindungi Senior Mikaela. Melawan monster itu," tunjuk Edgar kearah Anggelo yang cukup kesal melihatnya.
Mendengar itu Anggelo tersenyum cerah. Dia pun bersiap.
"Se-senior! Saya juga ingin menjadi pasangan senior!" Ungkap Sisi mendekati Mikaela.
Ah, gadis itu. Bisa menjadi masalah kalau dia mengikutinya.
"Aku bisa saja memilihmu. Namun, bagaimana jika aku yang justru menyerangmu? Apa kau sudah siap?" Tanya Mikaela dengan seringaian sadis.
Itu bukan kalimat yang memiliki maksud fulgar, tapi beberapa anak yang mendengarnya menganggap begitu dan langsung merona hebat.
Si tampan itu baru saja merayunya.
Melihat reaksi Sisi yang aneh, Mikaela pun baru menyadari kesalahanya.
Oi, oi. Kau lupa apa aku ini juga perempuan!
Kompetisi antara Anggelo dan Edgar berlangsung dengan sangat sengit. Peringkat Pertama dan Peringkat ke-13, perbedaanya jauh sekali.
Anehnya, Anggelo bisa merasakanya bahwa lawanya itu sepertinya benar-benar kuat. Bisa jadi selama ini dia hanya menyembunyikan kemampuanya dan tidak bersungguh-sungguh pada saat latihan. Posisinya bisa tersingkirkan jika terus begini.
Mikaela sepertinya terlihat sibuk berbicara dengan beberapa orang. Haruskah Anggelo menggunakan cara curang agar bisa berada disisinya?
Sudah terlambat. Edgar baru saja mencampkan pedangnya, dan mengarahkan pedang miliknya ke rahang bawah Anggelo dengan sangat mengejutkan.
"Edgar Palova pemenangnya!" Kata salah satu orang yang menjadi wasit disitu.
Anggelo terlalu lengah. Mikaela melihatnya, entah karena apa Mikaela memintanya mendekat. Apa dia akan diberi hukuman?
"Lain kali aku pasti akan berpasangan denganmu tanpa syarat. Tagihlah nanti janjiku ini."
Mendengar itu Anggelo meyadari satu hal yang penting bahwa sepertinya dia memang belum pantas untuk Mikaela. Lain kali dia juga akan mengajak Edgar melawanya lagi.
"Jangan buat seseorang mendendam, Mikaela. Berangsur-angsur itu akan menjadi masalah yang merepotkan untukmu. Tidakah kau ingat? Kau sendiri yang mengatakan itu kepadaku."
Benarkah?
Sepertinya dia sudah kehilangan banyak jati dirinya. Itu membuat rasa takut tersendiri. Entah sejak kapan, dia mulai tidak meyukai orang-orang.
Seperti Eliza. Malah lebih parah.
Terlebih, dengan pemilik inti kotor pada gadis bersurai panjang disana. Dia ingin sekali melenyapkanya segera, sebab gadis itu mampu membahayakan miliknya. Tapi, ada perasaan aneh yang membuatnya enggan menyentuhnya. Dari itu, dalam pikiran terdalamnya, dia berharap gadis itu tidak akan kembali setelah penghancuran Extherotopia di Kota M.
Ya, dia menginginkan gadis itu lenyap tanpa dia melakukanya sendiri.
°°°