Black in Black

Black in Black
Pohon 9



"Maaf, kami kehilangan jejaknya,"


"Hah? Bagaimana bisa!?"


"Dia menghilang begitu saja ketika melewati sebuah pohon besar. Kami pikir dia bersembunyi dibaliknya, ternyata dia melarikan diri dari kami. Kami rasa dia menyadari dirinya diikuti."


Para pelatih itu sepertinya mulai mencurigainya.


Mikaela Edgee, anak itu diliburkan selama 3 hari lamanya. Dengan syarat dia harus selalu memakai pakaian resminya karena dibajunya dipasang banyak sekali alat pelacak untuk mengetahui kemana dia pergi.


Anehnya, seluruh alat pelacak itu berkumpul diruangan rapat mereka dimana mereka saat ini berada disana.


"Darimana dia bisa mengetahuinya?" Suara berat itu terdengar berat juga.


Apa masalahnya akan menjadi sangat rumit?


"Kalau anak itu tidak kembali setelah 3 hari, dia akan mendapatkan masalah besar."


***


Mata Eliza memulat, seluruh peserta di asrama putri juga sama. Para panitia menayangkan sebuah siaran yang ada didepan mereka benar-benar membuat tercengang.


Terutama untuk Eliza.


Sosok berseragam putih yang mengenakan jubah dan topi rapi resminya sudah diangkat menjadi anggota sah Divisi Kelas 1 unggulan pertama yang ada di Indonesia.


"Mikaela Edgee adalah orang pertama yang mendapatkam gelarnya, serta merupkan lulusan terbaik lebih awal dari pelatihan manapun yang ada diseluruh wilayah Indonesia. Dia berasal dari SMANSA, dia juga sudah berprestasi sejak awal kedatangnya hingga hari ini. Pelantikanya sudah di laksanakan sore kemarin. Sekarang Mikaela Edgee diliburkan selama 3 hari dari pelatihanya di asrama putra dan akan kembali setelah 3 hari mendatang," jelas palatih wanita itu membuat semua heboh.


"Percuma dong kita beli informasinya kalau udah dibocorin,"


"Fotonya mahal. Kalau tahu gini, aku foto aja dari sini,"


"Mikaela hebat sekali. Cakep lagi, uh!"


"Dia sudah lulus. Keren banget..."


Eliza terdiam membisu. Mikaela lulusan terbaik Penembak Peringkat Pertama, bagaimana bisa? Apa Mikaela sudah menghianatinya? Tidak, Mikaela tidak akan begitu jika tidak beralasan.


Dilihatnya sosok Mikaela dilayar itu lagi, tatapam tajam matanya, Mikaela tampaknya berada dalam keadaan yang sangat serius seakan dia mampu menghabisi siapapun yang melihatnya. Mata teduhnya yang tampak sepeti kilatan dan wajahnya terkesan tajam tanpa tersenyum.


Dia pasti memiliki masalah disana. Tunggu, apa tidak ada yang bilang Mikaela itu adalah perempuan?


Dan kemana dia akan pergi selama 3 hari kebebasanya itu?


"Oh, kami mendapatkan telpon dari para pelatih di asrama putra. Mereka bilang jika Mikaela Edgee datang kemari dan akan menemui temanya, siapapun harus memberitahukanya kepada para panitia atau pelatih segera," ujar panitian itu.


Kenapa? Dia akan kemari?


"Kenapa, bu? Kenapa kami harus melapor?" Tanya sedeorang secara lantang.


Sepertinya banyak yang menyadari ada yang salah, seperti apa yang dipikirkan Eliza.


"Mikaela Edgee dikabarkan meminta izin untuk kemari. Dia tidak ingin diantar, namun dia memilih berjalan sendiri melewati hutan. Karena khawatir, pihak pelatih mengirim beberapa orang untuk mengikutinya dari belakang. Mikaela Edgee dikabarkan menghilang. Bisa dikatakan, dia kabur dari pengawasan. Tapi, misalnya dia benar-benar kemari untuk menemui temanya-"


Panitia itu terhenti seketika ketika melihat ada sosok berjubah putih bersih masuk ke halaman apel dengan pakaian rapinya.


"Itu Mikaela!" Pekik beberapa anak perempuan histeris langsung.


"Dia benar-benar kemari!"


"Katanya lewat jalur hutan, bagaimana dia masih tetap bersih?"


Barisan mulai kacau. Beberapa orang ingin mendekati sosok yang tampak seperti raja berdarah dingin yang menakutkan itu.


Sosok itu pun mengangkat kepalanya, benar-benar memang Mikaela dengan mata tajam yang gelap.


Eliza membeku ditempat. Sudah lama sekali dia ingin bertemu denganya. Perbedaanya mencolok sekali. Mikaela kacau sekali


Mikaela mendekati para panitia. Entah apa yang dia bicarakan sehingga mic diberikan kepadanya.


"Maaf, sudah memgganggu apel pagi kalian," ungkapnya dengan suara khas buat beberapa gadis yang tidak tahu dia itu perempuan meleleh mendengarnya.


"Eliza dari SMANSA, bisakakah Anda menemui saya secara pribadi di ruangan XX?" Entah kenapa Mikaela terdengar kaku.


Eliza? Siapa? Bebetapa orang sempat melempar pandang hingga ada yang berpikir untuk mengaku menjadi Eliza. Kebanyakan gadis-gadis disana mengangkat tangan, mengaku sebagai Eliza. Mereka tidak tahu siapa itu Eliza, mereka begitu sangat ingin menemui Mikaela secara dekat dan menjahilinya kalau ini berhasil. Siapa tahu dibalik tamlang dingin itu ada sifat yang tidak terduga.


Lebih dekat. Buat apa Mikaela memanggil seorang anak perempuan jika tidak menyukainya, kan. Eliza bisa saja cantik, tapi ada yang lebih cantik.


Melihat hal tersebut, Mikaela justru merasa kesal. Tidak disangka, seluruh gadis yang mengaku sebagai Eliza berada dalam posisi push-up. Mereka semua memucar mendengar suara dingin Mikaela menusuk hati mereka tadi.


Mikaela adalah senior mereka. Karena lancang, Mikaela lansung saja menghukum semuanya.


"30 kali push-up," kata Mikaela.


Semua pun mulai.


"Satu...! Dua...! Tiga...! Empat..."


Eliza yang memang tidak mengaku ditatap Mikaela secara langsung. Dia akhirnya ditemukan.


"Kau, ikut aku."


Terdengar sangat memaksa, Eliza sebenarnya juga sebal mendengarnya. Sisi yang mengetahuinya tampak sedikit kecewa. Hanya Eliza? Lalu, bagaimana denganya?


"Senior Mikaela Edgee!" Ujarnya lantang.


Sisi, gadis bersurai panjang itu berani sekali. Mikaela pun mendelik. Sisi memanggil namanya secara lengkap. Mikaela tahu pemilik rambut panjang disana itu memang Sisi, temanya. Tapi, dia sama sekali tidak ingin bertanya kenapa.


"Aku juga ingin ikut denganmu. Aku juga sudah menjadi kuat-"


"Aku berbicara dengan Eliza. Apa namamu juga Eliza?" potong Mikaela tajam.


Kulatan mata itu menusuknya. Hingga Sisi juga berada dalam posisi push-up. Eliza membulatkan matanya, merasa Mikaela terlalu berlebihan dalam hal ini. Eliza memang tidak menyukai Sisi, tapi kenapa Mikaela yang harus menghukumnya? Padahal dia sangat menyukai Sisi, kan. Begitu juga sebaliknya.


"Untukmu, 60 kali push-up."


Seperti tersambar petir, semua terkejut mendengarnya. Banyak yang melihat ke arah sisi dengan raut yang sulit diartikan yang mungkin sama-sama memiliki arti mengkasihani Sisi. Gadis yang selalu menyebut nama Mikaela itupun menjalani hukumanya. Tanpa sepatah kata penolakan. Eliza tertegun hebat.


Gadis itu spontan menegapkan tubuhnya, "Siap!"


Hampir semua orang menoleh siapa yang dimaksud Mikaela tersebut. Eliza, gadis berambut perak sebahu itu berjalan dengan teratur. Beberapa orang ada yang familiar. Dia terkenal begitu dingin dengan wajah pokerface-nya. Lumayan cantik.


Tersirat disudut bibir kecil Mikaela yang menyambutnya dengan hangat. Benar-benar membuat banyak orang merasa iri.


Eliza tahu daripada tersenyum ramah, Mikaela lebih terlihat seperti orang yang tersenyum licik. Dia akan menghajar anak laki-laki jadi-jadian itu setelah ini. Sungguh.


Sisi menyendiri. Gadis yang dikenal periang itu tidak berbicara dengan siapapun setelah hukumanya selesai.


Dua teman sekamarnya yang berasal dari SMU Bamas perlahan mendekat.


"Padahal kau sangat menyukainya. Kami masih percaya kok kalau kau pernah dekat denganya," ujar si keriting.


"Karena terkenal, dia jadi sombong. Orang semacam itu sudah biasa. Apalagi dia tampan, mudah sekali dia mendapatkan orang yang dia suka," kata si rambut bob.


Sisi mengangkat kepalanya, alis matanya menyudut.


"Mikaela itu tidak sombong. Dia itu memang serius kalau soal mentertibkan orang. Dulu itu dia anak dari eskul PASKIBRA. Tadi aku berbicara dengan sangat tidak sopan denganya, aku khawatir dia membenciku," jelas Sisi.


Tidak ada yang menyangka alasan itu yang justru membuatnya jadi murung. Saking cintanya dia terhadap Mikaela, dia sama sekali tidak berpikiran buruk terhadapnya.


"Sisi dari SMANSA, dimohon menemui Mikaela Edgee di ruangan XXX..."


Pengumuman itu, sungguh? Tanpa banyak berpikir, sontak wajah gadis bersurai panjang itu kembali ceria. Akhirnya dia dipanggil oleh Mikaela!


Ruangan XXX, tidak ada penjagaan yang ketat. Tapi, siapapun yang bukan orang yang diminta datang tentu saja akan menghadapi kesadisan Mikaela.


Dia tiba disebuah ruangan. Didalam sana sosok berparas lembut yang duduk bak raja tersenyum cerah sambil mengulurkan tangan yang dibaluti kaus tangan putih, seiras dengan seragam rapi yang dikenakanya. Benar-benar seperti mahakarya yang sangat sempurna. Bukan. Dia adalah pangeran yang datang dari negri dongeng.


Mikaela sangat sempurna.


Dengan penuh suka cita, Sisi langsung berlari dan memeluk sosok itu dengan erat. Mungkin kata-kata Mikaela sudah melukai hatinya, dengan ini semua sudah terbayarkan.


Sisi merengek kencang seperti anak kecil ketika tidak bisa lagi menahan kerinduanya yang mendalam. Mikaela mengelus pundaknya dengan lembut. Hanya itu yang dia tahu.


"Apa aku membuatmu sakit?" Suara lembut yang menenangkan.


Sisi menggelang keras, tidak mengucapkan apa-apa. Baginya Mikaela tidak pernah salah. Mikaela adalah malaikat penyelamatnya. Dia bahkan sudah memutuskan untuk berpikir Mikaela akan menjadi tujuan hidupnya.


"Lalu, kenapa kau menangis? Apa kau sempat membenciku tadi?"


"Tidak pernah! Aku tidak mungkin mebencimu tanpa alasan," tukas Sisi cepat.


"Menghukumu 2x lipat, aku pikir itu alasan yang tepat,"


"Tidak. Itu wajar. Seharusnya aku sopan denganmu, wajar saja kamu menghukumku."


Mikaela bungkam. Sebenarnya bukan itu alasan kenapa dia memberi hukuman dua kali lipat dengan Sisi. Dia bahkan memikirkan hal yang lebih parah dari itu.


"Kau tahu kan aku ini perempuan. Aku harap kau tidak berpikir aneh-aneh tentangku,"


"Tentu saja tidak. Perempuan ataupun laki-laki, aku pasti akan tetap menyukaimu," jawab Sisi dengan cepat, masih mendekapnya.


Beberapa saat mereka sama-sama terdiam, dimana Mikaela masih mengelus pundaknya dengan baik. Kemudian rambut panjangnya.


Entah keanapa, berangsur-angsung perasaan beku itu mulai melunak.


Apa ini yang namanya familiar?


"Bagaimana kau masih bisa tidak memotong rambutmu?" Tanya Mikaela.


"Karena kau bilang kau menyukainya. Para pengawas kerapian juga tidak begitu mempermasalahkanya."


Kenapa harus begitu? Mikaela saja memotong rambutnya yang menghalangi tengkuknya karena gerah, apa dia tidak merasa gerah?


"Aku dengar kau masuk ke dalam Divisi Kelas 1," bahas Mikaela mengarah ke topik lain.


"Iya, ini berkat dirimu. Karena kamu, aku termotivasi untuk menjadi kuat. Sayangnya bukan peringkat pertama," ungkap Sisi terdengar kecewa pada dirinya sendiri.


"Jangan memaksakan diri. Memang perlu menjadi kuat, tapi bukan dengan harus merusak dirimu," jelas Mikaela mulai terdengar serius.


Kemudian sunyi. Aura gelap kembali menyeruak. Insting yang aneh muncul dibemak Sisi yang mengarah pada Mikaela. 


"Apa kau mendapatkan penawaran bagus yang menjanjikanmu untuk menjadi lebih kuat?"


Seperti tertangkap basah, Sisi menggidik ketika Mikaela menanyakanya. Padahal dia bisa pura-pura tidak tahu. Sayangnya Sisi bukan tipe orang yang bisa berbohong.


Bagaimana bisa Mikaela tahu? Katanya projek 'itu' rahasia.


Dia menggidik. Mikaela terus saja menunggu jawabanya dengan wajah yang serius.


"Cukup sampai disini," Mikaela melepaskan dekapanya dan memaksa gadis yang tertegun itu untuk berdiri, "Mungkin mereka tidak mengatakan apa efek sampingnya. Yang jelas itu bisa membahayakan nyawamu. Kau akan hilang kendali jika kau terus berusaha menggunakanya. Sebab barang yang masuk ke tubuhmu itu adalah barang yang berbahaya. Kau bisa mencelakai banyak orang seperi parasit Extherotopia tanpa menyadarinya. Yah, seharusnya kau sudah sadar akan hal itu karena obsesi besarmu."


BRAK!!!


Seseorang sudah mendobrak pintu, menemukan Sisi membeku ditempat sendirian dengan wajah histeris.


Yang ada dipikirkanya adalah Mikaela yang.sudah kecewa kepadanya. Bagaimana dia bisa memperbaiki kesalahanya?


Dimana Mikaela? Ruangan yang tidak diletakan benda apapun didalamnya terlihat jelas hanya ada satu orang saja. Sedangkan Mikaela sudah lenyap.


"Maaf, dia berhasil meloloskan diri lagi."


Terlalu terlambat.


Mikaela mungkin kabur melalui jendela yang terbuka, dimana ruangan tersebut berada di lantai 5.


Tidak ada satupun orang yang dapat menjelaskanya. Kecuali, kalau benar dugaan bahwa Mikaela itu bukanlah orang biasa.


Benar. Dugaan itu mungkin bisa dipahami walupun sebenarnya tidak masuk akal.


°°°