
"Dia tahu caranya menggunakan pedang," kata Stela kepada Ariana.
Haruskah Ariana percaya? Tidak ada bukti yang nyata sebelum dia melihatnya sendiri. Lebih tepatnya bagian Mikaela bisa menyambut pedangnya secara spontan. Bukan bualan seperti kemarin hari.
Dia berpikir Mikaela mungkin sudah tahu bahwa Anggelo akan datang. Makanya dia sengaja terdiam begitu saja.
Ariana mengacuhkan Stela, terus melanjutkan jalanya menuju ke tempat latihan.
Dia ingin melihatnya sendiri. Mikaela yang memiliki kemampuan tudak diketahui itu. Bagaimana dia bisa mengalahkan satu pohon bencana hanya seorang diri?
"Kau yakin?"
"Soal apa?"
"Kau akan membuat konspirasi yang sangat besar. Kau yakin bisa mengatasi segala risikonya?"
Dua orang membicarakan masalah serius dimana yang satunya tidak begitu serius menanggapinya. Suara dingin itu terdengar cemas dalam nada yang datar.
"Ya, aku siap. Selama kau ada, semua akan baik-baik saja," terdengar begitu enteng.
Sesaat sang lawan bicara terdiam, "Senang kau mau membuatku ikut campur dalam masalah ini,"
"Tentu."
Tidak. Barusan itu dia menyinggung.
Kebenaran akan terungkap, sedekat ujung jari. Tidak ada yang tahu, semua orang akan mendapatkan kenyatan yang sangat mengejutkan nanti. Tidak lama lagi.
***
Seluruh ahli pedang dikumpulkan Mikaela.
Diantaranya, ada Anggelo si peringkat pertama, Ariana si peringkat ke-2, Edgar Palova si peringkat ke-6, Lisa peringkat ke-4, dan Sisi peringkat ke-21.
Mereka heran kenapa Mikaela mengumpulkan mereka. Soalnya Mikaela bukanlah ahli pemegang pedang. Dia seorang penembak. Jadi, kenapa dia mengumpulkan mereka?
"Sip, aku akan mengajarkan kalian bagaimana menjadi seorang ahli pedang," kata Mikaela mengambil dua pedang yang sengaja diletakan selagi menunggu semuanya berkumpul.
Apa maksudnya? Mereka semua saling melemparkan pandangan. Kecuali Ariana. Dia seakan tidak terkejut lagi. Namun, saat itu juga matanya terbelalak.
Sebagai orang yang lebih tau mengenai masalah pedang-pedangan, dia mengerti cara orang yang tahu dan orang yang sok tahu caranya menggunakan pedang. Tapi, berbeda dengan Mikaela.
Sosok karismatik itu memegang dua pedan sekaligus di kedua tanganya. Menurut Ariana, Mikaela itu bukan sekadar tahu, dia memang lebih tahu.
Hah, bahaya. Sudah lama Mikaela tidak memegang benda ini dengan kedua tanganya. Apa dia akan menggila?
"Aku baru belajar kemarin, tapi sepertinya mengalahkan kalian bukanlah hal yang sulit."
Timbul beberapa sudut siku-siku dikepala beberapa orang. Mikaela baru saja meremehkan semua ahli pedang yang ada disitu. Mentang-mentang dia menyandang sebagai orang terkuat, meremehkan orang-orang terdengar sangatlah menyebalkan. Apalagi dia berasal dari grup penembak.
"Itu kedengaran agak..."
"Edgar Palovi!" Sebut Mikaela memgacungkan pendangnya ke arah yang dipanggil, "Coba hadapi aku."
Sesuai yang diinginkanya, Edgar pun maju. Mereka sama-sama bersiap.
"Kerahkan seluruh kemampuanmu. Kalau tidak, aku akan memotong rambut panjangmu," kata Mikaela memberuka sedikit ancaman karena Edgar enggan melukai Mikaela.
Darimana dia tahu kalau itulah hal yang paling terdengar menjengkelkan ketimbang kalimat meremehkan Mikaela yang tadi?
Tentu saja Edgar tidak akan mau kalah dari Mikaela demi rambut yang sengaja di panjangkanya selama ini. Hal itu kelihatan jelas bagaimana dia memasang kuda-kuda. Agak sedikit ragu, tapi sebisa mungkin dia menghindari serangan fisik ke Mikaela.
"Mulai!" Kata Lisa menjadi wasit.
Dalam sekejap mata, Edgar kaget setengah mati melihat Mikaela langsung muncul didepanya.
Bagaimana bisa? Belum sempat menjawab pertanyaanya itu dia harus menahan serangan pertama Mikaela terlebih dahulu. Sungguh, Mikaela mau membunuhnya? Sebab yang tadi itu nyaris sekali.
Semua orang yang menonton tampak takjub. Mikaela hebat sekali! Kecepatan yang sangat luarbiasa, nyaris terlihat seperti berteleportasi. Benar-benar bukan manusia biasa. Mikaela berada di level tertinggi dimana tidak seorang pun bisa mendekatinya.
Anggelo, matanya berbinar melihat idolanya itu ternyata juga hebat dalam bidang ini. Beda halnya dengan Lisa, dia sangat memperhatikan guru mudanya itu. Kemudian, Sisi, wajahnya memerah semakin menyukai Mikaela. Sedangkan Ariana, dia hanya memperhatikan dalam diam.
"Sudah aku bilang, keluarkan seluruh kemampuanmu," kata Mikaela tidak kuasa menahan dorongam dari pedang Edgar, dia pun melompat menjauh seperti angin dengan gerakan saltonya yang kelihatan menawan.
"Rambutmu nanti aku potong loh kalau kau kalah dari pemula sepertiku," ejek Milaela melanjutkan kalimatnya, sengaja memanas-manasi Edgar.
Ayolah. Lupakan soal keloyalanya terhadap Mikaela. Kalau salah satau tangan Mikaela putus, itu bukan apa-apa, kan?
Sekarang Edgar menjadi serius. Secara perlahan, mata Edgar berubah menjadi bening keemasan memyala. Pupilnya membentul jarum seperti mata Sisi yang dirasuki Karin.
Revormasi. Bagus, Mikaela senang beberapa anak pilihanya bisa berevolusi tanpa bantuanya.
Namun, tidak disangka Edgar mampu mengikuti kecepatanya. Perutnya hampir saja dipukul.
Pertarungan yang luarbiasa pun dimulai. Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Edgar dan Mikaela bagai kilat yang muncul secara tiba-tiba. Benar-benar kecepatan para mutan yang sangat mengerikan.
Bagaimana bisa!?
BRUK!
Tubuh Edgar muncul, terbaring tidak sadarkan diri di atas tanah. Tidak ada luka, tapi ada satu hal yang kelihatan aneh padanya. Bukan rambutnya yang sudah dipotong pendek oleh Mikaela. Itu, ada apa dengan telinganya Edgar?
Telinga anjing.
Ariana sudah bisa menebaknya. Mikaela akhirnya muncul dengan wajah gembira. Ditanganya, rambut berantakan Edgar yang sudah dipotong. Diletakanya potongan rambut itu ditangan Edgar sambil terkekeh jahat.
Dilihatnya Ariana yang tampak belum siap. Tentu saja dia tidak akan memanggilnya sekarang sebab dia adalah hidangan terakhir.
Dilihatnya Lisa yang langsung menggidik takut.
"Ya, kau adik kecil," panggil Mikaela mengatainya buat Lisa langsung mengernyit.
Apa? Dia memanggilku apa barusan?
"Kalau kau kalah dariku, semua orang harud memanggilmu 'cebol' hingga satu minggu penuh," ungkap Mikaela sudah menentukan hukumanya.
Hah!? Mudah sekali memancing Lisa. Gadis pendek itu maju dengan wajah jengkelnya. Dia sekarang jadi begitu termotifasi untuk menghabisi Mikaela.
"Kalau kau kalah, kau harus mencium Edgar sampai bangun!"
"Ok," kata Mikaela setuju.
"Harus ciuman panas!"
"Wah, adik kecil ini bicaranya dewasa sekali."
Mendengar itu wajah Sisi memucat. Tidak boleh, Mikaela tidak boleh kalah, pikirnya.
Apalagi Anggelo. Bedanya, dia memikirkan satu hal yang akan menjadi pertaruhan di digiliranya.
Menurut Ariana, dilihat dari segi manapun, Mikaela lah yang pasti akan menang.
Benar, dalam sekejap Lisa terkapar didekat Edgar.
Tanpa disuruh, Anggelo sudah maju dengan sendirinya. Wajah manisnya memancarkan betapa percaya dirinya dia. Peringkat 1 dalam hal berpedang dan memegang predikat sebagai orang terkuat ke-2 setelah Mikaela. Prestasi yang lumayan membanggakan. Terlebih, tanpa sepengetahuan Mikaela, Anggelo mampu bertranformasi.
Matanya berubah menjadi merah menyala, sama seperti mata Sisi. Hanya itu, tapi Mikaela bisa merasakankanya, Anggelo memiliki kemampuan yang lumayan merepotkan.
Ilusi.
Kabut tiba-tiba saja muncul ditengah-tengah acara. Sebelum semua benar-benar tidak terlihat, Anggelo menyampaikan hukumanya.
"Kalau kakak kalah, kakak harus menciumku."
Mendengar itu Sisi tentu saja memanas.
"Mau aku ikut campur?"
Karin menawarkan. Sebelum Sisi menjawab, Mikaela yang lebih dulu mencegahnya.
"Tetap disitu, Sisi."
Tidak ada kesempatan. Ariana yang berdiri di sampinya tampak tenang-tenang saja, tuh.
Kabutnya menebal, sangat. Mikaela tidak bisa melihat apa-apa. Bahkan tubuh Edgar dan Lisa yang tergeletak yang ada didekanya sekarang tidak terlihat lagi.
Kabut yang entah didatangkan dengan cara apa, Mikaela sangat terkesan melihatnya. Kemampuan Anggelo ini baginya sangat menguntungkan buat Anggelo sebab sudah pasti hanya p3nggunanya saja yang bisa melihat segelanya denfan jelas. Terlebuh, Anggelo memiliki mata iblis tanpa harus bertranformasi. Keadaan yang cukup langka.
Tiba saatnya, sebuah serangan pertama dari Anggelo mengerahkan pedangnya pada punggung Mikaela. Tentu saja dia tidak begitu serius.
Sayangnya Mikaela menyadarinya dan menepis pelan. Anggelo kembali menghilang dari balik kabut.
"Mikaela..." Seseorang memanggil.
Suara Eliza. Dia muncul di tengah-tengah acara, bisa terlihat oleh Mikaela.
Awalnya Mikala ragu, itu bisa saja ilusi yang dibuat Anggelo, kan. Tapi, ketika kepala Eliza itu ditebas Anggelo yang muncul dibelakangnya, Mikaela langsung syok berat.
Matanya terbelalak, membeku. Anggelo sempat merasa bersalah, apapun demi kemenanganya, dia berusaha mengabaikan wajah histeris Mikaela.
Dia sudah lama tahu kelemahan Mikaela adalah Eliza, sahabatnya yang tercinta.
Cukup lama Mikaela membuat banyak celah dalam diam. Anggelo perlahan mendekat, melihat wajah histeris tadi berubah jadi wajah keputusasaan.
Tiba-tiba saja langkah Anggeli terhenti karena seuatu. Aura membunuh yang kuat. Itu datang dari...
"Ilusi yang sangat luarbiasa," ungkap Mikaela dengan suara dingin menoleh ke arah dimana Anggelo berada.
"Dimana Mikaela!?" Stela muncul dengan wajah yang pucat.
Ariana dan Sisi melihatnya yang datang bersama Eliza. Kenapa? Kenapa wajah Stela tampak begitu pucat?
BRAK!
Secara mengejurkan tubuh Anggelo membentur batang pohon didekat mereka. Seketika kabut misterius yang menggeluti mereka sejak tadi menghilang dari pandangan.
Disana, Mikaela berdiri. Aura hebat yang sempat dirasakan oleh beberapa orang terasa mulai mereda.
"Stela, apa yang sudah kau lihat?" Tanya Mikaela penasaran.
"Kau..." Jeda Stela menelan ludahnya berat, "...memotong Anggelo."
"Dan..." Mikaela meminta jawaban selanjutnya.
Semua tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Hanya Eliza yang paham.
Stela menjawab, "Kau tidak melakukanya."
°°°