Black in Black

Black in Black
Pohon 7



"Sudah saya duga 'Rabbits' dan 'Owl' berada diantara para anak remaja. Sesuai yang dikatakan Dr. Lucy, mereka sepertinya mampu mengendalikan parasit Extherotopia dengan sangat baik sehingga mereka lolos dari pemeriksaan medis,"


"Tapi, mereka tidak akan lolos dari pemeriksaan fisik dan anjing pelacak sebelum penanaman. Dalam proyek besar ini, selain membuat pasukan muda unggulan, kita juga akan mendapatkan dua mutan itu. Kali ini kita pasti akan menangkap mereka."


Spekulasi yang konyol sekali.


***


"Benarkah?"


Edgar hanya mengolok-olok. Dia tidak benar-benar melawan lawanya yang kelihat sudah kelelahan itu.


Postur tubuh kekar idealnya, sudah jelas dia memiliki otot sixpack dibalik kaus tipis yang dia kenakan. Lihat saja pada otot dilenganya. Menakjubkan untuk ukuran anak SMA.


Dia berdiri, bertanding dalam arena yang dikelilingi ratusan siswa yang kini sekarang sudah menjadi anggota dalam pelatihan militer.


Lawan Edgar disini adalah anak dari sekolah yang sama dengan Mikaela dan Neil.


Aldo. Mereka mengenal namanya. Tubuh Aldo memang tinggi, tapi dia tidak memiliki cukup tenaga untuk menyerang balik Edgar yang sudah beberapa kali memukulnya. Aldo juga merasa sudah mengeluarkan seluruh kemampuanya, tapi Edgar baginya adalah monster. Dia sama sekali tidak merasa capek. Kemampuan yang hebat dari orang yang memiliki otot besar. Ternyata bukan sekadar pajangan, ya. Aldo mendapatkan sedikit motivasi untuk itu.


Pada akhirnya Aldo kalah dari Edgar. Edgar pun mendapatkan pita kemenangan berwarna biru yang langsung diikat di lenganya yang besar.


Pita kemenangan. Beberapa orang bertubuh besar yang menang juga mendapatkan itu, duduk di suatu kursi khusus untuk yang menang.


Edgar mengenal semua orang yang menang disitu sebab mereka berasal dari sekolah yang sama denganya.


"Aku dengan rata-rata anak dari sekolah itu brandalan semua. Wajar saja mereka tahu caranya memukul."


Isu yang menghebohkan terdengar. Neil semakin khawatir. Mikaela itu perempuan, bagaimana namanya akan dipanggil-


"Mikaela Edgee dari SMANSA melawan Hamos dari SMU Bamas."


Glek! Spontan Neil menarik tangan Mikaela yang duduk disampingnya seketika.


"Jangan. Biarkan aku yang-"


"Kau tidak perlu khawatir saat ini, Neil. Setelah ini kau boleh mengkhawatirkanku. Paling-paling kena hajar sekali, aku langsung K.O," kata Mikaela ngelawak.


Itu justru buat Neil tambah khawatir. Apalagi melihat lawan Mikaela. Hamos, namanya. Orang itu memiliki tubuh sangat besar.


Neil langsung pucat. Mikaela yang melihatnya juga sebenarnya khawatir. Tubuh Hamos 2X lebih besar dari Mikaela. Bagaimana gadis itu bisa menghadapinya?


"Sudah aku bilang, biar aku-"


"Tenang saja, Neil. Aku akan baik-baik saja,"  kata Mikaela dengan wajah pucatnya yang dipaksakan tersenyum.


Leader-nya itu terlalu mengkhawatirkanya dimana dia juga sangat mengkhawatirkan dirinya sendiri.


"Mikaela Edgee??"


Lagi-lagi namanya dipanggil oleh MC wanita itu.


Entah karena apa, Neil melepaskan gadis itu yang berjalan mendekati arena. Beberapa orang sontak kaget.


Baik dari pihak SMU Bamas, lawanya, maupun teman-temanya dari SMANSA.


"Eh, Mikaela!?"


"Kak Mikaela yang itu?"


"Dia beneran masih belum diantarkan ke asrama putri?"


"Gila! Gimana dengan lawanya..."


Banyak yang gaduh. Tapi, tidak banyak yang tahu anak tampan itu sejatinya adakah anak perempuan.


Beberapa juga merasa khawatir denganya. Bahkan ada yang berpikir untuk menggantikanya seperti Neil. Kekeluargaan disekolah mereka memang terkenal tinggi, makanya mereka akan peduli satu sama lain.


Mikaeal sengaja cepat-cepat masuk ke arena. Tidak ada yang perlu menggantikanya. Dia tidak ingin membuat seseorang ikut campur dalam masalah.


Edgar Palovi melihat, wajah Mikaela terlihat jelas dengan tubuh kurus yang kelihatan ramping.


Dia pasti kalah. Tentu saja, siapapun akan berpikir begitu hanya demgan sekali lihat.


Mikaela Edgee, ya? Ternyata namanya bagus juga.


Entah kenapa Edgar penasaran hasil akhir dari pemilik tubuh kurut tersebut.


Gadis itu terlihat begitu tenang. Terlalu tenang untuk ukuran orang yang akan mmengecap kekalahan, bukan karena berkompetisi dalam ketampanan.


Tenang saja, Neil. Aku ini kuat.


Apa kata-katanya barusan bisa dipercaya? Neil mendengarkan dan melepaskanya bgitu saja. Dia percaya? Bukan.


Ada hal yang lain.


Terutama untuk Mikaela.


"Siap, mengerti!" Jawab keduanya serentak.


Ayo kita lihat wajah tampan yang tenang itu akan berakhir seperti apa.


Para pelatih militer melihat ini dari balik jendela juga ikut heboh.


"Dia yang mengaku siswi putri, kan?"


"Seharusnya lawanya itu bukan-"


"Biarkan saja. Aku penasaran pemilik mata tajam itu bagaimana menghadapinya."


Pelatih itu benar-benar dendam terhadap gadis yang pernah melihatnya dengan tajam disana. Bisa jadi dia mengharapkan gadis itu dihajar habis-habisan.


TENG!


"Mulai!"


Tidak ada yang menyerang duluan. Hamos juga tampaknya tidak berniat menyerang terhadap anak tampan yang tampak lembut itu.


Mikaela terlihat sangat baik. Ataupun terlalu percaya diri sehingga Hamos merasa dia harus memukul anak ini kalau kelepasan.


"Kau boleh menyerangku duluan," kata Hamos masih menahan diri, "Dengan begitu pelatih tidak akan menambahkan hukuman padamu, karena kau bukan tandinganku."


Ya, hanya dalam sekali pukulan siapapun yakin Mikaela akan langsung kalah. Anak cantik itu justru hanya berdehem halus. Dia menunjukan ujung jarinya kedepan sedari tersenyum ramah.


"Silakan..." Mikaela tidak mendengarkan, malah memancing.


Hamos sejujurnya punya dendam tersendiri terhadap orang yang berwajah tampan. Makanya dia tidak akan memberikan kesemoatan ke-2.


Seperti yang diharapkan Mikaela, Hamos berlari ke arahnya dengan emosi. Sama halnya dengan seorang Sumo, dia akan menggulati Mikarla, bahkan membuat tulangnya patah tanpa sengaja.


Sip, lah. Mikaela kelihatanya tahu harus apa dibalik betapa tenangnya dia bersikap.


TENG! TENG! TENG!


Tubuh Hamos tepar di tanah. Sedangkan Mikaela berdiri diatasnya dengan tubuh yang tegap menandakan dialah pemenangnya Pesonanya langsung keluar. Sekeliling arena terdiam hebat, tercengang tidak bisa dipercaya. Pemandangan ini terlalu tidak masuk akal. Dan pertarunganya barusan terlalu cepat lewat. Tidak ada yang tahu bagaimana tubuh sekurus itu bisa mengalakanya hanya dalam pukulan pelan yang kelewatan cepat.


"Mikaela Edgee pemenangnya! Luarbiasa!"


MC wanita itu terdengar begitu bersemangat memegang tangan si pemenang, lalu diangkatnya tinggi-tinggi.


Pihak SMANSA berteriak sekeras-kerasnya untuk kemenangan pertama dari sekolah mereka. Walaupun mereka agak malu mengakuinya bahwa yang memenangkan itu adalah anak perempuan.


Mereka bangga akhirnya ada juga dari sekolah mereka yang memakai pita biru kemenangan pertama.


Siapa lagi setelah ini?


Para pelatih yang ada di atas seketika terdiam. Gadis itu sepertinya akan menjadi bibit yang berkualitas, memang sulit dipercaya.


Bagaimana dia bisa secerdik itu?


Seperti sudah berpengalaman saja.


"Wah, kau hebat sekali. Bagaimana kau tahu itu itu letak kelemahanya?"


Tanya MC itu.


Tidak seperti pemenang sebelumnya, para pelatih menyuruh MC untuk bertanya kepada Mikaela. Jika benar dia tahu caranya bertarung, tanpa tes lagi gadis itu akan dimasukam kedaftar calon Divisi Kelas 1. Anggap saja ini adalah wawancara secara langsung untuk itu.


"Karena aku anak MIPA, tentu saja aku tahu dimana titik yang bisa melumpuhkan pergerakan sistem saraf pada manusia," jawab Mikaela dengan senang hati.


Jawaban yang terlalu singkat. Tapi, para pelatih pada akhirnya setuju.


"Masukan dia kedalam Divisi kelas 1. Dia akan menjadi orang yang sangat berguna."


Ya, pada dasarnya mereka curiga, apa benar hanya itu rahasianya?


Atau dia sebenarnya adalah 'Rabbits'? Terlalu cepat memfonis tuduhan itu. Hanya ada satu tes lagi yang akan memasukan namanya ke dalam daftar sang buronan. Diseluruh wilayah juga mendapatkan beberapa calon yang menyandang gelar 'Rabbits'.


Sepertinya Mikaela masuk ke dalam masalah besar jika dia salah memilih jalan selanjutnya.


Sayangnya 'Rabbits' itu adalah orang yang sangat cerdas. Terlebih, dia adalah laki-laki, bukan perempuam. Sepertinya para pelatih melupakan hal itu mengenai Mikaela.


Mudah sekali bagi 'Rabbits' bersembunyi. Seseorang akan dituduh sebagai dirinya kalau terlihat terlalu kuat. Ya, menjadi orang lemah bukanlah hal yang sulit, bukan. Jika dia bisa menghindari pemeriksaan medis, berarti dia juga bisa menghindari pemeriksaan fisik.


Rapat pun kembali membahas masalah ini lagi. Sepertinya mereka akan kebingungan dalam hal ini. Makanya mereka akan mengirimkan beberapa anjing pelacak yang mampu mendeteksi virus Extherotopia yang aktif disetiap tempat pelatihan seblum diselenggarakan.


Ya, apa dua buronan itu akan lolos lagi sebab mereka mengirimkan kartu as mereka untuk menangkap keduanya?


°°°