Black in Black

Black in Black
Pohon 29



"Akan aku coba," ujar Didian mengikuti Ariana.


Menelan beberapa tetes darah mereka sendiri yang terasa aneh dilidah mereka. Bukan asin, rasanya manis. Karena itu mereka langsung mual.


"K-kalian kenapa?" Tanya Lisa khawatir melihat keduanya duduk dengan wajah yang memucat.


Bukanya parasit senang memakan inti kehidupan makhluak lain. Lalu, apa ini? Mereka benar-benar menjadi parasit? Terlebih, ketika perut mereka tiba-tiba saja menjadi lapar.


Didian menelan salifanya berat ketika mencium aroma tubuh Lisa yang berada paling dekat denganya. Ariana yang menyadari keingunan Didian pun menariknya menjauh dari Lisa dan Sofia.


"Kita harus keluar dari sini. Kita tidak bisa menyakiti mereka dalam keadaan seperti ini," kata Ariana tambah khawatir melihat Didian tampak sesak.


Didian susah payah menahan sakit pada kerongkonganya yang kering. Reaksi yang aneh untuk manusia biasa. Mereka benar-benar sudah diubah menjadi bagian dari parasit. Kenyataan yang kejam sekali.


"Ya, beri tahu aku caranya menghancurkan pintu besar itu," suara Didian mengecil.


Dia sepertinya menahan nafasnya sendiri. Benar. Aroma Lisa dan Sofia masih memyeruak seperti BBQ yang siap disantap. Berbahaya. Mereka benar-benar harus keluar sekarang juga.


***


"Kemungkinan kau menang..." Stela memperkirakan, "35%."


Harapan yang kelewatan tipis. Semua bisa menjadi mudah jika saja mereka tidak diharuskan menakhlukan Evanka tanpa harus membunuhnya.


Karin mulai menarik pedang dari saku. Sepertinya hanya dia yang bisa diharapkan disini jika Eliza justru akan membunuh Evanka. Dan Stela, dia harus fokus mengawasi masa depan apa yang akan terjadi kepadanya.


Secepat kilat, dia menebas ke arah dada Evanka. Kloningan Extherotopia bisa beregenerasi, bukan? Lagi pula Karin tidak akan menebas terlalu dalam.


Sayangnya, "Awas!" Teruak Stela keras.


Tanpa diberi tahu juga Karin bisa melihatnya, gerbangnya terbuka. Dia hampir terisap jika saja dia tidak langsung mundur barusan. Nyaris sekali, tapi itu bukanlah hal yang sulit selama dia tidak lengah.


"Cih," decihnya mulai merasa jengkel.


Ingin sekali dia membunuh orang yang tidak sadarkan diri itu. Berpikir keras kadang membuatnya langsung mengantuk.


"Andai aku bisa memegang sedikit saja dari Evanka, mungkin aku bisa memprediksi letak kelemahanya," ujar Stela berharap.


Eliza bisa mendengarnya. Sebenarnya mudah sekali baginya untuk membuat Evanka tidak berkutik dengan cara yang lain. Tapi, Mikaela melarangnya.


"Jangan terlalu dekat."


Sekarang dia paham mengapa tiba-tiba Mikaela mengatakan itu kemarin.


Sekejap auranya menjadi dingin. Entah karena mendung atau karena hal yang lain. Eliza langsung merasakan aura yang lepas kendali yang lainya, berasal dari ruangan bawah tanah. Sudah bisa ditebak.


"Oh, tidak," suara Stela bergetar.


Sering sekali dia menunjukan wajah pucat. Itu pasti membawa pertanda buruk, Eliza tidak akan terkejut.


"Didian... Menjadi gelap."


Mereka akhirnya berada dalam puncak dari masalah besar. Klimaks. Bisa dibilang, rawan akan kematian.


***


Bukan jangkrik, burung ataupun monyet. Semacam hutan mangrove mengelilingi pandanganya, mereka yang membuat suara aneh? Edgar Palovi. Akhirnya dia sadarkan diri setelah suara itu sekaan semakin dekat kepadanya.


Suara hewan yang menakutkan. Suara hewan apa itu? Dia tidak pernah dengar suara semenakutkan itu. Bulu kuduknya bisa langsung merinding.


"Edgar," ujar seseorang dari kejauhan.


Dia Anggelo dengan luka besar dilenganya. Tidak bisa beregenerasi. Anggelo juga tidak mampu menutupinya dengan kain yang dia punya.


"Kau kenapa?" Tanya Edgar sedikit panik.


Wah, seketika mereka menjadi akrab.


"Aku tidak tahu, aku sadar tanganku sudah seperti ini. Tapi, aku sempat melihatnya," Anggelo tercekal, terlihat jelas dia sangat ketakutan.


Edgar lumayan heran, baru kali ini dia melihat Anggelo sekacau ini. Lebih kacau daripada ditolok Mikaela menjadi pasanganya.


Anggelo terlihat jelas enggan melanjutkan kalimatnya. Bukan. Aura ini sangat menakutkan. Edgar juga bisa merasakanya. Seseorang sedang mengawasi mereka dikegelapan dengan mata yang jahat.


Seakan yang mengawasi itu mengatakan hal yang mudah ditebak.


'Bolehkah aku memakanmu?'


Tentu saja tidak! Mereka tidak ingin mati dengan mudah.


"Ah, apa kau bisa merasakan keberadaan Mikaela?" Tanya Edgar meluruskan niat awal kenapa mereka bisa berada disini.


Anggelo, dia tampak melemah. Dia terlambat menjawab saking lemahnya. Apa yang sudah terjadi?


"Jangan sampai terluka. Aku merasa kehilangan sebagian dari nyawaku. Rasanya dingin sekali," kata Anggelo dengan sangat pelan.


Akhirnya dia merebahkan tubuhnya didekat kaki Edgar.


"Anggelo!" oranynya tidak menjawab.


Sudah dipastikan luka sebesar itu tidak akan membuatnya bertahan lama.


Suara mengerikan tadi kembali terdengar dengan jelas. Kabut tebal dengan cepat menghalangi pandangan. Saat itu juga Edgar dan Anggelo menghilang.


Susah payah Edgar membuat tangan berdarah Anggelo tidak mengenai air. Perlahan dia menarik tubuh itu masuk ke dalam akar lindung yang gelap.


"Tadi aku mengunakan cara ini untuk kabur. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu sebelum mereka memakanku,"ujar Anggelo terkekeh pelan seperti orang yang sedang sekarat.


"Mereka apa? Hewan apa yang ingin memakanmu,"


"Mereka... Makhluk yang sangat mengerikan..."


Suara itu menghilang. Jangan lengah. Bayangan aneh dari makhluk yang dimaksud akhirnya muncul ditengah ketegangan.


Makhluk yang memiliki leher yang sangat panjang.


Bukan Jerapah pastinya.


°°°