Black in Black

Black in Black
Pohon 2



BYURRR!!!


Gadis bersurai panjang itu disiram. Beberapa orang juga menjambak rambut panjangnya. Dan gadis itu hanya diam.


Seharusnya aku potong saja rambut menyedihkan ini!


Dia menangis dibalik poni-poninya yang basah. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia juga tidak bisa melawan.


Tolong, selamatkan aku.


Dia terus berkata begitu dalam batin. Nyatanya tidak ada satupun yang akan peduli. Bukan urusan satupun orang yang lalu lalang, jadi mereka mengabaikan gadis malang ini begitu saja.


Kenapa? Karena tidak ada yang mau dibuli selanjutnya. Cukup gadis itu saja yang menderita. Dan membusuk sebagai orang yang dianggap hina.


Tolong, siapapun... Selamatkan aku. Jika tidak, setelah hari ini berlalu, aku bersumpah akan lenyap dari siapapun yang pernah melihatku.


BRAK!!!


Terdengar seseorang membanting pintu. Sontak semua menoleh dengan sangat kaget ke arah pintu kayu toilet tersebut. Mereka pikir itu guru BP, ternyata hanya anak kelas MIPA, toh. Buat kaget saja. Tapi, sosok yang muncul ini tampak begitu familiar.


"Apa kalian melihat Sisi? Anak kelas Sosial B, ada yang lihat?"


Entah kenapa suara anak itu terdengar sangat ramah setelah melihat semua ini. Yah, mungkin gadis berambut panjang itu akan diabaikan lagi. Tidak. Yang disebutkan itulah namanya.


Tertulis jelas nametag-nya, 'Sisi', orang yang dicari. Gadis yang basah itu tidak bisa mengeluarkan suara.


Mampus.


Segera salah satu pembuli itu menghalangi tubuh Sisi yang terduduk. Tapi, anak yang mencarinya adalah anak MIPA. Biasanya siswa elit ini tidak akan mengabaikan pembulian begitu saja.


"Benarkah?" Wajah anak MIPA itu pun menjadi tajam, "Kalau tidak ketemu, kalian akan tamat, loh."


Di name-tag anak itu tertulis nama 'Mikaela.'


Nyut! Jantung pembuli-pembuli itu langsung terasa sakit setelah mengetahuinya, dia adalah salah satu anak dari pendiri yayasan sekolah ini, Mikaela Edgee. Siapa sih yang tidak mengenalnya? Sungguh, mereka akan benar-benar tamat.


"M-maaf. K-kami hanya-"


"Cepat pergi. Dan tolong jangan diulangi lagi," ungkap Mikaela kembali ramah.


Anak-anak itu pun langsung pergi dengan segan. Entah bagaimana nasib mereka jika Mikaela membawanya ke arah yang lebih serius. Tapi, Mikaela sedungguhnya bukanlah tipe orang yang senang mengadu kepada ayahnya untuk hal semacam ini. Dia tidak suka hal serepot itu.


"Jadi, kau yang namanya Sisi?"


Gadis basah itu hanya mengangguk pelan. Dia tidak punya tenaga lagi untuk mengeluarkan suaranya, bahkan hanya sekadar mendongak kearaha Mikaela.


Tampang lembut sosok yang telah menyelamatkanya itu...seperti malaikat, pikirnya dalam batin.


Tanpa aba-aba, Mikaela seketika mengangkat tubuhnya dengang gampang. Hebat. Pdahal Sisi yakin tubuhnya cukup berat.


Mikaela, orang terkenal itu menyelamatkanya dari maut. Terdengar berlebihan sebab maut tersebut ada karena dia yang buat dari janjinya sendiri.


Akhirnya ada juga yang mendengar permintaanya. Baginya Mikaela adalah malaikat penyelamat.


"Kau meninggalkan buku ini. Aku suka sekali jalan ceritanya. Sayangnya masih menggantung, boleh aku baca bagian yang lainya?"


Oh, ternyata itu yang membuat Mikaela mencarinya. Walaupun begitu, Sisi sangat merasa senang pada akhirnya do'anya terkabulkan. Dia akan menjadikan Mikaela sebagai sang prioritas.


***


"Mikaela."


"Hm?" Yang dipanggil pun menoleh, heran.


"Ini dari anak Sosial B. Katanya buat kamu," teman sekelasnya itu menyampaikan sebuah barang yang dibungkus dalam kotak kecil berwarna biru.


Isinya adalah plester ketika dia langsung saja memastikan.


"Makasih, Din."


"Yup."


Segera dia kembali ke kelas untuk menunjukanya kepada Eliza. Plester bercorak batik. Cantik sekali. Mikaela terlihat jelas menyukainya.


"Lihat, Eliz. Aku dapat hadiah," katanya menunjukanya didepan mata Eliza, "Dari Sisi lagi."


Langsung muncul seperempatan siku-siku di kening Eliza. Tampang tenangnya memang sangat meyakinkan, dia selalu menyembunyikan banyak emosi dalam diam.


"Mau aku buang?" Hanya itu tanggapan Eliza sambil membenarkan rambut, tetap fokus pada buku bacaan.


Dia kesal, tapi dengan sangat hebat dia menyembunyikanya. Mikaela tahu gadis itu sedang kesal, dia juga tahu Eliza akan kesal setelah diberitahu soal ini.


Mikaela sebenarnya punya sebuah dendam terhadap Eliza yang sudah lama dikuburnya. Yaitu Eliza selalu menyembunyikan hadiah dari adik kelas yang merupakan fansnya Mikaela. Bisa dibilang, Mikaela balas dendam dengan caranya sendiri. Eliza terlalu over, makanya tanpa ragu dia memamerkanya terhadap Eliza. Hadiah yang bisa sampai kepadanya secara langsung.


Berhasil.


Dia tertawa dalam batinya sedari membuka satu plester untuk mengganti plester yang lama.


"Kau tidak suka plester pemberianku kemarin?" Tanya Eliza mencegah tanganya,


"Kau boleh memakai ini setelah memakai punyaku dulu," kata Eliza langsung menyita seluruh pleater pemberian Sisi.


Bukanya kesal, Mikaela malah terlihat mengulum senyum mengejeknya. Eliza pun tambah kesal melihat reaksi Mikaela begitu.


Harus aku apakan anak ini?


Eliza membatin, jengkel.


"Hoi, hoi. Ada tentara datang ke sekolah. Katanya mau periksa kita,"


"Rumornya sih 'Rabbits' sama 'Owl' itu masih anak sekolahan. Kemungkinan tentara datang buat meriksa itu. Kan mereka buronan. Seluruh sekolah tingkat SMP-SMA diperiksa secara serentak hari ini."


Bukan berita tersembunyi lagi, buronan yang dijuluki 'Rabbits' dan 'Owl' memang sudah banyak mengguncangkan diseluruh wilayah Indonesia. Bahkan ada beberapa pihak akan membayar mahal untuk siapapun yang bisa memotret wajah keduanya.


Mereka sesungguhnya bukan buronan, tetapi bisa disebut sebagai mutan yang lepas. Karena mereka memiliki kemampuan fisik yang melebihi jauh dari manusia pada umumnya. Dan itu dianggap berbahaya.


Banyak dari pasang mata di kelas menggidik ketakutan mengetahui kenyataan itu. Ternyata masih remaja, bagaimana orang-orang tahu akan hal itu?


Mata Mikaela dan Eliza saling bertemu. Mereka tampak begitu penasaran.


Bagaimana caranya orang-orang itu bisa menemukan 'Rabbits' dan 'Owl'?


Itu adalah pertanyaan besar. Bisakah seseorang menjawabnya?


Ah, tentu saja. Orang yang mencetuskan ide pemeriksaan ini adalah orang yang sangat cerdas.


Masuk beberapa orang bertubuh tegap dan memakai stelan loreng yang tampak mengganggu mata. Dan ditengah ada sepasang suami-istri berblazer putih.


Mereka adalah dokter terkemuka dikota ini, Eren dan Lucy. Siapa sih yang tidak mengenal orang-orang baik ini?


"Wah, sekarang sudah jelas kenapa," kata Mikaela pelan kepada Eliza.


Sontak Eliza munginjak kaki temanya itu. Tidak kenapa-napa, tapi baginya itu terdengar tidak sopan.


Cukup. Mikaela benar-benar tutup mulut.


Sebuah layar tancap memperlihatakan gambar bunga raksasa di tengah hutan gelap yang betkabut dengan ketinggi yang sangat luarbiasa. Disekeliling bunga itu sangat gelap, dikelilingi kabut abu-abu yang pekat.


"Seperti yang kalian tahu, Parasit Extherotopia adalah parasit yang sangat berbahaya didunia ini. Bukan cuma satu dua orang yang terkena dampaknya, melainkan jutaan orang dalam suatu wilayah bisa mati karena debu yang ditibulkan dari putik mekarnya ini. Jadi, mungkin banyak dari ilmuan diluar sana berusaha untuk mencari cara memusnahkanya. Bahkan ada juga yang berusaha menjinakanya, dengan cara apapun itu guna melawan balik parasit yang sudah menghancurkan sebagian belahan bumi ini. Contohnya buronan ini," Layar itu beralih gambar dua orang bertopeng yang sedang memikul dua monster ikan.


Lusy menunjuk tajam ke arah dua orang yang tampak aneh itu. Bagaimana bisa ada dua orang yang bisa memikul ikan hasil revolusi dari Extherotopia yang berbobot dua kali lipat lebih berat daripada tubuh kecil mereka? Tentu saja buronan yang dianggap mutan itu adalah makhluk hasil rekayasa genetika yang sangat luarbiasa.


Jika 'Rabbits' dan 'Owl' bisa melihat ini, mereka pasti malu sendiri. Sejak kapan ada orang yang berhasil memotret mereka pada saat mereka membawa barang mereka dengan konyolnya? Apa mereka akan memenggal orangnya?


"Mereka adalah buronan kelas elit. Tidak ada satupun ada orang bisa menangkap mereka. Terlebih, mereka selalu berpindah-pindah tempat, sehingga tidak ada yang tahu dimana mereka menetap. Yang kami dapatkan hanya data mengenai mereka. Dilihat dari hasil survei, tubuh mereka masih mengalami banyak perkembangan pada otot, tulang, dan juga bentuk kerangka. Kami mendapatkan jawaban yang cukup mencengangkan bahwa mereka ternyata masih remaja, dan kami yakin itu benar adanya. Jadi, kami akan mengecek yang terbagi menjadi beberapa sesi disini. Ini hanyalah formalitas dari pemerintah, kami yakin tidak satupun dari kalian disini adalah buronan."


Lucy mencairkan suasana tegang dikelas dengan candaan garinya sedari mendekati satu persatu siswa dikelas itu. Eren juga.


Pasangan ini seperti selebritis, makanya ada yang berani memotret mereka saking inginya. Walapun para tentara sudah memelototi orang yang memotret tersebut, orang itu tetap saja tidak peduli.


Alat semacam inframera diarahkan pada nadi tangan, kemudian ditiap orang dihirupkan aroma amis yang beradal dalam sebuah tambung kecil.


'Darah.'


Beberapa orang bergumam begitu, bahkan ada yang mual dan muntah. Darah apa itu? Bau sekali.


"Wah, darah. Aku jadi lapar," canda Mikaela terhadap Eliza yang langsung saja menginjak kakinya lagi.


"Jangan buat orang curiga, bodoh. Kau cari mati, apa."


Eliza sudah kelewatan kesal akibat ulahnya Mikaela. Hingga Lucy dan Eren sampai di bangku mereka.


Lucy tersenyum ramah kepada keduanya. Sedangkan Eren hanya diam, fokus pada perkerjaanya.


"I miss you, my daughters. I hope this afternoon you can come to my home."


Lucy mengucapkan itu dengan pelan. Keduanya hanya bisa membalas dengan senyuman simpul yang tampak samar.


Ya, tidak ada yang tahu dua orang ini sudah dianggap anak angkat oleh Lucy. Misalnya gosip ini tersebar, Mikaela dan Eliza akan tambah terkenal. Bukan itu masalahnya. Mereka akan kerepotan sebab penggemar pasangan yang sama-sama dokter disini banyak sekali. Mereka tidak mau mengambil risiko jika mereka ingin memberitahukanya dimuka umum. Terlebih, ada hal yang lain juga yang membuat mereka memilih tutup mulut. Hal yang lebih merepotkan daripada itu.


Hasil tes untuk hari ini diseluruh bagian Indonesia yang belum terkena virus dari 'Bunga Terkutuk', buronan kelas kakap, 'Rabbits' dan 'Owl' pada akhirnya tidak ditemukan.


Tapi, tes ini berhasil menarik beberapa remaja yang memang menjadi bahan percobaan dari rekayasa genetika Extherotopia.


Banyak.


Kemudian mereka di tahan di ruang bawah tanah bersama orang yang menanamkankan parasit itu kedalam tubuh mereka. Kebanyakanya sih projek yang dijalankan tersembunyi dan ilegal itu dilanjutkan lagi secara tersembunyi atas permintaan dari pemerintah pusat.


Ide untuk menghancurkan bunga raksasa itu...lumayan juga.


Tanpa mempertimbangkan keprimanusiaan, hal buruk semacam ini akan berakhir dengan sangat mengerikan.


Tikus percobaan menggunakan manusia. Jalan hina ini ditempuh mengatas namakan 'untuk kebaikan banyak orang.'


Benar-benar hina.


°°°