Black in Black

Black in Black
Pohon 17



"Mereka bukan salah satu peserta yang ada disana,"


"Gawat, apa tujuan mereka sebenarnya?"


"Mereka mengarah ke barat, berarti menuju ke rute Mikaela. Mikaela juga menuju ke gunung yang ke-2. Apa letak bunga bencana benar-benar berada disana?"


"Tidak. Selama ini setahuku mereka hanya mengincar parasit yang berevolusi untuk lab mereka."


"Ah, jangan-jangan mereka mengincar..."


DEG! DEG!


Ada keberadaan yang kuat lainya. Tidak terasa asing, tapi aneh bagi Mikaela. Ada darah campuran dari arah belakang mereka. Baik Edgar maupun Mikaela menyadarinya.


Secara mengejutkan kilatan cahaya tajam menyilaukan mata Edgar. Sontak Mikaela menariknya paksa ke belakang, lalu menahan benturan benda tajam yang ingin mengenai Edgar barusan dengan kedua pistolnya.


Topeng kelinci. Orang yang menggunakan pedang itu.


"'Rabbits'!?"


Sudah gagal menyerang, 'Rabbits' langsung bergerak melayang mundur.


Disana juga ada 'Owl'.


Benar-benar kejutan yang luarbiasa untuk Mikaela. Edgar yang cukup tersentak hebat merasa syok berat. Setelah ditarik Mikaela tadi, Edgar menyadari satu hal yang menakutkan dari Mikaela. Tenaga Mikaela terlalu kuat untuk ukuran orang kurus sepertinya. Bahkan orang besar seperti Edgar tidak mungkin memiliki tenaga sebesar itu. Tanganya rasanya ingin copot dibuatkan Mikaela. Entah monster apa yang ada di dalam diri Mikaela.


"Wah, apa ini?" Tanya Mikaela, lebih tepatnya kepada 'Owl', sang pemberi informasi.


"Ini adalah surat resmi penangkapanmu," ungkap 'Owl' mengeluarkan sebuah surat dari rompinya.


Konyol. Kenapa dia itu? Mana ada organisasi buronan yang mendapatkan surat resmi.


"Kau harus ikut kami atau mati disini. Pilih salah satunya," jelas 'Owl' lanjut.


Mikaela justru terkekeh garing mendengarnya, "Aku memilih menghancurkan 'Bunga Bencana'."


Mikaela terdengar lebih santai dari yang biasanya. Daripada tegang, Mikaela tampak begitu senang dalam wajah tajamnya. Dalam arti yang berbeda.


Edgar tahu itu. Jadi, dia akan bersiap untuk kemungkinan selanjutnya.


"Oh, itu pilihan yang buruk. Berarti kau memilih mati disini," ungkap 'Owl' mulai mengeluarkan senjatanya.


Mikaela sedikit mengernyit. Seriuskah? Dia juga mengeluarkan senjatanya dengan ragu.


"Kau tahu kan aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Bagaimana jika kita bersekutu saja. Aku yakin kau punya tugas yang lain di 'Bunga Bencana'," ajak Mikaela baik-baik.


Tapi, entah sejak kapan 'Owl' sudah menembak topi yang dikenalan Mikaela. Benda itu melayang jatuh.


Tidak ada suara. Edgar tercengang sesaat melihatnya dan sontak saja dia membelakangi Mikaela.


"Tidak akan aku biarkan-uhuk!"


Perut Edgar seketika diselimuti cairan merah dari sana. Darah. Dia langsung tersimpuh kaget. Sejak kapan, pikirnya. Pistol 'Owl' benar-benar tidak bersuara.


"Ah, meleset. Apa kemampuanku sudah berkurang, ya?" ujar 'Owl' datar kepada Mikaela yang terdiam sesaat.


Dia tidak akan membantu Edgar karena itu bukan tanggung jawabnya. Sebelumnya dia juga sudah memperingatkanya untuk tidak melindunginya. Namun, ada perasaan aneh menyerangnya seketika. Perasaan yang sangat menjengkelkan.


Kemanusian.


"Sepertinya kau menginginkanku untuk serius setelah aku nemberi kesempatan untuk mengubah pilihanmu," Mikaela serius.


Ya, sosok itulah yang sering dilihat Edgar, bukan yang tadi. Edgar memaksakan dirinya untuk berdiri. Dia tidak mungkin lemah hanya satu kali tembakan, kan.


"Tidak. Aku masih bisa-"


Nyatanya Edgar jatuh tersimpuh lagi. Matanya terbelalak melihat lukanya tidak membaik. Peluru Anti-regnerasi, kah? Gadis bertopeng itu bersungguh-sungguh ternyata.


Mikaela tidak mempercayai aksi 'Owl' yang begitu serius. Anjing pelacak yang ada didepanya itu tidak boleh sekarat sekarang. Edgar tidak boleh mati disini.


"Ya, aku menginginkan keseriusan dan kejujuranmu," ungkap 'Owl' dengan tenang kepada Mikaela.


Para petinggi sudah mengirimkan bala bantuan. Seluruh peserta diarahkan menuju ke gunung ke-2 dimana 'Rabbits' dan 'Owl' tuju. Lebih tepatnya ke arah Mikaela dan Edgar berada.


Sayangnya mereka harus menghadapi banyak rintangan. Banyak parasit yang bermunculan ketika hari mulai gelap. Entah dimana letak 'Bunga Bencana' sebenarnya, mereka kesulitan, bahkan ada yang sama sekali tidak bergerak dari posisinya.


Debu putik perlahan mengganggu pikiran para tentara yang memandu para angkatan amatiran. Situasinya semakin gawat setelah beberapa peserta berhasil dimangsa parasit. Pemandangan yang mengerikan itu membuat banyak peserta syok berat. Ada juga yang trauma dan enggap beranjak.


Hingga, suatu pagi yang cerah datang. Angin membakar debu putik yang ada di udara secara misterius, memperlihatkan langit biru yang awalnya sulit dilihat sebelumnya sekarang sudah terpampang jelas.


Ada apa? Beberapa orang menyadari ketakutan mereka hilang. Maksudnya itu insting sumber bahaya. Tiap yang terinveksi bisa merasakanya. Ya, tiap orang juga bisa begitu bagi yang mensyukuri akhirnya bisa melihat langit biru setelah berada dalam medan neraka.


"Aneh."


Apa mereka mendengar ada angkatan udara lewat dan melepaskan bom atom ke 'Bunga Bencana'? Seluruh peserta jadi begitu tenang setelah kepenatan mereka di kemarin hari. Inilah yang namanya kelegaan yang tidak beralasan. Bukan. Ini semacam insting yang kuat.


Beberapa orang menangis bahagia karena masih bisa hidup.


Tidak ada bahaya. Apa yang sudah terjadi? Mereka tidak sengaja menemukan bangkai pemangsa teman-teman mereka tergeletak begitu saja. Biasanya ini terjadi karena induk mereka, yaitu 'Bunga Bencana' berhenti melepaskan putiknya. Dengan kata lain, 'Bunga Bencana' sudah mati.


Bagaimana bisa?


Pemilik lesung pipi itu tercengang terhadap menampakan yang ada didepanya. Bangkai bunga raksasa hangus di bawah matahari terbit. Tidak. Lebih tepatnya di bawah orang yang duduk disana.


"Yo, Anggelo. Kau sudah melewatkan bagian pentingnya."


Mikaela menyahut begitu, tampak lebih mengerikan dengan darah disekujur tubuhnya. Edgar juga terlihat sama. Bedanya dia tampak lebih merapatkan mulutnya. Dia melihat ke arah Mikaela sebab tangan kanan Mikaela hilang.


Entah apa yang sudah terjadi. Anggelo dan rekanya bertanya-tanya bagaimana dua orang ini bisa menghabisi semuanya. Parasit-parasit yang jauh lebih banyak sudah terbelah menjadi dua. Edgar kah yang melakukanya? Atau ada orang lain.


Pada dasarnya mereka akan berpikir 'Rabbits' dan 'Owl' lah yang sudah membantu Mikaela jika saja Anggelo tahu dua buronan itu datang ke arah Mikaela sebelumnya.


Dalam diamnya Edgar, dia menyimpan sejuta pertanyaan mengenai Mikaela. Jujur saja dia tidak melakukan apapun. Ketika dia terbangun, semuanya sudah seperti ini. Darah parasit sudah membasahinya dimana Mikaela sudah duduk dengan tenangnya di atas tanaman raksasa yang sudah dipotong habis.


Tanpa Mikaela, mungkin dia sudah mati. Dalam hal yang lain.


Mikaela akhirnya sudah mendapatkan pion pertamanya. Edgar terlihat sangat mengkhawatirkanya. Sangat seakan dia rela memberikan tanganya untuk Mikaela.


Misi mereka akhirnya berhasil. Mikaela akan pulang dan mendapatkan hadiahnya. Ya, itulah bagian paling ditunggunya ketimbang bagaimana caranya dia akan menyambung tanganya nanti. Atau dia tidak mengharapkanya lagi.


***


"K-kejam sekali!"


"Cuma tanganya. Bagaimana, dong? Dia tidak mau ikut soalnya," ujar 'Owl' terdengar aneh.


Dia memegang potongan tangan manusia itu dengan lemas, lalu melepaskanya terjatuh diatas lantai begitu saja. Darahnya muncrat kemana-mana hingga mengotori lantai.


Gadis itu membuat ngeri saja. Bagaimana bisa dia tampak biasa saja melihatnya? Terlebih itu tangan dari manusia yang masih hidup.


"Hei, apa dia juga seperti ini tadi?" Tanya wanita itu syok berat kepada si bertopeng kelinci.


"Lebih parah."


Benar-benar jawaban yang memuaskan. Sekaligus sulit dibayangkan betapa anehnya 'Owl' hari ini.


"Tapi, kau kan yang memotongnya? Jujur saja ini kejam sekali."


"Bukan," jawab si topeng kelinci dengan datarnya, tidak memberi alasan yang jelas.


"Eh? Lalu, siapa? 'Owl'?"


Yang memegang pedang tentu saja yang memotongnya, kan. Lalu, kenapa dia membantahnya?


"'Rabbits' sendiri yang memotongnya."


Wah, apa maksudnya?


°°°