Black in Black

Black in Black
Pohon 28



"Mikaela. Kita perlu bicara," Evanka datang ke ruangan sang pemilik wajah cerah tampan itu.


Mikaela, dia sedikit memiringkan kepalanya sedari menutupi bibirnya yang menyeriangai senang.


Akhirnya dia datang sendiri.


Semua orang sudah tertidur. Dia tahu itu. Makanya dia mendatangi ruangan Mikaela.


Evanka sama sekali tidak mengganggap Mikaela itu manusia. Baginya Mikaela adalah makhluk lain yang memiliki kemampuan yang sangat tidak wajar meskipun dia tahu seluruh anggota pelatihan memang sudah ditanami klkningan dari bagian terkecil jaringan Extherotopia.


Dia terus memikirkanya, diam-diam dia mendengar dari beberapa orang yang ada disini bahwa semua orang yang dipilih Mikaela adalah orang yang memiliki bakat yang tumbuh dari adanya Extherotopia. Dan dia selalu mencobanya, dia berusaha mencari kemampuan apa yang dia miliki tanpa bertanya kepada Mikaela.


Hingga dia sadar akan satu hal.


"Aku sama sekali tidak memiliki kemampuan. Kenapa kau memilihku?" Akhirnya dia tanyakan.


Tapi, Mikaela sengaja pura-pura tidak tahu. Hingga keesokan harinya.


"Aneh."


Suara Karin muncul dibenak Sisi yang baru saja bangun dari tidurnya. Tumben, pikirnya. Karin jarang sekali mengajaknya bicara.


Kenapa?


"Keberadaan Mikaela menghilang. Dia tidak ada digedung ini."


Sontak Sisi bergegas memastikanya sendiri.


Benar. Mikaela menghilang ketika dia melihat ekspresi kaku Eliza yang tercegat didalam ruangan Mikaela.


Berita inipun disebarkan ke anak-anak lainya. Semuanya berkumpul dan mengaku tidak ada yang melihat Mikaela.


Ah, mereka melupakan satu orang lagi.


"Dimana Evanka?"


***


Untuk sementara ketua digantikan oleh Stela. Dia mengadakan rapat dadakan untuk mencari Mikaela dan Evanka yang menghilang.


Sebenarnya Stela berharap Mikaela tidak melakukan sebuah kejahatan terhadap Evanka, tapi entah kenapa dia sama sekali tidak mendapatkan firasat mengenai hal itu.


"Siapa yang terakhir kali melihat Mikaela ataupun Evanka?"


Semua saling melihat satu sama lain. Tidak ada yang menyahut karena memang tidak ada yang bisa memastikan kalau Mikaela akan pergi. Apalagi Evanka.


Seseorang mengangkat tangan. Lengan besar dari si tampan Edgar.


"Aku yang paling lama bersama Mikaela terakhir kali. Setelah mengajar grub penembak, dia melatihku secara khusus sore hari di halaman belakang dekat sungai kecil. Bukan pelatihan yang khusus sih, tapi dia melatih indra pemciumanku. Aku mendapatkan satu kejanggalan mengenai itu. Dia mengatakan kalau aku berhasil menggunakan indra penciumanku dengan baik, kemampuanku akan sangat berguna nanti," jelas Edgar dengan wajah yang memerah.


Hanya itu saja petunjuknya? Bagaimana bisa mereka paham situasi apa yang sedang mereka hadapi sekarang?


Tiba-tiba Eliza datang dengan kaos Mikaela yang langsung saja dilemparkanya ke Edgar.


"Endus itu," Perintah Eliza dingin, mengambil alih rapat.


Edgar menggerjabkan mata, tidak mengerti.


Aura kepemimpinan Eliza terlihat jelas ketika wajah dinginya itu terangkat bersamaan dengan suaranya yang terdengar menusuk.


"Si bodoh itu memberikan kalian teka-teki yang tidak jelas. Terlebih, dia tidak menjelaskan sedikitpun apa yang sedang dia rencanakan sehingga aku terpaksa meminta bantuan kalian untuk ini. Kemungkinan besar si bodoh itu dimakan oleh senjatanya sendiri. Senjata yang aku maksud disini adalah Evanka. Orang itu memiliki kemampuan yang sangat berbahaya, bahkan untuk orang terkuat seperti Mikaela sekalipun."


Semuanya tercengang. Apa? Beberapa orang yang belum diberitahu mengenai kemampuan yang dianggap tidak masuk akal itu mungkin tidak akan paham apa maksudnya. Rapatpun berakhir.


Semua orang bergegas. Beberapammersakan ada aura mengerikan dari luar. Padahal tidak begitu mendung, tapi suasanya tiba-tiba daja menjadi gelap.


"Kenapa kami malah ditempatkan disini?" Tanya Lisa sedikit tidak terima ketika dirinya, Sofia, Ariana dan Didian diungsikan di ruang bawah tanah.


Stela yang hampir menutup pintu memberitahukanya.


"Entah apa yang tengah terjadi di luar, kemungkinan kalian menghilang jauh lebih besar dari yang lainya," ungkapnya menutup pintu.


Didian yang tidak mengerti melihat kepada tiga temanya. Mereka percaya?


"Oh, aku tidak percaya semua yang ada disini sudah mampu berevolusi," kata Anggelo, orang yang revolusianya tidak dibantu oleh Mikaela.


Anggelo tidak tahu kalau Mikaela bisa membuat seseorang bervolusi, dan tidak ada yang mengaku kalau Mikaela lah yang membuat beberapa orang berevoluai. Kenyataan itu hanya Eliza yang tahu sebagai teman dekat Mikaela.


Mereka tidak paham kenapa gadis itu juga ikut. Eliza itu, memangnya dia bisa menjaga dirinya sendiri? Dia bahkan bukan berasal dari Divisi Kelas 1, mrmangnya dia bisa apa?


"Lubang hitam yang entah apa, aku sempat melihatnya samar itu ketika Lisa, Ariana, Sofia dan Didian belum diungsikan. Aku pikir benda itu yang menarik Mikaela ke dalam, aku...sedikit bisa merasakan energi Mikaela di pintunya," jelas Stela meracau berusaha mengingat apa yang dilihatnya tadi.


"Maksudnya adalah pintu aneh yang mungkin bisa berjalan kemana saja. Didalamnya ada lubang hitam yang akan mengisap setiap orang yang tidak memiliki kemampuan jika saja kita tidak segera mengungsikan mereka,"


"Iya, itu benar,"


"Kemampuan Read the Future, kau harus melindungi kami," Perintah Eliza terhadap Stela yang mengangguk paham.


Semua pun menyebar di posisi masing-masing sesuai dengan formasi yang disarankan Eliza. Yang benar saja, mereka bisa merasakan keberadaan aneh yang berjalan termanggut-manggut dari hutan.


Aura yang gelap dari bentuk manusia.  Evanka.


Dugaan Eliza terbukti. Tanduk muncul di kepala Evanka yang kemungkinan merupakan jenis ras yang sama dengan Karin. Bedanya, Karin bisa mengendalikan kemampuanya, tapi Evanka kehilangan kesadaran.


Dia ada disana?


"Aku tidak tahu. Mungkin tidak ada yang bisa melihatnya, dibelakang orang itu ada sebuah gerbang besar. Mikaela mungkin ada didalamnya."


Jelas Karin menyiapkan enam bola api yang melayang bebas di atas kepala. Diarahkanya bola api itu menuju ke arah Evanka yang berada jauh dibawahnya.


Netra iblis dengan warna keemasan. Dia bukan iblis, tetapi Malaikat. Sang Penjaga Gerbang Neraka, Evanhell.


Dia menahan bola api Karin dengan telapak tanganya tanpa tersentuh, lalu di masukanya ke dalam gerbang. Orang selain Karin mungkin melihat api itu menghilang. Api itu sebenarnya sudah ditelan. Dan ketika gerbang sedikit terbuka barusan, beberapa orang bisa merasakan samar-samar keberadaan Mikaela.


Karin tahu Mikaela memang ada didalam sana. Namun, matanya menyipit tidak senang.


Kenapa? Mikaela ada disana, kan?


"Bocah sialan itu sengaja membuat kita kerepotan,"


Heh? Maksudnya?


Karin cuma diam membiarkan. Seharusnya dia tidak perlu begitu cemas dengan orang itu.


Disisi lain, Eliza sedikit tidak paham. Mikaela sama sekali tidak memgeluarkan sedikitpun energinya. Padahal lubang hitam yang tidak bisa dilihatnya itu cukup berbahaya. Bagaimana bisa orang itu membuat ujian untuk semua orang itu merelakan dirinya dalam bahaya?


Langaung saja dia mengarahkan senapan khusus miliknya ke arah Evanka.


Plasma Railgun, tidak akan ada yang menyangka pistol besar itu akan muncul ditengah acara. Apalagi Eliza yang tidak memiliki ranking memeganya.


Sebenranya siapa Eliza ini?


"J-jangan!" Teriaj Stela yang  tersentak kaget melihat benda besar apa yang dipegang oleh Eliza.


Eliza mampu mengangkatnya? Pantasan benda itu menjadi sangat berbahaya.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Eliza datar.


Sudah dia duga sih satu kali kena serangan darinya, Evanka tidak akan berkutik. Bukan.


"Kau menghancurkan kepalanya," jawab Stela sedikit menggigil.


Eliza langsung paham. Segera diturunkanya senapan khusus menghancurkan titan itu, lalu menghilangkanya dari pandangan. Stela jadi penasaran kemampuan apa yang dimiliki gadis didepanya itu. Sulap? Mustahil dia itu orang biasa.


"Kalau aku tidak bisa, aku serahkan kepada yang lain," kata Eliza memutuskan hanya akan menonton.


Terlalu santai. Bagaimana dia bisa tenang ketika Mikaela bisa saja ditelan ke dalam lubang hitam yang dimaksud?


Formasinya kacau sudah. Lebih tepatnya ketika Edgar tidak kuasa menunggu lama. Mikaela ada didalam sana, pintu yang dikatakan mampu mengisap orang-orang.


Namun, kemampuanya yang jauh berbeda dari Evanka membuatnya ikut menghilang. Gawat, sandranya tambah satu.


Anggelo turun, langsung meluncurkan aksinya. Dia tidak tahu bagaimana mengeluarkan dua orang yang terperangkap didalam sana, setidaknya dia bisa mencari tahu bagaimana caranya selama kabutnya mebuat membuat bingung Evanka.


Sayangnya kabut itu ikut terisap bersama Anggelo didalamnya. Gagal.


Tinggal tiga orang anak perempuan yang tidak bisa apa-apa.


"Kenapa kau diam saja?" Tanya Eliza dingin ke Karin yang juga tidak kalah sinis.


"Apa aku perlu menjelaskanya denganmu?"


"Didalam sana ada ruang dan waktu yang mengisap energi siapapun yang masuk kedalamnya. Waktu disana juga jauh lebih cepat ketimbang didunia ini. Kalau orang biasa yang masuk ke sana, mereka pasti akan langsung mati,"


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!? Pantasan dia tidak mengeluarkan sedikitpun energinya tadi," Karin terlambat untuk histeris.


Disisi lain, dalam ruan bawah tanah.


"Mikaela pernah bilang kepadaku, cara cepat untuk bertranformasi itu adalah..." Lisa menggantungkan kalimatnya, "...Memakan darah kita sendiri."


°°°