
"Saya menginginkan data Medical Advisor gadis itu," tunjuknya terhadap gadis bersurai panjang disana, "Berikan saya data yang asli dan persetujuanya dengan dokter yang mana."
"Baik, tuan."
Benar-benar akan menjadi masalah besar jika gadis itu tidak menyadarinya. Tanpa sadar gadis itu sudah mulai menggunakanya setelah diperingati.
"Sisi dari SMANSA. Mikaela Edgee ingin bertemu dengan Anda. Segeralah datang ke ruanganya..."
Beberapa peserta dari Kota M saling melemparkan pandangan. Pelatih mereka itu, Sisi, tampak langsung begitu gugup dengan wajah merah.
"Kak, kakak dekat dengan Senior Mikaela, ya?"
"T-tidak terlalu... Kami hanya-"
"Kemarin kami lihat, loh. Senior Mikaela memperhatikan kakak, tatapanya beda gitu. So sweet banget..."
Anak-anak ini tahu apa mengenai hubungan mereka berdua yang tentu saja bukan hal yang terduga. Gadis bersurai panjang itu segera berlari kecil ke arah ruangan yang ada diujung lorong sepi itu. Sebuah pintu kayu gelap terlihat disana.
Beberapa kali dia ketuk dengan pelan. Pintu itu terbuka dengan sendirinya, menampilkan sosok laki-laki tua mengenakan tuksedo gelap lansung membungkuk hormat.
Dibelakangnya duduk orang yang dia cari.
Mikaela. Dan juga pesona luarbiasanya. Sisi menelan ludah, terkesima seakan dia jarang sekali melihat hal seindah itu dimatanya.
Mikaela tahu apa yang terus berputar dikepala gadis itu setiap kali mereka bertemu. Dia tidak akan memintanya untuk mengingat lagi. Percuma. Gadis itu tidak akan peduli apa gender utamanya.
"Aku merindukanmu."
Suara itu menggema halus ditelinga gadis itu yang langsung saja melongo hebat. Dia salah dengar, pasti. Mikaela tidak mungkin mengatakan hal itu. Sudah pasti.
Tangan Mikaela yang dibaluti kaos tangan putih terulur dengan enggan. Mata indahnya menutup dengan alis yang menyudut.
"Kemarilah. Aku benar-benar merindukanmu."
Kalimat itu terlalu cepat diucapkan. Sungguh. Kalau diberi pilihan antara melakukan ini atau menghancurkan ruangan ini dengan tangan kosongnya, Mikaela pasti akan memilih pilihan yang ke-2. Sayangnya pilihan itu tidak akan pernah muncul.
Plup.
Gadis itu tidak akan menyia-nyiakanya, bahkan dalam mimpi sekalipun. Tubuh ramping yang dipeluknya itu bisa diraupnya penuh.
Rasanya selalu nyaman.
Dibelah pihak lain, rasanya sama halnya dengan kutukan. Tangan berbalut kaos tangan putih itu perlahan mengelus lembut suraian panjang itu yang mungkin bisa mencapai pinggang. Terlalu panjang, sama seperti orangnya yang terlalu merepotkan. Sekarang dia paham apa yang dirasakan Eliza ketika berada di dekat gadis ini.
Ah, menyebalkan.
Dia akan berdesah begitu kalau gadis didepanya ini tuli.
***
"Kau membuat senjata mematikan, kemudian kau memintaku untuk menjinakanya dimana aku sendiri tidak ingin melakukan hal itu. Lebih baik dia dilenyapkan saja ketimbang merusak. Dia sangat menggangguku."
Mata wanita itu memicing bersamaan senyuman tipis, "Kenapa kau tidak melenyapkanya sendiri dari kemarin, honey? Padahal jawaban ini sudah pasti terlintas dibenakmu, kan. Kenapa?"
Pemilik wajah tajam itu merasa dia justru dipermainkan disini.
"Bukan, bukan begitu. Sebagai makhluk hidup, kau juga harus menghargai makhluk hidup lainya. Bukanlah kau sudah melakukanya selama ini sebagai manusia?"
Mendengar itu, alisnya langsung mengkerut. Sudah seberapa jauh dia kehilangan dirinya sendiri? Mikaela sudah menduganya ketika dia masih menimang-nimang terlebih dahulu ketika bermaksud menghabisi orang yang menurutnya mengganggu.
"Apa aku sebodoh itu?" Pertanyaan yang aneh lagi-lagi muncul dari bibir tipisnya itu.
"Sikap yang kau anggap bodoh itu adalah namanya manusiawi. Sikap itulah yang membuat dunia terasa damai," wanita itu dengan begitu tenangnya menjelaskan hal tersebut kepada sang menguasa.
"Damai, ya? Terdengar tidak asing. Tapi, sepertinya sulit untuk dicapai bersama banyaknya makhluk kotor disini. Jika mereka berani melukai miliku, aku tidak akan segan untuk menghabisi semua."
Wanita itu sekarang mengerti bagaimana Mikaela masih bisa tersadarkan diri. Ungkapanya juga bisa dikatakan benar akan terjadi dan merupakan titik fatal yang mampu merusak kepercayaanya terhadap semua orang. Maksudnya merusak sikap manusianya itu.
"The girl loves you so much. Not that impossible if she can be yours as a weapon," ujar wanita membujuknya kembali, "She will be your most important thing to keep yours."
Bisakah dipercaya wanita ini, pelaku yang menanamkan bibit monster dalam tubuh gadis bersurai panjang berwajah cerah yang dia maksud. Hanya perlu menjinakanya saja, kan? Terdengar tidak mudah. Itu karena dia kelewatan benci.
"Dia adalah makhluk yang hanya membutuhkan cintamu. Dia juga bukanlah makhluk yang mudah mati."
Kenyataan yang terakhir itu terdengar menyebalkan. Dari itu, Mikaela memanggilnya diwaktu luang untuk menjinakanya.
Sisi terlihat begitu senang. Dia pikir Mikala masih marah denganya. Syukurlah kalau dengan cara ini mereka berdua bisa berbaikan. Tentu saj dalam arti yang berbeda.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Sisi setengah berbisik.
Bagian paling paling penting dalam Otonome Game. Ah, betapa menyebalkanya orang ini, pikir Mikaela tidak tahan untuk menghancurkan sesuatu agar sedikit meringankan emosinya yang meluap aneh.
"Cobalah tanya kepada Mikaela-mu itu pada saat dia menginginkanmu, apa dia mencintaimu atau tidak. Kalau benar dia mencintaimu, berarti kau harus menuruti seluruh keinginanya."
"A-apa itu akan terjadi? Mikaela tidak mungkin begitu. Dan itu terdengar fulgar sekali..."
"Itu pasti akan terjadi! Percayalah!"
Mengingat flashback pernyataan itu dari dokternya, buat wajah Sisi memerah padam.
Berbeda dengan Mikaela yang setiap detik semakin kesal.
"Honey, ketika dia bertanya begitu, you just need to give a litttle kiss."
Wanita itu benar-benar tahu bagaimana alurnya? Sudah pasti, yang merencanakan semua ini kan dia. Mikaela bisa saja memukulnya saat itu, sayangnya naluri kemanusiaanya masih berfungsi. Dia masih membutuhkanya untuk banyak hal lagi yang masih belum terselesaikan. Jika sudah saatnya, bukan hal mustahil dia mampu melenyapkan wanita itu.
Hanya sebentar saja, kan. Mikaela harus merelakan sedikit harga dirinya demi senjata didepanya.
Perlahan dia menyelipkan wajahnya diantara rambut Sisi.
"Ya, aku mencintaimu," hingga menyentuh pipi Sisi, dan menciumnya.
Keluar dari ruangan itu, Sisi masih serangan jantung hebat. Dia diusir segera, Mikaela tahu dia tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Jika tidak, dia pasti akan membunuh gadis itu karena kesal.
Eliza pasti akan menghajarku kalau tahu ini.
Pikirnya dalam batin.
°°°