Black in Black

Black in Black
Pohon 6



"Aneh. Padahal aku merasakanya. Dia berada disekitar lantai 6 atau 4 gitu,"


"Ah, gak jelas. Bilang aja itu hanyan


perasaanmu,"


"Beneran, kok. Terasa banget malah," ujar anak cowok berambut pirang yang lebih terlihat seperti brandalan itu kepada temanya yang mengenakan kacamata.


Mereka berjalan menuju ke kamar mereka, kamar yang bertuliskan angka 65.


Ceklek. Si berkacamata membuka pintu yang langsung saja melihat teman satu kamar mereka yang sudah sampai lebih awal dari mereka.


Satu bertubuh tinggi jakun dengan tahi lalat kecil dibawah matanya. Dia cukup tampan, tapi yang satunya lagi jauh lebih tampan lagi. Anak laki-laki cantik yang terlihat tidak begitu tinggi, bahkan tubuhnya terkesan kurus.


Seperti anak perempuan.


Tebakan yang tepat di benak si brandalan, namun tidak begitu diindahkanya.


Neil merasa was-was melihat brandalan itu yang asal masuk dan langsung berbaring di tempat tidur yang kosong. Apalagi ketika melihat Mikaela cukup lama barusan.


"Uwah, nyaman sekali..."


Cici-ciri orang yang berbahaya, pikir Neil. Lalu, bagaimana dengan Mikaela? Neil hanya mengkhawatirkan temanya yang tampak stres berat. Entah sejak kapan Mikaela duduk meringkuk membelakangi semua orang.


Tiba-tiba seseorang mengajak Neil berbicara.


"Hai, namaku Adelio. Kau pasti Neil, kan?" Sapa si berkacamata yang mengaku namanya Adelio itu dengan ramahnya.


Mau tak mau Neil meladeninya, "Bagaimana kau bisa tahu namaku?"


"Tentu saja. Leader PASKIBRA sehebat dirimu tentu saja terkenal. Banyak dari adik kelasku yang mengidolakanmu, kau harus tahu itu,"


"Wah, aku tersanjung mendengarnya."


Dua orang normal itu berbicara layaknya orang dewasa, sedangkan duanya lagi, mereka diabaikan karena tidak normal.


Si brandalan itu menolehkan kepalanya ke arah Mikaela yang memunggunginya. Entah apa yang disibukan orang kurus itu, si brandalan itu sedikit berharap Mikaela menolehnya agar dia berhenti penasaran.


Mirip cewek. Memangnya ada ya orang secakep itu?


Dia benar-benar ingin melihat wajahnya lagi.


"Oi, kurus," panggil si brandalan.


Merasa suara tidak sopan itu untuknya, Mikaela pun menoleh. Brandalan berambut pirang berantakan itu melihat tajam kepadanya. Benar, panggilan kurus itu benar untuknya.


"Kau itu cowok atau cewek, sih? Kok mirip cewek."


Glek!


"Oh, namanya Mikaela. Dia pernah menang sebagai pangeran sekolah, loh. Soalnya dia tampan sekali. Hahaha..." Neil kelihatan sekali bohongnya ketika dia menambahkan embel-embel 'hahaha' dengan tawa yang dibuat-buat dan juga topik pembicaraanya yang malah kesana.


Mungkin karena brandalan itu tidak begitu peka, dia mengabaikan tingkah Neil dan kembali melihat Mikaela.


Adeleo paham, bisa menebak. Dia diam agar temanya itu tidak buat masalah.


Mikaela merasa tubuhnya menciut, orang yang tiduran sejajar dengan tempat tidurnya itu adalah orang ke-2 yang menatapnya paling lama setelah Eliza. Bedanya, Mikaela merasa risih akut dengan tatapan orang ini daripada ditatap Eliza.


Apa yang sedang dia pikirkan?


Neil tambah panik sendiri, bingung harus apa terhadap pemilik rambut pirang itu. Sedangkan Mikaela mulai merasa jengkel.


Dengan sigap Adelio mencairkan suasana.


"Dia Edgar Palovi. Maaf, kalau sikapnya tidak sopan,"


"Hah!? Tidak sopan darimananya coba!?"


"Kau tidak sadar apa,"


"Tentu saja tidak."


Keduanya bertengkar ria. Mikaela melihat Neil yang kebingungan harus menanggapinya bagimana.


Dua orang didepanya itu akrab sekali. Itu mengingatkan Mikaela pada Eliza. Mereka juga sering bertengkar soal yang sepele untuk dipermasalahkan.


Mikaela merindukan pemilik rambut perak dan wajah pokerface itu.


Bagaimana kabar gadis itu, ya? Apa dia melupakan teman yang dicintainya ini?


***


"Kebeteluan sekali kita sekamar," ujar Sisi berkeringat dingin melihat Eliza duduk dengan wajah yang kesal sambil membaca buku.


Mikaela pernah bilang kepadanya bahwa gadis berwajah serius itu tidak suka baca buku karena dia cukup cerdas jika dia menginginkanya. Dan Eliza katanya tidak pernah mengeluarkan emosinya dengan jelas.


Ada yang salah pada Eliza, tapi Sisi tidak bisa menenbak apa alasanya.


Kenapa gadis bodoh ini bersamaku!?


Ya, itulah jawabanya. Dia benar-benar tidak akan pernah bersahabat dengan Sisi. Tidak akan pernah.


Dia kesal, saking kesalnya sampai-sampai dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesalnya itu.


°°°