
Mikaela Edgee akan mengoprasi tangan kananya. Dari itu dipanggilah Doc. Lucy, doter pengemuka alat pendetekai virus Extherotopia sekaligus dokter yang dikatakan mampu menyambungkan tangan spesial Mikaela tersebut dari Kota K. Begitulah yang dikatakan sang pengirim melalui suratnya yang kemungkinan besar mereka adalah buronan kelas kakap, 'Rabbits' dan 'Owl'.
"Kenapa kita harus mempercayai isi surat tersebut?" Mendes bertanya.
Seluruh orang yang ada dirapat saling melontarkan pandang. Terutama kepada Mikaela yang terlihat meratapi tangan kananya yang ada di tabung di atas meja rapat.
Kejam.
Seharusnya benda itu tidak perlu diletakan diatas sana secara terbuka. Meja rapat itu menjadi aneh dibuatnya.
"Doc. Lucy adalah kebanggan kami. Dia adalah wanita jujur dan senang menolong tanpa pamrih. Kami tidak memiliki kecurigaan sedikitpun mengenai dirinya. Dia juga aslinya memang adalah dokter bedah dan spesalis dibidang tulang," ungkap salah satu petinggi Kota K.
"Begitulah alibi paling hebat dari seorang penjahat," ungkap Mendes tanpa ragu, "Orang awam semacam kalian sepertinya tidak pernah menghadapi para kriminal. Kalian harus tahu, kebanyakan dokter yang berurusan dengan darah adalah psikopat. Psikopat adalah gangguan jiwa dimana pelakunya memiliki kesadaran penuh atas tindakanya. Psikopat memiliki otak yang lebih cerdas daripada orang pada umumnya, membuat alibi sebagai orang yang baik hati adalah perkerjaan mudah bagi mereka. Sebab mereka bisa melakukan hal yang lebih dari itu."
Beberapa mendeliknya tajam, Mikaela juga. Banyak yang tidak setuju akan tuduhanya. Tidak. Mereka mulai goyah. Benarkah fakta itu?
Ya, benar. Gadis itu melihat gelap Mendes. Orang didepanya itu menjadi sangat merepotkan ketika seseorang mulai ikut campur dalam urusanya. Dia bahkan belum bisa mengambil hadiah atas keberhasilanya. Karena Mendes menetap disini selama penyelidikan 'Bunga Bencana' yang terbakar selesai. Dia baru tahu soal itu.
Karena banyak yang menentang tuduhan itu, terlebih mengingat Mikaela adalah peserta spesial yang mampu menggunakan dua tanganya, atas nama keadilan Mendes akhirnya membiarkan para petinggi memanggil Doc. Lucy dari Kota K.
Tapi, dengan satu syarat. Wanita cantik itu harus datang sendirian tanpa suamibya dengan membawa barang medisnya dari rumah.
Dilihatnya Mikaela sudah berada diruang oprasi bersama beberapa dokter yang akan menjadi aasistenya. Oprasi penyambungan tangan pun segera dimulai.
"Senang melihatmu ada disini, Doc. Lucy," ujar Mikaela tersenyum tipis.
Lucy juga membalasnya dengan senyuman manis. Ditanganya terdapat sebuah suntik dengan cairan bius.
"Kalian semua bisa keluar?"kata Lucy kepada dokter-dokter lainya.
Mereka saling memendang, "Kenapa?" tanya dalah satunya heran.
"Tidak. Biasanya saya akan melakukan operasi bersama suami saya. Tapi, karena tidak dibolehkan membuatnya ikut turut, saya harus melakukanya sendiri."
Lucy terdengar tidak senang. Untuk pertama kalinya dokter yang dikenal sangat ramah itu terlihat suram tanpa suaminya. Tentu saja. Ini karena syarat Mendes. Dia mencurigai Lucy dan suaminya ada berhubungan dengan 'Rabbits' dan 'Owl'.
Untuk menghormati permintaanya, semua orang pun keluar. Kecuali dirinya dan Mikaela yang terdiam.
"Bukanya lebih mudah kalau mereka membantu?"
"Ya, akan lebih mudah kalau tidak ada yang ikut campur dan merusak tangan sempurnamu."
Wow, Mikaela terkejut mendengarnya. Tajam sekali kata-katanya sampai-sampai terdengar menusuk.
Lucy menyuntikan bius itu ke lengan kiri Mikaela. Perlahan pemilik netra coklat keemasan itu menutup dengan sendirinya. Ketika itu juga seringaian besar muncul dari bibir seksi Lucy bersama kilatan mata tajamnya.
"Kalau kemarin mereka gagal membunuhmu, sekarang inilah akhir-"
Ceklek!
Ujung dingin sebuah pistol mengarah pada kepala Lucy. Terlihat diujung matanya, sosok tajam Mendes dengan senyuman ramah.
"Sayangnya ini justru menjadi akhir untukmu."
DOR!
Kepala Lucy meledak. Bukan. Beberapa sengatan kecil cahaya muncul dari sana. Bukanya darah.
"Android..." Mendes memfonis, memang sudah tahu.
BOOOM!
Suara ledakan mengguncangkan seisi ruangan itu dengan hebat. Saat itu juga Mendes menerima sebuah laporan yang mengejutkan dari pelayanya, Jeremi.
"Tuan, 'Rabbits' dan 'Owl' muncul dan mengebom gedung belakang. Kita harus bagaimana?" Yah, bagian itu tidak diketahuinya.
Para petinggi mengerahkan seluruh tentara untuk menembaki mereka, 'Rabbits' dan 'Owl' yang memanjati gedung. Tidak ada yang tahu mereka mau kemana, banyak yang bilang dua boronan itu sedang menuju ke lantai dimana ruangan oprasi Mikaela dilakukan. Beberapa peserta yang mengetahuinya segera ikut membantu menembaki. Ada juga yang ikut memanjat dengan beraninya. Kemampuan revolusi Extherotopia pada beberapa orang terlihat jelas sekarang. Yang mampu memanjat dengan cepat seperti buronan itu adalah mutan baru yang sudah merevolusikan tubuh mereka.
Yap, lupakan soal itu. Ini masalah mengenai bagaimana ruangan itu kebal dari bom. Sekitar lantai 23, 'Rabbits' meletakan bom yang langsung meledak beberapa detik kemudian.
Itu lantai Mikaela. Mereka berdua masuk ke sana dengan sangat cepat.
Mata gadis berambut panjang itu membulat. Sisi, membeku takut sekaligus kesal dalam sisi yang lainya.
"Apa yang kau tunggu? Pangeranmu sedang dalam bahaya, tuh. Bagaimana bisa kau hanya diam saja?"
Sosok bertanduk merah. Berambut panjang dan bermata merah. Cerminan dalam dirinya. Bukan. Itu adalah dirinya yang lainya yang sejatinya adalah monster asli dari Extheretopia. Sudah beberapa kali dia diajak bicara oleh sosok lainya itu yang tentu saja menyarankan untuk menggunakan energinya sebagai makhluk setengah monster.
Mikaela sudah melarangku menggunakanmu.
"Dan kau mendengarkanya?"
Tentu. Mikaela tahu kau akan menguasai tubuhku jika aku sering menggunakanmu.
"Tapi, aku adalah dirimu. Apa yang berbeda?"
Kau berbicara dengan sangat tidak sopan. Aku pikir itu adalah salah satunya.
"Yah, kau benar soal itu. Tapi, Mikaela-mu akan celaka, loh. Kalau kau mau, aku bisa memberikan seluruh kekuatanku untukmu. Bagaimana? Coba pikirkan. Jangan terlalu lama. Bisa saja 'Rabbits' dan 'Owl' datang untuk memotong bagian tubuhnya yang lainya."
Tidak, tidak boleh!
"Dari itu, biarkan kau menggunakanku, sayang. Biarkan aku menguasai pikiranmu. Hanya sebentar, kok. Tenang saja..."
Krak! Beberapa orang yang berada didekat gadis bersurai panjang itu kaget melihat tanduk runcing panjang muncul di kepalanya. Sisi. Gadis itu kenapa?
Sisi yang sebelumnya akhirnya dibuat tidur setelah dipukul oleh sosoknya yang bertanduk merah dalam alam batinya. Seringaian lebar muncul disudut bibir, mata cerahnya yang tadi berubah menjadi mata nakal yang bercahaya merah. Pupilnya seperti pupil mata iblis. Revolusi tingkat tinggi. Tidak ada yang tahu ini karena inilah yang pertama kalinya merekanmelihat makhluk semacam ini.
"Yosh! Ayo kita habisi dua makhluk sialan itu demi sang pangeran kita," ungkapnya sendiri dengan nada suara yang kasar.
Sekejap mata, tempatnya berada itu menjadi kepulan debu dimana dia langsung melayang ke atas dimana 'Rabbits' dan 'Owl' masuk. Lantai 23.
Beberapa anak tercengang menyaksikanya. Itu revolusi? Atau monster? Kenapa makhluk itu bisa muncul ditengah-tengah mereka?
"Hoh~ Aneh sekali..." Sisi berbicara dengan dirinya sendiri ketika sudah menapaki kerikil-kerikil dari pecahan tembok gedung.
Hidungnya mengendus, mengernyit heran ketika dia hanya menangkap satu aroma kuat saja. Ada yang salah, pikirnya.
Hanya ada aroma tubuh 'Owl'. Lalu, dimana 'Rabbits'? Dia sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mengendus aroma tubuh Mikaela.
"Mana aroma manis tubuh sang pangeran?" Dia bertanya pada dirinya sendiri bingung.
Padahal dia hapal betul aroma tubuh Mikaela. Kemana Mikaela pergi?
Disisi lain, dibawah gedung, seorang wanita berjas putih copang camping mendekati keramaian.
"Tolong..." Suara seraknya terdengar menakutkan.
Beberapa orang yang dekat menoleh ke arah suara. Wanita itu dengan luka-luka di tubuhnya.
"Dokter..… Dokter Lucy!?" Mereka lansung saja memekik ketika wanita itu terjatuh di atas tanah.
Dia tidak sadarkan diri. Dengan luka sebanyak itu tentu saja wanita berambut pirang cantik itu mengalami syok berat.
Bukankah dia yang sedang mengoprasi Mikaela tadi. Jawabanya adalah yang memiliki darah manusia adalah Lucy yang asli.
Apa rencana sang pengacau sudah berhasil?
***
"Apa sistem keamananya sudah padam?"
"Ya, sepertinya begitu."
"Aku tidak perlu berpura-pura lagi, kan. Jujur saja bermain drama didepan orang yang sudah tahu kebenaranya itu sangat memalukan."
"Saya juga. Senang akhirnya Anda bisa menunjukan diri Anda yang sebenarnya, Tuan 'Rabbits'. Saya akan membereskan semua ini sesusai dengan perjanjian kita."
°°°