
Bola api raksasa perlahan muncul dari atas tanduk runcing itu, seluruh energi panas berkumpul.
Orang-orang tampak begitu takjub dengan sang pengendali elemen api, Karin.
Panasnya terasa...
"Mereka sepertinya melakukan pelatihan khusus," ujar Evanka tidak peduli melihat Mikaela membawa Sofia, Sisi, dan Edgar Palovi entah kenapa.
Evanka adalah Penembak Peringkat ke-2 setelah Mikaela. Kemampuanya tidak diragukan lagi. Sayangnya dia paling lemah dengan serangan jarak dekat membuatnya mendapatkan petingkat ke-4 sebagai peserta terkuat setelah Ariana.
Ariana sedikit melirik ke arah yang ditunjukan Evanka, Mikaela yang membawa Sofia, Sisi dan Edgar. Lisa tidak berada disini, berarti dia juga ikut ke dalam sana.
"Projek apa yang mereka kerjakan?" Tanyanya sambil mengasah pedangnya.
Mata tajamnya, entah kebencian macam apa yang dia lontarkan kepada Mikaela. Caranya menatap seakan dia sangat ingin membunuh Mikaela dengan pedang yang sedang diasahnya.
***
Hari ini sepertinya mereka akan mendapat giliran. Mikaela datang.
Ariana pun memasang wajah lain didepan Mikaela. Dia sudah memmpersiapkan semuanya, mental dan skillnya.
Ariana, ahli pedang peringkat ke-2 setelah Anggelo. Dia juga merupakan orang terkuat ke-3 di asrama putra.
Berbeda dengan Mikaela, kedok utama Ariana sangatlah rapat. Tidak ada yang tahu Ariana adalah perempuan. Perawakanya lebih tinggi dan memiliki paras yang dingin membustnya persis seperti laki-laki. Suara tegasnya juga.
"Mikaela, bisa ambilkan pedang itu?" Pinta Ariana.
Dengan sengaja dia meletakan pedang itu disana, tentu saja agar Mikaela mengambilnya. Dan ketika Mikaela mengambilnya, Ariana smemperhatikanya dengan sangat seksama bahwa cara tangan Mikarla memegang itu jelas sekali dia tahu cara menggunakanya.
Mikaela ini, dia tahu caranya menggunakan pedang, kan?
Dengan sengaja Ariana menarik pedangnya dari punggangnya dan langsung saja menebas ke arah Mikaela tanpa suara.
"Hoho, bahaya sekali," ungkap Anggelo yang justru menahan serangan Ariana.
Dengan kata lain, rencana Ariana gagal. Mikaela yang tidak tahu segera menjauh dari tempatnya. Ada apa ini? Mikaela sok bertampang polos.
Anggelo langsung menepis pedang Ariana menjauh dari Mikaela.
"Aku sudah sering melihatnya memandangmu dengan tatapan seperti itu, kak. Harus aku apakan dia?" Tanya Anngelo kepada Mikaela.
Anggelo mudah sekali mengeluarkan auranya. Nafsu membunuhnya sangat tinggi. Kalau Mikaela memintanya untuk membunuh, sudah pasti dia lakukan. Karena Naggelo bertindak karena nafsu.
Mikaela pun melihat ke arah Ariana, raut kebencian dari wajah Ariana benar terlihat, kenapa? Apa ada hal yang tidak diketahui Mikaela?
"Tapi, dia tadi mau membunuhmu,"
"Dia tidak bisa melakukanya," tukas Mikaela cepat, "Percayalah, aku akan memanggilmu kalau dia begitu."
Entah kenapa Anggelo menurut, meninggalkan Mikaela setelah memberikan tatapan membunuhnya kepada Ariana barusan.
Ariana sama sekali tidak gentar. Mata gelapnya masih terfokus kepada Mikaela yang sekarang hanya ada mereka berdua ditempat itu. Tangan Mikaela meraih pedang yang diminta Ariana tadi. Dipegangnya didepan mata Ariana yang setia memandanginya sinis.
Ringan, apa yang salah? Oh, Mikaela sepertinya sudah tahu jawabanya setelah beberapa detik mencerna. Dia menyeringai sedari memegang pedang itu asal.
"Mata yang terlalu tajam itu tidak boleh dipakai sekarang," ungkap Mikaela mulai melangkah mendekat.
Entah apa maksudnya, secara mendadak Ariana mersa ketakutan.
Aneh! Pikirnya. Kenapa dia begitu gemetaran?
Hingga sebuah kepala melayang terpisah dari tubuhnya. Arian seketika tewas.
"Hentikan!" Teriak Stela keras.
Mikaela tersenyum, akhirnya ada tukang pelerai yang sesuai dengan situasinya walaupun Mikaela berharap Ariana tahu sesuatu mengenai dirinya.
Wajah Stela memucat sambil mengangguk sekali ke arah Mikaela dengan segan. Kemudian, dia mengambil pedang dari tangan Mikaela ragu-ragu.
Mikaela tidak boleh memegangnya terlalu lama. Bisa menjadi hal yang gawat, pikir Stela menelan ludahnya keras keteka berada didekat Mikaela.
Dibuangnya pedang itu, lalu menarik Mikaela menjauh. Bukan Ariana yang menjadi sumber bahaya disini, melainkan Mikaela, orang yang memberikan kemampuan kepadanya yang akhir-akhir ini kemampuan itu menjadi sangat berguna bagi Stela. Salah satunya adalah menyelamatkan nyawa Ariana. Seperti barusan.
Sungguh, Mikaela bisa saja melakukanya jika Stela tidak segera datang.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Mikaela penasaran,
"Kau menebas kepalanya," ungkap Stela singkat, sedikit melirik ke arah Mikaela, "Apa kau tahu caranya menggunakan pedang. Aku rasa dia hanya ingin tahu soal itu."
Memberitahu Stela mungkin tidak mengubah apapun, tapi dengan Ariana. Gadis itu tidak hanya sekadar memastikan, dia juga akan melaporkan Mikaela sebab Ariana adalah anjing ke-2 setelah Edgar. Dan Ariana memiliki kemampuan analisis yang luarbiasa. Lebih hebat dari Edgar.
"Sedikit," jawab Mikaela bohong.
Sebenarnya tidak hanya sedikit. Tapi, dia akan mengatakanya segera. Di ujian terakhir nanti. Mungkin. Soal kebenaran.
Dia akan sangat menantikanya, puncak dari permainan yang akan membuat seluruh Indonesia terguncang.
°°°