
Senjata api yang terjejer banyak dibalik tumpukan pasir itu terus saja menembaki serangga-serangga besar aneh yang masuk melakui celah.
Serangganya terlalu banyak sampai-sampai mereka tidak bisa berhenti menembak, tapi membiarkan mereka masuk dan membuat celah tambah besar lagi itu akan menjadi masalah besar. Tidak. Masalahnya baru saja muncul sekarang.
Seekor serangga yang memiliki cangkang yang keras baru saja masuk dari celah besar itu. Ukuranya jauh lebih besar, tampak begitu mencolok dan juga jauh lebih berbahaya jika dilihat dari berapa banyaknya tanduk yang ia punya.
Seperti yang sudah diduga, serangga itu tidak ada yang bisa ditembak. Tidak ada satupun peluru yang bisa merusak cangkangnya. Peluru-pelurinya malah memantul hebat. Benar-benar keras seperti baja. Para penembak tidak bisa melemparkan peledak sebab itu sama seja membawa masalah yang lebih besar lagi. Mereka menghindari celahnya dan itu sangat menjengkelkan.
"Pemerintah benar-benar lelet. Bahkan mereka tidak benar-benar mengawasi luar tembok dengan benar."
Seseorang muncul dan berkata begitu dengan santai, duduk menopang kaki di atas dahan pohon didekat mereka. Beberapa orang tercengang sekaligus berwaspada. Ada seseorang yang menembak ke arah orang itu tanpa segan.
Orang berpakaian serba hitam tersebut meloncat elegan, seakan peluru itu tidaklah lebih cepat darinya. Yang tertempel diwajahnya hanya peringatan datar dari salah satu karakter manis, si topeng kelinci yang mengenakan hoodie hitan segelap malam.
'Rabbits.'
Satu kata yang ada disetiap kepala orang yang ada disitu. Dan dia adalah buronan.
Terlihat dari kejauhan, ada gadis berstelan ghotic lolita hitam yang menggunakan topeng burung hantu tengah berdiri menyandar pada pohon yang tidak jauh dari tempat 'Rabbits' berdiri.
Gadis itu juga sama berbahayanya dengan 'Rabbits'. Dan juga sama-sana buronan.
Dialah pasangan 'Rabbits', 'Owl'.
"Bukankah kami sudah memberitahukanya, ada 'Bunga Bencana' yang tidak jauh dari sini. Kenapa laporan kami tidak digubris? Kami juga warga negara yang baik, loh," ujar 'Rabbits'.
Mendengar itu, beberapa tentara justru menembakinya dengan geram.
"Kalian yang membuat lubang ini, kan! Buat apa kami mendengarkan kalian!?"
'Rabbits' berdesah kasar seakan dia berusaha agar tidak menebas semua orang yang salah paham disini. 'Owl' pun meneranhkan.
"Makhluk itu yang menggalinya. 'Bunga bencana' sudah lama berada di situ. Bukan hal yang mustahil jika sudah terjadi revolusi," ungkapnya dengan suara yang tenang.
Bebarapa tentara terdiam sambil terus menembaki memikirkan apa yang dikatana gadis itu memang benar. Lihatlah serangga-serangga itu, mereka sudah berevolusi menjadi besar. Sudah pasti Extherotopia yang tubuh tidak jauh dari sini juga sudah lama ada.
Oh, tidak. Serangga yang sulit ditembaki itu semakin dekat. Ini gawat.
"Katakan kepada para pemakan uang itu, kalau mereka tidak becus mengurus hal ini, aku bersumpah akan memenggal kepala mereka dengan tanganku sendiri,"ujar 'Rabbits' dengan suara dingin, bergerak maju dan mulai berlari mendekat.
Beberapa orang yang kaget mencoba menembakinya. Mereka berpikir dia akan menyerang, sebenarnya tidak.
'Rabbits' maunya mengomel lagi, tapi dia memilih diam. Tidak akan ada peluru yang mengenainya juga. Percuma, orang-orang sudah pasti akan talut kepadanya.
Tanpa ragu, dia menarik pendang lurus yang ada menempel pada pinggangnya, langsung melompat seperti angin menuju ke arah serangga itu dan menesuknya dengan sekali sentakan saja.
Bisa ditusuk. Dengan sangat mudah pula. Luar biasa.
Dia menari, menebas serangga yang ada disekelilingnya dengan lembut seakan dia pusaran angin yang sangat tajam.
'Owl' sama sekali tidak turun tangan. Baginya, 'Rabbits' sendirian mampu membersihkan semua hanya dalam beberapa detik.
Semua orang tercengan hebat. Mereka menghentikan tembakan, menyaksikan kebrutalann dari pemilik mata bersinar merah itu.
Sebenarnya siapa 'Rabbits' itu? Pedangnya sangat tajam dan mungkin mampu memenggal kepala banyak orang dalam satu tebasan. Sebenarnya bukan benda itu yanhbmembuatnya tampak begitu kuat. Tetapi, rumor tentang dirinyanyang meruoakan aeorang mutan. Soalnya mustahil sekali manusia biasa bisa begitu.
Lalu, kenapa buronan semacam dia justru ikut membantu?
***
"Ah, s-sakit."
Gadis bersurai perak sebahu itu langsung mengenyit jengkel. Ini biasanya bukan apa-apa. Maksudnya teman yang ditempelkan plester itu, dia merengek begitu hanya karena luka kecil.
"Dasar aneh. Luka lebih besar dari ini kau malah diam saja,"
"Ini kan berbeda mode,"
"Alasan!"
Gadis berpotongan laki-laki itu hanya terkekeh mendengar omelan yang menimpanya dari gadis pemilik rambut perak itu.
Namanya Mikaela Edgee. Dan si rambut perak itu adalah sahabat karibnya, Eliza.
Paras Mikaela itu lembut. Malah dia tampak seperti anak laki-laki yang manis karena potongan rambutnya memang kelihatan seperti itu.
Gadis berambut perak itu juga cantik. Sayangnya dia jarang tersenyun dan sangat terlalu dingin jika diajak bicara. Makanya hanya Mikaela yang bisa betada disampinya. Hanya Mikaela yang bisa mendekatinya. Hanya dia seorang.
"Mikaela!" Seseorang memanggil.
Ada gadis bersurai hitam lebat berlari kecil ke arah mereka berdua dengan wajah yang berbinar-binar. Eliza kelihatan langsung bengis ketika melihat siapa orangnya. Gadis berambut panjang dan berponi sejajar itu.
"Sisi..." Senyuman Mikaela pun melebar.
"Eliza, kenapa?" cicit Mikaela pelan.
Jelas sekali gadis cantik pemilik rambut perak itu tidak menyukainya, gadis bersurai panjang itu, Sisi. Dan sikapnya ini tidak bagus kalau dia menganggap Mikaela adalah miliknya. Makanya dia akan memberi ruang untuk Mikaela. Walaupun dia setengah mati tidak senang.
"Aku akan segara kembali kalau kau sudah selesai bicara denganya."
Eliza beranjak dan mengacuhkan Sisi yang bermaksud menyapanya.
Dingin.
Sisi tidak bisa apa-apa kalau gadis itu marah soal dia yang ingin berteman dengan Mikaela. Seperti biasa, Mikaela akan berpura-pura tidak melihatnya, sikap Eliza yang tidak menyenangkan itu terhadap Sisi. Kadang Mikaela merasa tidak enak, kemudian meminta maaf untuk itu.
"Kau sudah buat? Aku menantikan bagian selanjutnya," kata Mikaela dengan ramah.
"Benarkah? Aku juga menunggu punyamu!" Ujar Sisi terdengar sangat senang.
"Tunggu sebentar, ya."
Mikaela beranjak pergi mengambil buku di kelas, lalu kembali duduk disamping Sisi dan menberikanya. Mereka berdua adalah sama-sama pencinta sastra.
Eliza tidak memiliki hobi yang sama. Itu juga adalah alasan kenapa dia tidak menahan Mikaela bersama gadis yang menurutnya selalu melihat Mikaela dengan tatapan yang aneh.
"Yey, akhirnya..."
Mikaela juga menerima buku dari Sisi. Mata Sisi tidak sengaja menangkap sesuatu, plester yang menempel di leher Mikaela itu adalah pemandangan yang baru.
"Itu..." Sisi menunjuk pada tengkuknya sendiri, "...kenapa?"
"Oh, ini cuma luka gores,"
"Luka gores apa?"
Sisi tidak ingin mengabaikanya. Dan Mikaela, dia sempat terdiam enggan menjawab. Haruskah dia beritahu?
"Tadi aku main. Gak sengaja tergores kayu, makanya begini,"
"Duh, hati-hati dong. Kan bahaya kalau lukanya dalam."
Mikaela hanya mengangguk, memberikan senyuman terbaiknya. Penjelasanya terdengar ngilu ditelinga, tapi sebenarnya bukan tergores karena kayu.
"Maaf, lain kali aku akan hati-hati."
Tidak. Mikaela yang dikenal baik hati itu berbohong. Sisi tidak pernah mencurigainya, dibalik senyuman manis itu menyimpan sejuta pikiran yang tidak akan pernah terduga oleh seseorang, selain Eliza.
Sisi melambai sedari pergi kembali ke kelasnya setelah selesai berbicara. Mikaela juga membalasnya dengan lambaian halus.
Ah, aku mengarang cerita lagi.
Mikaela sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku tidak pernah suka orang yang ikut campur."
Eliza muncul di belakang. Mikaela diam menanggapi kalimatnya sesaat, kemudian berbalik, menantapnya dengan tatapan mengejek.
"Dulu kau juga bilang begitu loh kepadaku. Apa ini tandanya kau mulai menyukainya juga?"
"Hah, yang benar saja,"
"Yah, sepertinya begitu."
"Mana mungkin aku bisa menyukainya."
"Hm, hm. Iya in aja deh..."
"Jika dia mengganggumu, katakan saja kepadaku. Aku tahu kau itu tipe orang yang sulit menolak."
Mikaela pun mendeliknya, "Gak, kok. Dia sama sekali tidak mengganggu."
Benarkah?
Eliza meragukan itu. Dia tahu Mikaela tidak suka kalau dia membicarakan soal orang yang dianggapnya tidak bersalah. Tapi, dia ingin berkata jujur sejujur-jujurnya. Dia tidak suka Mikalea lebih ceria bersama Sisi ketimbang dia. Dia merasa dia tidak begitu penting buat Mikaela. Padahal mereka sudah sangat lama berteman.
"Kalau kau berpikir aku berteman denganya bisa membuat persahabatan kita runtuh, itu tidak benar, Eliz. Aku ini selalu bersamamu."
Mikaela melihat ke dalam mata Eliz untuk meyakinkanya, "Aku tahu kau khawatir. Kalau dia berusaha untuk memanfaatku, aku akan mengatakanya, kok. Tenang saja."
Ya, itulah intinya. Eliza hanya takut akan hal itu sebab dia tahu temanya ini kadang menjadi orang yang terlalu baik. Dan mudah sekali dimanfaatkan. Dia bersyukur bahwa ada dirinya disamping Mikaela. Jika tidak, gadis yang sedikit lebih tinggi darinya itu pasti akan menjadi sosok yang buruk.
Karena sebenarnya sisi lain yang dimilikinya itu memang buruk. Tidak akan ada yang tahu, kan. Hanya dirinya saja yang tahu. Cukup dia.
°°°