Black in Black

Black in Black
Pohon 16



Gadis berstelan gelap itu kini memakai topengnya, topeng burung hantu.


Burung hantu terkenal akan kehadiranya yang tidak diketahui. Dan dia akan datang secara mengejutkan. Hanya untuk'nya'. Sebagai kejutan.


"Kau mau kemana?"


Dia pun menoleh, menjawab dengan nada yang senang.


"Datang ke medan perang."


"Kenapa? Dia pasti tidak akan senang kalau kau ke sana,"


"Aku tahu itu," dialah 'Owl', "Aku akan menghajarnya karena sudah menyepelekanku."


"Oh, itu ide yang buruk, sayang."


"Hn? Kenapa?"


"Banyak hal yang perlu kau pertimbangkan. Ya, tidak perlu diambil pusing. Kau perlu membawa dia untuk ikut membantumu," wanita itu mengarahkan tanganya ke arah belakang.


"Kau aneh. Bukankah itu barang kesayangnmu."


"Apa boleh buat. Untuk anak bungsuku ini bukanlah masalah."


Seseorang berdiri belakang. Siapa? Hanya mereka yang tahu.


"Kau hanya perlu sedikit meriasnya," ujar wanita itu menyeringai.


Karena drama ini sangat menyenangkan baginya. Makanya dia akan memberi sedikit pelumas.


***


"Aku tahu siapa dua orang ini," ujar salah satu petinggi. Tanpa ditanya pun mereka semua sudah tahu.


Mereka melihat pada layar satelit, mereka memukan banyak titik merah yang bertebaran. Hanya dua titik yang mengarah ke arah yang berbeda, jauh dari titik-titik yang lainya.


"Kau yang membuatnya marah. Seharusnya kau tidak perlu meninggikan suaramu saat rapat itu. Lihat, banyak peserta yang berkumpul dan terdiam. Mereka pasti diserang meskipun berada dalam jalur yang dianggap aman untuk dilalui,"


"Berbeda dengan anak cerdik itu. Dia terus bergerak dengan pasanganya meskipun medanya tidak memungkinkan. Dia lebih tahu dari kebanyakan orang. Penjelasnya tadi malam juga sangat masuk akal. Extherotopia memang bukanlah tanaman parasit biasa. Bukan hal yang mustahil makhkuk itu memiliki otak layaknya manusia."


Orang berwajah sangat itu disalahkan oleh banyak pihak. Orang yang dimaksud mereka keluar dari rapat tersebut adalah Mikaela.


Masih untung dia masih mau ikut. Kalau dia justru pergi, mereka tidak akan mendapatkan kemungkinan yang bagus untuk projek pertama ini.


"Kalian membela bocah yang akan membunuh seseorang?"


Semua terdiam seakan sudah melupakan masalah itu. Tapi, menurut mereka wajar saja jika Mikaela marah soal ini.


"Saya meminta imbalan atas kemenangan saya nanti," Mikaela berkata begitu tadi malam dalam rapat.


Salah satu orang pun menyahutnya, "Tentu saja kami akan memberikan imbalan yang pantas-"


"Saya tidak mengingkan imbalan yang sama seperti peserta lainya," potong Mikaela memberikan senyuman tipis yang bisa membuat semua merasa was-was, "Saya ingin memotong dua tangan dan satu lidah pada satu orang yang pernah melatih saya. Ini bukan semacam dendam. Saya hanya ingin memberikan keadilan yang pantas di dalam lingkungan saya. Bolehkah?"


Semua orang menggidik. Anak didepan mereka itu apa benar-benar akan melakukanya? Bercanda, kah?


"Saya menemukan beberapa kasus pelecehan seksual di asrama saya yang bermayoritaskan laki-laki. Ini bukan terjadi pada saya, ini terjadi pada teman sekamar saya yang laki-laki, teman saya yang sangat baik dengan banyak orang. Saya pikir ini tidak pantas terjadi kepadanya. Dia dilecehkan oleh salah satu pelatih terkemuka yang ada di asrama saya. Sangat disayangkan image bagus itu hilang ketika saya mengetahuinya. Pelatih tersebut membungkam dengan mengancam setiap korban pelecehanya. Hebatnya tidak ada satupun korban yang membuka mulut. Semua diam seakan itu adalah dunia yang tidak boleh diingat lagi oleh mereka. Untungnya hal itu tidak terjadi kepada saya yang perempuan. Sebab jika itu terjadi kepada saya, saya yakin tanah kuburan pelatih saya itu pasti sudah kering sekarang dan saya tidak mungkin berada disini untuk menjelaskanya secara pribadi. Saya hanya menginginkan keadilan. Atau tebusan berupa seluruh peserta latihan, kecuali peserta latihan yang saya pilih yang ada di tempat prlatuhan saya agar dipulangkan ke rumah masing-masing. Jika permintaan ini tidak berkenan, tidak ada pilihan lain bagi saya selain menghukum 'kotoran' itu dengan tangan saya sendiri. Ya, saya harap saya tidak membunuhnya disaat yang bersamaan."


Pernyataan yang mengerikan dari seorang Mikaela. Daripada memotong dua tangan dan satu lidah, siapapun akan yakin anak itu sudah pasti akan langsung membunuhnya.


Kebetulan orang yang dimaksud masih berkerabat dengan salah satu petinggi Kota M. Tidak ada satupun orang yang ingin membela kerabatnya petinggi itu. Orang bersalah sudah pastinya dihukum.


Anak itu selama ini hanya diam karena seseorang yang memintanya begitu.


Neil. Pemuda yang menjaganya dengan sangat baik itu tampak begitu pendiam setelah itu.


"Tidak masalah. Kau tidak perlu mengingatnya. Aku bersyukur itu tidak terjadi kepadamu."


Orang yang bodoh itu. Bagi Mikaela, Neil tidak pantas menerima hal buruk begitu saja. Makanya Mikaela mengubah rencanya. Tidak disangka, dia bisa meraup hal lain yang lebih menarik daripada melihat darah manusia. Yaitu, membuat komunitasnya sendiri.


Tunggu dulu, apa awal dari semua ini datang dari rasa kemanusiaanya?


"Anak mengerikan itu tidak sepenuhnya buruk dalam beberapa hal. Tidak ada pilihan lain selain mengabulkan keinginanya tanpa harus diketahui para petinggi negara. Jika masalah kerabatmu itu dibawa ke jenjang hukum, apa kau mau nama baikmu ikut terikut ke dalamnya?"


Itu benar. Tidak ada pilihan lain. Mikala tahu itu, jadi dia akan segera pulang dan menerima hadiahnya.


Secepatnya.


Dia sudah mengkantongi beberapa nama orang terbaik yang akan menjadi pion-pion dalam masalah yang lebih serius nanti. Ditempat pelatihanya, ada beberapa.


"Aku menemukan beberapa anak yang memiliki DNA yang menarik. Jadi... Anggap saja itu milikmu."


Menangkap 'Rabbits' dan 'Owl', ya? Mereka ada disini. Baru saja melintasi beberapa tentara dan peserta lain.


Nyaris seperti sekelebat bayangan yang berlari terlalu cepat di antara pepohonan.


"Roger! Ini darurat. Kami melihat sepasang manusia berstelan serba hitam yang masing-masing menggunakan topeng. Kemungkinan mereka adalah 'Rabbits' dan 'Owl'. Mereka menuju ke arah barat, lintasan menuju gunung ke-2. Ganti!"


"Siap siaga! Apa benar mereka menuju ke sana? Ganti!"


"Benar. Mereka menuju ke sana. Ganti!"


Markas komunikasi mendapatkan pesan yang mengejutkan. Mereka harus melaporkan soal ini ke para petinggi kota untuk mendapat perintah yang lebih lanjut.


Mereka harus menangkap 'Rabbits' dan 'Owl' dulu atau menghancurkan 'Bunga Bencana'?


°°°