
Petir menyambar beberapa kali di dekat area asrama. Saat itu juga seseorang melesat bersama sepasang sayap hitam dipunggungnya. Wajahnya menyeringai. Akhirnya dia menemukan lawan yang dianggapanya sepadan.
"Sampai kapan kau terus bermain-main denganya?" Eliza mengomeli sosok berkulit cerah disana dengan nada yang protes.
Mikaela yang berdiri ditengah-tengah lapangan terus melihat ke atas. Melihat ke arah pemilik sayap yang kini melesat turun.
"Sampai aku puas," kata Mikaela membuat senyuman nakal.
Ketika dia mengatakan itu, dia juga sudah kehilangan minat. Akhirnya diangkatnya tangan kananya, kemudian petir yang paling besar pun datang menyabar.
***
"Dia menuju kemari!" ujar Stela setengah memekik ketika sebuah angin ribut melewati lorong bawah hingga membuka jendela disana secara paksa. Angin misterius itu menuju ke arah mereka!
Terlalu cepat, sehingga Eliza telat menggampai Stela.
Suara debuman keras pun terdengar menerpa tembok yang ada di belakangnya.
Sosok bersayap hitam besar sedari mencengkram leher Stela dengan kuku-kuku hitamnya yang panjang.
Wajah pucat yang sarkastik melirik. Mengejutkan sekali. Dia adalah Didian dengan tatapan dan perawakan yang berbeda.
Berbeda dengan Evanka, Didian benar-benar diambil kesadaranya oleh keserakahan dari seorang malaikat jatuh.
"Lucifer," sebut Eliza sigap.
Diabtahu itu dari Mikaela.
Didian tidak sama dengan Evanka yang bergerak dengan lamban, Didian sangatlah cepat sehingga dia benar-benar harus dihentikan.
Leher bening Stela dipaksa diperlihatkan. Didian sempat menjilatinya dengan sangat sensual yang pada akhirnya digigitnya dengan sangat kasar.
Matanya tetap menangkap sosok Eliza yang mulai cemas dengan kedaaan Stela. Namun, Eliza tahu jika dia mendekat, Didian akan langsung menangkapnya.
Dari itu, dengan sangat-sangat terpaksa dia harus menghadapi kekacauan ini dengan tenang. Ataupun dengan kemampuannyang susah payah disembunyikanya dari banyak orang. Teknik terlarang, memakan darah sendiri.
"Mikaela melarangmu melakukan itu, loh. Dia sudah bilang, kan?" Celetuk Karin yang sempat singgah untuk memberitahu.
Ah, menyebalkan sekali, pikir Eliza akhirnya mengurungkan niatnya.
Disisi lain, mata Edgar terbelalak hebat. Nafasnya tercekal ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri makhluk yang dimaksud Anggelo itu, makhluk yang memakan Anggelo. Monster yang paling mengerikan yang pernah dia lihat. Sekarang dia mengerti kenapa Anggelo kelihatan sangat ketakutan.
Sosok manusia, seperti putri duyung, tapi dengan cakar besar, juga tangan dan leher yang sangat panjang. Rambutnya panjang, seperti mbak kunti dengan kulit yang tampak sangat pucat.
Uh, Edgar kelihatan berkeringat dingin.
Disaat itu juga, samar-samar dia mencium aroma manis Mikaela. Ya, dia langsung berpikir begitu. Mikaela pasti masih selamat, kan?
"Indra penciumanmu lebih tajam daripada siapappun. Kalau kau terbiasa menggunakanya, kau pasti bisa mendapatkanya tanpa harus menggunakan energimu."
Apa Mikaela mengatakan hal terakhir seperti itu sebagai surat wasiat sebelum dirinya mati?
Edgar berusaha fokus, dia harus berkonsentrasi. Aroma Mikaela seperti apa? Kaosnya tadi...harum sekali. Aroma Mikaela seperti bunga anggrek di musim dingin.
Mikaela, Mikaela... Si perebut ciuman pertama. Kenapa harus dia sebagai sesama laki-laki? Edgar bisa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Oh, dia belum tahu ya Mikaela itu gendernya apa, ya?
Dapat! Saat itu juga Edgar berevolusi. Atas nama cinta, kekuatanya ada karena rasa kasih sayang, waluapun lebih tepatnya itu diaebut sebagai nafsu.
Mikaela, dia membuat pancingan ke rasa nafsunya untuk membuatnya bertranformasi besar-besaran. Dia berniat akan membalas Mikaela, dia akan menemukan orang itu segera dengan seringaian.
"Gawat!" Lisa melihat sebuah pertaruangan yang sangat hebat di depan matanya.
Evanka yang membuat deruan tidak terlihat dari gerbang taidak terlihatnya ketika menghadapi Karin dan Didian yang bertarung dengan menghancurkan barang-barang ketika menghadapi Eliza. Suasanya menjadi sangat kacau.
Dia baru saja menyadari keberadaan Ariana yang duduk lemas disudut lorong dengan leher yang dibasahi oleh darah. Ada apa denganya?
Segera Lisa dan Sofia mendekat. Mereka melihat baju Ariana yang terbuka hingga memperluhatkan sedikit bagian dadanya, ada penampakan yang aneh. Mereka mengernyit ketika melihat ada belahan dada yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak laki-laki. Perempuan!? Mereka sama-sama memekik dalam batin. Kenyataan itu cukup ngejutkan.
"Kemampuan yang cukup mengagumkan," ujar Didian dengan angkuh terbang kemana-mana.
Eliza yang hanya bisa menggunakan sebuah pisau untuk menyerang mulai memperlihatkan emosinya.
Ini sangat menjengkelkan. Terlebih, Mikaela melarangnya melakukan apa-apa. Itu karena Karin pasti akan mengadu.
Dia sempat melihat ke arah Karin yang kadang meminta izin untuk bertukaran tempat. Sepertinya harus. Dia tidak suka orang mesum soalnya. Ya, Didian tampak fulgar dengan dada bidang yang menampilkan otot-otot sixpack yang kelihatan seksi. Bagi Eliza itu tampak menjijikan.
Lagipula iblis seharusnya melawan iblis juga, kan.
Eliza setuju dengan pertukaran lawan. Saat itu juga Didian nyaris ditebas oleh Karin yang tidak terduga datang sesuai inyruksi pertukaran dengan Eliza.
"Wah, apa ini? Kau ingin melawanku, manis?"
"Kau sebenarnya setengah sadar, Didian. Kenapa kau tidak mencoba untuk mengendalikan kemampuanmu? Jika tidak, terpaksa aku harus membuatmu merasakan sakit,"
"Kau mau memberiku rasa sakit? Cobalah. Aku juga akan memberikanmu rasa sakit yang nikmat,"
"Rasa sakit tidak ada yang nikmat, bodoh. Kau sedang menyepelakanku, hah!?" Karin mulai digeluti oleh rasa emosi.
Lebih baik dia digoda oleh Mikaela yang mengatakan hal yang jelas ketimbang Didian yang lelewatan berlebihan.
Dipertarungan seberang, Eliza tengah berpikir keras. Evanka sepertinya sudah tahu Elizalah yang menggantikan posisi Karin, dia setia menunggu hingga sebuah ledakan muncul dari belakanya. Gerbangnya, itu kannyang meledak?
Muncul Edgar yang melayang, langsung menerpa Evanka dan berakhir diposisi yang sangat mengejutkan.
"Nice. Akhir yang sempurna," ujar Mikaela yang membopong tubuh Anggelo keluar dari portal.
Hoh, Eliza tampak membulatkan matanya dengan wajah yang sulit diartikan. Mikaela tahu apa yang sedang dia pikirkan, memberikan senyuman hangat seakan dia tidak paham.
Diletakanya Anggelo yang tidak sadarkan diri diatas tanah.
"Sofia..." Panggil Mikaela tahu dari kejauhan Sofia sedang melihat, "Tolong obati mereka, kalau bisa gunakan tanaman yang aku berikan kepadamu waktu itu."
Sofia mengangguk paham. Segera dia mendekati Mikaela bersama Lisa yang barubdatang setelahnmengungsikan Ariana, dia mengekor dibelakang. Tanpa memperdulikan dari kejauahan, ada orang yang mendeliknya dengan senangf.
Sayap besar yang tengah melayang itu mendesut ke arahnya, ke arah gadis yang terlihat manis. Mungkin karena energi besar yang terpendam dalam diri gadis tersebut yang belum dibangkitkan.
Mikaela sengaja membiarkanya, korban yang bertambah satu.
"Awas!" Lisa mendorong Sofia dan menggantikan posisinya sebagai orang yang dicengkram.
Oh, dia melihat Mikaela yang terlihat tersenyum. Apa maksudnya itu?
Didian tampak sedikit kecewa. Bukan gadis hitam manis itu yang dia tangkap. Melainkan gadis mungil yang tidak begitu menarik menurutnya. Lisa meringis merasakan cairan hangat mengalir dikepanaya stelah tubuhnya memebentur tembok dengan cukup keras.
Merasa kecolongan, Karin langsung menyerang Didian yang sedang lengah. Sayangnya Didian membuat tubuh Lisa yang sudah diserap energinya sebagai tameng.
Hampir saja ditebas, seketika Karin mengarahkan seranganya ke arah lain dan justru mendapat serangan dadakan dari Didian.
Tubuhnya terpelanting, menembus beberapa tembok hingga dia nerakhir di tanah lapang di halaman dingedung belakang. Dia sudah mampu lagi untuk bangkit.
Ah, Karin-nya sudah lemah. Energi gadis itu sepertinya sangat lezat. Didian benar-benar beruntung saat ini.
"Hei, kau tidak mau memakanku?" Tanya Mikaela disampingnya.
Refleks dia menjauh, tidak sadar dia baru saja kehilangan imagenya sebagai penguasa langit. Tapi, daripada memikirkan itu, dia memikirkan Mikaela. Auranya tipis sekali. Bahkan dia tisak sadar bahwa orang itu ada disampinya dalam waktu yang sangat singkat.
Siapa orang itu? Mungkin sangat menganggetkan, tapi Didian senang akhirnya ada juga yang mampu menyembunyikan aromanya selain dirinya sebagai malaikat jatuh.
Si Mikaela itu makhluk macam apa? Didian mulai tertarik.
Kemudian, pertarungan pun berakhir ketika Mikaela sudah bosan bermain denganya.
***
"Aku mohon..." Sofia memegang pot tanaman kecil itu dengan tangan yang gemetaran.
Keringatnya bercucuran sejak tadi. Usaha selalu menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Terlebih, dia tidak tahu teorinya bagaimana.
"Bernyanyilah, itu akan membuat pertumbuhanya cepat," Mikaela memberi saran ketika semua orang mengutuknya dalam diam pada saat itu juga.
Edgar, Anggelo, Evanka, Stela, Lisa, dan Didian terbaring di atas tempat tidur. Evanka dan Didian tidak sadarkan diri. Makanya mereka tidak ikut turut dalam protes besar-besaran dalam kesunyian yang hebat ini Termasuk Eliza, dia ikut menjengkelkan Mikaela.
Yang dilakukan Mikaela sangat ketraluan. Dan dia bilang ini adalah ujian semester pertama untuk semua orang yang hampir saja kehilangan nyawa karena ujianya.
Terdengar berlebihan. Stela tahu itu, tapi daripada kejengkelkan siapapun, niat membunuh Mikaela sama sekali tidak menurun. Bisa jadi Mikaela tidak nerasa bersalah karena dia memang tahu konsenkuensinya. Ujian itu harus dipastikan aman, kan. Lihat, dia sudah membuktikanya dengan selamatnya semua orang walaupun ada yang sekarat.
Dipegangnya tangan gadis pemalu itu dengan lembut. Sofia kelihatan.sedikit tersentak kaget.
Tangan Mikaela sangat hangat. Itu membuatnya gugup. Tanaman pemberianya juga perlahan tumbuh dengan cepat. Semacam sihir yang sangat nyata, Mikaela memperlihatkanya secara langsung sebuah keajaiban.
Entah tanaman apa itu, semacam tanaman rambat dengan daun merah besar yang belum pernah dia lihat.
Tanaman itu semakin besar, semakin aneh juga ketika sebuah bonggolan besar muncul. Buah tanpa berbunga.
"Ini adalah obat, buah yang sangat langka."
°°°