Black in Black

Black in Black
Pohon 27



Edgar menggidik ketika dia memegang telinganya yang berubah. Mungkin ini terdengar aneh, tapi dia sangat menyukainya. Harga yang pas sebagai pengganti rambutnya yang dipotong Mikaela.


"Ini yang namanya bertranformasi. Dalam penelitianku, tranformasi kebanyakan terjadi kepada orang yang memegang elemen bumi. Ada kasusunya juga tidak bertranformasi. Edgar adalah salah satu pemegang elemen langka," ungkap Mikaela kembali melihat kepada Edgar yang juga melihatnya.


Edgar terlihat tidak mengerti sekaligus penasaran. Elemen apa yang dipegangnya? Dia sendiri tidak tahu, bagaimana Mikaela bisa mengatakan hal semenakjubkan itu? Tidak. Itu terdengar mustahil.


"Bagaimana ya caranya membuatmu mengeluarkan elemenmu?" Mikaela menggaruk dagunya, tidak paham.


Dasar pemberi harapan palsu, Edgar sempat berharap apa yang dikatakan Mikaela itu benar-benar ada.


Mikaela mebawanya ke sebuah kawasan yang memiliki banyak pohon mati. Disitu Lisa, Sisi dan Sofia juga mengikuti mereka kesana untuk melihat orang pertama yang mampu mendapatkan tranformasi mencari elemenya, Edgar.


Pohon mati? Apa dia akan menghidupkan pohon mati? Dia melihat Mikaela penuh harap agar itulah yang akan dikatakanya.


"Perhatikan," ujar Mikaela menaikan tanganya ke atas, lalu menebas dengan gerakan agak sedikit vertikal udara yang ada didepan sebuah pohon mati besar.


Apanya? Edgar maupun yang lainya tidak paham. Namun, Mikaela tampak begitu tenang menunggunl.


Mengejutkan, batang pohon itu terbelah dengan potongan yang sangat rapi, mengikuti tebasan tangan Mikaela barusan. Perlahan pohon tersebut bergeser, lalu tumbang dengan suara yang menggemparkan.


Semua mata membesar, tidak percaya. Kemampuan monster macam apa yang dimiliki Mikaela. Tadi itu gerakan yang sangat sederhana, bahkan tidak menimbulkan suara.


Apa itu tadi? Lisa tampak tambah ingin tahu, Sisi yang tidak sadar memiliki kemampuan Karin tentu saja sangat terkesima, dan Sofia menganga hebat.


Apa yang bisa Edgar lakukan setelah melihatnya? Dia juga terkagum dengan aksi Mikaela, berpikir tidak bisa melakukan hal yang sama.


Ah, tiba-tiba terbesit diingatanya tentang para parasit yang terbelah waktu itu. Jangan-jangan memang Mikaelalah yang melakukanya. Bukan 'Rabbits' dan 'Owl'.


"Bukan hanya aku," ungkap Mikaela tersenyum misterius dengan Edgar.


Tunggu, dia bilang apa?


"Kau juga ikut membatu," kata Mikaela sengaja membuang wajahnya dari tatapan kaget Edgar.


Sungguh? Eh, Mikaela baru saja membaca pikiranya.


Mikaela dalah tipe orang yang sangat berhati-hati. Mudah sekali baginya membaca pikiran seseorang, apalagi pikiran dari sosok rada-rada polos Edgar.


"Bagaiman bisa?" Tanya Edgar penasaran, mempercayai apa yang dikatakan Mikaela itu benar.


Mikaela sempat menoleh ke arah yang lainya yang jauh dibelakang mereka. Aman. Dia hanya akan memberikan sedikit keterangan yang jelas untuk Edgar.


"Karena kau adalah orang terinveksi yang paling lama dari yang lainya," hanya itu.


Kedengaran agak membingungkan, tapi Edgar paham maksudnya. Dia ingin menyangkal, melihat pada mata sayup Mikaela yang tampak sangat meyakinkan. Dia sudah tahu? Bahwa Edgar adalah anjing dari pemerintah untuk mencari 'Rabbits' dan 'Owl' di hari pertama pelatihan dulu.


"Sebenarnya kau siapa?" Mata Edgar kaku, menahan keras lengan Mikaela.


Sisi yang melihatnya dari kejauhan kelihatan khawatir. Begitu pula yang lainya.


"Tidak perlu. Mikaela akan menanganinya sendiri."


Ujar Karin menenangkan Sisi. Bukan karena peduli, itu memang perintah dari Mikaela.


"Aku orang yang memilihmu karena kau memiliki bakat itu, kemampuan yang bisa menyudutkan 'Rabbits' dan 'Owl'...mungkin," Mikaela malah kedengaran meragukan.


Jangan lupakan Mikaela adalah orang yang pernah masuk ke grub para petinggi sebelumnya. Tentu saja dia tahu soal ini, bukan? Lalu, apa maksudnya dia juga ikut membantu dari tewasnya ratusan parasit yang ada di kawasan hutan Kota M?


Ah, Mikaela malah tampak mengernyitkan dahi. Mengalirkan energi dengan mengeluarkan energi adalah hal yang sulit untuk dibedakan.


Edgar sadar sebagian besar itu bukan kekuatanya. Dia hanya menyadari satu hal yang bisa dijawabnya dari teka-teki Mikaela.


"Waktu itu kau yang mengendalikanku?" Kedengaran sensual.


Bukan. Itu adakah nada kecewa. Mikaela cukup takjub dengan tebakan Edgar. Benar. Habat sekali dia bisa langsung memyadarinya.


"Dan itu muncul dari niat membunuhmu," tukas Mikaela memberikan penjelasan yang selanjutnya.


Kalau tidak, Edgar pasti akan salah paham.


"Biar aku beri tahu, waktu itu kau ingin menyelamatkanku dari 'Rabbits' dan 'Owl'. Karena perasaan itu tidak tuntas, aku membangunkanmu dalam keadaan mengamuk sehingga kau tidak mengingat segalanya," jelas Mikaela.


"Bagaimana caranya kau membangunkanku? Seharusnya aku sudah mati. 'Rabbits' menebas perutku dan 'Owl' menghentikan regenersiku."


Oh, Mikaela kelihatan sebal. Dia pikir Edgar akan berpikir simpel dan tidak ingin tahu. Sesuai yang dikatakan Eliza, Edgar bukanlah orang yang bisa disepelekan.


"Kalau aku bilang aku menciumu, gimana? Apa kau akan percaya?" Ujar Mikaela asal.


Kalau dia mengatakan hal yang sebenarnya, menurutnya itu akan menjadi hal yang gawat. Tapi, Mikaela juga tidak bohong. Dia mrmang benar-benar melakukanya untuk membuat Edgar menelan sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawanya saat itu.


Tidak disangkanya, wajah Edgar merona hebat sambil menutup mulutnya dengan tanganya. Eh, jangan-jangan dia berpikir Mikaela berani berbuat mesum kepadanya pada saat dia tidur.


Bagus, sekarang Mikaela menyesal akan apa yang dikatakanya barusan.


***


Eliza mendelik Mikaela dari ujung matanya. Makluk senang tebar pesona secara tidak sengaja itu akhirnya datang ke tempat pelatihan penembak.


Mentang-mentang dia adalah orang terkuat, dia selalu sibuk dengan urusan lain. Stela menggidik kaku ke arah Eliza.


"K-kau mau menembaknya?" Tanyanya kepada Eliza.


Kemampuan gadis yang berdiri tidak jauh darinya itu lumayan merepotkan.


Stela si pembaca masa depan. Bukan. Dia hanya membaca gerakan spontan atas orang yang pernah dipegang tanganya.


Biasanya dia akan merasa was-was kalau Mikaela ada. Setiap kali Mikaela menunjukan diri didepan orang, kemungkinan keiingan membunuh Mikaela itu berpuluh-puluhan kali ditiap orang denga nafsu membunuh 96%. Kadang dia frustasi kenapa Mikaela seakan sedang mempermainkan pikiranya. Bagaimana dia memiliki kemampuan untuk melakukan itu juga.


Dan Eliza adalah orang ke-2 yang bisa memainkan pikiranya setelah Mikaela. Dia seketika takjub tanpa alasan. Benar. Aneh, pikirnya. Mikaela tidak memiliki nafsu membunuh terhadap Eliza.


Namun, Mikaela malah melewati keduanya tanpa menyapa.


"Didian dan Sofia," sebut Mikaela, "Bisa ikut aku. Kita akan latihan bersama."


Eh? Keduanya saling memandang, kemudian berlari kecil ke arah Mikaela segera. Mereka benar-benar pergi latihan bersama.


Evanka yang tidak pernah dipanggil oleh Mikaela selalu diam Mikaela yang entah kemana.


Anak laki-laki berwajah serius itu tidak mempermasalahkanya. Hanya saja dia cukup tersinggung. Kenapa Mikaela tidak memiliki urusan satupun denganya? Padahal dia merasa cukup bisa diandalakan daripada siapapun.


°°°