![Bee [Who Should I Choose?]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/bee--who-should-i-choose--.webp)
“Bangun nak, kau terlalu keras ya belajarnya sampai-sampai kau tidur bersama bukumu” (ayah bee)
“ah, ayah, semalam aku ketiduran” (bee)
“ya udah, sekarang mandi dan siap-siap ya” (ayah bee)
“baik ayah” (bee)
Aku berangkat sekolah dianter lagi sama ayah. Di tengah perjalanan, aku liat ada kecelakaan. Jantung aku berdetak kencang, kepala aku pusing dan saat melihat darah, aku ketakutan.
“ayah cepat, cepat aku takut” (bee)
“kau kenapa nak?” (ayah bee khawatir)
“ambil jalan pintas saja yah, aku nggak tahan liat semuanya” (bee)
“yaudah ayah lewat jalan pintas” (ayah bee)
“Kamu kenapa nak, kenapa ketakutan seperti itu” (ayah bee)
“aku rasa aku ingat kecelakaanku” (bee)
“kau mengingatnya?” (ayah bee)
“aku melihat samar-samar bayangan saat aku lari dari kejaran seseorang terus ketabrak mobil” (bee)
“jadi kamu dikejar orang? Apa kamu punya salah sama orang itu?” (ayah bee)
“aku tidak tahu yah” (bee)
“Ya udah jangan terlalu dipikirkan, sekarang masuk sana nanti terlambat, ayah juga harus berangkat kerja” (ayah bee)
“Dah ayah, hati-hati di jalan” (bee)
Aku jalan masuk ke kelas. Jujur aku masih kepikiran apa bayangan tadi itu sepenggal ingatanku atau hanya ilusi saja dan entah bagaimana aku bisa ketakutan liat darah. Aku jalan sambil melamunkan hal itu sampai aku nggak sadar ada yang memanggilku terus dari tadi. Dia mengagetkanku dengan menepuk bahuku.
“yak siapa kau, bisa-bisanya menepuk bahuku!!!” (Aku memposisikan tangan aku seperti saat bela diri dan membalikkan tubuh)
“hei ini gue Nico, walaupun kau amnesia tapi kebiasaanmu tidak pernah berubah ya” (Nico)
“jangan meledekku” (bee)
“dari tadi aku panggil” (nico)
“maaf nico, aku kepikiran sesuatu” (bee)
“kepikiran apa, jangan-jangan kamu mikirin Boo ya” (nico)
“apasih kamu, aku nggak mikirin dia kok, eh kamu kok bisa tanya kaya gitu?” (bee)
Tiba-tiba saja Boo lewat didepanku sama Nico. Aku hanya melototkan mataku. Aku takut kalau Boo dengar yang tadi aku bicarain sama Nico. Tapi ternyata Boo hanya lewat tanpa memandangku sedikitpun. Aku lega setelah dia masuk kelas.
“huh” (bee)
“kamu kenapa?” (nico)
"Kamu jangan bicara sembarangan lagi, aku nggak mau” (bee)
“Iya iya, tapi beneran kamu mikirin dia?” (nico)
“nggak lah, aku tu kepikiran apa yang aku lihat tadi itu ilusi atau sepenggal ingatan aku” (bee)
“kamu dah mulai ingat ya” (nico)
“semoga saja” (bee)
Aku masuk ke kelas, dan aku mencoba fokus dengan pelajaran. Aku tersenyum melihat semua berjalan lancar. Tanpa sengaja tanganku menyenggol pensil dan membuat pensil itu jatuh ke bawah meja. Aku mencoba menggambilnya tetapi malah semakin jauh. Aku bangun dari kursi untuk mengambilnya. BUGGHHHH!!! Kepalaku terbentur meja dan rasanya sakit banget. Aku bangun dari posisiku yang pada saat itu. Semua pandangan mengarah ke aku. Aku malu banget, aku pun mengetuk kepala sendiri. Ah aku lupa kepalaku kan masih diperban malah aku pukul, hasilnya aku kesakitan lagi. Entahlah sekarang wajahku pasti merah banget karna menahan malu. Aku melihat Boo yang hanya melirik ke arahku dan sedikit tersenyum lalu balik lagi. Pasti dia menertawakan tingkahku. Aku nggak habis pikir, semua orang tertawa tapi kenapa dia hanya tersenyum saja.
“Eh kamu nggak papakan kepala kamu?” (nico)
“iya aku dah nggak papa” (bee)
“ini pensil kamu kan?” (boo)
“i-iya makasih Boo” (bee)
“sama-sama” (boo tersenyum lalu pergi)
“baru pertama kali aku liat dia tersenyum” (nico)
“Ha? emangnya dia nggak pernah tersenyum ya?” (bee)
“dia itu dingin kaya es batu, masa sih langsung meleleh karna kamu” (nico)
“tapi aku udah beberapa kali lihat dia tersenyum” (bee)
“beneran?” (nico)
“ya, kalau dipikir-pikir sih es tidak selamanya akan beku bukan, ada kalanya dia juga bakal mencair” (bee)
“wow, kamu jadi pandai berkata-kata setelah amnesia” (nico)
“jangan meledekku, aku memang pandai” (bee)
“jangan sombong, kamu itu kembaranku yang selalu peringkat terburuk di kelas dan Boownie jadi peringkat tertingginya” (nico)
“apa kamu bilang?” (bee)
“kalo ingatan kamu sudah kembali pasti kamu bakal inget diri kamu yang sebenarnya” (nico)
“Kamu mau ke kantin nggak?” (nico)
“nggak mau aku mau jalan-jalan aja” (bee)
“yaudah aku pergi dulu” (nico)
“oke” (bee)
“Naya temenin aku jalan-jalan dong” (bee)
“baiklah” (naya)
Aku dan Naya pun jalan-jalan mengitari sekolah. Aku bahagia di saat-saat seperti ini. Aku memang suka dunia luar yang sejuk. Bahkan kalo aku harus milih pantai atau monas. Aku bakal milih pantai. Yang jelas tempat dengan udara sejuk dan pemandangan yang indah.
“Beetariss sepertinya aku harus ke toilet, kamu nggak papa kan sendiri” (naya)
“yaudah nggak papa kok” (bee)
Perlahan-lahan aku mengangkat tangan ke samping. Aku gerakkan kedua tanganku ke atas dan aku berputar-putar. Sungguh nikmat sekali disini. Lalu pandangan aku tertuju pada satu titik. Aku lihat laki-laki yang sedang ada di lantai atas dan dia hanya menatap langit sembari mengangkat tangannya dan menggerak-gerakkannya. Saat aku perhatikan lagi dia mirip dengan Boo. Aku naik tangga untuk menghampirinya dan ternyata benar dia adalah Boo.
“Boo, kamu ngapain disini?” (bee)
“Aku tidak suka keramaian jadi aku milih sendiri disini” (boo)
“tapi wajahmu kaya sedih” (bee)
“ada seseuatu yang membuatku tidak senang hari ini” (boo)
“memangnya kenapa?” (bee)
“bu-bukan masalah besar kok, sudahlah lupakan saja, kamu ngapain disini?” (boo)
“Aku liat kamu sendirian disini makanya aku kemari” (bee)
“untuk apa?” (boo)
“Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu tidak berbaur dengan yang lain?” (bee)
“Aku hanya tidak suka, aku pernah kecewa dengan seseorang jadi aku tidak mau mengalami lagi untuk kesekian kalinya” (boo)
“maksud kamu?” (bee)
“seseorang pernah berjanji padaku untuk selalu bersamaku tapi dia meninggalkan segalanya, hanya sebuah nama yang masih ada” (boo)
“siapa dia?” (bee)
“dia temanku Devan” (boo)
“Devan?” (bee)
“ya mungkin kau tidak mengingatnya, tapi dia satu kelas saat dulu kita TK, hanya saat bersama dia aku bahagia” (boo)
“memangnya kemana dia pergi?” (bee)
“dia telah tiada” (boo)
“kamu tidak akan pernah sendiri lagi, aku ada bersama kamu” (bee)
“ya, dan aku mau kamu terus tersenyum seperti sekarang ini” (bee)
“baiklah aku akan lebih sering tersenyum, biasanya aku tersenyum hanya untuk hal tertentu saja atau sekedar menyembunyikan tawaku” (boo)
“Boo jadi kamu ngetawain aku ketika kamu tersenyum tadi?” (bee)
“itu tidak benar, aku ngrasa kamu itu lucu dengan suaramu yang manis dan tingkah lakumu yang menurutku lucu ” (boo)
“ha???” (bee)
“sudahlah mulai sekarang kita sahabat” (boo tersenyum)
“Aku nggak nyangka es yang beku bisa mencair juga” (bee)
“apa kamu bilang?” (boo)
“ya kamu yang tadinya dingin bisa juga tersenyum manis seperti itu” (bee)
“Aku seneng bisa liat kamu bahagia” (boo)
“Aku juga seneng kamu bisa tersenyum, baiklah sekarang kita teman, Ups maksudku sahabat maka kamu bisa kok ceritakan semua masalah kamu ke aku” (bee)
“terima kasih Bee” (boo)
KRIINGG!!! KRINGGG!!!
“bel sudah berbunyi ayo ke kelas” (boo)
“ayo” (bee)
Aku bahagia melihat Boo bisa tersenyum seperti itu. Entahlah Devan itu siapa, mungkin sebentar lagi aku bakal ingat. Aku ngrasa semakin dekat dengan Boo. Aku juga ngrasa kaya udah dekat dengan dia sejak dulu. Boo?
“Mau pulang bareng nggak?” (boo)
“Boo, lho kok kamu nggak pakai mobil?” (bee)
“Kamu nggak sadar tadi ya, hari ini aku pakai motor sendiri” (boo)
“wow keren” (bee)
“naik ayo” (boo)
“makasih Boo” (Aku mulai menaiki motornya Boo)
“Boo kamu kok nggak pakai mobil?” (bee)
“sopirnya lagi cuti hari ini dan kau tahu bukan ayahku sibuknya kaya apa dan nggak mungkin juga aku mengendarai mobil sendiri ke sekolah” (boo)
“iya, iya" (bee)
“kamu sudah mempersiapkan untuk ujian besok kan?” (boo)
“sedikit” (bee)
Ini pertama kalinya aku diboncengin sama Boo. Deg-degan juga tapi bahagia. Entah apa yang aku rasakan sekarang ini. Apa aku suka ya sama Boo? Rasanya aku pengen dekat terus dengannya. Apa dunia sesempit ini sehingga aku hanya pengen sama dia saja.
“sudah sampai” (boo)
“makasih boo” (bee)
“anak ayah sudah pulang ya,” (ayah bee)
“ayah dirumah?” (bee)
“ya, ayah ingin lebih memperhatikan anak ayah ini” (ayah bee)
“ah... ayah” (bee)
“om, kalau begitu saya pamit pulang ya” (boo)
“oh iya iya, sampaikan salam dari om pada ayah mu ya” (ayah bee)
“pasti om” (boo)
“tumben sekali Boownie pakai motor sendiri?” (ayah bee)
“ya ayah, sopirnya cuti” (bee)
“wah semakin dekat aja anak ayah sama dia” (ayah bee)
“apasih ayah, kita Cuma sahabat” (bee)
“ayo masuk” (ayah bee)
Aku belajar untuk ujian praktek besok. Aku nggak mau ayah kecewa. Apa benar aku itu bodoh, yang selalu mendapat peringkat terakhir? Aku harus belajar giat bahkan kalau memungkinkan, aku nggak bakalan tidur malam ini. Aku bakal persiapkan matang-matang.
“ayah, bagaimana tips ayah untuk menghadapi ujian?” (bee)
“jangan tanya ayah, ayah lebih buruk darimu nak” (ayah bee)
“ayah tapi aku sangat gugup, besok ujian praktek aku takut” (bee)
“optimis, yang penting kamu percaya saja pada dirimu” (ayah bee)
“baik ayah” (bee)
“semangat sayang, ayah berharap kamu berhasil” (ayah bee)
“aku berjanji pada ayah, aku tidak akan mengecewakan ayah” (bee)
"Ayah bisa pinjam ponsel ayah?" (bee)
"kau kan punya ponsel sendiri di meja belajarmu" (ayah bee)
"ada apa ya" (bee)
"coba cek sana" (ayah bee)
Aku masuk ke kamarku. Aku mencari ponsel itu, ternyata benar ada, tapi aku oikir belajar dulu saja ah. Aku mulai membuka satu-persatu halaman buku yang ada didepanku. Walau mataku terasa mengantuk tapi aku tetap tidak peduli. Aku harus bisa.Tiba-tiba saja ada satu notif di ponselku. Aku menghampiri ponselku. Satu pesan whatsapp ada dilayar bertuliskan semangat!!!. Pesan itu dari Boo. Aku seneng banget dia menyemangati aku pada saat tengah malam seperti ini. Itu artinya dia juga benar-benar mempersiapkan ujian ini. Aku juga harus persiapkan baik-baik, jangan sampai Boo pun kecewa sama aku. Lalu aku balas pesannya aku tulis semangat juga untukmu!!!
*Pesan
[6/1 23.56] Boo: Semangat!!!
[6/1 23.57] Bee: Semangat juga untukmu!!!
[6/1 23.57] Boo: kalo kamu mau tanya-tanya pelajaran, aku siapa bantu kok
[6/1 23.58] Bee: terima kasih Boo, tapi aku mau coba belajar sendiri, Bye
Aku tidak mau merepotkan Boo dengan semua pertanyaanku. Aku mau mencoba menyelesaikannya sendiri.
[6/1 00.04] Nico: Bee kamu masih online aja
[6/1 00.05] Bee: Jangan ganggu aku, aku mau belajar!!!
[6/1 00.05] Nico: aku nggak salah nih, sejak kapan kamu belajar?
[6/1 00.06] Bee: Sejak tadi, sudah jangan ganggu aku, aku off bye!!!
[6/1 00.06] Nico: Hei tunggu dulu!!!
[6/1 00.07] Nico: Bee!!!
[6/1 00.07] Nico: Kamu nggak balas pesanku juga😒
[6/1 00.07] Nico: awas saja kamu!!!😤
Aku tidak menggubris apa pesan darinya. Pokoknya aku Cuma mau fokus belajar. Apapun yang terjadi aku harus bisa, aku harus lolos ujian praktek dengan nilai yang bagus. Aku pengen bisa seperti Boo yang langganan juara kelas.
TBC
Bagaimana ceritanya?
Kira-kira apa Bee jatuh cinta lagi pada Boo?
Kenapa Bee ketakutan melihat darah?
Ikuti terus ya:)
Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍
Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v
🙏🙏🙏