Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Pendaftaran



Aku bangun tidur dan bersiap-siap. Ketika aku mandi aku mendengar satu notif pesan. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku melanjutkan berganti pakaian. Aku bawa semua dokumen persyaratan pendaftaran ke tasku. Aku juga memasukkan HPku. Tapi aku belum melihat pesan yang masuk tadi. Setelah semua siap lalu aku turun ke bawah untuk berpamitan pada ayah.


"ayah aku berangkat dulu ya" (bee)


"mau sarapan dulu tidak?" (ayah bee)


"tidak ayah, nanti saja" (bee)


"jaga dirimu baik-baik" (ayah bee)


"ya ayah" (bee)


Aku melangkah keluar rumah menuju rumah Boo.


"Boo..." (bee)


"Oh, nak Beetariss"


"Bi, Boownienya ada?" (bee)


"Tadi sudah berangkat dan bilangnya mau ke rumahmu"


"tapi tidak ke rumahku bi" (bee)


"ya mungkin sudah berangkat"


"oh kalau begitu terima kasih Bi" (bee)


"ya nak"


Bagaimana bisa sih Boo ninggalin aku. Padahal kemarin bilang mau berangkat bareng. Dia tidak menepati janjinya. Aku kesal. Aku keluar rumah Boo dengan kepala tertunduk kecewa. Aku terkejut ada seseorang di depanku. Aku melihat dari ujung kakinya menuju wajahnya. Ternyata Boo.


"Bee, maaf" (boo)


"kamu dari mana sih?!" (bee)


"kamu marah ya" (boo)


"tidak" (bee)


"aku tadi udah kirim pesan ke kamu" (boo)


"pesan?" (bee)


"iya, kau belum membacanya ya" (boo)


"ehm sebentar" (bee)


"ah iya maaf Boo" (bee)


"ya udah, ayo berangkat" (boo)


"temanmu mana?" (bee)


"dia akan datang di sesi 2, ada urusan mendadak, makanya aku nganterin dia dulu" (boo)


"oh ya udah ayo nanti terlambat" (bee)


"iya" (boo)


"naik bus saja ya, mobilku baru dipakai ayahku" (boo)


"iya" (bee)


Aku dan Boo berjalan menuju halte. Hari ini aku memakai jam pemberian Boo. Jam menunjukkan pukul 07.45. Aku tersenyum menatap jamnya. Model jamnya bagus dan cocok denganku.


"Diliatin melulu jamnya" (boo)


"ehm, mksih ya Boo, aku suka jamnya" (bee)


"iya, kamu suka ya" (boo)


"iya lah, kamu tahu aja seleraku" (bee)


"syukurlah kalau kamu suka, aku memilihnya karna ku rasa itu cocok untukmu" (boo)


"terima kasih untuk segalanya, kau teman terbaikku" (bee)


"sama-sama Bee" (boo)


"eh, busnya udah jalan!" (bee)


"tunggu!!!" (boo)


Aku dan Boo lari mengejar bus itu karena untuk menunggu bus selanjutnya cukup lama. Jadi, mau tidak mau harus lari mengejar bus itu daripada terlambat.


"Fyuh, untung saja" (bee)


"hahaha" (boo)


"kok ketawa sih?!" (bee)


"kamu nggak nyadar ya, rambut kamu tu jadi acak-acakkan" (boo)


"ah benarkah?!" (bee)


Aku bercermin di jendela bus. Aku melihat wajahku sudah tidak karuan dengan poniku yang naik ke atas membuat dahiku jadi terlihat lebar. Kenapa jadi kaya gini ya. Lalu aku merapikannya. Saat aku merapikan rambutku, aku melihat bayangan Boo di jendela. Dia sedang menoleh ke depan. Tampak garis wajahnya yang sangat tegas dengan hidungnya yang mancung. Dia benar-benar seperti karakter dalam komik. Aku semakin jatuh cinta padanya. Tapi aku tak bisa seperti ini terus, apalagi gadis itu juga akan kuliah di tempat yang sama, pasti akan sering bertemu dan mungkin aku juga akan berteman dengannya.


"ayo turun" (boo)


"a-ayo" (bee)


"kamu sepertinya mikirin sesuatu" (boo)


"ha?! tidak-tidak kok" (bee)


"aku cuma nanya, kamu malah kaget" (boo)


"aku tidak kaget kok, ayo masuk" (ucapku mengalihkan pembicaraan)


"ayo" (boo)


Aku berjalan memasuki kampus. Aku terkagum-kagum melihat kampusnya. Terlihat megah dan indah.


"Boo aku membeli minuman dulu ya, haus sekali" (bee)


"baiklah jangan lama-lama" (boo)


"dah ayo" (bee)


"ayo" (boo)


"Hei, siapa namamu?" (luhan)


"ah" (aku kaget sampai tak sengaja minumanku tumpah ke bajunya)


"ah maaf, maaf sungguh aku tidak sengaja" (bee)


"tidak masalah, aku akan membersihkannya nanti, kau mau mendaftar kan?" (luhan)


"ya kami akan mendaftar" (boo)


"siapa nama kalian, tulis dan tanda tangan disini, nama saya Luhan dan saya akan menjadi senior kalian nanti" (luhan)


"namaku Boownie dan namanya Beetariss" (boo)


"baiklah kalian bisa ambil no urut lalu masuk ke aula kampus untuk pendaftaran selanjutnya" (luhan)


"terima kasih" (boo)


Aku kaget ada yang bertanya padaku. Aku pun berbalik sampai tak sengaja minumanku menumpahinya. Ternyata dia adalah senior disini. Aku masih merasa bersalah padanya. Suasananya berbeda sekali dengan suasana SMA membuatku canggung.


"Bee, kamu kok diem aja?" (boo)


"canggung aja sih, suasananya beda" (bee)


"nikmati saja, pasti lama-kelamaan terbiasa" (boo)


"iya juga ya" (bee)


"ayo ke aula" (boo)


"ayo" (bee)


Aku dan Boo duduk menunggu giliran pendaftaran. Setelah selesai kami keluar aula dan duduk di tempat makan yang masih dalam area kampus juga.


"Akhirnya kita akan kuliah bersama Boo" (bee)


"iya, aku juga senang" (boo)


"tapi aku masih takut" (bee)


"takut kenapa?" (boo)


"kamu tahu sendiri kan jurusan kedokteran itu seperti apa" (bee)


"tidak perlu takut, aku ada bersamamu" (boo)


"makasih Boo" (bee)


"ah kalian yang tadi bukan?" (luhan)


"iya" (boo)


"boleh aku bergabung" (luhan)


"Boleh" (boo) "tidak" (ucapku bersamaan dengan boo)


"kamu sopan sedikit lah" (boo)


"jadi boleh aku gabung?" (luhan)


"iya" (bee)


"kalian dari sma mana?" (luhan)


"sma 1" (boo)


"satu sekolah ya dulu?" (luhan)


"iya" (boo)


"ehm, siapa tadi nama kalian?" (luhan)


"namaku Boownie dan dia Beetariss" (boo)


"baiklah" (luhan)


"Beetariss kamu kok diam saja?" (luhan)


"tidak papa" (bee)


"dia merasa takut dengan jurusan kedokteran" (boo)


"tidak perlu takut, asyik kok, sering banyak acara juga" (luhan)


"tetap saja aku takut" (bee)


"awalnya memang banyak yang sepertimu tapi percayalah pasti kamu akan menikmatinya nanti, asalkan dengan senang hati" (luhan)


"iya bee, aku akan membantumu kok, jadi tidak perlu takut" (boo)


"iya makasih" (bee)


"baiklah kalau begitu, makananku juga sudah habis, aku pergi dulu, sampai jumpa" (luhan)


"sampai jumpa" (aku dan Boo)


"dia senior yang baik ya" (boo)


"mungkin" (bee)


"kok mungkin?" (boo)


"mungkin saja itu benar dan mungkin saja salah, ah sudahlah ayo berkeliling kampus ini" (ajakku)


"Boo biar aku bayar sendiri makananku" (bee)


"aku saja" (boo)


"boo aku tidak mau merepotkanmu" (bee)


"tidak kok, simpan saja uangmu, anggap saja ini traktiran pertamaku di kampus baru" (boo)


"baiklah makasih Boo" (bee)


Aku dan Boo jalan-jalan berkeliling kampus. Kampusnya sangat luas jadi perlu banyak waktu untuk berkeliling. Setelah selesai kami duduk di teras. Aku capek sekali sampai keringat mulai menetes. Aku hanya bisa mengibas-ngibaskan tanganku ke wajahku yang kepanasan.


"kamu kepanasan ya?" (boo)


"iya cuacanya panas banget hari ini" (bee)


"ya udah, sebentar ya" (boo)


"mau kemana?" (bee)


"tunggu saja disini" (boo)


"oke" (bee)


"ini air minum sama es krim" (boo memberikan padaku)


"eh" (bee)


"ambillah kamu kepanasan kan" (boo)


"aku terlihat bodoh banget ya depan kamu, selalu merepotkanmu" (bee)


"tidak, ambil atau aku saja yang memakannya" (boo)


"ah iya aku ambil" (bee)


"bee hidungmu" (boo)


"kenapa?" (bee)


"es krimnya menempel tu di hidungmu" (boo)


"dimana?" (aku mengusap hidungku)


"jangan! sini aku yang usapkan, tanganmu penuh es krim nanti bertambah banyak lagi" (boo)


Boo memberikan tangannya dan mengusap hidungku. Matanya menyorot tajam ke arahku. Jantungku berdebar kencang. Mata dan senyumannya sangat indah. Aku tak bisa menghilangkan pandanganku darinya. Tiba-tiba saja ada sebuah rombongan mahasiswa yang berkumpul. Aku dan Boo sontak kaget lalu melihat apa yang terjadi. Aku melihat gadis tergeletak dengan kepalanya berdarah. Aku merasa ketakutan. Aku memundurkan langkahku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Lalu entah apa yang terjadi pandanganku terasa gelap.


"Bee" (boo)


"ha?!" (bee)


"kamu kenapa, apa kamu sakit?" (boo)


"tidak aku tidak papa, hanya sedikit pusing tadi" (bee)


"kenapa tidak bilang, hampir saja kamu terjatuh tadi" (boo)


"jatuh?" (bee)


"ya kau tadi berjalan mundur dan hampir saja jatuh dari ketinggian" (boo)


"benarkah, makasih Boo" (bee)


"lain kali bicaralah padaku jika ada sesuatu, aku siap membantumu" (boo)


"hmm, iya Boo" (bee)


"Oh kalian disini?" (maureen)


"kau sudah datang?" (boo)


"iya, kenapa kamu disini?" (maureen)


"tadi beetariss pingsan" (boo)


"oh, iya kita belum berkenalan ya, namaku Maureen Fredelina Lucya panggil saja Maureen" (maureen)


"ehm, namaku Beetarissa Salma, Beetariss" (bee)


"baiklah, senang berkenalan denganmu, Beetariss" (maureen)


"senang berkenalan denganmu juga Maureen" (bee)


"kamu sudah tidak papa kan?" (maureen)


"iya aku sudah baik-baik saja kok" (bee)


"Cya kamu sudah mendaftar?" (boo)


"sudah, baru saja selesai, makanya aku cari kamu, ayo jalan-jalan keliling kampus ini" (maureen)


"bee, ayo ikutlah" (boo)


"ah tidak, tadi sudah, kalian pergilah" (bee)


"tapi nanti maku sendirian" (boo)


"ikutlah bersama kami" (maureen)


"aku mau pergi ke kamar mandi, kalian pergi saja" (bee)


"oh baiklah" (boo dan maureen)


Aku tidak ingin menjadi pengganggu mereka. Lagipula tadi aku sudah jalan-jalan, itu sudah cukup, tidak perlu dua kali. Oh iya Boo memanggil Maureen dengan Cya, apa itu panggilan khususnya dia. Mereka terlihat lebih serasi, sama-sama tinggi, rupawan dan tentunya populer.


"Hai!" (luhan)


"Oh kakak senior" (bee)


"panggil saja Luhan" (luhan)


"tapi kau kan seniorku" (bee)


"ya itu benar, tapi panggillah luhan saja" (luhan)


"baiklah, Luhan" (bee)


"kamu yang tadi baru pingsan kan?" (luhan)


"ehm, iya" (bee)


"kamu sakit?" (luhan)


"tidak, hanya sedikit pusing" (bee)


"kamu sudah ambil obatnya?" (luhan)


"obat?" (bee)


"ya, katanya pusing, aku ambilkan dulu ya" (luhan)


"tu-tunggu...." (bee)


Luhan tidak menghiraukanku. Aku bingung sebenarnya aku pingsan bukan karena itu. Dia sudah terlanjur masuk ke dalam. Aku hanya bisa menggaruk-nggaruk kepalaku. Tapi aku tidak mungkin bilang kalau aku phobia darah bisa-bisa aku gagal kuliah disini. Kapankah phobiaku ini akan hilang?


"ini minumlah" (luhan)


"nanti saja" (bee)


"minumlah biar cepat pulih" (luhan)


"baiklah" (mau tidak mau aku harus meminumnya)


"dimana Boownie, kau sendirian?" (luhan)


"dia bersama Maureen" (bee)


"Maureen Fredelina Lucya?" (luhan)


"kau tahu?!" (tanya ku kaget)


"Tentu saja dia dulu adik kelasku, dia gadis terpopuler di SMA dulu" (luhan)


"ah, tentu saja dia populer dia sangat cantik" (bee)


"dia juga pintar" (luhan)


"benarkah?" (bee)


"iya, dia sering mendapat juara kelas dan pernah juara kompetisi balet" (luhan)


"dia sangat beruntung tidak seperti aku" (bee)


"memangnya kenapa?" (luhan)


"aku belum pernah juara kelas sepertinya" (bee)


"belajarlah yang giat, lakukanlah yang terbaik bukan untuk menjadi yang pertama" (luhan)


"terima kasih, maaf aku sudah salah paham padamu" (bee)


"salah paham?" (luhan)


"aku kira tadi kamu...." (bee)


"oh masalah yang tadi, tidak papa itu bukan masalah besar, mungkin aku mengagetkanmu" (luhan)


"sekali lagi maaf" (bee)


"sudahlah lupakan, kamu sudah liat-liat ruangannya?" (luhan)


"sudah" (bee)


"oh iya, besok setelah di asrama akan ada acara api unggun" (luhan)


"benarkah?" (bee)


"kamu suka api unggun ya?" (luhan)


"iya" (bee)


"baiklah, ehm aku harus pergi, sampai ketemu lagi besok" (luhan)


"ya" (bee)


Aku lega ternyata dia senior yang baik. Aku tak menyangka hal itu. Setiap kali aku mendengar api unggun, aku jadi teringat kenanganku bersama Boo saat camping dulu. Tapi tetap saja apa aku bisa mengendalikan diriku besok, apalagi akan sering-sering melihat darah.


"Bee" (boo)


"oh Boo, maureen kalian sudah selesai?" (bee)


"ya kami sudah selesai" (maureen)


"ayo pulang bersama" (boo)


"ayo" (bee)


TBC


Bagaimana ceritanya?


Kira-kira akan ada kejadian apa besok?


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment๐Ÿ‘


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™