![Bee [Who Should I Choose?]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/bee--who-should-i-choose--.webp)
2 Januari : Hari pertamaku masuk sekolah setelah libur akhir tahun
Setelah libur akhir tahun ini, Aku sudah berkomitmen akan berubah. Ya aku orangnya tomboy dan selalu peringkat akhir di kelas jadi aku ingin berubah jadi lebih feminim dan lebih giat belajar. Tapi ada aja yang buat aku gagal merubah diriku.
Hari ini aku melihat orang mau mencuri. Aku orangnya paling gak bisa diam melihat itu. Aku langsung kejar pencuri itu. Sampai aku tidak sadar hampir ketabrak mobilnya Boo. Aku langsung lanjut lari mengejar pencuri itu. Untungnya aku mahir dalam bela diri jadi bukan hal yang susah buat ngalahin mereka. Tapi aku baru tahu ternyata dari tadi Boo lihat apa yang aku lakukan. Aku pikir Boo pasti ilfil sama aku. Buktinya dia liat aku lalu balik ke mobil. Sial banget hari ini bagiku. Aku yang sudah mencoba berubah jadi feminim mungkin malah jadi kaya preman sekolah apalah itu. Aku mengembalikan dompet ke ibu-ibu yang dicuri.
“Hebat Beetariss,” (Nico)
“Hebat, kamu bilang aku hebat, tadinya aku ingin berubah, sial banget hari ini dan kamu juga harus berubah, jangan gangguin aku lagi,” (bee)
“Berubah?”(Nico)
“Ya lah aku tidak mau lagi jadi peringkat akhir lagi,”(bee)
“Hahaha, tidak mungkin bisa, kita itu ditakdirkan untuk ranking terakhir bersama-sama dan aku nggak bakalan berhenti gangguin kamu,”(nico)
“Yak apa kau bilang, jangan lari!!!”(bee)
Begitulah Nico orangnya. Dia selalu gangguin kehidupanku. Dia juga tetanggaku tapi sangat beda jauh dengan Boo.
Lalu aku lari kejar Nico. Bisa-bisanya dia bilang aku tidak akan pernah bisa berubah. Kalau ketangkap, aku ingin langsung tonjok muka dia. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan karena aku melihat Boo lewat di depan aku. Banyak yang menatap dia karena ketampanannya itu. Fans-fansnya dia juga mulai menggerombol ngikutin dia. Aku cuma bisa pasrah ngeliat dia bersama mereka.
“Hei kamu kenapa ha, mukanya kek gitu?”(nico)
“Nggak papa,”(bee)
“Oh jangan-jangan kamu suka ya sama Boownie,”(nico)
“Eits... jangan keras-keras dong, gimana kalo ada yang denger, aku nggak mau dia terganggu dengan aku ini,”(aku nutup mulutnya Nico)
“Aku omongin sama Boownie,”(nico lari ke arah Boo)
“Hei jangan lari,” (bee)
Aku yang mau ngejar Nico malah akhirnya aku nabrak Boo sampai jatuh. Padahal banyak siswa-siswi yang ada di sana pada saat itu. Aku bener-bener ngak sengaja nabrak dia. Habis Nico mau bilang semua rahasiaku sama Boo. Aku nggak mau Boo ngejauhin aku hanya gara-gara aku yang suka sama dia. Apa lagi dia orangnya hanya selalu fokus sama pelajarannya. Aku nggak mau gangguin dia.
Dikelas aku cuma bisa diem aja. Aku malu banget setelah kejadian itu. Bisa-bisanya aku nabrak Boo didepan banyak orang. Aku mau minta maaf sama Boo saja nggak berani.
Tiba-tiba saja datang gerombolan fansnya Boo. Termasuk Celin yang menjadi ketua geng mereka itu. Mereka mendesak aku untuk minta maaf sama Boo. Mereka nggak terima apa yang aku lakukan ke Boo.
“Kamu harus minta maaf sama Boownie,” (Celin)
“Iya kamu harus tanggung jawab,”
“Iya aku bakal minta maaf kok,” (bee)
“Tapi kamu harus minta maaf depan kita, kamy nggak boleh nolak apa yang dia mau,” (celin)
“Iya aku janji, lagipula itu memang salahnya aku,”(bee)
“Ya lah salahnya siapa lagi kalo bukan salahnya kamu,”(celin)
Aku menghampiri Boo yang lagi baca buku. Aku niatnya mau minta maaf sama Boo. Sebenarnya aku takut kalo nanti Boo nggak mau maafin aku dan nggak mau temenan lagi sama aku. Baru aja aku mau minta maaf, ada lagi kejadian yang buat aku tambah ngerasa bersalah sama dia. Aku nggak sengaja nginjek kakinya Boo. Sampai dia kesakitan. Ya itu karna tenagaku yang kuat, aku sudah mahir bela diri sejak kecil.
“Hei apa yang kamu lakuin,”(celin)
“Ma-maaf Boo, maaf, maaf sekali lagi aku minta maaf,”(bee)
“Apa yang kamu bilang namanya itu Boownie bukan Boo,”(celin)
“Tidak perlu,”(boo)
“Hei, aku itu mau minta maaf sama kamu, aku bakal terima apapun yang bakal kamu lakukan ke aku,”(bee)
“Kamu obatin aja lukaku Bee,”(boo)
“Oke aku bakal ngobatin luka kamu di uks,”(bee)
Aku jalan di belakangnya Boo menuju uks. Sepanjang jalan aku nggak berani berkutip sama sekali. Aku takut salah tingkah lagi depan dia.
Aku ngobatin lukanya dia. Untung aja lukanya dia nggak terlalu parah. Cuma butuh obat merah sama plester aja.
“Bee, aku cuma mau kamu jangan lakuin hal berbahaya lagi,”(boo)
“Apa?”(tanya aku kaget)
“Aku nggak mau lihat kamu berkelahi lagi,”(boo)
“Ha... aku janji, aku nggak bakalan berkelahi lagi, aku janji tapi kamu mau maafin aku kan?”(bee)
"Iya aku maafin kamu kok" (boo)
Aku dan Boo pun kembali ke kelas. Saat itu sudah datang guru yang mengajar. Aku dan Boo minta maaf sama guru lalu duduk di tempat duduk masing-masing. Banyak temen juga yang ngetawain aku. A bener-bener merasa malu. Aku cepet-cepet aja jalan ke bangku punyaku.
“Hei, apa yang kamu lakuin sama Boownie, apa dia nglakuin sesuatu sama kamu,” (nico)
“Nggak lah, aku Cuma ngobatin dia lalu kembali ke kelas,”(bee)
“Apa kamu mau aku ceritain semua isi hati kamu sama Boownie?” (nico berbisik padaku)
“Jangan, jangan, aku mohon, pliiss kumohon,”(bee)
“Oke aku nggak bakalan bongkar rahasia kamu, tapi kamu harus ikut gue nanti pulang sekolah,”(nico)
“Kemana?”(bee)
“Tempat biasa aku nongkrong,”(nico)
“Iya, iya deh aku bakal ikut kamu, tapi kamu jangan bongkar rahasiaku, ingat itu,”(bee)
“Oke oke,”(nico)
Tiba-tiba aja guru nyuruh aku sama Nico buat ngerjain soal yang ada di papan tulis. Padahal aku sama sekali nggak tahu cara ngerjainnya. Aku bingung mau jawab apa coba. Kalo aja aku ngerjainnya sama Boo, mungkin aku bisa niru-niru atau tanya sama dia. Tapi Nico yang maju bersama ku. Nico juga pas-pasan aja nilainya kaya aku. Aku melihat Boo ngelihatin aku. Ya aku Cuma bisa jawab apa yang aku tahu aja.
“Apa yang kalian jawab ini? kalian pakai rmus aja udah salah, Nico kamu juga nggak usah ikut-ikutan jawabannya Beetariss yang salah,” (guru)
“Baik bu,” (nico)
Aku udah nggak tahu lagi mau jawab apa. Otakku juga otak udang. Aku Cuma bisa nyengir sama soalnya. Soal yang sedikit tapi jawabannya bisa sampai berlembar-lembar kertas. Apalah dayaku, aku Cuma bisa berharap aja semoga Boo bantuin aku.
“Bu biar saya saja,” (Boo)
“Ya sudah kalian duduk, ingat kalian belajar lagi yang giat,” (guru)
“Baik bu,” (aku&Nico)
Aku meerasa beruntung, untung saja Boo mau bantuin aku. Kalo nggak pasti aku udah kena omelannya bu guru. Aku merasa soalnya itu sulit banget tapi melihat Boo yang ngerjain sepertinya mudah saja.
“Lihat Boownie saja bisa ngerjain soalnya dengan mudah, bahkan kalian rumusnya aja sudah tidak tahu, besok sebelum pelajaran saya akan adakan ulangan buat nguji kemampuan kalian, udah sampai mana kalian belajar, ingat itu, baik waktu sudah habis kalian bisa beristirahat,” (guru)
“Baik bu,”
Dikelas Cuma tinggal aku sama Boo, yang lain pada ke kantin. Aju Cuma bisa termenung sama nasibju. Aku ngeliatin Boo, aku lihat dia tetap tenang dan terus belajar. Sedangkan aku baca buku sebentar aja akh dah lupa apa yang aku baca. Aku terus ngeliatin Boo yang duduknya depanku. Aku memposisikan tanganku di bawah kepalaku, aku nyandarin kepalaku di atas tanganku. Aku pengen tanya soal yang tadi tapi aku masih nggak berani karena rasa bersalahku sama dia.
“Mau tanya apa?” (boo)
Boo membalikkan tubuhnya lalu menatapku, dia seperti tahu saja apa yang aku pikirkan saat ini. Aku benar-benar gugup. Matanya yang berkilau, kulitnya yang mulus, wajahnya yang proporsional. Ah sungguh dia membuatku gila.
“A-aku mau tanya soal fisika yang tadi, aku masih nggak paham?”(bee)
“Oh oke, ini soal glbb jadi rumusnya pakai yang Vo×t+½at²,”(boo)
“....”
Aku nggak bisa fokus sama apa yang Boo ajarkan pada aku. Wajahnya membuatku terpesona. Aku hanya bisa bengong melihat nya. Sampai akhirnya dia memukul kepalaku pakai pulpen.
“Ah...”(bee)
“Fokus,”(boo)
“Hmmm.... iya,”(bee)
Aku tersipu malu melihat apa yang Boo lakuin ke aku. Dimata semua orang dia itu cowok yang dingin, introvert, cuek dan nggak peduli sekitarnya. Tapi bagi aku dia itu perfect. Dia itu sempurna, dia itu laki-laki idaman. Dia sudah langganan juara kelas tiap tahun. Aku pengen kaya dia, tapi itu nggak mungkin. Aku melihat mahirnya dia dalam ngejawab soal itu.
“Dah paham?” (boo)
“Su-sudah,” (bee)
“Masih ada yang mau ditanyain?”(boo)
“Tidak, makasih Boo,” (bee)
“Iya Bee,” (boo)
Jam pelajaran selanjutnya pun dimulai, aku nyiapin semua buku-buku yang diperlukan di atas mejaku. Guru juga mulai menjelaskan materi. Sampai akhirnya waktu pulang sekolah tiba.
“Kamu jadikan ikut aku? Kalo tidak aku bakal bilangin semuanya,”(nico)
“Iya jadi kok, kumohon jangan bilang semuanya,”(bee)
“ya udah ayo” (nico)
Sebenernya aku males banget harus berhadapan sama pelajar dari sekolah lain yang juga sering nongkrong disana. Tempat biasa nongkrongnya Nico itu game shop. Di sana aku cuma bisa diem aja dan nglakuin apa yang yang Nico mau.
Malam harinya, aku mempersiapkan belajar untuk ulangan besok. Mulai dari teori hingga rumus-rumusnya. Aku coba ngerjain soal yang tadi di ajarkan Boo. Aku rasa metode yang digunakan Boo itu lebih mudah daripada yang diajarkan guru. Metodenya lebih singkat tapi mudah. Setelah selesai belajar. Aku ambil buku diaryku. Aku liatin buku itu. Buku yang berwarna pink dengan halaman pertama bertuliskan Boobee♡. Aku tulis semua kejadian tadi. Sambil tersenyum-senyum aku tulis semua yang aku lakuin sama Boo. Apalagi saat dia ngajarin aku soal yang tadi. Aku dan Boo jaraknya deket banget. Kalo aja dia senyum, bisa-bisa langsung buat aku meleleh. Lalu aku nulis:
_____________________________________________
Dear Boo ♡
Aku nggak pernah tahu apa yang kamu rasakan.
Aku udah buat jatuh kamu sampai luka
Aku nginjek kaki kamu
sampai kamu kesakitan
Tapi kamu nggak pernah marah ma aku
Kamu bantuin aku jawab soal
Kamu ngejelasin cara mengerjakan soal layaknya guru
Aku nggak bakal lupa hari ini
Aku harap kamu juga ngerasain hal yang sama sepertiku.
ILY Boo♥
Bee
_____________________________________________
Aku peluk buku diary lalu tidur. Sebelum tidur aku masih kebayang-bayang sama wajahnya dia. Aku berharap semoga besok hari beruntungku. Semoga aku punya waktu bersama dengan Boo lagi seperti hari ini.
TBC
Bagaimana ceritanya?
Kira-kira akan bagaimana kisah mereka? 😍
Ikuti terus ya:)
Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍
Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v
🙏🙏🙏