Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Siapa dia?



Aku membuka mataku. Ku lihat hari sudah pagi. Kabut menutupi seluruh tempat. Sejuknya pagi dapat aku rasakan. Aku kembali mengambil buku. Aku membacanya kembali, takut nanti lupa. Kumasukkan segalanya yang kuperlukan untuk ujian nanti, termasuk buku yang diberikan Boo padaku. Semalam aku sudah membacanya. Buku itu jauh membuatku lebih paham daripada buku pelajaran. Apalagi ditambah tulisannya yang rapi dan indah juga kata-kata yang menyemangati ku. Aku akan ingat kata-kata itu. Aku pun melihat jam dinding, ternyata sudah waktunya aku untuk bersiap-siap. Aku bersiap-siap dan berangkat ke sekolah. Tak lupa aku berpamitan pada ayah dan meminta doanya. Kulangkahkan kaki membuka pintu rumah. Aku mengambil buku Boo dari dalam tasku. Di depan pintu rumah aku menyemangati diriku sendiri. Jangan sampai aku sedih. Hari ini mungkin hari perpisahan. Tapi aku tidak boleh sedih, aku harus semangat.


"Semangat Bee, kau pasti bisa!!!"


Aku pun berangkat ke sekolah. Aku berangkat dengan naik bus, supaya aku masih bisa sambil belajar. Ternyata didalam bus penuh, jadi aku tidak bisa belajar. Buku Boo masih aku pegang. Tiba-tiba saja bus mengerem mendadak, aku terdorong ke depan dan buku ku jatuh. Aku yang hendak mengambilnya, malah ada yang menolongku.


"ini ?"


"eh... iya makasih" (bee)


"itu bukumu?"


"iya" (bee)


"kau sekolah dimana?"


"aku sekolah di SMAN 1 Bunga Bangsa" (bee)


"oh"


Karena telah sampai, aku pun turun dari bus. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai masker. Sepertinya dia bukan asli dari sini. Mungkin dia baru pindah. Tapi dari matanya terlihat sangat berbinar, rambutnya panjang dan lurus, pasti dia sangat cantik. Sebenarnya aku merasa bersalah padanya karena kakinya dibalut perban. Rasanya dia agak aneh padaku. Aku tidak mau berpikir panjang, aku pun berjalan memasuki gerbang sekolah.


"Bee, semangat ya" (boo)


"oh kau sudah datang?" (bee)


"iya, belajar di perpus saja yuk" (ajak boo)


"oke" (bee)


Di perpustakaan


"Boo, makasih ya" (bee)


"makasih kenapa?" (boo)


"aku belajar dari bukumu, benar-benar sangat mengagumkan, soal-soal yang kubilang sulit ada disitu, jadi aku lebih mudah memahaminya" (bee)


"iya sama-sama, aku senang kok melakukannya" (boo)


"oh ya ini bukumu, maaf tapi sedikit kotor tadi terjatuh" (bee)


"sudah kubilang bukan simpan saja," (boo)


"tapi ini kan bukumu" (bee)


"itu untukmu" (boo)


"benarkah?" (bee)


"ya" (boo)


"terima kasih banyak boo" (bee)


"ya sama-sama, ayo mulai belajar" (boo)


"......"


Bel berbunyi, aku dan Boo pun pergi ke ruang ujian. Aku dan Boo sekarang satu ruang. Tempat duduk Boo di pojok depan sedangkan aku di pojok belakang. Walaupun begitu aku senang, aku bisa satu ruang dengannya. Aku mulai menghidupkan komputer dan mengerjakan soal. Aku begitu girang melihat soal-soalnya. Soal-soalnya menurutku cukup mudah. Satu per satu soal mulai aku kerjakan. Keringat mulai bercucuran membasahi wajahku. Ada beberapa soal yang tidak bisa aku kerjakan. Waktu tersisa menunjukkan 10 menit. Aku terkejut, masih ada yang belum aku selesaikan. Lalu aku mulai membuka dari no awal untuk mengecek jawabanku. Setelah yakin aku klik tombol selesai. Waktu mengerjakan habis. Aku pun keluar ruang ujian.


"Hai, bagaimana?" (boo)


"aku harap bagus" (bee)


"kau sudah belajar kan, pasti bagus lah" (boo)


"aku tidak yakin, nilaiku akan naik dari kemarin" (bee)


"percaya, dan tetap optimis" (boo)


"iya makasih Boo" (bee)


"Boownie, Beetariss?!" (Naya)


"hai!" (bee)


"kalian lihat Nico tidak?" (Naya)


"tidak, kami baru keluar" (bee)


"memangnya ada apa?" (boo)


"aku ingin bertemu dengannya, ya udah kalau begitu aku pergi dulu ya, bye" (Naya)


"kau itu seperti tidak tahu saja orang yang pacaran" (bee)


"aku memang tidak tahu banyak soal pacaran" (boo)


"apa kamu belum pernah berpacaran?" (bee)


"ehm... lupakan saja itu" (boo)


"kenapa?" (bee)


"tidak apa-apa" (boo)


Aku sebenarnya berharap, Boo akan jujur dengan perasaannya, apa dia sudah punya pacar atau belum. Tapi kenapa dia bilang begitu ya? Aku tidak memahami dirinya. Jika melihat dirinya yang dulu saat masih dingin, sepertinya dia sedang tidak berpacaran, tetapi melihat yang sekarang dengan sikapnya yang bisa membuat orang gampang buat jatuh cinta padanya, sepertinya dia memiliki hubungan lebih dengan yang lain. Tapi kenapa dia tidak pernah menceritakan hubungannya padaku? Sebenarnya kau sudah punya pacar belum? Aku bingung Boo. Kalau kau terus seperti ini, aku bisa-bisa terus berharap sama kamu. Apa seumur hidupku ini hanya untuk mengejarmu saja?


"ayo pulang" (boo)


"iya, eh kamu kan dijemput" (bee)


"kau pulanglah bersamaku" (boo)


"tapi aku akan merepotkan mu" (bee)


"tidak, ayo" (boo)


"beneran?" (bee)


"ya sudah kalau tidak mau" (boo)


"iya deh" (bee)


"Pak, lewat jalan sana ya pak" (boo)


"Boo, kenapa lewat jalan ini?" (bee)


"aku mau pergi ke suatu tempat dulu" (boo)


"ya kalau tahu begitu aku tidak usah bareng, aku merepotkan mu kan?" (bee)


"aku hanya sebentar" (boo)


"tetap saja, aku turun disini saja, nanti aku pulang naik bus" (bee)


"jangan" (boo)


"kenapa?" (bee)


"Ehm... jalan ini sepi, bagaimana jika tidak ada bus?" (boo)


"aku akan jalan kaki" (bee)


"sudahlah, tetap disini" (boo)


"tapi...." (bee)


"tidak ada tapi-tapian" (boo)


Sebenarnya aku merasa bersalah pada Boo. Kalau saja aku menolak tawaran dia, aku sudah merepotkan Boo. Tapi aku penasaran juga dia mau kemana ya. Jalan ini sepertinya menuju perumahan. Boo mau ke rumah siapa?


"aku turun dulu ya, kau tetap disini, aku hanya sebentar" (boo)


"iya" (bee)


"maaf ya, kamu jadi harus menungguku" (boo)


"tidak masalah Boo, kau ke rumah siapa?" (bee)


"dia temanku" (boo)


"oh, untuk apa kau kesana?" (bee)


"aku menjenguknya saja" (boo)


"begitu ya" (bee)


"Bee, ini untukmu" (boo)


"untukku?" (bee)


"aku kan sudah berjanji kalau nilainya bagus aku akan memberimu hadiah, jadi ini hadiahnya" (boo)


"cokelat?" (bee)


"iya, aku tahu kamu akan menyukainya" (boo)


"bagaimana bisa kau tahu, aku belum pernah makan cokelat di depanmu?" (bee)


"em... perempuan kan banyak yang suka dengan cokelat, apati kamu salah satunya" (boo)


"kalau kamu tidak tahu tentang pacaran, bagaimana kamu tahu perempuan suka cokelat" (bee)


"ya tahu aja" (boo)


"makasih ya" (membuka dan memakan cokelat)


"enak sekali cokelatnya" (bee)


"baguslah kalau enak" (boo)


"aku belum pernah makan cokelat seenak ini" (bee)


"Hahaha..." (boo tertawa)


"kenapa tertawa?" (bee)


"ada cokelat di hidungmu" (boo)


"ah benarkah?" (aku mengusap hidungku)


"jangan!!!" (boo)


"kenapa?" (bee)


"kau tidak lihat tanganmu itu penuh cokelat" (boo)


"oh iya" (bee)


"aku akan bantu kamu" (boo mengambil tisu dan membersihkan hidungku)


Mataku dan mata Boo saling memandang. Aku bisa melihat mata cokelat terang Boo dengan bulu mata yang panjang. Aku bisa merasakan nafasnya. Jantungku berdebar-debar. Aku hanya bisa diam mematung melihat Boo membersihkan wajahku yang penuh cokelat. Aku juga menyembunyikan bungkus cokelat di sakuku.


"tanganmu" (boo)


"tangan?" (bee)


"ya, sini" (boo menarik tanganku dan membersihkan tanganku)


"maaf ya" (bee)


"kau tidak pernah berubah" (boo)


"tidak berubah?" (bee)


"ya" (boo)


"maksudmu?" (bee)


"sebenarnya aku pernah melihat kamu makan kue cokelat saat pesta ulang tahunku dulu, dan belepotan juga" (boo)


"kau melihatku darimana, padahal aku diam-diam, aku ketahuan dong" (bee)


"aku melihatmu dari bawah meja" (boo)


"bawah meja?" (bee)


"ya, aku sembunyi karena aku tidak ingin wajahku penuh krim" (boo)


"tapi bukankah akhirnya penuh krim juga?" (bee)


"iya sih" (boo)


"maaf ya, dulu aku diam-diam karena aku sangat ingin makan kue itu" (bee)


"sudahlah, lupakan itu sudah dulu" (boo)


"aku pulang dulu ya, bye" (aku turun dari mobil)


"bye" (boo)


Aku tidak menyangka kalau Boo tahu semuanya dan apa yang dia lakukan hari ini padaku, sungguh membuatku bahagia. Walau aku masih penasaran sama gadis itu dan apa yang diberikan Boo pada gadis itu. Apa dia pacar Boo yang ada di foto itu? Boo kenapa kau terus ada dalam pikiranku? Aku tidak memperhatikan jalan saat aku masuk ke rumah. Tanpa sengaja aku menabrak pintu gerbang yang masih terkunci.


"AKHH!!! kepalaku" (aku memegangi kepalaku yang sakit)


"kenapa tertutup pintunya?!" (bee)


"ah, aku kan belum membukanya, bodoh sekali aku" (bee)


Aku membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Aku belajar sambil memegangi kepalaku karena masih terasa sakit.


_____________________________________________


Dear Boo


Boo bisa nggak sih, hilang dari pikiranku? Kenapa kau terus menempel di otakku?


Aku bisa gila memikirkanmu terus seperti ini?


Bahkan kepalaku sampai sakit


Tapi cokelat itu sangat berkesan untukku


Bungkus cokelat ini akan aku simpan


Sebagai kenangan indah


Tapi siapakah gadis itu?


ย  Bee


_____________________________________________


TBC


Bagaimana ceritanya?


Kira-kira siapa gadis itu?


Apakah dia pacarnya Boo?


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment๐Ÿ‘


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™