Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Mencoba Move On



Hari ini aku mau coba move on dari Boo. Aku nggak mau sakit hati lagi. Aku nggak tahu apa bisa aku move on, tapi rasanya sangat sulit mengingat aku bakal ketemu dia tiap hari. Apakah cinta 11 tahun aku bakal berakhir sampai disini saja?


Kulangkahkan kakiku menuju ke kelasku dengan mood yang masih tidak baik. Lalu aku dengar suara yang tidak asing bagiku, ya itu suara Nico. Dia mau minta maaf ke aku tentang yang apa yang terjadi kemarin.


“Bee maafin aku yang kemarin ya, aku nggak sengaja” (nico)


“lupakan saja” (bee)


“Bee, mata kamu kenapa bengkak dan merah seperti itu?” (nico)


“aku nggak papa” (bee)


“kamu semalam habis nangis ya?” (nico)


“nggak kok aku nggak papa” (bee)


“apa cinta kamu ditolak sama Boo” (nico)


“nggak usah bicarain Boo, aku mau coba move on dari dia” (bee)


“Apa beneran kamu mau nyerah gitu aja?” (nico)


“Iya, lagipula nggak bakalan Boo mau sama aku” (bee)


“Ya udah sama aku aja kali” (nico)


“Yak, kamu bicara apa sih, sama ? Nggak mungkin kamu sama aku aja kaya musuh gini” (bee)


“Hei kamu tahu kan difilm-film gitu benci bisa jadi cinta” (nico)


“iiiih, aku gak mau mikirin cowok lagi, aku nggak ingin jatuh cinta lagi” (bee)


“Berarti beneran kamu ditolak?” (nico)


“nggak, aku nggak bilang sama Boo, tapi aku yakin dihatinya Boo pasti seseorang” (bee)


“kenapa kau yakin banget?” (nico)


“ya dia kan tampan, pintar, jadi dia itu idaman semua orang, pasti juga dia uda punya pacar di luar sana, ah sudahlah aku mau fokus belajar aja” (bee)


“oke ayo ke kelas” (nico)


Setelah masuk ke kelas, aku tiduran. Aku bingung banget. Aku kan duduknya di belakangnya Boo, kalo aku terus disini, pasti aku nggak bakal bisa move on. Aku terpikirkan kalo aku tukeran bangku sama Nico.


“Nico, kamu tukeran sama aku ya, pliiiis” (bee)


“Oke, oke” (nico)


Aku liat Boo masuk kelas, dia lalu duduk di bangkunya. Dia juga kelihatan cuek seperti biasa. Dengan melihat dia seperti itu, aku tambah sakit hati, aku bener-bener kecewa. Aku memutuskan keluar kelas pergi ke lantai atas. Di sini aku bisa nenangin diriku. Aku rasa air mata yang membendung mulai mengalir. Hatiku bener-bener sakit. Setelah semalam aku nggak bisa tidur, hari ini aku juga masih sama seperti kemarin.


“Bee, kamu kenapa?” (Boo)


Satu kalimat membuyarkan semua pikiranku. Aku sebenarnya nggak mau liat atau bicara lagi sama dia. Tapi aku mencoba kuat. Aku nggak mau keliatan lemah di depan Boo. Lalu aku usap air mata yang mengalir di wajahku.


“Aku nggak papa” (bee)


Aku langsung pergi dari sini. Setelah menatapnya aku langsung ke kelas lagi. Aku gak bisa nahan perihnya hatiku ngeliat dia juga masih baik sama aku. Kenapa dari dulu akj nggak kepikiran kalo cowok secakep dia nggak punya pacar. Aku beneran bodoh.


Di kelas aku mencoba fokus sama pelajaran. Aku nggak mau terus-terusan larut dalam kesedihanku. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa. Sama Nico tentu saja dia kaya biasa lagi. Sama Naya pun aku nggak bisa. Bahkan cerita sama ibu atau ayah pun tidak bisa. Sungguh aku kesepian.


“Ujian praktek sudah dekat, ingat kalian harus persiapkan baik-baik, jangan sampai kalian menyesal nanti” (guru)


“Baik bu”


“Nico sama Beetariss ikut saya ke ruangan saya dan Boo kamu kumpulin tugas dari saya” (guru)


“baik bu”


Gue nggak tahu apa yang bakal terjadi padaku. Apa guru bakal ngehukum aku? Aku keluar kelas dengan kepala tertunduk.


“kalian berdua harus belajar lebih giat, jangan lagi tidak mengerjakan tugas, atau tidak membawa buku. Ujian praktek sudah tinggal beberapa hari lagi, setelah itu pasti waktu terasa sangat singkat. Kalau kalian gak berubah, kalian tidak akan bisa diterima di perguruan manapun. Jadi kalian harus punya tekad buat belajar yang giat. Tidak usah memikirkan hal yang lain entah itu cowok atau cewek yang disukai, pacar atau masalah pribadi kalian. Kalian fokus dulu pada pelajaran kalian"


“Baik bu”


“kamu dengar sendiri kan, kamu nggak usah mikirin dia” (nico)


“tapi sangatlah sulit untuk melupakan Boo, Boo itu terlalu berkesan bagiku” (bee)


“gini, anggap aja aku pacar kamu, dan kamu nggaa usah mikirin dia” (nico)


“anggap kau pacarku” (aku ketawa)


“iya lah” (nico)


“makasih Nico kamu udah bikin aku ketawa” (bee)


“oke” (nico)


“kalian sudah selesai?” (Boo)


“sudah” (jawab aku lalu narik tangan Nico


Pergi ke kelas)


“Bu, ini tugasnya” (Boo)


“Baik kamu bisa kembali ke kelas “ (guru)


“bu tadi nico sama beetariss kenapa?” (Boo)


“saya hanya mengingatkan mereka supaya mereka mau belajar” (guru)


“oh, terima kasih bu, permisi” (boo)


Pelajaran selanjutnya pun dimulai. Boo juga sudah masuk ke kelas. Guru mulai menjelaskan beberapa materi yang akan diujikan dalam ujian praktek. Aku ngelirik ke Boo. Aku liat dia lagi nulis catatan. Tapi yang aku liat dia seperti tidak memperhatikan guru. Aku nggak mau terlibat lagi, sudah cukup mikirin dia.


“Saya akhiri pertemuan hari ini, semoga apa yang saya ajarkan bisa berguna bagi kalian semua” (guru)


“kamu mau bareng nggak sama aku?” (nico)


“Aku tahu kamu pasti ke tempat nongkrong dulu, aku bakal pulang sendiri” (bee)


“kamu nggak papa kan?” (nico)


“aku nggak papa” (bee)


Aku ngelihat Boo sedang piket kelas. Aku kasihan sama dia. Padahal hari ini juga jadwalnya Nico. Tapi Niconya malah sudah pergi hanya untuk game. Aku pengen bantu dia, tapi aku nggak mau berharap lagi sama dia.


“Bee, kamu kenapa sih kok kamu kaya ngehindar dariku?” (boo)


“Aku nggak papa Boo” (bee)


“dari kemarin aku liat kamu kaya ada masalah, memangnya masalah apa yang kamu punya?” (boo)


“udah aku bilang aku nggak papa” (bee)


Boo hanya ngeliat aku heran tapi aku tak peduli, hatiku terlalu rapuh. Rasanya sakit banget. Aku yang udah nunggu selama 11 tahun baru kali ini patah hati. Memang tipeku sangat tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. Tapi walau bagaimanapun aku itu adalah seorang perempuan yang hanya bisa nunggu, nunggu dan nunggu, hingga akhirnya fakta terungkap bahwa orang yang kita sukai telah memilih wanitanya. Aku tidaklah pantas untuk Boo. Aku hanyalah perempuan bodoh, jelek dan sikapku yang kekanak-kanakkan. Aku harap aku bisa melupakan Boo dengan cara apapun.


TBC


Bagaimana ceritanya?


Kira-kira apa Bee bisa move on dari Boo?


Apa dia benar-benar bisa melupakan Boo?


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


🙏🙏🙏