Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Tak kusangka



Hari pun berlanjut. Try out sudah selesai. Hari ini adalah pengumuman hasil try out. Aku harap peringkatku lumayan aman, tidak terakhir-terakhir lagi. Mungkin try out ini bisa jadi tolak ukur kemampuanku. Untuk ujian nanti, aku akan lebih keras lagi belajarnya.


"Boo, aku sungguh tidak sabar melihat nilai ku" (bee)


"aku juga" (boo)


"kau itu sudah tentu paling pojok atas sendiri" (bee)


"semoga kau juga ya" (boo)


"aku tidak akan bisa menyaingimu, tapi terima kasih boo" (bee)


"aku akan memberikan kamu sebuah hadiah jika nilaimu bagus" (boo)


"benarkah?" (bee)


"iya, kau akan suka nanti" (boo)


"semoga nilaiku bagus deh, aku penasaran apa hadiahnya?" (bee)


"rahasia dong, kalau aku katakan tidak jadi rahasia nanti" (boo)


"ah kau bisa membuatku gila membayangkan semua itu" (bee)


"kau tidak akan gila, apa kau mau jadi gila beneran?" (boo)


"ah jangan sampai itu terjadi" (bee)


"Anak-anak, hari ini adalah hari pengumuman hasil try out kemarin sekaligus hari terakhir belajar kita, besok sudah mulai ujian" (guru)


"ah... Bu"


"kita akan membahas soal-soal ujian tahun kemarin" (guru)


"ya Bu"


"....."


"saya harap kalian belajar dengan giat, jangan mengecewakan orang tua, ini bukanlah hari perpisahan untuk kita, kita akan buat menjadi hari kemenangan untuk kita, jangan patah semangat, saya juga sedih, bertahun-tahun saya mengajar kalian, kalian sangat berkesan di hati saya, tawa tangis segala cerita telah kita ukir bersama, semoga kalian sukses di masa depan nanti, dan saya minta maaf saya sering marah-marah pada kalian, tapi itu semua demi kebaikan kalian, semangat!!!" (guru)


"baik Bu"


Seluruh kelas mendadak sedih. Aku pun merasa air mata mulai membanjiri wajahku. Sekolah ini sangat berarti untukku, apalagi kelas ini. Segala kisah, kenanganku bersama Boo ada disini. Dimana kita saling mengenal sejak kecil, menghabiskan waktu bersama di pantai. Aku juga ingat hari pertama ku setelah libur akhir tahun, aku telah membuat masalah pada Boo. Di hari itu Celin masih bergabung bersama gengnya. Nico yang sering menggangguku, Naya yang sering menjadi penyemangat ku, dan Boo yang menjadi pujaan hatiku hingga saat ini. Hari demi hari terus silih berganti, aku dan Boo juga semakin dekat, dan bisa bersahabat. Aku juga membuat senyumnya kembali lagi. Kisah bulan, bintang, dan matahari yang kita buat sangatlah berkesan untukku. Lentera yang kita terbangkan, tempat indah yang kita temui di hutan, dan perpustakaan yang menjadi saksi kedekatan kita. Kisahku yang mencoba move on dari Boo karna patah hati hingga aku amnesia. Sungguh itu tidak mudah. Banyak masalah yang harus ku hadapi. Jutaan kenangan telah terukir di dalam hatiku. 11 tahun aku menanti Boo, aku masih belum juga bisa mengungkapkan perasaanku, walau aku sempat mengungkapkannya secara tidak sadar. Aku akan selalu yakin pada diriku. Aku akan bisa bersamamu lagi. Kita akan mengukir kenangan kembali, kita akan bersenang-senang kembali, aku janji Boo. Aku tidak akan mengecewakanmu. Tangis ku semakin menjadi-jadi setelah mengingat segalanya. Seolah semuanya akan berakhir sampai disini.


"baiklah saya akhiri perjumpaan hari ini, jangan sedih jangan menangis, suatu hari nanti kita pasti bisa berkumpul lagi" (guru)


"terima kasih dan selamat berjuang!" (guru)


Aku masih saja menangis, mungkin saja mejaku kini telah basah penuh air mataku. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku pun menundukkan kepalaku di meja dan aku menangis lagi. Sungguh perpisahan rasanya sangat menyakitkan. Naya dan Celin pun memelukku. Kami menangis bersama. Aku tidak peduli dengan sekitarku, entah bagaimana Boo padaku saat ini, apa dia ilfil, apa dia tidak suka, aku tidak peduli.


"maafkan aku ya" (Celin)


"maafkan aku juga" (bee)


"aku juga" (Naya)


Kami kembali menangis tersedu-sedu, aku tidak bisa membayangkan akan berpisah dengan mereka. Mengapa semua harus berpisah, mengapa semua yang bertemu harus dipisahkan. Mengapa tidak terus disatukan. Aku benci perpisahan.


"sudahlah, ayo kita lihat papan hasil try out ya" (Nico)


"oke, ayo"


"boo kau juga ikut yuk" (Aku mengusap air mataku)


"ah iya" (boo mengusap matanya yang sembab)


"kau juga menangis boo?" (bee)


"tidak, aku tidak menangis" (boo mengelak)


"terserah kamu saja, ayo" (bee)


Kami berjalan menuju papan pengumuman. Wajah kami semua masih memerah karena menangis tadi. Jantungku berdebar, aku takut nilaiku akan jelek. Aku tidak berani melihatnya, walau aku sudah ada di depan papan pengumuman.


"ah terima kasih Tuhan, dimana nilai Bee ya?" (Celin)


"wow, ini benarkah?" (Naya)


"bagaimana bisa?" (Nico)


"bee, lihatlah" (boo)


"tidak, aku tidak akan melihatnya, aku tidak ingin kecewa karena nilaiku, aku bisa-bisa menangis karena melihat nilai jelekku" (bee)


"lihatlah dulu" (boo)


Aku pun menengadahkan kepalaku, karena aku yang pendek. 'Deg' rasanya melihat nilaiku. Di papan terpampang namaku dengan nilaiku. Sungguh bahagia tak terkira, aku melihat hasil yang aku peroleh. Aku berhasil, aku telah menerobos banyak ruang. Kini peringkatku berada di ruang 1 bersama Boo. Sungguh aku tak bisa percaya.


"jangan menangis lagi, Bee" (boo)


"aku tidak menangis karena sedih, aku terlalu bahagia" (aku menangis)


"kau bilang kau akan menangis ketika nilaimu buruk, tapi apa ini" (boo)


"apa aku bermimpi?" (bee)


"tidak kau tidak bermimpi" (boo)


Aku sontak memeluk Boo di tempat. Aku sangat bahagia mendengar kalau ini semua nyata. Aku tidak sadar aku memeluk Boo depan banyak orang. Tapi rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukanku.


"Bee, apa yang kamu lakukan?" (Naya)


"aku senang sekali" (bee)


"iya, tapi tidak perlu dipeluk juga kan" (Celin)


"ah, ah ma-maaf Boo, aku terlalu bahagia" (aku melepaskan pelukanku)


"cieee..." (Nico)


"Celin, aku sudah melihat nilaimu, kau sangat pintar" (Reza)


"ah... kau juga pintar" (Celin)


"Naya aku harap hubungan kita akan terus berlanjut, walau saat kuliah kita terpisah" (Nico)


"aku juga tidak ingin pisah darimu" (Naya)


"maaf Boo, kau pasti tidak nyaman bukan?" (bee)


"tidak masalah Bee," (boo)


"sudahlah, jangan menangis lagi, wajahmu sudah merah lho" (boo)


"ah..., Boo terima kasih, walaupun ini try out tapi ini bisa menjadi motivasiku" (bee)


"sama-sama Bee, aku juga senang bisa membantumu, selamat ya" (boo)


"selamat juga untukmu" (bee)


"ayo pulang, belajarlah yang giat" (boo)


"iya kau juga" (bee)


Aku dan Boo pulang bersama. Boo tidak dijemput oleh sopirnya. Aku dan Boo memutuskan jalan kaki saja.


"Boo, kau tahu bagaimana perasaan ku saat ini?" (bee)


"kau sangat bahagia bukan?" (boo)


"lebih dari itu, aku sangat sangat sangat bahagia" (bee)


"besok adalah ujian yang sebenarnya, try out masih belum bisa membuktikan lulus tidaknya, tapi besok adalah pertarungan yang sebenarnya" (boo)


"iya, ini pertama kalinya saja dalam hidupku aku bisa ada di peringkat atas, tak pernah aku sangka itu akan terwujud" (bee)


"belajarlah yang rajin, itu pasti terwujud" (boo)


"terima kasih Boo" (bee)


"ehm... sebentar sepertinya ponselku berbunyi" (boo)


"angkatlah" (bee)


"halo?" (boo)


"hai, bagaimana hasilnya?"


"baik, bagaimana denganmu?" (boo)


"baik juga, makasih ya kamu udah bantu aku"


"iya sama-sama, sudah ya aku tutup" (boo)


"siapa?" (bee)


"temanku" (boo)


"oh, sepertinya perempuan ya?" (bee)


"iya, ayo jalan lagi" (boo)


"iya" (bee)


Aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Aku juga bisa mendengar yang menelfon itu perempuan. Tapi, ah sudahlah Boo juga bilang hanya teman.


"Dah..., belajar ya" (boo)


"iya aku belajar kok, dah..." (bee)


Aku melihat Boo sudah masuk ke rumahnya, aku pun juga masuk. Aku tidak sabar memberitahukan itu semua kepada ayah. Aku harus menunggu malam untuk memberitahukan pada ayah, karena ayah sedang bekerja. Aku pikir mungkin sambil menunggu ayah pulang, aku akan memasak dulu. Aku menyiapkan semua hidangannya di meja makan. Lalu ayah pun pulang.


"ayah!!!" (panggilku dengan gembira)


"wah, udah masak aja, maaf ya ayah terlambat" (ayah bee)


"iya yah tidak apa-apa" (bee)


"bagaimana hasil try out nya?" (ayah bee)


"ayah lihatlah ekspresi ku seperti apa" (bee)


"baguslah kalau begitu, peringkat berapakah?" (ayah bee)


"hmmm... ruang 1 peringkat 20 yah" (bee)


"benarkah?" (ayah gembira)


"ya, aku juga tidak percaya kalau aku mendapat peringkat itu" (bee)


"itu semua pasti berkat Boo ya?" (ayah bee)


"iya yah, dia mengajariku banyak hal saat perpustakaan" (bee)


"dia pintar sekali seperti ibunya" (ayah bee)


"ibunya Boo juga pintar seperti Boo?" (bee)


"ya, dulu ayah dan ibunya Boo adalah teman sekelas saat SMP, dia sangat pintar sama seperti Boo" (ayah bee)


"tapi kenapa sekarang di Amerika?" (bee)


"ayah tidak tahu, itu urusan keluarga mereka" (ayah bee)


"kasihan Boo, dia selalu merindukan ibunya" (bee)


"kau juga rindu pada ibumu?" (ayah bee)


"ya ayah selalu" (bee)


"ayo sarapan, kamu harus belajar kan?" (ayah bee)


"ya ayah" (bee)


Setelah selesai makan malam, aku masuk ke kamarku untuk belajar. Aku menyiapkan segala keperluan belajarku. Kali ini aku membiarkan ponselku mati. Aku tidak ingin ada yang menggangguku. Aku membuka buku yang diberikan Boo. Aku lihat di sampul bagian depan tertulis "Fighting Bee, do the best, OKE!!!' Aku merasa semangat setelah membacanya. Aku fokus belajar, sampai larut malam. Aku sudah beberapa kali menguap, mataku juga sudah lelah. Aku pun tidur takut mengantuk ketika mengerjakan ujian besok. Aku takut kalau nilaiku akan turun. Sebelum tidur, aku berdoa terlebih dahulu. Aku membiarkan buku di sampingku. Aku pun tidur.


TBC


Bagaimana ceritanya?


Kira-kira siapa yang menelfon Boo?


Bagaimana perasaan Boo ketika di peluk Bee didepan banyak orang?


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment๐Ÿ‘


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™