Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Patah Hati



Hari demi hari terus berlalu. Aku sama Boo juga semakin dekat. Aku harap bisa lebih dari itu. Sudah lama sejak kali pertama aku bicara sama Boo. Saat masih kanak-kanak. Itu terjadi sekitar 11 tahun yang lalu. Mungkin kalau pacaran masih kejauhan tapi setidaknya aku bisa sahabatan sama dia.


Hari ini di kelas aku digangguin lagi sama Nico. Dia ngancem-ngancem aku lagi. Kalo saja dia bukan temen sekelaskuku udah aku tonjok dia.


“Sepertinya aku bilang aja ya sama dia” (nico)


“Nico jangan pernah kamu bilang ke siapa-siapa kamu mau kena pukul lagi ha” (bee)


“nggak mau lah, Beetariss kamu kesambet apa sih bisa suka sama cowok seperti dia?” (nico)


“Kamu gila ya bicara kaya gitu, semua orang juga tahu dia itu tampan dan jenius lah” (bee)


“Dia itu nggak sejenius yang kamu pikirkan, aku bisa buktikan kok hari ini juga” (nico)


“Apa yang bakal kamu lakuin Nico, jangan macem-macem ya” (bee)


“Tenang aku nggak nglakuin apa-apa kok, aku Cuma mau buktiin kalo dia nggak sehebat itu” (nico)


Jam pelajaran di mulai. Semua murid masuk ke kelas dan duduk di tempatnya masing-masing. Guru meminta untuk mengumpulkan tugas yang diberikan satu minggu yang lalu. Sialnya aku nggak bawa itu buku. Aku ingat buku itu aku letakkan di laci bersama buku diary. Matilah aku pasti kena hukum nih. Raut wajah aku pasti sekarang sudah nggak karuan. Aku liat sekeliling gue dah siap dengan tugasnya masing-masing. Aku cuman bisa tanya sama Nico soalnya dia emang dah jadi kebiasaan nggak ngerjain tugas.


“Nico kalo ngga bawa bukunya hukumannya apa?” (bee)


“Ya dihukum berdiri di depan kelas” (nico)


“Ha beneran?” (bee)


“Kenapa kamu jadi pucat gitu, kamu nggak bawa ya?” (nico)


“Syuttt... diem kamu” (bee)


“Beetariss, Nico mana tugas kalian hanya kurang kalian saja?” (guru)


“Maaf bu buku saya ketinggalan” (bee)


“Beetariss kamu pasti belum ngerjain ya?” (guru)


“Tidak bu, saya sudah selesai mengerjakan dari lama, tapi saya lupa tidak saya masukkin dalam tas kemarin” (bee)


“Dan kamu Nico?” (guru)


“Belum bu” (nico)


“kalian berdua itu sama saja tidak disiplin, sekarang kalian keluar berdiri dengan satu kaki di depan kelas” (guru)


“Bu saya kan sudah mengerjakan” (bee)


“Tapi mana buktinya, bisa saja kan kamu hanya cari alasan saja, sudah sekarang keluar” (guru)


“Baik bu” (bee)


Aku keluar kelas, aku sempet liat Boo. Dia ngeliat aku dihukum. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Pasti dia kecewa banget punya temen kaya aku. Aisshh kenapa bisa aku lupa gini. Kenapa aku pelupa banget coba. Aku Cuma bisa meratapi nasibku yang nggak beruntung.


Di luar kelas....


“Kenapa gini banget ya nasibku?” (bee)


“Eh, kita memang ditakdirkan bersama ya kan?” (nico)


“Aku udah bilang gue mau berubah Nico” (bee)


“mana bukti lo berubah?” (nico)


“Ya mungkin tidak hari ini” (bee)


“Ya udah kamu terima aja kali buat pengalaman dihukum bareng sama aku” (nico)


“Idiiih... jangan ngarep kamu” (bee)


Setelah jam pelajaran selesai aku sama Nico sudah diperbolehkan masuk. Guru memberi waktu sampai besok untuk mengumpulkan tugas. Aku benar-benar capek. Pegal-pegal semua kakiku. Aku masuk kelas dan Boo litin aku. Dia pasti ngeliat wajah memelasku saat ini. Aku duduk langsung aku sandarkan kepalaku di tanganku, lalu aku tidur, itung-itung buat istirahat.


Jam berikutnya adalah jadwal olahraga. Aku ganti baju bersama Naya ke kamar mandi. Lalu menuju ke lapangan basket. Aku yang suka olahraga awalnya menikmati aja pelajarannya. Tapi aku nggak terlalu senang karena olahraganya adalah Basket. Tubuh aku kan secara pendek jadi aku nggak mungkin bisa bermain basket. Kalaupun aku bisa pasti aku bakal kalah sama yamg lain. Aku lihat boo tidak ikut olahraga. Aku menghelakan nafas, aku tahu Boo tidak suka olahraga dia malah memilih menyendiri sambil baca buku. Aku niatnya pengen nemenin dia soalnya kasihan. Dia juga nggak pernah bergaul di kelas.


“Hei, aku temenin ya?” (bee)


“Bukannya kamu suka olahraga?” (boo)


“Aku kasihan kamu sendirian di sini” (bee)


“Aku tidak sendirian kok, buku-buku ini sudah seperti temanku” (boo)


“Hhh...” (bee)


Aku Cuma nyengir dengar kata-kata Boo. Aku nggak pernah ngebayangin kata-kata Boo. Dia bilang buku-bukunya seperti temannya. Dia benar-benar selalu setia sama bukunya. Aku nggak habis pikir tentang dia. Aku niatnya pengen berduaan sama Boo, malah Nico juga datang. Memang dia suka gangguin aku aja. Entah dimana pun dan kapanpun.


“Kamu nggak ikut basket, Beetariss?” (nico)


“Nggak ah aku capek, aku mau di sini” (bee)


“Eh Boownie, kamu punya pelet apa sih sampai semua cewek mau sama kamu yang jelas-jelas nggak pernah peduli sama mereka” (nico)


“Apa yang kamu katakan Nico?” (boo)


“Ayo kita tanding satu lawan satu basket” (nico)


“Nico, kamu bicara apasih jangan gangguin Boo seperti itu dong” (bee)


“Aku tahu kamu nggak berani tanding sama aku, kamu takut semua fans kamu itu ngejauh kan sama kamu jika kamu kalah tanding sama aku” (nico)


“Apa yang kamu katakan” (boo)


Satu tinju mendarat di pipi Nico. Boo benar-benar emosi saat ini. Baru pertama kali aku lihat dia semarah itu. Aku mencoba menghentikan semuanya. Tapi apalah dayaku, Aku masih takut bakal nyakiti dia lagi.


“Boo, Nico sudahlah kenapa kalian begini” (bee)


“Kamu nggak usah banyak bicara, biar saja dia yang memulai semua ini” (nico)


“Apa kamu bilang, kamu yang nantangin aku duluan” (boo)


Aku mendapat pukulan di kepalaku, aku ngerasa pusing. Pandanganku mulai kabur, dadaku juga terasa sesak sebelum akhirnya pandanganku gelap sepenuhnya.


“Dimana aku?” (bee)


“Kamu di uks” (boo)


“Boo, kamu kok di sini?” (bee


“ya lah, akucyang nolongin lo waktu lo pingsan kena pukulannya Nico” (boo)


“Jadi....” (bee)


“Iya aku yang ngegendong kamu sampai uks” (boo)


“Apa?” (bee)


“ya itu benar, maafin aku Bee karna aku lo jadi terluka seperti ini” (boo)


“Aku nggak papa kok, terima kasih Boo” (bee)


“Ya sudah karna kau sudah sadar, aku balik ke kelas dulu, kamu di sini aja, kamu belum sehat, Aku udah minta guru buat telfon ayah kamu biar jemput kamu nanti” (boo)


“Makasih Boo” (bee)


Aku Cuma bisa melotot denger apa yang dikatakan Boo. Aku bertanya-tanya apa ini mimpi. Boo nggendong aku sampai UKS depan banyak orang gitu. Aku bisa gila memikirkan hal itu. Mungkin semua pandangan saat itu tertuju hanya pada aku dan Boo. Secara Boo kan banyak fansnya nggak mungkin kan mereka nggak pada heboh, apalagi Celin.


Di balik semua itu, aku ngerasa seneng banget. Itu berarti dia peduli sama aku. Dia nggak mau sampai gue kenapa-napa. Itu membuktikan bahwa dia punya perasaan padaku walau hanya sebagai teman. Kalau saja aku bisa teriak, aku pengen teriak sekencang-kencangnya.


Aku sadar di balik sikap dinginnya itu, dia masih punya kehangatan yang tidak pernah orang lain ketahui. Memang dari kecil dia juga sudah introvert tapi aku udah ngerasa kalau sebenarnya hangat jika sudah dekat dengannya.


Aku Cuma bisa membolak-balikkan tubuhku. Mau ngapain juga nggak bisa karna kepalaku masih sedikit sakit. Aku ambil posisi tidur. Aku mikirin bagaimana bisa Boo berubah jadi emosi seperti itu. Setahuku dia nggak pernah seemosi itu. Ah mungkin dia hanya pengen jadi yang terbaik saja.


Aku nunggu ayahku jemput sambil aku baca-baca buku. Kebetulan Boo meninggalkan bukunya di sini. Mungkin dia lupa sehabis nolongin aku dia langsung ke kelas tanpa bukunya. Di buku itu isinya banyak catatan-catatan yang di buat Boo. Tulisannya juga sangatlah rapi. Akj semakin kagum sama dia. Lalu tidak sengaja ada secarik kertas yang jatuh. Aku ambil itu kertas, aku balik ternyata foto seorang perempuan. Dia berambut panjang, cantik, putih sedang berpose seperti model. Bagaimana bisa Boo menyimpan foto gadis secantik ini. Akj memutar balik otakku mikirin foto ini. Apa jangan-jangan dia pacarnya Boo lagi? Hati aku seperti teriris-iris, seperti ada petir yang menyambar diriku. Baru aja aku seneng-seneng mendadak aku jadi sedih kecewa seperti ini. Aku langsung masukkin lagi foto itu di bukunya tapi aku nggak sadar fotonya terjatuh. Aku menghela nafas. Kecewa iya, sedih iya pengen nangis sumpah, ini pertama kalinya aku ngalamin yang namanya patah hati.


Tak terasa beberapa jam kemudian air mata menetes dari mataku. Aku nggak sanggup liat foto itu. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin kalau bertemu sama Boo nanti. Jangan sampai Boo liat aku yang nangis seperti ini. Ya setangguh-tangguhnya aku, hatiku rapuh banget. Sedikit tergores aja menimbulkan luka yang mendalam.


“Bee, kamu kenapa nangis?” (Boo)


“Boo kamu di sini?” (bee)


“iya aku di sini, kamu kenapa nangis?” (boo)


“Aku nggak nangis kok, Cuma kepalaku tadi mendadak sakit sampai tak terasa aku nangis” (bee)


“Tapi kamu beneran nggak papa kan sekarang?” (boo)


“iya aku nggak papa kok” (bee)


“ ya udah, aku ke sini mau ambil bukuku. Aku lupa naruh tadi. Ya udah aku ke kelas, bye gws ya” (boo)


“bye” (bee)


Setelah dia datang ke sini, aku malah jadi nangis sejadi-jadinya. Hari ini seperti hari terburukku. Aku benar-benar terpuruk nggak bisa nerima fakta kalau ada cewek lain di hatinya. Padahal sebelumnya aku nggak kaya gini amat, aku juga cuma pengen deket sama dia sebagai teman. Tapi mengetahui fakta ini, gue nggak bisa terima. Entahlah aku nggak peduli kondisiku sekarang kaya apa. Yang penting semua emosiku bisa aku keluarkan sekarang. Aku nunggu jemputan sampai akhirnya ayah aku datang. Lalu aku pulang ke rumah dan istirahat di kamar.


Aku ambil buku diaryku, aku nulis :


_____________________________________________


Dear Boo ♡


Hari ini sungguh hari yang paling aku benci


Bagaimana bisa akh lupa bawa buku tugas sampai aku dihukum


Bahkan Boo liat wajah memelasku saat itu


Ya walau aku seneng banget, kamu sudah ngegendong aku sampai ke UKS saat aku pingsan tadi


Tapi kamu nggak pernah jujur tentang perasaan kamu sendiri


Sampai-sampai aku nggak bisa nerima kalo kamu punya cewek yang kamu idam-idamkan


Cewek itu juga beda jauh sama aku


Dia kelihatan lebih cantik, putih, lebih elegan layaknya model dengan tubuhnya yang ideal


Sedangkan aku apa, aku dah pendek otak udang lagi


Aku benci hari ini !!!


Aku bahkan tidak bisa menuliskan ILY Boo, aku nggak mau hati aku semakin sakit menyadari kamu yang sudah punya pacar


 


Bee


 


Lalu aku makan malam dan tidur. Tidur pun aku masih nangis-nangis. Hatiku benar-benar hancur. Tidak ada yang pernah tahu kehidupan pribadinya termasuk aku. Aku sadar kalau cita-cita aku itu terlalu tinggi. Boo seperti di langit sedangkan aku di bumi. Nggak bakal bisa aku kejar tanpa sebuah alat bantu.


TBC


Bagaimana ceritanya?


Kira-kira apa Bee akan nyerah?


Dan siapakah gadis itu, apa benar dia pacarnya Boo?


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


🙏🙏🙏