Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Masalah



Aku bangun dari tidurku, dan merapikan tempat tidur. Aku menunggu giliranku untuk mandi kemudian bersiap-siap untuk kuliah.


"Kalian duluan saja ya, aku mau bertemu Boownie dulu" (maureen)


"Ya, baiklah" (chany)


"Maureen itu pacaran ya sama Boownie?" (Jessi)


"Aku tidak tahu, dari kecil mereka sudah dekat, mungkin saja mereka pacaran" (chany)


"Wah, mereka sungguh serasi, tampan dan cantik" (jessi)


"Mereka juga sama-sama pintar lho, Maureen dulu sering juara kelas" (chany)


"Lalu Boownie?" (Jessi)


"Beetariss kamu kan satu sekolah sama Boownie, kau tahu dia sering mendapat ranking berapa?" (Chany)


"Dia langganan juara kelas" (bee)


"Wah, sungguh aku iri dengan mereka" (jessi)


Aku merasa cemburu. Hatiku kembali sakit. Aku tidak bisa merelakan Boo bersama gadis lain walaupun dia adalah temanku. Tapi biarlah aku akan pasrah mengikuti garis takdirku.


"Beetariss, kamu kenapa?" (Chany)


"Iya, kamu seperti sedih" (jessi)


"Aku-aku bukan sedih, aku hanya takut untuk kuliah nanti" (aku mengelak)


"Kenapa harus takut, ini kan pelajaran struktur tubuh" (chany)


"Morfologi kah?" (Bee)


"Ya tambah anatomi" (jessi)


"Darah?! Ah maksud-maksudku anatomi?!" (Jawabku ketakutan)


"Kenapa kamu jadi ketakutan Beetariss?" (chany)


"Wajahmu juga pucat" (jessi)


"Aku hanya takut" (bee)


"Tidak perlu takut" (chany)


"Bukankah nanti ada darah?" (Bee)


"Ya pasti, ini kan jurusan kedokteran" (chany)


"Ehm..." (bee)


"Oh, maaf aku pamit dulu ya guys, Deandra telfon aku nih, aku pergi dulu" (jessi)


"Sana pergilah" (chany)


"Beetariss apa kau punya pacar?" (Chany)


"Apa?!" (Aku kaget)


"Kau punya pacar?" (Chany)


"Ti-tidak aku tidak punya pacar" (jawabku gugup)


"Kenapa kamu jadi gugup, aku hanya bertanya?" (Chany)


"Tidak, aku hanya masih ketakutan, kau sendiri?" (bee)


"Malu ah" (chany)


"Kau sudah punya pacar ya?" (Bee)


"Ya, tapi dia kuliah di luar kota" (chany)


"Jadi hanya aku nih yang tidak punya pacar" (bee)


"Tenanglah kau akan mendapatkannya nanti, apa kau sedang menyukai seseorang sekarang" (chany)


"Ah, tidak tidak" (bee)


"Ya sudah, ayo ke ruang kuliah" (chany)


"Ayo" (bee)


"Apa kau sudah membawa jas lab?" (Chany)


"Jas lab?" (Bee)


"Iya kan kelasnya morfologi dan anatomi" (chany)


"Aku ambil dulu jasnya, kamu duluan saja" (bee)


"Baiklah" (chany)


Aku sungguh tidak membaca jadwal mata kuliah. Aku hanya membawa beberapa buku saja. Ah hasilnya, aku harus balik lagi ke asrama untuk mengambil jas lab. Semoga saja aku tidak terlambat untuk ikut kelas. Aku berjalan menuju asrama dengan kesal. Kenapa kedokteran itu harus berhubungan dengan darah? Kenapa hematophobia ku tidak hilang-hilang?  Aku tidak memperhatikan jalan sampai aku tak sengaja menabrak seseorang.


"Ah maaf" (bee)


"Kau punya mata tidak sih?!" (Deandra)


"Maaf, aku tidak sengaja, aku bantu berdiri" (bee)


"Tak perlu sentuh aku" (deandra)


"Aku hanya berniat menolong kamu saja" (bee)


"Tak perlu, kau tidak tahu ya aku siapa?!" (Deandra)


"Memangnya siapa" (tanyaku polos)


"Kau tidak ingat, aku seniormu, namaku Deandra, kau adalah junior. Kau berani menabrakku" (deandra)


"Aku sungguh minta maaf, senior, aku tidak sengaja" (bee)


"Kau gadis yang menghina temanku bukan?" (Deandra)


"Siapa?" (Bee)


"Kau sungguh..., Kau menghina temanku dengan menyebutnya lebih buruk dari binatang" (deandra)


"Itulah faktanya" (bee)


"Itu artinya kau menghinaku juga" (deandra)


"Aku tidak menghinamu" (bee)


"Kau menghina temanku, itu artinya kau menghinaku juga, awas ya aku akan balas perbuatanmu nanti" (deandra)


"Yak!!!" (Bee)


"Ingat juga jalan tu pakai mata" (deandra)


"Jalan itu pakai kaki, kamu aja yang jalan pakai mata" (bee)


"Sungguh kamu!!!" (Deandra)


"Ah sudahlah, apa gunanya aku meladeni orang sepertimu" (bee)


"Awas kamu nanti!!!" (Deandra)


Aku tak peduli, dia seniorku. Dia adalah teman gadis buruk itu. Dia membuatku naik darah. Aku pergi menjauh darinya. Aku sempat melihat ke belakang. Aku melihat laki-laki itu, maksudku Deandra merangkul seorang gadis dan gadis itu adalah gadis yang  menghinaku kemarin. Merekahat bermesraan. Aku jadi ingat bukankah Deandra adalah pacarnya Jessi, tapi kenapa dia bersama gadis itu. Tadi, bukankah Jessi bilang mau bertemu Deandra, tapi Deandra bersama gadis itu. Ah sudahlah, aku harus mengambil jas lab ku. Aku mengambil jas lab di asrama kemudian bergegas lari ke ruang kuliah. Aku melihat jam tanganku, ternyata waktunya sudah lebih 5 menit dari kuliah. Aku mempercepat kecepatan lariku sampai aku berada di depan pintu ruangan. Aku mendengar dari luar sepertinya kelas sudah dimulai. Tapi mau tidak mau aku harus ke dalam, aku harus mengikuti kuliah pertamaku. Aku mengetuk dan membuka pintu.


"Maaf" (bee)


"Kau tahu jam berapakah ini?!" (Dosen)


"Maaf" (bee)


"Sekarang kau keluar saja dari ruangan ini, berdirilah di lapangan dan hormat pada bendera" (dosen)


"Tapi..." (Bee)


"Tidak ada tapi-tapian, kau masih mau kan maauk ke kelasku?" (Dosen)


"Iya, pak" (bee)


Aku melihat semua pandangan ke arahku. Aku juga melihat Boo melihatku. Aku kesal sekali. Kenapa dosennya galak sekali. Sepertinya aku tidak pernah mendapatkan guru yang baik, yang tidak galak. Ah sudahlah, kini aku harus berjalan ke lapangan utama. Malu sekali juga. Lapangan utama terletak di pusat kampus ini, semua ruangan mengelilingi lapangan utama. Pasti aku banyak dilihat oleh mahasiswa-mahasiswi yang lain. Aku memposisikan diriku hormat pada bendera. Aku terus berkata dalam hati. Kalau saja aku tidak menabrak laki-laki itu pasti aku tidak akan terlambat. Gara-gara dia aku harus dihukum seperti ini, aku harus menanggung malu karenanya.


Dua jam berlalu, semua sudah mulai keluar dari ruang kuliah. Keadaan mulai ramai, bahkan banyak yang menertawaiku. Tapi aku harus menunggu sampai dosen itu keluar dan memperbolehkanku istirahat. Keringat sudah menetes membasahi tubuhku dari tadi. Cuacanya sangat terik. Ditambah lagi aku belum sarapan pagi. Tubuhku sangat lemas. Aku melihat dari ruanganku, banuak mahasiswa-mahasiswi sudah mulai keluar. Aku melihat Boo keluar bersama Maureen. Kepalaku mulai terasa pusing, aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku, Pandanganku juga mulai kabur. Aku merasakan pusing yang tak bisa aku tahan lagi, sampai aku merasa seperti terbentur sesuatu, dan mataku terasa gelap.


"Ah, kepalaku" (bee)


"Kau tidak papa?" (Boo)


"Boo, bagaimana bisa kau disini, eh ini bukan lapangan" (bee)


"Kau pingsan" (boo)


"Hah?" (Bee)


"Dokter bilang, perutmu kosong sehingga tubuhmu tidak kuat" (boo)


"Aku memang belum sarapam tadi" (bee)


"Ya sudah, makanlah ini dulu" (boo)


"Makasih boo" (bee)


"Aku mengambil jas labku yang ketinggalan" (bee)


"Tapi Chany sudah sejak lama di ruang kelas" (boo)


"Aku tidak sengaja menabrak seseorang dan aku terlibat masalah dengannya" (bee)


"Lain kali hati-hati, jagalah juga pola makanmu, aku pergi dulu, Maureen sudah menungguku" (boo)


"Baiklah, terima kasih Boo" (bee)


Entahlah apa yang ada dipikirannya Boo. Dia terlihat murung. Dia pasti memandangku sebagai gadis yang tidak disiplin. Aku memakan habis makanan yang diberikan Boo.


"Beetariss, kau sudah baik-baik saja  sekarang?" (Luhan)


"Kau disini?" (Bee)


"Aku juga asisten dokter di uks" (luhan)


"Oh" (bee)


"Kau sudah makan, sekarang minumlah obatnya" (luhan)


"Baiklah" (bee)


"Ini minumlah" (luhan)


"Terima kasih" (bee)


"Sama-sama" (luhan tersenyum)


"Bagaimana kau bisa pingsan?" (Luhan)


"Aku dihukum karena aku terlambat, aku harus berdiri di lapangan selama kuliah masih berjalan" (bee)


"Kau seharusnya datang lebih awal" (luhan)


"Kau sendiri kenapa disini?" (Bee)


"Aku sudah bilang bukan, aku asisten dosen dan petugas uks sekaligus, jadi jika ada yang sakit aku akan dihubungi oleh dokter untuk membantunya" (luhan)


"Kau sangat baik" (bee)


"Tidak aku hanya menjalankan tugasku, kau sebaiknya kembali saja ke asrama, istirahat" (luhan)


"Apa tidak papa?" (Bee)


"Tidak apa, aku akan ajukan surat izin untukmu" (luhan)


"Terima kasih" (bee)


"Satu lagi, obat ini kamu bawa juga, diminum sebelum tidur" (luhan)


"Baiklah" (bee)


Aku berjalan kembali ke asramaku. Aku masih lemas sekali jadi ketika aku berjalan aku juga harus berpegangan sekitarku. Di asrama aku tiduran sambil memegang hpku. Hpku bergetar tanda ada yang menelfonku, aku pun mengangkatnya.


"Ayah" (bee)


"Bagaimana kuliahmu nak?" (Ayah bee)


"Baik yah" (bee)


"Suaramu seperti lemas" (ayah bee)


"Aku tidak apa ayah" (bee)


"Apa kau sakit?" (Ayah bee)


"Tidak ayah, hanya sedikit kurang enak badan" (bee)


"Kau harus jaga dirimu baik-baik, ayah tidak ada disana, jadi ayah tidak bisa merawatmu" (ayah bee)


"Tenang saja ayah, aku akan jaga diriku baik-baik" (bee)


"Nak, kalau ada apa-apa hubungi ayah ya" (ayah bee)


"Iya ayah" (bee)


"Baiklah, ayah tidak bisa lama-lama, ayah harus kembali bekerja" (ayah bee)


"Ya ayah" (bee)


Aku menutup telfon dari ayah. Aku meletakkan hpku di sampingku. Mengapa hari pertamaku sering banyak masalah? Dulu saat SMA aku mengalami masalah, sekarang aku harus menghadapi banyak masalah sekaligus entah itu masalah gadis pembuly itu, Deandra, hematophobia, ah sungguh aku kepalaku pusing memikirkan semuanya. Sebentar lagi aku pasti berurusan dengan Deandra gara-gara yang tadi.


"Beetariss, kamu sudah baik-baik saja" (maureen)


"Iya, aku sudah mendingan" (bee)


"Kenapa tidak katakan, kalau kau belum sarapan pagi?" (Maureen)


"Aku berniat mengatakannya, tapi aku tidak bisa menolak hukuman itu" (bee)


"Kamu harus jaga pola makanmu" (maureen)


"Iya, aku akan menjaga pola makanku mulai hari ini" (bee)


"Kamu sudah makan?" (Maureen)


"Sudah" (bee)


"Ehm, ini materi yang diberikan dosen tadi, dan ada pembagian kelompok" (maureen)


"Kelompok apa?" (Bee)


"Praktek anatomi" (maureen)


"Kenapa harus ada anatomi sih?" (Bee)


"Hihihi, kau lucu sekali sih, yang namanya jurusan kedokteran itu jelas ada anatomi, kau bagaimana sih" (maureen)


"Praktek apakah?" (Bee)


"Membedah binatang" (maureen)


"Ahh!" (Aku ketakutan)


"Kenapa?" (Maureen)


"Berarti akan ada darah ya?" (Bee)


"Jelas lah" (maureen)


"Kenapa kamu jadi pucat?" (Maureen)


"Aku-aku takut dengan darah" (bee)


"Bagaimana mungkin? Tapi kenapa kau masuk jurusan kedokteran jika kau phobia darah?" (Maureen)


"Aku, aku ingin menjadi seperti ibuku" (bee)


"Ibumu seorang dokter dulu ya?" (Maureen)


"Ya" (bee)


"Aku tidak tahu banyak tentang phobia darah, tapi kuncinya kau harus meyakinkan dirimu agar tidak takut" (maureen)


"Aku membayangkan saja aku sudah takut" (bee)


"Apa kau ada trauma?" (Maureen)


"Ya, setiap kali aku melihat darah aku teringat akan kecelakaanku" (bee)


"Mungkin kau harus terbiasa melihat darah" (maureen)


"Aku tidak ingin merepotkan orang lain nanti, jika aku pingsan" (bee)


"Apa separah itu?" (Maureen)


"Iya" (bee)


"Semoga phobiamu cepat hilang ya" (maureen)


"Makasih" (bee)


"Kau tidurlah saja, istirahat agar besok keadaanmu pulih" (maureen)


"Ya baiklah" (bee)


Aku berbaring untuk tidur. Maureen menyelimutiku dengan selimut yang ada. Aku senang masih ada yang perhatian padaku, dia seperti kakakku. Aku tertidur pulas dan terlupa kalau aku harus meminum obat sebelum tidur.


TBC


Bagaimana ceritanya?


Semakin rumit nih ceritanya


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


🙏🙏🙏