![Bee [Who Should I Choose?]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/bee--who-should-i-choose--.webp)
Aku sudah nggak sabar mau berangkat ke sekolah buat ketemu sama Boo. Ya di rumah aku bisa saja ketemu sama dia. Tapi aku nggak berani datang ke rumahnya. Aku buka pintu gerbang lalu berangkat. Tiba-tiba saja ada yang menarik tanganku.
“Yuk, berangkat bareng,” (nico)
“Bisa nggak sih nggak usah narik-narik tanganku, atau mau aku tonjok mukamu itu,” (bee)
“Iya, iya deh,”(boo)
Aku inget aku udah janji sama Boo nggak akan berkelahi lagi. Aku pun langsung turunin tanganku takutnya Boo lihat dari rumahnya. Karena jam segini Boo masih belum berangkat, dia berangkat diantar sopirnya. Aku sama Nico berangkat pakai bus umum.
“Kamu masuk duluan aja,” (bee)
“Kau mau ngapain di sini?” (nico)
“Aku mau, mau nungguin temen sebangkuku Naya, udah janjian tadi,” (bee)
“Oke,” (nico)
Di sekolah aku sengaja nyuruh Nico buat masuk duluan. Tujuan sebenarnya aku pengen ketemu sama Boo. Aku nggak sabar mau berduaan lagi sama dia. Alasan aku nungguin Naya itu agar Nico nggak curiga dan nggak meledek aku lagi.
Aku ngeliat Boo turun dari mobilnya dengan jaket yang dia kenakan di tubuhnya yang kekar itu. Aku hampiri Boo.
“Hai, Boo,” (bee)
“Hai Bee,” (boo)
“Ke kelas bareng ya,” (bee)
“Iya, ehhmm... kamu udah belajarkan buat ulangan?” (boo)
“Udah tapi nggak tahu masuk atau nggak materi yang aku baca semalam,” (bee)
“Kuncinya kalo kamu ngerjain, perhatikan aja soalnya apa yang diketahui, kemudian cocokkan aja sama rumus yang mana. Lalu hitung beserta dengan satuannya,” (boo)
“Beneran gitu caranya?” (bee)
“Iya aku selama ini juga gitu kok, jangan langsung dijawab sebelum tahu apa yang diketahui,” (boo)
“Makasih Boo,” (bee)
“Sama-sama Bee,” (boo)
“Udah sejak lama ya setelah aku manggil lo Boo?” (bee)
“Ya sudah sejak TK dulu,” (boo)
“Entahlah aku suka aja nama itu, lucu aja sih. Tapi sebenarnya itu aku ambil dari nama bonekaku BooBoo,”(bee)
“Boneka?” (boo)
“Ya boneka itu, boneka yang diberikan ibuku waktu kecil dan aku beri nama BooBoo,” (bee)
“Aku panggil kamu Bee, juga karna aku rasa nama Bee itu indah dan cocok buat kamu yang suka teriak-teriak ga jelas di pagi hari kaya lebah aja yang suka gangguin orang waktu kecil dulu,” (boo)
“Aahhh.... Makasih Boo tapi baru kali ini aku dengar kamu terus terang, walaupun begitu aku tetap senang karena berarti kamu suka merhatiin aku dari rumah kamu,” (bee)
“Makasih juga Bee, maaf kalo aku banyak bicara dan aku nggak merhatiin kamu kok, cuma sering denger aja dari dalam rumah,” (boo)
"Ya kalik, kamu nggak boleh bicara kaya gitu, ga papa lah, santai aja," (bee)
Aku inget tadi aku bilang ke Nico, aku nungguin Naya. Kalo aku datang ke kelas bareng sama Boo pasti aku diledek lagi sama Nico. Aku cari alasan aja biar aku nggak ke kelas dulu.
“Boo kamu duluan aja ke kelas, aku mau ke toilet” (bee)
“Oke” (boo)
Aku pun nungguin Naya. Untung saja tidak lama aku nungguin dia, dia udah dateng.
“Naya,” (bee)
“Oh hai Bell, kamu nungguin aku?” (Naya)
“Iya,” (bee)
“Buat apa kita kan satu bangku, masih bisa ketemu di kelas,” (naya)
“Ya Cuma pengen bareng aja sama kamu," (bee)
“Ya udah ayo ke kelas,” (naya)
“Naya, kamu udah belajar buat ulangan?” (bee
“mungkin, aku Cuma pelajari soal-soal kamarin yang diberikan aja, kamunya sendiri gimana?” (naya)
“Udah juga, tapi nggak tahu sih, aku kan suka lupa sama apa yang aku baca,” (bee)
“Semangat ya, semoga berhasil,” (naya)
“Semoga berhasil juga, Naya,” (bee)
Aku sama Naya masuk ke kelas dan duduk. Aku liat Boo udah siap dengan buku-bukunya di atas meja. Dia terlihat sangat tenang. Aku Cuma bisa mempoutkan bibirku, aku sadar dia jauh di atasku. Aku lewat bangkunya dia dan duduk dibangkuku.
“Wah, aku kira kamu bohong sama aku tadi?” (nico)
“Nggak lah, aku udah bilang kan kalo aku nungguin Naya” (bee)
“Oke” (nico)
Aku liat Boo melirik ke arahku. Aku nggak sadar aku bilang itu padahal tadi aku sama Boo. Aku salah tingkah saat ini. Mata nya yang tajam melirik ke arahku beneran berhasil buat gue menelan ludah gue sendiri. Aku takut lihat tatapannya yang liar seperti itu. Tapi aku nggak mau terlihat ketakutan, aku pun mengalihkan pembicaraan.
“Naya, kamu bisa ajarin aku soal yang ini tidak?” (bee)
Aku tanya ke Naya walau sebenarnya aku masih inget cara ngerjain soal itu. Gue Cuma nggak mau Boo lihat salah tingkahku di depannya.
“Oh, ini gampang, Cuma pakai rumus yang GLB,” (naya)
“Oh gitu ya, makasih,” (bee)
Guru pun datang, aku dan teman sekelas pun ngucapin selamat pagi. Bu Shaffa, ya itu namanya dan dia itu wali kelas kelas ku. Dari wajahnya aja udah keliatan garangnya. Dia membagikan lembaran-lembaran kertas buat ulangan hari ini. Aku melototkan mataku ngeliat soal nya. Aku lihat soalnya banyak banget. Aku kira soalnya kaya kemarin ternyata ini soal pilihan ganda tapi banyak banget sampai 2 lembar kertas soalnya.
“Naya, aku kira soalnya bakalan kaya yang kemarin,” (bee)
“Aku kira juga iya, aku nggak sempet belajar bagian-bagian yang seperti ini,” (naya)
“Apalagi aku Naya, huh... matilah aku,” (bee)
Aku cuman bisa gigit bibirku sendiri. Rasanya pengen nangis. Aku lihat sekeliling juga pada heboh betapa sulitnya soal yang diujikan. Tapi Boo dia kelihatan tenang saja, bahkan dia sudah mulai mengerjakan. Ah apa aku bisa ngerjain soalnya. Aku bingung mau jawab apa. Aku memang masih inget rumus-rumusnya. Tapi aku nggak bisa cara memulai menghitungnya. Aku inget kata-kata Boo. Aku harus perhatikan soalnya, apa saja yang diketahui, cocokkan dengan rumusnya. Hitung beserta satuannya. Dengan kata-kata Boo ini aku berhasil menentukan jawaban soal pertama. Aku seneng banget baru kali ini aku ngerjain soal yang sulit tapi aku bisa menjawabnya. Aku lanjut ngerjain soalnya.
Waktu terus berjalan, ada beberapa soal yang masih belum bisa aku pecahkan. Soal yang belum aku jawab itu soal dimana terdapat soal angka penting. Aku paling nggak bisa soal itu. Waktu mengerjakan pun habis. Aku belum sempat ngerjain soal-soal yang belum bisa aku pecahkan. Tapi setidaknya mungkin aku nggak bakal dihukum karna sudah lebih dari setengahnya yang aku jawab. Guru memberikan tugas lagi tapi untuk dikerjakan di rumah.
“Eh, kamu bisa jawab nggak soal yang nomor 1,” (naya)
“ya bisa dong,” (bee)
“gimana caranya?” (naya)
“kamj perhatikan aja apa yang diketahui di soalnya lalu hitung dicocokkan sama satuan akhirnya,” (bee)
“Eh kamu dapet cara darimana ngerjain soal seperti itu?” (naya)
“Ehmm, ya kemarin aku lihat aja artikel kaya gitu,” (bee)
“Artikel apa judulnya?”(naya)
Naya percaya aja sama apa yang aku omongin ke dia. Tapi aku bingung mau jawab artikel apa. Aku kan nggak pernah baca-baca artikel. Aku cari alasan aja.
“Apa ya, aku lupa tapi yang jelas ada di artikel itu,” (bee)
“Oh, nanti coba aku cari,” (naya)
Aku bingung gimana kalo ternyata nggak ada di artikel. Apa yang harus aku jawab. Semoga saja ada. Aku keluar kelas, aku pergi ke lantai atas. Aku memang suka di lantai atas karna udaranya yang sejuk dan pemandangannya yang indah. Sampai aku hampir saja terjatuh, untung saja ada yang nolongin aku. Aku terkejut siapa yang nolongin aku. Aku merasa seperti sedang bermimpi. Denyut jantungku berdetak sangat kencang.
“Boo...” (bee)
“Lain kali hati-hati,” (Boo)
“Iya, makasih Boo,” (bee)
“Kamu ngapain di sini?” (boo)
“Aku pengen menyendiri aja sejenak, di sini kan tempatnya sepi jadi aku bisa beristirahat sejenak,” (bee)
“Bee, kamu bilang tadi saat berangkat sekolah kamu nungguin Naya tapi kamu kok nemuin aku?” (boo)
Aku nggak nyangka dia memikirkan apa kata aku tadi. Ya aku tahu dia memang jenius jadi hal seperti itu pasti dia tanyakan. Sekarang aku bingung mau jawab apa, aku juga gugup banget.
“Ya tadi memang aku nungguin Naya, tapi aku lihat kamu ada di sana, ya aku hampiri aja kamu sambil tanya-tanya tips lo buat ngejawab soal-soal yang menurut kamu sulit, tapi hampir sampai kelas aku baru inget kalo aku itu nungguin Naya,” (bee)
“Oh,” (boo)
Boo percaya aja sama aku. Aku tahu saat ini pasti telinga aku sekarang merah. Ya ketika aku bohong pasti telinga aku berubah jadi merah. Aku mencoba menyembunyikannya dengan rambut.
“Gimana tadi ulangannya?” (boo)
“Ehmm lumayan,” (bee)
“Yang sulit bagian apa?”(boo)
“Hmm mungkin yang notasi ilmiah, aku paling nggak bisa,” (bee)
“Oke, ini baca catatanku. Di sini ada penjelasan cara mengerjakannya,” (boo)
“Ya baiklah,” (bee)
Aku nggak nyangka dia orangnya bisa juga peduli sama orang lain. Padahal biasanya dia cuek. Tapi aku suka sikapnya yang seperti ini. Dia hangat jika sedang tersenyum seperti itu. Sampai akhirnya aku ngebayangin sesuatu. Aku sedang bersama dengan Boo dan ada seseorang yang mau mukul Boo. Aku sontak ambil posisi tangan seperti mau mukul seseorang. Aku pun sadar itu Cuma bayangan gue. Aku terkejut Boo kesakitan dan pipinya merah. Apa yang aku lakukan.
“Maaf Boo aku nggak sengaja,” (bee)
“Kamu mikirin apasih?” (boo)
“Aku cuman ngebayangin sesuatu dan ada orang jahat jadi aku bermaksud mukul dia,” (bee)
“Oh jadi kamu mau ngingkari janjimu padaku,” (boo)
“bukan, maksudku bukan begitu, demi kebaikan aku bakal nglakuin itu. Aku janji deh sama kamu aku nggak akan nglakuin itu,” (bee)
“Kenapa kamu mau berjanji sama aku?” (boo)
“Karena aku pengen deket sama kamu, aku suka sama kamu,” (aku nggak sadar apa yang aku omongin)
“Apa?” (boo)
“jangan salah paham maksudku, aku pengen Jeket sama kamu sebagai teman dan aku itu suka temen seperti kamu begitu,” (bee)
“Oh,” (boo)
Bel berbunyi aku dan Boo masuk ke kelas. Aku masih mikirin apa yang aku katakan tadi. Bisa-bisanya aku bilang kaya gitu sama Boo. Bahkan reaksinya saja seperti itu. Sudah tentu kalau aku tidak mengelak pasti dia nggak bakal nerima aku bahkan bisa ngejauh dariku. Aku tersenyum dan ketawa sendiri memikirkan hal itu. Semua pandangan tertuju padaku. Aku nggak sadar saat ini sedang jam pelajaran malah aku ketawa sendiri. Aku ambil buku dan aku sembunyiin wajahku dengan buku itu. Aku malu banget untung gurunya baik jadi dia nggak ngehukum aku.
Malam harinya aku ngerjain tugas yang diberikan guru. Tugas itu kebanyakan soal notasi ilmiah. Aku pusing mikirin tugas itu. Untung saja tadi aku ketemu sama Boo dan dijelasin materi soal notasi ilmiah kalo tidak aku nggak bisa ngerjain apa-apa sekarang. Aku pun selesai ngerjain tugas. Aku mulai ambil buku diaryku.
Hari ini bagi aku hari yang berkesan, aku bisa punya momen yang manis dengan Boo. Aku tulis momen itu di buku diary aku. Aku harap setiap hari aku bisa punya momen-momen yang indah seperti itu sama Boo. Gue nulis:
_______________________________________
Dear Boo ♡
Hari ini secara tidak langsung aku ungkapin perasaanku ke kamu
Tapi kamu bereaksi
seperti itu
Apa kamu nggak ngerasain hal yang sama sama aku?
Walaupun begitu aku seneng
Berarti aku memang beruntung
Aku masih diberi waktu bersama sama kamu
Bahkan kamu nolong aku saat hampir jatuh tadi
Kalo aja nggak ada kamu, aku nggak tahu gimana hidupku setelah itu
Kamu juga ngebantu aku cara jawab soal sulit itu
Aku pengen bisa lebih deket sama kamu
Walau akhirnya nanti aku nggak bisa bersama kamu seenggaknya aku pernah deket sama kamu
ILY Boo♥
Bee
Setelah itu aku menutup semua buku yang ada di depanku, Buku pelajaran dan buku diary. Aku masukkan alat-alat tulis ke ransel dan buku-bukunya aku masukkan ke laci bersama buku diary.
TBC
Bagaimana kelanjutannya?
Kira-kira bagaimana perasaan Boo terhadap Bee?
Apa Boo juga suka pada Bee?
Ikuti terus kelanjutannya ya:)
Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍
Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v
🙏🙏🙏