![Bee [Who Should I Choose?]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/bee--who-should-i-choose--.webp)
Hari ini aku meyakinkan diriku, aku harus bisa. Aku tidak akan mengecewakan Boo. Aku melihat Boo berangkat dengan mobilnya. Aku berangkat pun diantar ayah. Aku berangkat tepat setelah mobil boo keluar dari garasi rumahnya, jadi aku dan ayah posisinya dibelakang boo. Lampu merah pun menyala. Mobil Boo ada di sampingku sekarang. Aku bisa melihat Boo dari jendela mobilnya. Kemudian Boo membuka jendela mobilnya.
"Semangat Bee, kau pasti bisa" (boo)
"Semangat juga untukmu, aku akan berusaha" (bee)
Lampu hijau menyala menandakan harus berjalan kembali. Sepanjang jalan aku hanya bisa berdoa semoga aku lolos agar aku bisa kuliah bersama Boo. Tapi aku bingung kenapa tidak ada senyum yang terukir di wajah Boo. Ada masalah apa sebenarnya? Apa Boo tidak percaya padaku? Aku harus berusaha semaksimal mungkin. Jika memang akhirnya aku gagal, mungkin memang ini takdirku. Aku mungkin tidak ditakdirkan bersama Boo. Aku harap itu tidak terjadi.
"Halo Beetariss, kau pasti sudah belajar kan?" (Naya)
"aku sudah belajar, tetapi sepertinya aku tidak akan bisa" (bee)
"kenapa?" (Naya)
"kau tahu kan betapa bodohnya aku?" (bee)
"jangan berpikir negatif seperti itu, kamu harus optimis bahwa kamu bisa" (Naya)
"terimakasih Naya" (bee)
Aku masih ingat dengan jelas, wajah Boo tadi. Dia seperti tidak memiliki semangat. Sepertinya dia tidak mempercayaiku. Aku menjadi putus harapan. Entahlah semangatku jadi berkurang. Bagiku Boo adalah penyemangat ku.
Aku masuk ke ruang ujianku. Aku tidak satu ruang bersama Boo. Boo berada di ruang sebelah. Aku melihat semua antusias dengan ujiannya. Aku pun mulai membuka lembaran kertas ujiannya. Soal pertama aku sudah tidak bisa mengerjakannya. Aku mengerjakan soal selanjutnya, tapi tetap rasanya sangat sulit. Apa aku akan kehilangan kesempatan emas ini? Boo maafkan aku, sepertinya kau benar, aku tidak akan pernah bisa kuliah bersamamu. Aku menenangkan pikiranku, aku mencoba mengerjakannya sampai waktu hampir habis. Hanya beberapa soal saja yang bisa aku jawab, bahkan tidak ada separuhnya. Ku rasa aku akan gagal. Aku mengumpulkan jawabanku dengan tangan gemetaran. Aku sungguh takut. Aku keluar ruangan pun menundukkan kepalaku. Aku sedih, kesempatan emas ini terbuang sia-sia.
"Bee, bagaimana ujiannya?" (Celin)
"sepertinya aku akan gagal" (aku sedih)
"sudahlah, kalaupun kamu gagal, kamu masih punya waktu bersama Boo walau sebentar saja" (Celin)
"padahal aku sangat ingin" (bee)
"coba tanyakan pada Boo, bagaimana ujiannya" (Celin)
"aku takut untuk menemuinya, Boo pasti sangat kecewa padaku" (bee)
"cobalah temui dia dulu" (Celin)
"baiklah" (bee)
"Boo, bagaimana ujiannya?" (bee)
"soalnya cukup mudah sih" (boo)
Aku merasa sangat sedih setelah mendengar jawaban dari Boo. Tentu saja dia pasti lolos. Aku menundukkan kepalaku dan aku mulai menangis.
"Bee, kenapa menangis?" (boo)
"aku gagal Boo, aku gagal" (bee)
"sudahlah jangan menangis" (boo)
"tapi kamu pasti kecewa sama aku, aku tidak bisa kuliah bersamamu" (bee)
"itu tidak benar, kita masih bisa bersama" (boo)
"maksudmu?" (bee)
"aku menggagalkan ujianku" (boo)
"bagaimana bisa kau melakukan itu" (bee)
"aku sudah berpikir matang-matang, kalau aku tidak ingin kuliah di Amerika, walau ku ingin bertemu ibuku" (boo)
"kenapa kau lakukan itu?" (bee)
"aku tidak ingin meninggalkan kota ini, walau nanti ayahku pasti marah, mungkin setidaknya aku bisa kuliah disini" (boo)
"Boo..." (bee)
"aku juga gagal jadi kamu jangan sedih, lihatlah aku tersenyum sekarang" (boo)
"jadi kau terlihat tidak bahagia karena ini, kau mengisyaratkan ini semua?" (bee)
"ya, ini adalah pertama kalinya aku gagal ujian, tapi untuk selanjutnya aku tidak akan gagal lagi, mungkin ini menjadi pelajaran bagiku, kegagalan akan memotivasi setiap orang yang gagal untuk menjadi lebih baik lagi" (boo)
"jadi kita masih bisa kuliah bersama?" (bee)
"ya, aku akan mencoba mendaftar di UTKK" (Boo)
"ah itu juga sulit bagiku," (bee)
"aku akan membantumu, aku akan menjadi gurumu yang akan mengajarimu" (boo)
"benarkah?" (aku tersenyum)
"ya, tapi kenapa kamu tidak memilih jurusan olahraga, kamu kan suka olahraga" (boo juga tersenyum)
"aku telah melihat ketulusan seorang dokter, aku juga melihat ketulusan saat kamu mengobatiku saat dirumah sakit, terima kasih Boo" (bee)
"terima kasih juga Bee" (boo)
"untuk apa?" (bee)
"bukan apa-apa" (boo)
Aku menyeka air mataku. Kini aku sangat bahagia. Boo tidak akan meninggalkanku. Aku janji aku tidak akan lagi mengecewakanmu, aku akan belajar keras supaya aku bisa bersamamu lagi. Wajah Boo juga terlihat bahagia, walau aku tahu dia juga cemas.
"ini semua berarti untukku" (bee)
"kenapa?" (boo)
"kegagalan tidak selamanya buruk, gagal ku telah memotivasi aku untuk bisa lebih keras lagi belajarnya" (bee)
"ya, kegagalan kali ini telah berbuah manis untuk kita berdua" (boo)
"aku janji aku tidak akan mengecewakanmu, aku pasti bisa" (bee)
"ya Bee" (boo)
Aku kembali ke kelas dengan penuh semangat. Sungguh bahagianya aku. Mungkin aku orang yang paling bahagia, ketika melihat kegagalanku dan Boo.
"wah, kamu udah bahagia sekarang, apa yang terjadi?" (Celin)
"aku masih punya harapan bersama Boo" (bee)
"sudah kubilang, kalau kamu optimis kamu pasti bisa" (Naya)
"masalahnya bukan itu, aku gagal dalam ujian" (bee)
"gagal?" (Naya)
"ya, Boo sengaja menggagalkan ujiannya, dia tidak ingin pergi" (bee)
"apa itu karnamu?" (Celin)
"tidak, dia tidak ingin meninggalkan kota ini" (bee)
"ya udah ayo ke kantin, kita rayakan kebahagiaan Beetariss" (Naya)
"ayo, aku yang traktir deh" (bee)
"makasih, sahabatku yang baik" (Celin mencubit pipiku)
Kami bertiga pergi ke kantin dengan berangkulan satu sama lain. Aku pergi memesan makanan, Naya dan Celin duduk di bangku kantin.
"Ini dia makanannya sudah siap" (bee)
"wow, kau tahu makanan kesukaanku" (Naya)
"benarkah ini makanan kesukaanmu?" (bee)
"iya" (Naya)
"aku juga suka" (Celin)
"berarti kita punya kesamaan dalam hal makanan, hahaha" (aku tertawa)
"Ayo mulai makan, aku sudah tidak sabar" (Naya)
"iya apalagi gratis, hihihi" (Celin)
"tidak papa lah, sekali-kali, aku juga sedang bahagia" (bee)
"terima kasih" (Naya dan Celin mencubit pipiku yang tembam)
Disela-sela kebahagianku bersama Naya dan Celin, aku melihat Boo seorang diri di dekat kantin. Wajahnya seperti sedang sedih.
"teman-teman aku kesana dulu ya" (bee)
"pergilah" (Naya)
"sana, dan jangan tinggalkan dia" (Celin)
"Boo, kamu kenapa sedih?" (bee)
"Aku ingat aja sama ibuku" (boo)
"aku tahu ayahku itu bohong, ibu pergi bukan karna menjadi dosen" (boo)
"lalu?" (bee)
"dulu aku sempat melihat mereka bertengkar, bahkan kepala ibuku sampai berdarah, ibuku lalu pergi dengan kopernya, aku sempat ingin mengejarnya tetapi ayah menghentikan ku" (boo)
"apa kau tidak mencoba bertanya pada ayahmu?" (bee)
"dia akan marah setiap kali aku bertanya tentang ibuku, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya" (boo)
"aku yakin ibumu pasti selalu memikirkan mu" (bee)
"kenapa kau berpikir seperti itu, sedangkan ibuku tak pernah mencoba menghubungiku" (boo)
"naluri seorang ibu akan selalu pada anaknya, dimana pun dia berada ibuku pernah bilang seperti itu" (bee)
"kalau itu benar aku akan sangat senang, aku ingin sekali bertemu ibuku" (boo)
"kalau begitu kenapa kau menggagalkan ujianmu, padahal itu cara agar kamu bisa bertemu ibumu" (bee)
"kemarin ayahku berkata padaku, dia tidak jadi menyerahkan ku pada ibuku tapi ayah ingin aku tetap di Amerika, dia bilang ibuku itu jahat, aku tidak mengerti, " (boo)
"mungkin ibumu punya alasan pergi meninggalkan mu" (bee),
"aku juga tidak tahu" (boo)
"jangan sedih lagi, kau tampak jelek ketika kau sedih" (aku berusaha menghibur boo)
"kau ini...." (boo tersenyum)
"nah kalau begitu kan tampan" (bee)
"kau mengakui kalau aku tampan?" (boo)
"tidak aku bohong" (bee)
"hhhh...." (boo cemberut)
"iya, kamu memang sangat tampan" (aku berbisik di telinga boo lalu pergi ke bangkuku)
Aku melihat Boo sekarang tersenyum. Aku pun sangat bahagia. Dari dulu aku tak pernah bilang pada Boo kalau dia itu tampan, aku terlalu malu mengatakannya. Tapi sekarang aku berhasil mengatakannya. Hanya satu hal yang belum bisa aku katakan padanya.
"kau semakin dekat saja ya sama Boo" (Celin)
"aku ingin dia tetap tersenyum" (bee)
"bagaimana kalau Boo juga suka padamu?" (Naya)
"itu tidak mungkin, di hati Boo ada gadis lain" (bee)
"siapa dia?" (Celin)
"ah sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi" (aku sedih)
"kamu cemburu nih sama dia, berarti memang cintamu itu sangat lah besar pada Boo" (Naya)
"entahlah" (bee)
"Boo sangat beruntung bisa dicintai oleh Beetariss yang selalu setia" (Celin)
"kalian lebih beruntung daripada aku" (Bee)
"ah" (Celin dan Naya)
_____________________________________________
Bintang
Terima kasih kau tidak jadi meninggalkan bulan
Bulan sangat bahagia
Bulan janji, bulan akan bersama bintang
Bulan harap bintang selalu tersenyum
Bulan tidak ingin melihat kesedihan dimata bintang
Bintang sangat indah ketika dia tersenyum
Terlihat lebih terang ketika tersenyum
Apa bulan dan bintang bisa bersatu?
ku harap begitu...
Ini adalah kegagalan berbuah manis
_____________________________________________
Aku menulis diary bersamaan aku melihat bulan dan bintang di langit. Bulan sabit dan bintang-bintang kecil sangat mewarnai langit malam dan juga hatiku.
"Bintang sinarmu selalu ada baik siang maupun malam, sedangkan bulan?" (bee)
"walaupun begitu bulan selalu ada, bahkan ketika ia tidak bersinar, kau tahu kan bulan mendapat sinarnya dari siapa" (boo tiba-tiba datang)
"matahari" (bee)
"ya matahari adalah bagian dari bintang, dia bintang yang paling terang dari segala bintang, itu artinya mereka saling menguntungkan satu sama lain, tanpa matahari bulan tidak akan bersinar dan tanpa bulan bintang akan sendirian" (boo)
"ya kau benar, mereka tampak lebih indah ketika mereka bersama" (bee)
"buku apa yang ada ditanganmu itu?" (boo)
"ah bukan apa-apa" (aku menyembunyikan buku diary ku dan aku tidak sadar fotoku bersama Boo terjatuh)
"kau masih menyimpan foto ini ya" (boo)
"tentu saja, apa kau juga menyimpannya?" (bee)
"ya" (boo)
Aku terkesima melihat senyuman di wajah Boo ketika melihat foto itu. Aku teringat masa-masa kecilku bersama Boo.
"kaulah bintang paling bersinar" (aku tidak sadar mengatakannya)
"apa?" (boo)
"ah... tidak tidak maksudku matahari bintang paling bersinar" (aku gugup)
"kau ini sangat lucu, tidak pernah berubah, bahkan dulu ibuku memanggilmu bunny karna tingkah lucumu yang mirip kelinci" (boo)
"aku harap kau jangan pernah membenci ibumu, aku yakin ibumu saat ini sedang merindukanmu, kau masih beruntung daripada aku" (bee)
"aku akan ingat kata-katamu Bee, kita punya nasib yang sama, belum sempat merasakan kehangatan sosok ibu di masa-masa remaja ini" (boo)
"apa kau tidak dimarahi oleh ayahmu?" (bee)
"tidak, entah suasana hati ayahku yang sedang baik atau karena apa, ayahku mendukung keputusanku, ayah tidak ingin jauh dariku" (boo)
"syukurlah kalau begitu, jadi kau sungguh tidak menyesal menggagalkannya?" (bee)
"kenapa kau bertanya itu terus, aku yang gagal kau yang bingung" (boo)
"aku hanya ingin tahu isi hatimu" (bee)
"baiklah isi hatiku, aku tidak ingin meninggalkan sahabat mungilku ini" (boo mengelus kepalaku)
"eh... aku juga Boo, jangan sedih lagi ya" (bee)
"iya, selama ada kamu yang menghiburku aku akan sangat bahagia" (boo)
"kau sahabat terbaikku, Boo" (bee)
"kau juga Bee" (boo)
TBC
Bagaimana ceritanya?
Kira-kira Boo suka tidak ya sama Bee?
Apa benar itu isi hatinya Boo?
Apa hal yang belum bisa Bee katakan pada Boo?
Ikuti terus ya:)
Jangan lupa like, rate, vote dan comment๐
Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v
๐๐๐