Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Hematophobia 2



Aku berjalan keluar dari ruangan dokter dengan kepala tertunduk. Sebelumnya aku sama sekali tidak takut dengan darah tapi sekarang aku harus menerima bahwa aku mengalami phobia darah. Kecelakaan yang kualami telah membuatku trauma. Mungkin aku juga akan merepotkan orang lain nanti. Tiba-tiba saja ada yang menabrakku sampai aku terjatuh.


"Maaf nak, saya tidak sengaja, saya sedang buru-buru, apa kau terluka?"


"ah iya saya tidak papa" (bee)


"kalau begitu saya pamit, saya harus pergi"


Orang itu kemudian lari masuk ke ruangan dokter. Semula aku tidak merasakan sakit tapi setelah aku mau berdiri, tiba-tiba kakiku terasa sakit, sepertinya kakiku terkilir.


"Bee kamu disini?" (boo)


"Boo" (bee)


"Kenapa kamu duduk disitu?" (boo)


"tadi aku terjatuh" (bee)


"aku bantuin kamu berdiri" (boo)


Boo membantuku berdiri dan duduk di bangku.


"boo, kamu kok disini?" (bee)


"aku sedang menjenguk temanku" (boo)


"siapa?" (bee)


"teman kecilku, dia mengalami kecelakaan" (boo)


"oh begitu" (bee)


"kamu sendiri kenapa disini?" (boo)


"aku memeriksakan kondisiku" (bee)


"apa ingatanmu sudah mulai pulih?" (boo)


"sejauh ini sih hanya beberapa saja yang kuingat" (bee)


"semoga cepat pulih ya, ah kakimu terluka" (boo)


"aku tidak apa-apa kok" (bee)


"ayo masuk dulu, biar diobati oleh suster" (boo)


Aku tidak mau melihat kakiku yang luka, aku takut kalau aku akan pingsan lagi. Boo memanggil suster untuk membawakan obat merah dan plester. Boo kemudian mengobatiku.


"Terima kasih Boo" (bee)


"apa sudah bisa berjalan?" (boo membantuku berdiri)


Aku mencoba berjalan tapi kakiku masih sakit. Kakiku bukan hanya terluka tetapi juga terkilir. Hampir saja jatuh untung Boo menolongku.


"kau tidak papa?" (boo)


"ah sepertinya kakiku terkilir" (bee)


"aku akan membantumu" (boo)


Boo membungkuk dan mulai memijat kakiku, aku kesakitan sampai tak sadar tanganku memegangi bahunya Boo. Boo menyadari bahwa tanganku ada di bahunya, lalu aku langsung melepas tanganku.


AHHHH!!!


"sudah, coba gerakkan" (boo)


"ah sudah tidak sakit, makasih Boo, kau baik sekali, kenapa kau terus menolongku?" (bee)


"kau kan sahabatku, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri" (boo)


"terima kasih Boo, ya sudah aku akan pulang" (bee)


"hati-hati" (boo)


Aku pulang dengan naik bus. Aku melihat kakiku. Aku teringat saat aku memegang bahunya Boo, rasanya aku semakin dekat dengannya.


"ayah aku pulang" (Bee)


"Hohoho, kau sudah pulang" (ayah bee)


"tadi aku sudah cek ke dokter, dan kata dokter keadaanku mulai membaik" (bee)


"syukurlah kalau begitu" (ayah bee)


"ada satu hal yang ingin aku katakan pada ayah" (bee)


"ada apa nak wajahmu terlihat murung" (ayah bee)


"ehm.. tidak jadi yah" (bee)


"ada apa sayang?" (ayah bee)


Aku tidak mau ayah sedih mendengar semuanya. Aku pun mengalihkan pembicaraanku untuk mengalihkan perhatian ayah.


"ayah tadi ujianku berhasil" (bee)


"benarkah?" (ayah bee)


"ya itu semua berkat Boo yang membantuku" (ayah bee)


"dia sungguh baik, nanti kita datang ke rumah Boo membawa bingkisan sebagai ucapan terima kasih" (ayah bee)


"ha?" (bee)


"ya, hanya terima kasih saja kan tidak cukup, kau bawakan sesuatu untuknya" (ayah bee)


"tapi Boo sedang tidak di rumah" (bee)


"dimana dia?" (ayah bee)


"dia sedang di rumah sakit menjenguk temannya" (bee)


"nak kakimu kenapa?" (ayah bee)


"tadi cuma jatuh" (bee)


"lain kali hati-hati, selalu perhatikan jalan, ayah tidak mau kamu kenapa-napa lagi, ayah hanya punya kamu saja" (ayah bee)


"iya ayah aku akan hati-hati, ya sudah ayah aku akan belajar lagi untuk besok" (bee)


"sana, sana belajar yang giat ya" (ayah bee)


"pasti ayah" (bee)


Aku masuk ke kamarku dan aku berbaring di kasur. Aku mencoba melupakan semua masalahku tapi tidak bisa, aku tidak bisa fokus belajar. Ujian praktek besok adalah olahraga. Semoga saja kakiku besok sudah tidak papa. Aku menyentuh kakiku. Aku teringat saat Boo mengobatiku tadi. Boo sangat rapi memasangkan plesternya seperti seorang dokter.


"Nak bantu ayah sebentar" (ayah bee)


"ah iya ayah" (bee)


"bantu ayah potong ayam dulu ya untuk makan malam" (ayah bee)


"ha???" (aku kaget)


"tapi aku harus belajar" (aku mencari alasan)


"apa kamu tidak kasihan pada ayah" (ayah bee)


"bukan begitu yah, ehmm..." (bee)


"sudah ini pisaunya" (ayah bee)


Aku memegang pisau dengan gemetaran. Bagaimana jika aku pingsan? Aku takut ayah khawatir nanti. Aku juga merasa mual walau samasekali belum keluar darahnya. Aku merasa semakin mual melihat darah mulai menetes. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Ayah hanya menatapku heran.


"Nak kamu tidak papa?" (ayah bee)


"ya ayah aku hanya mual saja" (bee)


"apa kau sakit?" (ayah bee)


"tidak ayah, sebenarnya aku phobia darah setelah kecelakaan" (bee)


"apa?" (ayah kaget)


"ya ayah setiap kali aku melihat darah aku jadi ketakutan, aku teringat akan kecelakaan ku, sepertinya benar yang aku lihat" (bee)


"maafkan ayah ya ayah tidak tahu" (ayah bee)


"tidak ayah, ayah tidak perlu minta maaf" (bee)


"ya sudah kamu kembali belajar saja" (ayah bee)


"tapi ayah..." (bee)


"tidak papa sayang, ayah tidak mau kamu kamu kenapa-napa" (ayah bee)


Aku kembali ke kamarku dengan rasa sedih. Kini ayah pun tahu apa yang terjadi padaku. Dia tampak sedih dan khawatir padaku.


TOK!! TOK!! TOK!!


"Kau? Malam-malam seperti ini bisa-bisanya kau mengetuk jendela kamarku" (bee)


"aku bosen di rumah, main yuk" (Nico)


"apa kau lupa besok masih ada ujian praktek?" (bee)


"aku tahu itu, tapi besok kan jadwalnya olahraga, jadi tidak perlulah belajar" (Nico)


"aku nggak mau keluar, aku mau belajar" (bee)


"kamu kan pandai olahraga, kenapa perlu belajar?" (Nico)


"pokoknya aku tidak mau keluar, sekarang keluar sana!!!" (bee)


Aku menutup jendela kamarku. Nico terus saja menggangguku entah di sekolah atau di rumah. Aku juga masih tidak paham dengannya, sikapnya sering berubah-ubah. Kadang baik, kadang gangguin aja, tapi kadang marah-marah juga. Apalagi tadi, dia sampai hampir berantem sama Boo. Satu notif muncul di layar Hpku.


[19.04] Boo: Apa kakimu sudah baikan?


[19.04] Bee: Sudah Boo, mksih ya๐Ÿ™


[19.04] Boo: sama2 ๐Ÿ˜˜


[19.04] Boo: maaf salah emoticon ๐Ÿ˜


[19.05] Bee: hahaha ๐Ÿ˜‚


[19.05] Boo: Bee bisa ajarin aku bela diri?


[19.06] Bee: Sekarang???


[19.06] Boo: ya, aku tunggu di aula


[19.07] Bee: oke aku kesana


Aku sebenarnya ingin dirumah saja, tetapi karena Boo yang meminta aku akan pergi. Aku selalu berhutang budi padanya, mungkin ini saatnya aku membantunya, walaupun tidak seberapa. Aku langsung menuju aula yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumahku. Aula itu memang biasa digunakan untuk olahraga. Aku melihat Boo sudah menungguku.


"Boo, sudah lama ya?" (bee)


"tidak juga" (boo)


"....."


"kita mulai gerakan kuda-kuda dulu dan mencoba posisi tangan" (bee)


"bagaimana, seperti ini ya?" (boo)


"ini tangannya menggenggam dan gerakkan seperti ini" (bee)


"seperti ini" (boo)


Aku membantu Boo dengan mengubah posisi tangannya. Aku tidak sadar dari tadi aku memegangi tangan Boo.


"ma-maaf" (bee)


"tidak masalah" (boo)


"ayo coba lagi" (bee)


Boo malah tidak sengaja memukul wajahnya sendiri. Aku hanya menatapnya heran. Ternyata saat aku lihat Boo mengalami mimisan. Aku kembali ketakutan, aku menjauhkan posisiku dari Boo dan aku membalikkan tubuhku.


"Bee, aku minta maaf, kamu kenapa aku hanya mimisan saja" (boo)


"ti-tidak apa kok" (bee)


"sudah aku sudah membersihkannya, kamu bisa berbalik" (boo)


"maaf Boo gara-gara aku kamu jadi mimisan" (bee)


"ini bukan salah kamu, ini salah aku yang tidak mengikuti gerakan mu dengan benar" (boo)


"tapi tetap saja aku merasa bersalah" (bee)


"Bee, kamu kenapa menghindar ketika aku mimisan?" (boo)


"aku tidak papa, hanya merasa bersalah saja, aku takut kamu marah" (aku mencoba beralasan)


"aku tidak marah kok, ya sudah kita pulang saja, makasih ya sudah mengajariku" (boo)


"ehm.. iya sama-sama" (bee)


TBC


Bagaimana ceritanya?


Kira-kira apa Boo salah emoticon atau itu perasaan sebenarnya pada Bee?


Apa ingatan Bee akan kembali?


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment๐Ÿ‘


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™