Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Kesedihan mendalam



"Ibu, kita mau kemana?"


"Kita akan pergi jalan-jalan sayang"


"Kemana bu?"


"Ke tempat yang indah"


"Kenapa tidak bersama ayah?"


"Ayah kalian sibuk, semenjak perusahaan ayah bangkrut, dia harus  menjadi pekerja di perusahaan lain"


"Bangkrut itu apa bu?"


"Bangkrut itu mengalami kerugian besar, dan keuntungan yang ada tidak dapat menutup kerugian yang terjadi"


"Oh begitu ya Bu"


"Saat besar nanti, kalian harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan"


"Ya bu"


"Iya, bu kami akan bekerja keras"


"Entahlah ibu akan masih ada di samping kalian atau kah tidak saat kalian sudah besar nanti"


"Ibu harus ada di samping kita, ibu tidak boleh pergi


"Iya Bu, aku tidak mau sendirian"


"Sayang, orang yang sudah tiada untuk selamanya akan selalu hadir, dia akan berubah menjadi bintang di atas sana"


"Banarkah?"


"Ya, jika ibu sudah tiada nanti, kalian bisa pandang langit malam, kalian akan melihat bintang-bintang bertaburan, ibu akan melihat kalian dari sana"


"Ibu tidak boleh menjadi bintang"


"Iya bu, kami tidak ingin ibu pergi, kami tidak bisa hidup tanpa ibu"


"Nak, manusia itu tidaklah kekal akan ada saatnya mereka harus pergi dan entah kapan waktunya, tapi itu pasti terjadi"


"Ibu"


"Jangan katakan itu..."


"AKHHH!!!"


Aku terbangun dari tidurku. Nafasku terengah-engah. Keringat telah bercucuran dari sekujur tubuhku.


"Ibu!" (Bee)


"Beetariss kau kenapa?" (Chany)


"Ya, kau kenapa tiba-tiba berteriak?" (Jessi)


"Ibu..." (Aku menangis)


"Beetariss kenapa menangis? Ada apa ini?" (Maureen)


"Aku tidak tahu, dia terus memanggil ibu" (jessi)


"Beetariss, kau bicaralah pada kami, ada apa?" (Maureen)


"Aku mengingat saat-saat terakhirku melihat wajah ibuku, hiks...hiks..." (bee)


"Pasti sangat menyakitkan" (chany)


"Yang kuat Beetariss" (jessi)


"Badanmu sangat panas, sepertinya kau demam" (maureen)


"Aku tidak papa" (bee)


"Wajahmu pucat" (jessi)


"Kau beristirahatlah saja disini" (chany)


"Tidak, aku belum mengikuti kuliahku sejak kemarin, bahkan aku harus berbohong pada ayahku, aku tidak mau disini" (bee)


"Tapi kamu masih sakit" (maureen)


"Aku tidak apa, aku tetap akan kuliah" (bee)


"Kalau ada apa-apa bilang pada kami ya" (jessi)


"Ya, jangan dipendam sendiri seperti kemarin" (maureen)


"Eh iya, kemarin seharusnya kau tidak terlambat karena hanya ke asrama saja, bagaimana bisa kau terlambat?" (Chany)


"Aku terlibat masalah dengan seseorang" (bee)


"Sudah, sudah sekarang bersiap-siaplah untuk kuliah" (maureen)


"Siap" (jawab kami bertiga serentak)


Kami berempat menuju lab anatomi.


"Bee, kau sudah pulih?" (Boo)


"Ya" (bee)


"Cya, tadi ayahmu menelfonku, setelah kuliah kau diminta ke tempat ayahmu bekerja" (boo)


"Kenapa tidak menelfonku langsung?" (Maureen)


"Hpmu tidak aktif" (boo)


"Oh iya, aku mematikan sambungan internetku tadi, baiklah terima kasih tuan Boownie" (maureen mengecek hpnya)


"Jangan panggil aku seperti itu" (boo mengelus kepala maureen)


"Kamsahabnida oppa" (maureen)


"Iya" (boo)


Interaksi mereka berdua sungguh mesra. Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka. Aku akan bahagia jika melihat Boo juga bahagia walaupun tidak bersamaku.


"Sekarang kalian bergabunglah dengan kelompok kalian masing-masing" (dosen)


"Bu, bagaimana dengan saya?" (Bee)


"Coba tanya Maureen, dia yang mencatatnya kemarin" (dosen)


"Maureen, siapa saja kelompokku?" (bee)


"Tenang saja, kau satu kelompok denganku dan Boownie" (maureen)


"Oh begitu, terima kasih" (bee)


"Baiklah kita mulai praktek kita" (dosen)


"Baik bu"


Aku tak berani berkutip. Aku hanya bisa berdiri diam. Aku tidak ingin melihat darah mengalir dari binatang itu. Maureen mulai mengambil pisau bedah dan Boo mulai membelah tubuh binatang. Darah segar memancar keluar. Mataku melotot seketika melihat darah yang keluar itu. Perasaanku bercampur aduk. Kepalaku mulai pusing. Secara samar-samar aku melihat bayangan, seperti potongan-potongan cerita yang tak aku mengerti. Lalu aku bisa melihat jelas salah satu bayangan itu. Aku melihat diriku muda menangis memandangi jendela rumah sakit.


"Ibu..." (Bee muda)


"Jangan tinggalkan aku" (bee muda)


"Gadis manis, lukamu harus diobati" (suster)


"Tidak suster, obati saja ibuku, dia tidak boleh pergi" (bee muda)


"Dokter akan berusaha menyelamatkan ibumu, sekarang ikut suster ke ruanganmu" (suster)


"Baik suster" (bee muda)


"Ah, mengapa kau pingsan" (suster menggendong bee muda ke ruangan)


"Ibu" (bee muda)


"Kau sudah sadar, nak?" (Ayah bee)


"Ayah dimana ibu?" (Bee muda)


"Ibumu masih berada di ruang operasi" (ayah bee)


"Lalu kakak?" (Bee muda)


"Petugas pencarian masih mencari kakakmu" (ayah bee)


"Ayah, bagaimana wajah ibu dan kakakku?" (Bee muda)


"Aku tidak ingat wajah mereka" (bee muda)


"Dokter apa yang terjadi pada anakku?" (ayah bee)


"Dia mengalami amnesia sebagian akibat benturan di kepalanya" (dokter)


"Apa dia akan sembuh?" (Ayah bee)


"Seiring berjalannya waktu mungkin ingatannya akan kembali, tapi..." (Dokter)


"Tapi kenapa dokter?" (Ayah bee)


"Dia rentan terhadap benturan, jika dia mengalami kecelakaan kembali mungkin berpotensi amnesia kembali" (dokter)


"Begitukah?" (Ayah bee)


"Anda harus menjaganya dengan baik" (dokter)


"Baiklah dokter terima kasih" (ayah bee)


"Ayah, ayo ke ruangan ibu" (bee muda)


"Iya nak ayo" (ayah bee)


"Itu ibumu nak" (ayah bee)


"Ibu..." (Bee muda)


"Maaf pak kami tidak bisa menyelamatkan nyawa istrimu" (dokter)


"Tidak mungkin dokter" (ayah bee)


"Kepalanya mengalami pendarahan, kami sudah berusaha semaksimal kami" (dokter)


"Tidak, tidak mungkin, ibu!!!" (Bee muda menangis)


"Tidak!!!" (Aku menangis)


"Beetariss kau kenapa?" (Maureen)


"Tidak, tidak..." (Aku berlari keluar lab)


"Ada apa dengannya?" (Boo)


"Aku juga tidak tahu" (maureen)


"Bu, saya izin, saya akan menhampirinya" (boo)


Aku masih ketakutan. Tubuhku gemetaran. Aku berlari menuju taman kampus. Aku duduk tersungkur di tanah. Sekarang aku bisa mengingat saat itu.


"Hiks hiks" (bee)


"Ada apa bee?" (Boo)


"Tidak" (bee)


"Kenapa kau menangis?" (Boo)


"Ingatan masa laluku kembali, aku mengingat disaat terakhirnya aku bisa melihat ibuku terbaring kaku, dengan wajah yang sudah tidak bisa dikenali, hiks hiks" (bee)


"Kau adalah perempuan yang kuat kan? Apa kau akan terus terlarut dalam kesedihanmu?" (Boo)


"Selama aku terus melihat darah, aku akan terus mengingat segalanya" (bee)


"Bee, kau harus kuat, jangan patah semangat, jika ibumu melihatmu sedih seperti ini pasti dia juga akan sedih" (boo)


"Hiks hiks" (bee)


"Genggam tanganku, percayalah ibumu selalu hadir dalam hatimu, kau tidak boleh terpuruk seperti ini" (boo menggenggam tanganku)


"Kenapa makhluk hidup diciptakan untuk hidup dan mati, kenapa tidak terus hidup saja?" (Bee)


"Bee, kau jangan bicara seperti itu, kau masih bisa bertemu dengannya di keabadian nanti, sudahlah hapus air matamu, kau masih memiliki banyak orang yang sangat menyayangimu" (boo menghapus air mataku)


"Ayah..., Aku tidak ingin kehilangannya" (Bee)


"Kau harus wujudkan keinginannya agar dia bahagia bukan? Sekarang kau tidak boleh sedih kau harus semangat, ini adalah ujian hidup" (boo)


"Ya kau benar, aku harus wujudkan cita-citaku, dengan begitu ayah akan bahagia, aku belum sempat membuat ibu dan kakakku bahagia, aku akan membuat ayah bahagia" (bee)


"Ya, bangunlah kita kembali" (boo)


"Tapi..." (Bee)


"Kau jangan takut" (boo mengelus wajahku)


"Ah, kau demamkah?" (Boo)


"Tidak" (bee)


"Tapi tubuhmu sangat panas" (boo)


"Ehm..." (Bee)


"Sebaiknya kau beristirahat saja" (boo)


"Tidak Boo, kalau aku tidak kuliah lagi, apa yang harus ku katakan pada ayah" (bee)


"Jika kau sakit, kau juga tidak akan bisa fokus pada kuliahmu" (boo)


"Tapi boo..." (Bee)


"Baiklah" (bee)


"Aku akan mengantarmu ke asrama" (boo)


"Terima kasih Boo" (bee)


"Bee, ya ampun, kau mimisan" (boo)


"Ah" (bee)


"Duduklah disini dulu, bagaimana kau bisa mimisan?" (Boo)


"Aku tidak papa Boo" (bee)


Boo menghapus darah mimisanku dengan sapu tangan miliknya. Dia terlihat khawatir padaku.


"Bee, kau harus minum obat jika kau sakit" (boo)


"Obat?!" (Bee)


"Ya" (boo)


"Kemarin malam aku lupa tidak meminumnya" (bee)


"Seharusnya kau lebih teliti, nanti setelah ke asrama kau langsung minum obatmu" (boo)


"Iya" (bee)


"Baiklah, ayo" (boo)


"Ayo" (bee)


Boo mengantarkanku sampai depan asrama. Dia melambaikan tangannya. Aku pun melambaikan tanganku padanya. Aku memasuki kamarku. Aku teringat pesan Boo, bahwa aku harus langsung meminum obatku. Aku langsung mengambilnya dan meminum obat itu. Aku masih terduduk di meja belajarku dan aku menangis.


"Boo, mengapa kau terus membuatku berharap padamu?"


"Aku tahu kamu sudah bersama gadis yang tak lain adalah temanku, tapi kenapa aku terus mencintaimu"


"Venus memiliki kesempatan bersinar bersama bintang paling terang, sedangkan bulan..."


"Venus sangat cantik, dia bisa bersinar dengan sendirinya sedangkan bulan, ia tidak bisa bersinar tanpa adanya matahari"


"Boo, aku akan bahagia jika kau pun bahagia, walaupun aku harus tersakiti melihatmu bersama yang lain"


TBC


Bagaimana ceritanya?


Semakin rumit nih ceritanya


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


🙏🙏🙏