![Bee [Who Should I Choose?]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/bee--who-should-i-choose--.webp)
Setelah Maureen mandi, sekarang adalah giliranku untuk mandi. Setelah selesai mandi, aku berganti pakaian dan menyisir rambutku. Aku kepikiran tentang Jessi. Gaya bicaranya memang modern, tetapi dia tidak pilih-pilih dalam berteman dan sepertinya dia adalah orang kaya. Pantaslah dia populer, ternyata dia orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Gayanya yang khas mungkin juga menambah popularitasnya. Hari pertama asrama aku sudah mendapat teman baru. Semoga saja aku tidak akan mengalami masalah disini.
"Lavanda..."
"Siapa dia? Ku harap, aku tidak akan punya masalah dengannya"
"dan semoga malam ini cerah, bintang bertaburan di langit"
Aku tersenyum sambil bercermin. Tapi entah ada apa dengan pandanganku, aku melihat ibuku tersenyum padaku di cermin.
"ibu..."
Ibuku hanya tersenyum padaku. Aku terus melamun memandanginya. Sampai aku tersentak karena ada yang memanggilku.
"Beetariss!" (maureen)
"ah, iya" (bee)
"ayo keluar, mau jalan-jalan tidak?!" (maureen)
"oke sebentar, tunggu aku" (bee)
Aku kembali melihat cermin, tapi sudah tidan ada ibuku lagi. Mataku mencari ke setiap sudut ruangan, tetapi dia tidak ada. Mungkin ini hanya ilusiku saja karena aku sangat merindukannya. Aku tidak boleh sedih, hari ini ada api unggun. Aku suka kebersamaan saat api unggun, dimana bisa bernyanyi bersama, bergurau bersama, ah senangnya. Aku jadi merindukan Naya, Celin dan Nico. Bagaimana dengan mereka ya? Nanti sajalah aku video call mereka. Aku akan jalan-jalan dulu bersama Maureen dan Chani.
"kau lama sekali, Beetariss" (chani)
"iya maaf" (bee)
"ya sudah ayo" (maureen)
"wah, banyak sekali lampu berkelap-kelip, itu sangat indah" (bee)
"ya itu sangat indah, aku jadi rindu kamarku yang penuh lampu seperti itu juga" (maureen)
"pasti sangat indah dan nyaman kamarmu" (bee)
"ehm... lain kali mampirlah ke rumahku" (maureen)
"tapi kan jauh" (bee)
"tidak, tidak jauh dari sini, hanya berjalan beberapa ratus meter saja" (maureen)
"bukankah kau dari luar kota?" (bee)
"memang benar, disana aku tinggal bersama orang tuaku, rumah yang deket sini sebenarnya rumah kakakku, tapi aku juga sering kesana" (maureen)
"kakakmu yang tampan itu ya?" (chani)
"iya" (maureen tersenyum)
"kamu memiliki kakak?" (bee)
"ya" (maureen)
"bagaimana denganmu Chani, kau memiliki saudara?" (bee)
"ya, aku memiliki adik perempuan" (chani)
"ah, kalau saja kakakku masih hidup" (bee)
"kakakmu sudah tiada?" (maureen)
"ya, dulu kami mengalami kecelakaan dan karena kecelakaan itu aku kehilangan ibu dan kakakku sekaligus" (bee)
"jangan sedih, anggaplah kami adalah saudaramu" (maureen)
"ya, kau anggap saja kami adalah kakakmu" (chani)
"terima kasih semua" (aku memeluk maureen dan chani)
"ayo, api unggunnya sudah mau mulai" (boo)
"eh, kau sudah datang" (maureen)
"ya, ayo" (boo)
"ayo!"
Kami semua berkumpul menuju lapangan utama. Kami berbaris. Aku berbaris di antara Boo dan Chani, Maureen berada di sebelah Boo yang lain. Aku memandang langit. Langit sangat cerah. Aku tersenyum ceria melihatnya.
"Bee, apa kau merindukan ibumu lagi?" (boo)
"selalu" (bee)
"dia pasti tersenyum melihatmu dari atas sana" (boo)
"ya" (bee)
" Boownie, sepertinya kau dekat dengan Beeteriss" (maureen berbisik pada Boo)
"kami kan bersahabat sejak kecil" (boo)
"ya aku tahu" (maureen)
Aku melihat barisan senior. Ada Luhan juga di sana. Mereka yang akan menyalakan api unggun. Dia terlihat sangat cocok menjadi pemimpin, dia juga sangat tinggi, tingginya melebihi Boo. Dia senior yang baik. Kemudian nayanyian mulai dinyanyikan disertai tepuk tangan. Sangat meriah sekali acaranya. Aku sangat menikmatinya.
"Baiklah untuk selanjutnya, kita berpindah ke aula, mengisi acara selanjutnya" (panitia)
Kami berjalan menuju aula. Aulanya sangat megah. Aku beruntung sekali bisa kuliah disini. Tapi aku harus bekerja paruh waktu untuk membantu ayah membayar biaya kuliahku. Entah dimanakah aku akan berkerja paruh waktu.
"Aku dan Boownie izin pergi ya" (maureen)
"kemana?" (bee)
"iya kemana?" (chani)
"kalian akan tahu nanti" (maureen)
Boo dan Maureen pergi menjauh dari aula. Mereke seperti membicarakan sesuatu. Tapi inikan acara kampus kenapa mereka pergi?
"mereka mau kemana sih?" (chani)
"aku juga tidak tahu" (bee)
"Chani kau tahu ada lowongan kerja disini atau tidak?" (bee)
"kau mau bekerja?" (chani)
"aku bukanlah orang kaya, aku ingin menjadi mandiri" (bee)
"kau sangat pekerja keras, ehm tanyakan saja pada Maureen, dia tahu banyak tentang kampus ini" (chani)
"bagaimana dia bisa tahu banyak?" (bee)
"kakaknya dulu lulusan kampus ini, dia bercerita sering mengunjungi kakaknya disini" (chani)
"oh, begitu" (bee)
"kami kembali" (maureen)
"kalian dari mana?" (chani)
"hanya keluar sebentar" (maureen)
"oh" (chani)
"Baiklah, untuk acara selanjutnya adalah perkenalan dari setiap senior disini dilanjutkan perkenalan junior yang baru" (panitia)
"namaku Laura Cantika, panggil aku Laura, angkatan 53"
"namaku Luhan Aldric Gracio, kalian bisa panggil aku Luhan dan aku dari angkatan 53" (luhan)
"namaku Namira Elzarra, nama panggilanku Elza, dari angkatan 52"
"namaku Deandra Belvano, panggil saja aku Deandra, dari angkatan 53"
"baiklah, sekarang giliranku, namaku Ardhani Steven, panggil aku Steven, angkatan 52"
"untuk selanjutnya, kalian para junior, perkenalkanlah diri kalian masing-masing, ayo siapa untuk yang pertama" (panitia)
"hai semua, namaku Maureen Fredelina Lucya, nama panggilanku Maureen" (maureen)
"Hai maureen!"
"senang berkenalan dengan kalian semua" (maureen)
"senang berkenalan denganmu juga cantik"
"ah, terima kasih, selanjutnya ada temanku, Beetariss ayo" (maureen)
"iya ayolah" (maureen)
"na-namaku Beetarissa Salma, panggil aku Beetariss, semoga kita bisa berteman baik" (bee)
"Hai Beetariss!"
"Dia manis, tapi dia pendek dan terkesan tomboy, haha"
Aku merasa gugup untuk berkenalan di depan banyak orang. Tapi mau bagaimana lagi Maureen yang memintaku. Aku berdiri dan memperkenalkan diriku. Ditambah lagi ejekan yang keluar dari mulut mereka, aku merasa malu. Memang apa salahku jika aku pendek? Mereka hanya mengagumi siapapun yang sempurna, cantik dan tampan saja. Aku hanya bisa tertunduk malu dan sedih. Tiba-tiba saja Boo berdiri dan memperkenalkan dirinya disaat aku masih berdiri. Boo sempat tersenyum padaku.
"namaku Boownie Arkhananta Faustin, biasa dipanggil Boownie" (boo)
"hai Boownie, tampan sekali dirimu"
Lalu aku dan Boo duduk kembali. Aku kembali duduk ke posisiku sebelumnya. Aku masih kepikiran dengan apa yang mereka katakan tadi. Aku sedih, mengapa mereka menilai seseorang dari fisiknya saja.
"Beetariss, kamu masih sedih ya?" (maureen)
"tidak papa kok" (bee)
"jangan sedih lagi ya, ada aku disini" (maureen)
"terima kasih Maureen" (bee)
"Hai semua, kalian seharusnya tidak mengejek orang lain, kalian harus sadar diri sebelum menilai orang lain, terlebih dahulu nilai diri sendiri" (maureen)
"sudah maureen, aku tidak papa" (bee)
"baiklah kami hanya bercanda tadi, itu masalah ya buat kamu?"
"ya, dia adalah temanku, aku tidak akan membiarkan siapapun menghinanya termasuk dirimu" (maureen)
"kau tidak ingat, aku yang sudah menolongmu dari kecelakaanmu beberapa waktu lalu, kalau aku tidak ada saat itu, entahlah kamu pasti sudah mati"
"jaga ucapanmu" (maureen mengacungkan jarinya pada gadis itu)
"maureen sudah, kenapa karena aku, kalian malah bertengkar" (bee)
"cukup semua, ini adalah acara kampus, apa kalian akan menghancurkan suasana disini?!" (panitia)
"maaf"
"baiklah sekarang lanjut saja" (panitia)
"Hai, hai namaku Jessica Fumeyra Fussia, panggil aku Jessi, Oke" (jessi)
"hai jessi!"
"dan aku adalah pacar dari Deandra" (jessi)
"benarkah itu Deandra?"
"ya dia pacarku"
"namaku Chany Fransisca, kalian bisa panggil aku Chany" (chany)
"hai chany"
"......"
Sampai saat ini gadis itu masih saja mengejek-ngejek diriku bersama teman-temannya.
"sudahlah bee, jangan dengarkan kata-kata mereka" (boo)
"makasih boo"
"hei, lihatlah sekarang dia berbicara dengan pria tampan itu, haha lucu sekali"
"dia tidak sadar dengan dirinya, kira-kira bagaimana ya orang tuanya, pasti sama dengan dirinya, haha"
Aku tidak bisa menerima perkataan mereka. Mereka berani menghinaku dan orang tuaku. Siapa dia? Berani sekali dia. Aku mengepalkan tanganku. Aku berusaha menahan amarahku tetapi tetap tidak bisa. Aku bisa menerima mereka menghinaku, tapi aku tidak akan terima jika mereka mengejek orang tuaku. Aku bangun dari posisi dudukku. Aku berteriak padanya.
"Diamlah kalian, orang tuaku adalah orang yang baik, dan kalianlah yang buruk!!!" (bee)
"apa kau bilang!!!"
"ya, kalian bahkan lebih buruk daripada binatang!" (emosiku meledak)
Aku langsung pergi meninggalkan ruangan. Entah aku sudah menjadi perbincangan banyak orang sekarang, tapi aku tak peduli. Aku lari keluar aula.
"Beetariss!" (maureen)
"biar aku saja, kau disini" (boo)
"baiklah" (maureen)
"senior saya izin keluar" (boo berlari mengikutiku)
Aku sama sekali tak menghiraukan perkataan semua orang. Aku belum pernah merasa serendah ini. Aku terus berlari sambil menangis. Aku berhenti di salah satu tangga. Aku duduk dan termenung disana.
"Apa aku sungguh sejelek itu?" (bee)
"tidak bee, kau tidak jelek" (boo)
"aku bisa terima jika mereka mengejekku, tapi tidak jika bersangkutan dengan orang tuaku" (bee)
"percayalah padaku, kau itu tidak jelek, kau cantik jika kau terus tersenyum" (boo)
"di dalam hatimu yang paling dalam, kau pasti juga mengetawaiku kan?!" (bee)
"kenapa kau berpikir seperti itu, kalau aku seperti itu kenapa aku mau bersahabat denganmu" (boo)
"benar juga katamu" (bee)
"jangan menangis lagi, tak usah peduli apa kata mereka, kalau aku bisa bilang merekalah yang buruk" (boo)
"benarkah, kau tidak sedang mencoba menghiburku kan?" (bee)
"aku tidak berusaha menghiburmu, itu memang benar, orang seperti itu adalah orang yang buruk, mereka tidak pantas berbicara seperti itu, dan apa yang kau bilang tadi memang benar, mereka lebih buruk dari binatang, binatang saja tidak menghina binatang yang lain, lalu mengapa dia menghina orang lain! benar bukan?" (boo)
"ya, tapi aku tadi hanya emosi, aku tak berniat mengatakan itu" (bee)
"sudahlah, lain kali jaga bicaramu ya" (boo)
"ya Boo" (bee)
"sekarang ayo kembali ke aula" (boo)
"tapi Boo..." (bee)
"sekarang adalah acara unjuk bakat, apa kau tidak akan menunjukkan bakatmu?" (boo)
"benarkah itu?" (bee)
"ya, makanya jengan sedih lagi, ikutlah akustik bersamaku nanti, aku tahu suaramu juga bagus" (boo)
"tapi bagaimana jika aku mengacaukannya?" (bee)
"yakinlah, kau pasti bisa mengubah pandangan mereka dengan kau bernyanyi yang bagus nanti" (boo)
"ya kau benar" (aku tersenyum)
Aku telah mendapatkan semangatku kembali karena Boo. Dia seperti pelita dalam kegelapanku. Aku tak pernah menunjukkan suara nyanyianku, karena aku malu. Mungkin Boo pernah mendengarku bernyanyi, jadi dia tahu.
"Boo bagaimana dengan Maureen?" (bee)
"dia juga akan menari balet, dia mahir dalam balet" (boo)
"baiklah"
Aku kembali ke aula. Semua pandangan ke arahku. Aku tahu pasti mereka berpikir buruk tentangku. Tapi aku tak akan peduli. Aku akan bernyanyi yang baik nanti.
TBC
Bagaimana ceritanya?
Kira-kira akan bagaimana pandangan mereka pada Bee nanti? ๐
Semakin rumit nih ceritanya
Ikuti terus ya:)
Jangan lupa like, rate, vote dan comment๐
Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v
๐๐๐