Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
PROLOG



Ini cerita Bee dan Boo. Ini kisah aku yang selama belasan tahun naruh hati sama Boo, dari TK aku udah kenal bahkan sampai kuliah aku satu kelas sama dia. Tapi tidak semudah itu. Aku nggak pacaran sama Boo. Aku nggak berani bilang ke Boo soal perasaan aku ke dia karena aku pun tidak sedekat itu dengan Boo. Aku cuma sering nulis diary tentang dia di buku diaryku. Di buku diary itu aku tulis keseharian ku bersama Boo. Sebenarnya aku sama Boo itu tetanggaan. Ayahku bekerja di perusahaan ayahnya Boo. Jadi keluargaku dengan keluarganya Boo sudah deket.


"Boo....," (bee)


"Namaku Boownie, bukan boo," (boo)


"Oke Boownie, Bolehkah ajarin aku jawab soal yang ini?" (bee)


"Oke," (boo)


"...."


"Sudah," (Boo)


"Eem... terima kasih Boo," (Bee)


Percakapan tadi adalah pertama kalinya aku berkomunikasi dengannya. Dia memang kelihatan cuek banget tapi dia itu jenius, dia langganan juara kelas.


"Boo, kamu mau temenan sama aku nggak?" (Bee)


"Tidak," (Boo)


“Kenapa?” (bee)


“Kau terus memanggilku Boo,”(boo)


“Aku suka nama Boo,”(bee)


“Ya udah kita teman,” (boo)


"Iya Bee," (Boo)


“Bee?” (bee)


“Ya aku suka nama itu,” (boo)


Itu awal kisah kita berdua. Dimana awal tumbuh perasaan di hatiku. Saat itu aku tidak pernah mengira kalau dia orang yang dingin, buktinya dia mau berteman denganku.


11 tahun berlalu sejak pertemanan aku sama Boo. Sejak saat itu mulai tumbuh rasa suka di hatiku. Tapi aku tidak berani bilang ke dia. Aku cuma bisa ngarep dan nunggu dia sampai dia suka sama aku. Aku juga tidak pernah tahu kehidupannya dia. Karena sikapnya itu yang sering membuatku canggung jika berada di dekatnya apalagi untuk menanyakan soal kehidupannya.


15 Juli : Hari pertama aku masuk SMA.


Aku satu kelas lagi sama Boo dan Nico. Ya di daerah ku memang memakai sistem zona. Jadi, bakalan satu kelas terus sama mereka. Tapi berbeda jika peguruan tinggi, aku tidak tahu nasib ku nanti. Boo sudah tentu dia akan diterima di perguruan tinggi terfavorit. Sedangkan aku dan Nico entahlah, gue Cuma bisa pasrah berharap semoga bisa terus bersama Boo, He he...


2 Desember: Ujian Akhir Semester


Sayangnya aku mendapat peringkat terakhir lagi dan lagi. Aku senasib dengan Nico yang mendapat peringkat terakhir juga. Sedangkan Boo jauh berada di atas. Dia peringkat pertama dari keseluruhan kelas yang ada. Aku terkesan dengannya. Aku terus meratapi nasibku yang hanya bisa diam membisu melihat semua temanku bahagia. Huuuh.... apa ini takdirku?


16 Desember: dimulainya libur akhir tahun


Liburan akhir tahun, aku cuma dirumah. Aku belajar mempersiapkan untuk ujian. Aku belajar juga sambil ngeliatin jendela kamarnya Boo. Siapa tahu Boo lagi di sana, he he...


20 Desember: Aku mengikuti lomba bela diri di daerahku.


Disana juga ada Boo dan Nico yang menonton. Aku harus tunjukkan kemampuanku. Aku ingin Boo bangga denganku. Aku harus menang kali ini dan akhirnya aku yang memenangkannya. Ah senangnya dipuji-puji. Aku tidak pernah mendapat pujian dalam bidang pelajaran, jadi aku senang mendapat pujian dalam bidang ini. Bidang yang tidak semua orang bisa melakukannya. Aku sudah berlatih sejak kecil sehingga aku sudah mahir. Aku hanya melihat Boo tersenyum melihatku. Tapi aku sangat bahagia akhirnya dia tersenyum padaku, sebelumnya karena suatu alasan dia tidak pernah lagi tersenyum dan selalu menyendiri.