Bee [Who Should I Choose?]

Bee [Who Should I Choose?]
Hematophobia



6 Januari: Ujian praktek


Seperti yang diketahui kalau hari ini adalah ujian praktek. Aku sudah mempersiapkan matang-matang untuk nanti. Sekarang keadaanku sudah membaik. Kepalaku sudah tidak diperban lagi, dan tanganku masih diperban tapi sedikit di bagian pergelangan tangan saja.


Hari ini adalah jadwal ujian praktek kimia, eksperimen dilakukan secara berkelompok tetapi tetap individu ujiannya.


“Nak sarapan dulu, agar kamu sukses nanti” (ayah bee)


“Ah... Ayah aku mau berangkat pagi, nanti saja aku beli di kantin” (bee)


“Makanan rumah lebih sehat nak” (ayah bee)


“Nanti saja yah” (bee)


“Setidaknya makan sedikit ya, ayah udah buatin sup kesukaanmu lho” (ayah bee)


“Ha? Beneran yah?” (bee)


“Iya ayo kembali dan makan dulu” (ayah bee)


“siap ayah” (bee)


“Perrcaya diri aja nak, kau pasti berhasil, ayah mendoakannya” (ayah bee)


“terima kasih ayah, kalau begitu aku berangkat sekolah dulu ya,” (bee)


“Semangat sayang!!!” (ayah bee)


“Dah ayah” (bee)


Hari ini aku berangkat lebih pagi untuk mempersiapkan ujian praktek nanti. Aku akan berangkat dengan bus. Sebelum berangkat aku melihat Boo sedang keluar dari rumahnya hendak berangkat sekolah juga. Aku hanya tersenyum melihat kegigihan nya. Aku menunggu bus di halte. Suara klakson mobil mengagetkan ku.


“Bee, kemarilah dan berangkat bareng aku” (boo)


“Boo, kau?” (Bee)


“Ya, ayo daripada kelamaan nunggu” (boo)


“baiklah, terima kasih Boo” (bee)


“Ayo masuklah” (boo)


Di dalam mobil aku duduk bersampingan dengan Boo. Aku melihat dia terus membaca bukunya. Aku bingung mau bicara apa. Canggung sekali keadaannya. Aku terus menatapnya. Terasa damai sekali ketika dia tersenyum.


“Ada apa Bee, kenapa menatapku kaya gitu, ada yang salah ya sama wajahku?” (boo)


“tidak, tidak kok aku Cuma kagum aja sama kamu. Dalam mobil seperti ini kau masih saja belajar” (bee)


“ya udah, ayo belajar bareng aja” (boo)


“Belajar bareng?” (bee)


“ya, atau aku akan datang ke rumahmu jika kamu membutuhkan ku nanti, aku siap kok” (boo)


“Kau baik sekali Boo” (bee)


Dia tersenyum manis mendengar perkataan ku. Lalu dia mengubah posisinya untuk mengajariku. Tak sengaja bahuku dan Boo bersentuhan. Entah aku menjadi gugup sekarang. Tapi Boo sedikit menjauh, mungkin dia tahu kalau aku tidak nyaman hehe. Dia kemudian mulai mengajariku. Dia menjelaskan cara menggunakan mikroskop. Aku terus mendengarkan penjelasan nya. Terlihat semangatnya dalam belajar, menambah kekagumanku padanya. Ah apa benar aku suka sama dia?


Mobil pun berhenti kami berdua keluar dari mobil. Kami menuju ke perpustakaan untuk belajar disana. Boo mengajakku untuk belajar di perpustakaan karena menurutnya itu tempat terbaik untuk belajar. Aku menurutinya saja.


Kemudian dia mengambil buku di salah satu lemari.


“Karena tidak ada mikroskop, lihatlah gambar ini, aku akan menjelaskannya ulang” (boo)


“oke” (bee)


“.....”


“Terima kasih Boo, kau memang sahabat terbaikku” (bee)


“Terima kasih juga Bee” (boo)


“untuk apa?” (bee)


“Kau sudah mau menjadi sahabatku, kini aku merasa sudah tidak kesepian lagi” (boo)


KRIING!!!! KRIIIING!!!


Suara bel tanda masuk berbunyi. Aku dan Boo membereskan buku-buku yang digunakan tadi. Kini aku merasa lebih baik, aku merasa lebih tenang.


"Bee semangat ya" (boo)


"semangat juga" (bee)


Aku bahagia banget disemangati olehnya. Apalagi dia tersenyum manis seperti itu. Ah jangan sampai apa yang kupelajari hilang gara-gara ini. Aku tidak ingin mengecewakan Boo karena dia sudah mengajariku dengan baik-baik.


"Eh, kamu kok berdua bersama Boownie sih? Bee aku tahu kamu amnesia tapi kau telah melanggar peraturan ku" (Celin)


"peraturan apa maksudmu?" (bee)


"tidak ada yang boleh mengganggu Boownie ketika dia sedang belajar" (Celin)


"maaf Celin, tapi aku tidak mengganggu Boo" (bee)


"namanya Boownie, ku peringatkan lagi ya namanya Boownie!!!" (Celin)


"sudah, sudah kenapa kalian jadi berantem, Celin aku dan Beetariss hanya belajar bersama saja, dia tidak menggangguku, dan biar saja dia memanggilku seperti itu" (boo)


"Boownie aku juga mau belajar bersama kamu" (Celin)


"Hei, kenapa kalian masih disini, apa kalian tidak dengar tadi bel sudah berbunyi, ayo masuk" (guru)


"Baik Bu" (ucap kami serentak)


"Baiklah saya akan membagi kelompok secara acak" (guru)


"Kelompok 1 Nico, Celin, Naya, Mila dan Rocky, terus Kelompok 2 Boownie, Beetariss, Fany, Stella, dan Louise, ......"


Aku kaget mendengar bahwa aku bakal satu kelompok sama Boo. Tapi aku takut juga kalau nanti aku membuat kesalahan akan membuat performa kelompok turun. Boo pasti akan kecewa sama aku. Aku bingung dan takut.


"Bee, kamu nggak papa kan?" (boo)


"aku nggak papa, aku cuma gugup" (bee)


"jangan takut, aku bantuin kamu nanti" (boo)


"mksih Boo" (bee)


Guru telah menyiapkan berbagai peralatan untuk eksperimen di meja kelompok masing-masing. Aku yang masuk kelompok 2 memposisikan sesuai meja kelompok. Aku duduk bersebelahan dengan Boo. Boo mulai mengatur preparat yang akan digunakan. Aku mendapat jatah mengatur mikrometer dan makrometer. Padahal aku masih bingung soal itu karena dulu saat praktek aku sedang tidak masuk sekolah. Aku berusaha tetap tenang. Guru keluar sebentar untuk mengambil satu mikroskop lagi.


"Ayo sambil putar mikrometernya ya, saya akan ambil mikroskop" (guru)


"baik Bu"


"ayo Bee" (boo)


"putarnya kemana ya kedepan atau kebelakang atau gimana?" (bee)


"kan udah aku jelasin tadi" (boo)


"maaf Boo aku lupa" (bee)


"ya udah aku bantuin" (boo)


Boo mendekat ke diriku. Posisinya seperti sedang merangkul ku tapi dia membantu memutar mikrometernya. Aku berharap di dalam hati agar bunyi detak jantungku tidak sampai terdengar oleh Boo. Aku yang melihat Celin memandangku bersama Boo, dia nampak tidak suka bahkan mengepalkan tangannya. Boo memegang tanganku untuk mengajariku memutar mikrometernya.


"Ayo, coba putar lagi" (boo)


"iya lanjut terus dan coba putar juga makrometernya" (boo)


"wah, ini pemandangan yang bagus" (Nico sambil menggeleng-gelengkan kepalanya)


"Boo cuma ngajari aku Nico" (bee)


"kayaknya ada pasangan baru nih ya?" (Nico)


Boo langsung melepas tangannya dari ku. Aku tahu dia pasti tidak suka di katakan seperti itu. Aku juga ngrasa nggak enak, karna ini gara-gara aku.


"Nico kamu bicara apa sih?" (bee)


"santai, santai dong" (Nico)


"udah Bee ini ujian lho" (boo)


"maafin aku Boo" (bee)


"tidak masalah kok, dah lanjutin aja keburu guru datang" (boo)


"iya" (bee)


Tiba-tiba saja aku tidak sengaja menyenggol preparatnya. Preparatnya jatuh dan pecah. Ah apa yang aku lakukan? Pasti kena hukuman nih. Aku pun membersihkan pecahan preparat itu, tapi ada pecahan kaca yang menusuk tanganku hingga berdarah. Entahlah aku ketakutan lagi. Aku menjadi selalu teringat kecelakaan yang kualami saat aku melihat darah.


"Bee, tangan kamu berdarah" (boo)


"aku-aku nggak papa" (jawabku dengan nada ketakutan)


"Bee kamu seperti ketakutan" (boo)


Aku sama sekali tidak merasakan sakit di tanganku, karena aku merasa ketakutan. Semakin ku melihat darahku semakin aku menjadi ketakutan. Tubuhku merasa lemas.


"Beetariss bangun, kenapa kamu bisa pula pingsan?" (guru)


"Bu maaf" (bee)


"apa kamu sedang tidak enak badan?" (guru)


"tidak Bu saya sehat saja, saya merasa ketakutan saja, teringat akan kecelakaan saya" (bee)


"ya sudah, tangan kamu udah diplester, apa kamu masih bisa lanjut? saya tidak akan menghukum kamu" (guru)


"iya Bu bisa lanjut dan terima kasih" (bee)


Kini giliran presentasi dari apa yang udah dipraktekkan. Untuk presentasi dilakukan dengan cara menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru. Boo menjawab setiap pertanyaan dari guru dengan benar. Bagaimana denganku? Sekarang giliran ku.


Aku beruntung sekali mendapat pertanyaan yang tidak terlalu sulit sehingga aku menjawab hampir semua benar. Aku seneng banget akhirnya aku bisa berhasil. Semoga kedepannya juga bisa lebih baik.


"Bee, kamu udah nggak papa?" (boo)


"iya boo aku nggak papa" (bee)


"kok bisa pingsan?" (boo)


"nggak papa kok" (bee)


"Boo, mksih ya, kalo tidak ada kamu pasti aku nggak bakalan berhasil" (bee)


"itu bukan karna aku, itu semua kerja keras kamu Bee, aku tahu tadi malam kamu pasti udah giat belajar" (boo)


"maaf Boo, mungkin ucapanku sangat buruk di pesan whatsapp kemarin" (bee)


"tidak kok, kau hanya merasa terganggu saja bukan ketika kau sedang belajar tetapi ada yang kirim pesan padamu" (boo)


"bukan begitu Boo" (bee)


"tidak apa kok Bee, aku juga sering merasa begitu" (boo)


"benarkah itu?" (bee)


"ya dan maafin aku tadi aku cuma mau bantu kamu" (boo)


"aku yang salah Boo, maafin aku" (bee)


"Kalian berdua semakin dekat saja, jangan-jangan ada apa-apa lagi?" (Nico)


"kamu bisa nggak sih nggak usah gangguin Bee terus" (boo)


"santai bro, kamu kan nggak bisa basket ya kan?" (Nico)


"Nico apa yang kamu bicarakan?" (bee)


"Sudah Bee tidak apa, ya Nico aku memang tidak bisa basket aku akui" (boo)


"akhirnya mengaku juga" (Nico)


"tapi aku nggak bakal takut jika tanding sama kamu" (boo)


"sekarang kamu yang nantangin aku ha?" (Nico)


"Boo, Nico udah aku nggak mau kalian berantem, sekarang masing-masing pulang!!!" (bee)


Aku cuma nggak mau mereka kena marah, ini kan masih di ruang ujian. Nanti kalo ada guru pasti bakal dihukum. Aku tahu Boo sekarang sudah lebih terbuka tetapi kenapa Nico jadi berubah kaya gitu ya? Dia seperti punya rasa tidak suka terhadap Boo. Padahal selama 11 tahun sudah saling mengenal. Apa yang terjadi ya sama Nico?


Sebelum pulang ke rumah, aku ke rumah sakit terlebih dahulu. Aku harus memeriksakan kondisiku yang sekarang.


"keadaanmu mulai membaik, apakah sedikit demi sedikit ingatanmu kembali?" (dokter)


"ya dok saya sering melihat bayangan-bayangan tapi setelah itu pasti terasa pusing" (bee)


"Ingatanmu pasti kembali, bersabarlah" (dokter)


"Dok, tapi kenapa saya jadi sering ketakutan ketika melihat darah, bahkan darah luka sendiri?" (bee)


"memangnya apa yang terjadi?" (dokter)


"tadi tangan saya terluka dan berdarah, saya ketakutan melihatnya dan sampai pingsan" (bee)


"sepertinya kamu memiliki gangguan psikis" (dokter)


"maksud dokter?" (bee)


"hematophobia, suatu gejala dimana terjadi peningkatan tekanan dan denyut jantung ketika melihat darah. Pasien hematophobia akan merasa panik, takut, mual, pusing bahkan sampai pingsan ketika melihat darah" (dokter)


"apa separah itu kah dan apa bisa sembuh?" (bee)


"bisa, dengan lakukan terapi dan lawan rasa takutmu itu" (dokter)


"baiklah dok, terima kasih" (bee)


Aku masih takut, bagaimana nanti aku akan menjalani hidupku jika seperti ini. Belum juga satu masalah kelar muncul lagi masalah baru. Aku tidak bisa mengatakan kepada ayah, aku terlalu takut. Apa aku bisa menjalaninya?


TBC


Bagaimana ceritanya?


Kira-kira apa Bee bakal sembuh?


Ikuti terus ya:)


Jangan lupa like, rate, vote dan comment👍


Supaya author lebih semangat nulis ceritanya dan untuk penyempurnaan cerita tentunya:v


🙏🙏🙏