
.
.
.
"Hap!", seseorang menarik garpu yang sudah berada di depan mulutku lalu memakan siomayku yang hendak kumasukkan ke dalam mulut.
"Wih enak banget siomaynya! Tau gitu gue pesen siomay tadi"
"Eh, bagi lagi dong Tis!", ucap Cair/Lashon yang datang langsung menyerobot garpuku dan memakan siomayku.
Nah iya, dia orang.
Ck, dia lupa apa kalau aku sedang marah sama dia dan Lofa/Farel. Oiya, ingatkan nama sayangku dari mereka adalah Metis.
"Ck! Cair, apaan sih lo! Minggir nggak! Aku masih marah ya sama kamu sama Lofa!", sungutku kasar sambil mendorong Lashon pergi dari sampingku. Bel istirahat memang sudah berbunyi sesaat setelah aku mulai makan.
"Dih ngambekan lo Tis, gue sama Lofa bercandaan doang kalik", kata Lashon menjelaskan.
"Iya Tis, gue tadi bercanda doang kok sama Cair. Maaf ya", kata Farel merayuku.
"Nggak! Nggak ada, aku masih marah ya sama kalian berdua!" jawabku ketus agar mereka tau aku benar-benar kesal.
"Apa-apaan, alasan mereka ngga bermutu banget. Nggak logis sama sekali. Mana ada bercanda sampe buat Lofa mati kutu gitu. Difikir gue bodoh apa!", batinku berteriak.
("Iya.. lo emang nggak goblok. Tapi lo nggak peka! Dasar munaroh!", - author)
"Owhhh, yaudah ntar lo pulang sendiri kalok gitu. Mamah sih tadi udah nitipin lo ke gue suruh anter lo pulang. Soalnya sopir lo baru pergi sama kak Aile ke mall. Lofa juga lo ambekin kan? Nah, yaudah.. lo pulang pake taksi aja kalok gitu. Nyasar-nyasar deh lo!", kata Lashon sambil duduk agak mundur.
Aku pun sedikit terdiam mencerna kata-katanya.
"Ihh, kok gitu", panikku dalam hati karna memang aku belum hafal jalanan Surabaya.
"Kok kalian gitu sih ke gue, emang tega gue pulang naik taksi? Kalau aku diculik gimana, ihhhh aku aduin deh kalian ke Bang Zain!", aku pura-pura cemberut dan hendak menangis, tapi tak digubris mereka. Aku yang kesal diacuhkan langsung menghubungi Bang Zain via chat.
.
.
.
Dalam hitungan ke 3 setelah chatku dibaca oleh Bang Zain, HP Farel pun berbunyi. Farel langsung menatap ke arahku mendelik dan aku melihatnya balik, lalu menjulurkan lidahku.
"Ha-Hallo Bang Zain.. Apa kabar?", basa-basi Farel sambil tergagap.
"...", Bang Zain.
"I-iya Bang, e..eeng..enggak kok! Mana tega Bang.. Gue sama Lashon cuman bercanda tadi Bang.. ngga mungkinlah kita tinggalin Met-Lian Bang", Jawab Farel halus terbata.
"...", Bang Zain.
"I-iya Bang, siap. Oke bang, bye Bang", jawab Farel lalu mendelik ke Lashon dan mengarahkan jempol kanannya ke leher (memperagakan simbol dibunuh).
Lalu tak lama setelah itu telfon pun mati.
Aku hanya cekikikan saat melihat muka Lashon dan Farel tegang. Jangan lupakan sahabatku, geng Farel, dan geng Ben yang memperhatikanku, Lashon dan Farel bertanya-tanya dalam diam.
"Gila lo Tis! Jangan bawa-bawa Bang Zain dong! Canda doang elah.. mana tega gue ninggalin lo!" sewot Farel padaku.
Ya, memang dibanding Lashon..Bang Zain lebih percaya dengan Farel. Entah kenapa,
"Ya kalian sih ngeselin sedari pagi! Mana bercandanya gitu. Huh!", sungutku pada Farel sambil cemberut.
Lalu aku mengembungkan pipiku, menandakan aku kesal namun itu malah membuatku menjadi pusat perhatian para teman-temanku dan geng Farel.
.
Hening...
.
"Ihhhh apaan sih kalian, jangan liatin aku gitu!", kesalku lalu bersidekap dada. Aku berceloteh agar mereka berhenti memandangku.
"Ehem", Farel berdehem.
"Oiya Tis kenalin temen-temen gue. Lo boleh temenan sama mereka juga, gue percaya kok sama mereka. Jadi kalo ngga ada gue atau Cair lo bisa ngandelin mereka. Oke?" ucap Farel padaku, lalu aku menengok ke arah kiriku melihat teman-teman Farel dan Lashon satu per satu.
Aku terdiam, melihat mereka satu-persatu cukup lama.
Ya memang benar, menurutku teman-teman mereka memiliki sifat dan sikap wajar terlihat dari raut wajah mereka. Yahhh kalaupun nakal, ya nakal pada umumnya. Paling mentok suka kobam kayak Farel sama Lashon.
Setelah cukup aku menilai mereka lalu aku membuka percakapan memperkenalkan diri.
"Hei, aku Lian. Grizellian Quenauriste Athena. Sahabat Cair sama Lofa, eh maksudku Lashon sama Farel-tapi mereka berdua suka manggil aku Metis, kalian jangan bingung ya. Aku sama kelas IPS.. cuman aku di IPS 2, salam kenal ya semoga betah temenan sama aku. Hehe", kataku kuakhiri dengan cengiran khasku ketika berbasa basi. Membuat mereka sekali lagi terdiam ntah kenapa.
"Ehem"
"Hei, nama gue Bonddane Osmond, panggil aja Dane!"
"Kenalin gue Qeshaun Raid Wadihan, Raid"
"Gabehellen Jax, panggil aja Gab atau Jax. Tapi biar sama kayak yang lain, Gab aja deh."
"Nizar, Luzman Qadr Nizarhyatt sahabat Raid dari SMP. Lo bisa andelin gue kalo semisal Lashon sama Farel ngga ada", ucapnya tiba-tiba, terdengar agak dingin seperti Farel.
Aku sedikit mengerutkan dahiku karna bingung, tapi karna mereka sahabat Farel dan Lashon aku pun percaya.
"Oke deh!" seruku menjawab Nizar.
"Wow, wow, wow, kenapa nih Nizar ngga biasa biasanya"
"Sejak gue sahabatan sama dia dari SMP, baru kali ini gue liat si tukang berantem ngecengin cewek!", ucap Raid.
"Eh! Apaan lo Zar. Jangan coba-coba deh lo suka Metis gue!", ucap Lashon tegas sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Lian.
"Kagak anying, gue cuman liat Metis lo itu berharga banget buat lo berdua. Jadi gue cuman mau bantu jaga aja anying!", jawab Nizar.
"Haha Lashon mukanya serius banget anying!", cletuk Dane.
"Gue percaya sama lo!", Farel menjawab serius kata-kata Nizar sebelumnya.
.
Jawaban Farel yang terkesan dingin tapi menerima membuat kita dalam keheningan sesaat.
.
Farel memang keturunan ke 2 mafia atau geng besar di Rusia, jika diurutkan di dunia menduduki posisi terbesar dan terkuat ke 2 dunia. Posisi Farel adalah keturunan ke 2, sehingga jika keturunan pertama lengser maka akan digantikan oleh Farel. Bisa lo bayangin kan sekuat apa dia. Hii serem.
Aku kurang tau kenapa Farel bisa percaya sama mereka. Mungkin Farel sebelumnya telah meng-hack identitas sipil keempat sahabat barunya. Ya, bukan pekerjaan sulit untuknya menyadap data komputer. Apalagi yang auto connect dengan sambungan internet.
Sepengetahuanku hanya aku dan Bang Zain yang diberitahu Farel bahwa dia keturunan mafia besar di Rusia yang entah apa namanya dan yang terkuat siapa (karena aku sendiri tak diberitahu nama mafianya, apalagi mafia lainnya kan).
Aku dan Bang Zain percaya karena saat itu Farel memperlihatkan pistol dibalik bajunya dan tattoo yang ada di lengannya simbol mafia (berisi cip ditengah gambarnya).
Hal ini pun Farel ceritakan karena aku tidak sengaja menerima telfon dihpnya ketika dia berenang bersama Bang Zain di rumahku. Karena namanya tertulis "Emer" kufikir dia pacar Farel, tapi teryata..
"Emergency" maksudnya.
.
Kembali ke laptop!
.
"Eh enak aja, nggak..nggak! Nggak ada. Pokoknya salah satu dari kita harus ada dan bisa waktu Metis butuh Lof. Itukan perjanjian dari awal. Lo lupa kalok yang dipercaya sama Bang Zain cuman kita?" tolak Lashon.
"Gue percaya sama dia. Toh makin banyak yang jagain Lian makin bagus kan? Lo tenang aja, percaya sama gue. Kalo Nizar apa-apain Metis kita, gue sendiri yang bakalan bunuh dia pake tangan gue depan bijih mata lo." Jawab Farel tegas, lalu Farel menatapku.
"Percaya sama gue, lo tau lah", lanjutnya sambil bersmirk.
"Eh njir, kaga usah senyum lo! Senyum lo serem taik! Udah, gantian dah temen si Lian kenalan. Masak kita doang yang kenalan, ya nggak", kata Gab menyela lalu menaik turunkan kedua alisnya sok keren. Padahal sebelumnya dia hanya diam.
"MODUS!", teriak Dane, Raid, dan Lashon bersamaan. Bisa gitu ya, haha.
"Eh iya kenalin ini ....", ucapku terpotong Rosa.
"Kita bisa kenalan sendiri ih! Gue Rosa, Cleopathe Zanna Azkiea Rosalind temen sebangku Lian, otw sahabat inshaAllah jika Allah, Lian, dan gue menghendaki", celoteh Rosa yang memang sudah kukira dia tipikal orang yang tak bisa diam sepertiku.
Disambut geleng-geleng oleh Farel.
"Gue Naya, Ivajovita Nayara Meisie salam kenal", singkat Naya.
"Anya, Ayunindya Fawnya Gayatri sahabat Naya dari SMP", kata Anya lalu tersenyum manis.
Aksi kenalan kami pun terpotong saat pesanan geng Farel datang. Saat Farel dan Lashon berdiri hendak duduk di mejanya untuk makan, aku langsung menarik tangan Lashon dan mengintrupsi mereka sebelum beranjak.
" Cair tunggu! Kenalin juga, mereka berempat temen-temen aku juga Lof!", kataku ke Lofa.
Lofa tau maksud pandanganku untuk mencari tau latar belakang keempat teman priaku itu.
"Gapapakan?", alih pandangku ke Farel.
"Iya, gapapa Tis. Kenalin gue Lashon dia Farel, kita sahabat Lian sejak SMP. Mereka berempat sohib gue sekelas.. Dane, Raid, Gab, sama Nizar. Ntar kita kenalan dibelakang aja ya bro sesama cowok setelah ini. Mabaran kita", ucap Lashon sambil merangkulku lalu berdiri mengacak rambutku dan menghadap ke arah geng Dennis.
"Yoi, kita-kita denger kok. Gue Ben, ini Dennis, ini Gahar, trus yang ini Tio", jawab Ben.
"Ntar kita kenalan lagi aja habis makan sob! Atau nongki ntar malem", seru Tio menimpali. Dijawab anggukan Dennis dan Agar.
"Alah kobam baru iya", celetukku dijawab kekehan Lashon.
"Tau aja lo", kata Lashon.
"Nggak Li. Mabar kita, atau buat grup ehem-ehem juga boleh tuh", celetuk Gab.
"Gue sih nggak percaya kalok ngga kobam", celetuk Naya pelan.
"Eh istighfar lo! Ngomong nggak pake Bismillah tuh mulut!", ucap Rosa pada Gab.
Dijawab kekehan oleh Gab dan cowok lainnya, kecuali Farel dan Nizar yang hanya tersenyum.
"Gue sama Lashon nitip ni bocah ya, kalo ada apa-apa di kelas lo semua hubungin aja kita berdua", kata Farel ke Dennis cs.
"Apaan sih!", seruku ke Farel.
"Nurut aja sih Tis.. enakin aja apa susahnya sih. Ini mah urusan cowok!", jawab Lashon sambil membenahi rambutku yang diacaknya, lalu beranjak dari mejaku.
Kulihat Farel hanya tersenyum ke arahku lalu beranjak untuk makan. Aku pun meneruskan makanku yang terhenti. Sesaat setelah aku selesai makan, aku kembali melihat ke arah Farel yang makan sambil memainkan HPnya. Tak lama setelah itu dia selesai dengan makannya. Merasa diperhatikan, Farel menoleh ke arahku lalu tersenyum.
.
.
Ting!
Ting!
.
.
Notifikasi pesan di hpku berbunyi, ya...bukan pesan dari aplikasi sosmed seperti Line-Whatsapp ataupun SMS, tapi aplikasi "S" khusus yang ditanamkan dihpku oleh Farel tentunya, fungsinya untuk mengirim hal-hal yang bersifat rahasia.
Saking rahasianya saja, membuka aplikasi ini harus menggunakan sandi, sidik jari, scan muka, dan scan pupil mata. Keren kan..
.
.
.