At The Moment

At The Moment
34. Tanpa Farel 4



Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.


Mohon dukungannya mentemen


❤️❤️❤️


.


.


.


Aku berjalan mengekori Lian ke arah meja makan. Bau harum yang terasa manis mendominasi ruang makan, bahkan sampai tercium dari luar rumah. Aku kemudian duduk dimana aku duduk kemarin saat sarapan. Tak begitu lama, Papa Lud/Zeus datang menggunakan baju Polo dan celana jeansnya. Papa Zeus menyapa lalu duduk di kursi utama. Kita lalu berbincang-bincang layaknya ayah dengan anak.


"Nizar tinggal di daerah mana?", tanya Zeus.


"Nggak jauh kok om, cuman di Citraland"


"Papa dong, jangan om. Biasain", kata Papa Zeus.


"Iya om-eh pa", jawabku canggung.


"Santai aja Zar, sering-seringlah besok kesini. Atau kita ngomong pake bahasa Jawa biar keliatan lebih deket? Haha"


"Boleh pa, nanti Nizar sering-sering deh kesini. Nggak enak kalok ngomong Jawa ke papa hehe", kataku.


"Alah ngga masalah, santai aja pokoknya di rumah ini. Oiya, kapan-kapan kita pergi olahraga bareng atau mancing bareng ya sama anak-anak yang lain?", tawarnya.


"Wah, mau om-eh pa. Kebetulan Nizar juga suka mancing pa. Biasanya kalok sama ayah Nizar sebulan sekali juga pasti mancing. Ayok deh pa, ntar Nizar ajak ayah Nizar. Boleh kan pa?!", jawabku senang.


"Boleh dong, Papa malah seneng dapet relasi baru..."


"Ngomongin apa sih, sampe Bolu mama dianggurin gitu?", Mama Metis tiba-tiba datang membawa hasil kue yang dia buat untuk mamaku.


"Ini mah urusan pria, cewek ngga boleh tau. Ya ngga Zar?", jawab papa.


"Iya dong pa, hahaha", jawabku mulai bisa membaur dengan mereka.


"Asik juga", fikirku.


"Ih papaaaa!!! Bukan Nizar loh!!! Hyatt namanya Hyatt.. kita panggilnya Hyatt papaaaaaa, kayak Cair sama Lofa itu lohh ih", kata Aile yang keluar dari dapur menuju meja makan.


"Iya-iya, kan papa ngga tau. Kalian sih ngga briefing papa dulu sebelumnya. Hahaha"


Semua pun tertawa termasuk aku. "Asik" fikirku lagi. Kulihat Lian juga keluar dari dapur dengan membawa susu lalu diletakkannya di sampingku.


"Kalian nih ya, bercanda tapi nggak nungguin Quena! Kan Quena jadi ketinggalan!", marahnya.


"Dih, siapa looo", jawab Aile membuat kikikkan kedua orang tua Lian. Sedangkan aku hanya memperhatikan debatan kedua saudara kandung itu sampai masing-masing dari mereka duduk dan saling diam.


"Sudah-sudah sekarang sarapan, Lian ambilkan untuk Hyatt ya", kata papa.


"Hmmm"


Papa dibuatnya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, setelah perdebatannya dengan Aile dia ngambek ke semua orang. Tapi lucunya, Lian tetap melaksanakan permintaan papanya.


"Mau makan apa?"


"Quena, yang sopan sayang", kata mama Metis.


"Ck! Iya. Hyatt mau makan apa? Quena ambilin..", katanya.


"Quena? Gue juga panggil lo itu?", tanyaku.


"Hah? Oh.. Em, iya om. Eh pa", jawabku.


"Udah ih, Hyatt mau makan apa?", tanya Lian lagi.


"Aku nasi goreng aja, sama ayam bumbu rendangnya", jawabku. Aku mengambil keuntungan makan enak masakan mama Metis.


"Udah ini aja? Kok dikit?"


"Habis makannya nasi goreng, trus lauk yang pas emang apa lagi?", tanyaku.


"Sama salad sayurnya mamah ya? Enak kok, kan udah dicampur sama mayo dll. Mau?", kata Lian.


"Em, nanti gue ambil sendiri deh.. eh, aku!", kataku panik.


"Wkwk, ngga usah heboh gitu dong!", kata Aile diikuti dengan tertawaan semua yang ada disitu kecuali aku. Aku? Aku hanya menahan malu sambil menggaruk-garuk rambut atas tengkukku.


Setelah makan kita berlima pergi menggunakan mobil papa Lian. Lebih tepatnya mobil yang sering Lian gunakan untuk berangkat sekolah bersama supirnya. Ah dan ya, kali ini aku yang jadi supirnya.


Hm, baru juga diangkat anak udah jadi kayak pembokat. Sesampainya di dekat mall, papa Lian memberitahuku untuk memberhentikan mobil di petugas valet (petugas yang biasanya membantu memarkirkan mobil untuk tamu).


Aku hanya mengiyakan perkataan papa Lian, kemudian memberhentikan mobil di depan petugas valet. Saat aku keluar dari mobil petugas valet sedikit berbincang hormat dengan papa Lian. Sedangkan lainnya hanya mendengarkan.


"Nizar Hyatt, sini nak..", papa Lian memanggilku untuk mendekat. Ya, aku memang berdiri di belakang Lian dan Aile.


"Kenapa pa?", tanyaku saat sudah di sampingnya.


"Pak kenalkan, ini Nizar anak angkat saya selain Farel dan Lashon. Jadi minta bantuannya ya kalau dia sedang kemari. Nanti fotonya saya kirim via chat ke bapak", kata papa Lian ke petugas valet yang sudah agak tua.


"Baik tuan, salam kenal ya mas", kata bapak itu.


"Oh, iya pak", jawabku sambil menganggukan kepala.


"Ya sudah kami masuk dulu ya pak", kata papa Lian.


"Iya pak, silakan", kata bapak valet.


Papa Lian berjalan mendahuluiku disusul mama Tisha. Sedangkan aku berada di samping Lian dan kak Aile. Kami berjalan masuk, tak jarang petugas mall menyapa papa Lian.


"Itu kenapa mereka nyapa papa lo Tis?", tanyaku berbisik ditelinga Lian. Dia kemudian menoleh ke arahku sambil terkekeh.


"Cie, udah biasa panggil Metis yaa haha", goda Lian padaku.


"Ck! Tinggal jawab juga", sungutku kesal.


"Haha, maaf deh. Iya, soalnya ini mallnya papa", jawab Lian.


Oh pantes saja, mereka terlihat sopan. Kami berjalan ke arah IKAE untuk membeli perlengkapan kamar sesuai tema yang gue pengen. Setelah memesan untuk diantar ke rumah, kita membeli beberapa perlengkapan ke AEC, dan beberapa baju di Zere dan Uniqgue. Mama Tisha juga mengajak kita makan bersama. Sebelum kita makan bersama aku sempat menemani Lian ke gerai Catten membeli beberapa sweater untuk Lian, aku, Aile, Bang Zain, Farel, dan Lashon. Oiya hari ini semuanya papa Lian yang membayar. Ketika aku membeli baju dengan Lian, Lian juga menolak untukku mengeluarkan uang. Katanya, papa Zeus ngga suka dicampuri  saat memberikan sesuatu. Bahkan sepeserpun uangku tak mereka terima. Aneh fikirku, sekaya apa mereka.


Selesai mencari keperluan kami semua langsung pulang. Hanya saja aku masih diminta untuk tetap tinggal dirumah Lian. Papa Lian mengajakku ke ruang kerjanya dan memintaku menandatangani 2 buah berkas yang ntah isinya apa. Karna kurasa berkas itu tak mencurigakan jadi akupun tak masalah menandatanganinya. Aku sedikit berbincang dengan papa Zeus sampai akhirnya Aile memanggilku untuk bermain PS bersamanya. Sedangkan Lian, entahlah. Sepulang dari mall dia langsung masuk kamarnya dan tak kembali keluar, mungkin dia tidur karena kelelahan.


Saat menjelang makan malam mama Tisha memanggil kita untuk turun ke bawah makan malam. Disitulah aku melihat Lian. Kulihat dia seperti habis menangis. Tapi kenapa? Yang kutau saat pergi denganku dia baik-baik saja. Bahkan dia sering kali menertawakanku yang kebingungan karna ulah mama Tisha yang tak berhenti memilihkanku pakaian sampai aku kewalahan.


Dia tersenyum kepadaku, seakan menutupi wajah sembabnya. Lian juga mulai menyapa dan berbincang dengan yang lainnya. Ah, munafik. Aku dan mereka sama saja, menutupi keingintahuan kita sebab Lian menangis. Kita tau wajah Lian yang sembab tapi tak tau harus berbuat apa. Bahkan kita seolah-olah tak mengetahuinya. Bertanya pun segan rasanya. Ah sudahlah, aku hanya menikmati makan malam ini lalu pulang ke rumahku. Lelah rasanya...


.


.


.