At The Moment

At The Moment
22. My First



Di Ruang Musik


Lian langsung masuk ke ruang musik setelah menukar sepatunya dengan sendal. Setelahnya Lian langsung menemui gurunya dan memainkan sebuah lagu dengan piano di ruang musik itu. Diruangan lain terdengar ada yang memainkan gitar terdengar pelan.


Terasa sepi karena hanya ada Lian dan gurunya di ruangan itu. Memang tidak ada kelas yang sedang menggunakan ruangan musik pada jam itu. Rasa sepi didukung dengan ruangan musik yang luas dan ada banyak ruang. Tiap alat musik memiliki ruangannya sendiri muat menampung 40 orang per ruangannya.


Saat 1 lagu selesai, Lian keluar dari ruang piano sedangkan gurunya masih di ruang piano untuk membuat lagu. Lian berjalan hendak menukar sepatu dan sendal yang dia gunakan di rak yang sudah disiapkan oleh sekolah. Tapi, dia melihat ada seorang siswa yang sepertinya Lian juga kenali sedang mengambil sepatunya.


"Loh Sean, kamu disini juga?", tanya Lian.


"Eh Lian, iya nih. Perasaan baru kali ini aku liat kamu di ruang musik jam segini, tumben", kata Sean.


Ya, Seanlah yang Lian temui di rak sepatu ruang musik.


"Ih! (Kesalku memukul lengan Sean) Aku emang baru kali ini paparan sama kamu, tapi aku tiap hari kesini ya. Harusnya aku yang tanya ngapain kamu ada disini jam segini?!", kata Lian.


"Hahaha, aku kan ngomong bener. Dari dulu kelas X sampe kemaren, baru kali ini aku liat kamu keluar ruang musik. Dan sebenernya aku sekarang disini gara-gara habis bolos kelas sih hehe habis bosen. Jadi aku ke ruang musik deh", kata Sean.


"Yeee itu mah berarti kamu aja yang g pernah liat aku, sekalinya liat karna kamu bolos. Kan?", tanya Lian dijawab anggukan dan cengiran oleh Sean lalu Sean berjalan menuju kursi untuk menggunakan sepatunya.


"Huu dasar! Tadinya kayak orang ngatain, eh ujung-ujungnya dia sendiri yang dikatain haha", ucap Lian lalu duduk di samping Sean mengambil kaos kakinya kemudian memakainya.


"Tapi emang bener ya. Baru kali ini aku liat kamu disini. Padahal gue sering banget loh ke ruang musik. Saking seringnya sampe kayaknya dulu tiap hari gue kesini. Baru ini kali pertama gue ke ruang musik setelah semester baru ini. Dan lo, lo ngapain kesini?", kata Sean.


"Hah? Seriusan? Ngapain coba ditempat sesepi ini. Aku mah g mau ditempat kayak gini sendirian. Aku disini juga kepaksa karna harus latihan piano buat lomba sekolah. Padahal sebenernya aku g naik, tapi g tau tuh siapa yang daftarin aku! Huh, Ngeselin bang - l - loh - e - ehh-- -", Lian kaget Sean berjongkok dihadapannya memegang sepatu Lian.


"Biar aku aja", kata Sean mengikat tali sepatu Lian.


" Biar aku aja", kata Sean berjongkok dihadapanku yang tadi duduk dikursi sampingnya, lalu Sean menunduk mengikat tali sepatuku.


Deg


Deg


Deg


"Se-Sean, ja-jangan.. ngga usah, aku bisa sendiri kok", ucapku merunduk mengalihkan tangannya dari tali sepatuku.


"Udah biar gue aja, biar kamu nggak perlu nunduk-nunduk", ucapnya sambil mengikat tali sepatuku yang sebelah (sebelahnya udah aku ikat sendiri sebelumnya).


"Ha-hah S-Se-", ucapku terpotong lagi.


"Selesai", ucapnya lalu mendongak ke arahku. Aku yang masih merunduk saling bertatapan dengannya, bahkan ujung hidung kita berdua saling bersentuhan.


Aku mencium bau mint dari mulutnya dan bau woody-citrus dari parfumnya membuat aku makin terpaku menatap matanya. Dia pun sama, pandangannya seperti masuk ke dalamku.


Deg


Deg


Deg


Degup jantungku kembali berdetak lebih cepat dibanding sebelumnya, aku seperti hilang kesadaran dibuatnya. Kurasa dia pun sama. Kulihat dia memiringkan kepalanya semakin mengikis jarak diantara kami berdua. Ntah apa yang sedang kufikirkan hanya secara alamiah aku menutup mataku, degup jantungku semakin menjadi dapat kurasakan tanganku dingin.


Saat aku merasa ada sedikit sentuhan dipermukaan bibirku, aku mendengar ada suara hp berbunyi. Aku pun tersadar lalu aku langsung menegakkan tubuhku mengambil kesadaranku.


"Shit! Maaf", ucap Sean. Aku masih belum sadar sepenuhnya lalu mengangkat telfon di hpku.


"Ya, de-dengan Lian", ucapku terbata karna detak jantungku tak bisa diajak bekerjasama.


"Lian, lo lama banget sih. Siomay lo dingin nih!"


.


.


.


" Lian? Lo denger ngga sih?!", kata Rosa lagi karena aku masih belum menjawab.


"Y-ya, aku ke-sana ssssekarang", jawabku.


Bahkan aku tak membaca siapa yang menelfonku saking gugupnya, aku hanya menebak itu Rosa setelah kudengar suaranya.


"Lo kok gu-"


Tut


Segera kumatikan telfon dari Rosa takut dia semakin curiga dengan kegugupanku.


"Shit! Hampir saja. Tapi aku sudah merasakan sentuhan permukaan bibirnya. Wangi stroberi-vanila bercampur dengan aroma musk dan patchouli membuatmu terkesan misterius dan sexy secara bersamaan. Ah kenapa aku baru merasakannya. Seharusnya aku melakukannya mencoba menciumnya dari dulu", batinku saat masih terpaku mengagumi sedikit rasa sentuhan barusan.


"SHIT! A-APA! CIUM-AN! Apa itu sudah disebut ciuman? Njirrrrrrr aku kelepasan!", batinku setelah kesadaranku kembali.


Kudengar dia tergagap menjawab telfon dari seseorang, lucu fikirku. Dia pasti sama gugupnya sepertiku, mukanya merah menandakan dia sedang salah tingkah dan menahan malu.


Setelah dia menutup telfonnya, dia langsung terpaku lalu menunduk.


Menggemaskan.


"Kamu blushing ya?", tanyaku menggodanya.


"Ha-hah?", katanya tergagap lalu menunduk menatapku.


Aku lalu berdiri dan tersenyum ke arahnya lalu mengulurkan tanganku untuk mengajaknya pergi.


"Ayo!", kataku.


"Ha-hah? Ma-mau ke-kemana?", ucap Lian mendongak ke arahku.


Akupun lalu menarik pergelangan tangan kirinya agar berdiri.


"Ayo ke kantin, pasti sahabatmu sudah menunggumu", ucapku lalu menarik tangannya berjalan di belakangku.


Aku lalu menengok ke belakang, kulihat dia masih menunduk. Akhirnya ku lepaskan tangannya lalu aku berhenti dan berbalik ke arahnya.


Dug


Dia menabrak dadakku lalu dia mendongak menatapku.


"Ke-kenapa kamu berhenti?"


"Jangan menunduk, nanti kamu terjatuh. Atau, kamu mau kugandeng terus sampai kantin?", tanyaku.


Dia menggeleng cepat tanpa menjawab. Akupun berbalik lalu berjalan diikuti dia di belakangku.


Sesampainya di kantin aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling mencari tempat duduk sahabat Lian dan sahabatku, setelah aku melihat mereka aku lalu berbalik ke arah Lian.


"Itu sahabatmu, gih kesana", ucapku sambil menunjuk ke arah sahabat Lian.


Dia lalu mendongak melihat ke arah yang ku tunjukkan lalu mengangguk.


"Temanku disana (menunjuk ke arah sebaliknya), gih sana.. pergilah. Pulangnya kuantar ya", tambahku.


Kulihat dia belum sepenuhnya sadar hanya mengangguk lalu pergi ke arah temannya. Karena aku khawatir jadi aku tetap melihat ke arahnya yang masih saja berjalan menunduk ke arah sahabat. Aku hanya terkikik geli, lalu setelah dia sampai mejanya aku berjalan ke arah mejaku.


Sesampainya aku duduk di mejaku aku lalu melihat ke arahnya yang ternyata dia juga menatap ke arahku. Tatapan kita bertemu selama berberapa detik lalu dia memutuskan kontak matanya dan kembali menunduk membuat aku terkekeh.


"Lo kenapa sih Se?" tanya Richard.


"Kenapa emang?"


"Ya itu, aneh. Ketawa-ketawa sendiri", kata Richard aku hanya mengedikkan bahuku lalu memakan mie yamin yang dipesankan oleh Galvin.


"Lo ke kantin bareng Lian?", tanya Knox ku jawab anggukan.


"Kenapa bisa bareng? Lo janjian?", tanya Arran dengan tatapan agak dingin.


"Nggak, ketemu di ruang musik", jawabku masih sambil makan.


"Trus kenapa Lian tadi nunduk?", tanya Galvin.


Aku lalu melihat ke arah Galvin lalu ke arah Lian dan mengedikkan bahuku.


"Jangan bilang lo mulai suka sama Lian?", tanya Knox.


"Kalian kenapa sih jadi kepo banget kayak cewek, gue cuman bareng gara-gara habis dari ruang musik aja ribut lo pada. Heran", jawabku lalu kembali memakan sisa mieku.


"Lo nggak lagi mau bales Lian pake caranya Knox kan Se?", tanya Arran.


"Gue nggak akan pernah setuju kalo lo balas dendam Se", ucap Galvin.


"Woi woi, kenapa berasanya gue yang kayak orang jahat ya", kata Knox.


"Yee! Ya emang lo jahat! Hahaha", kata Richard.


Aku hanya acuh terhadap percakapan mereka, menurutku tak penting aku suka dengan Lian atau tidak. Memang sempat juga terbesit difikiranku mengiyakan saran Knox, tapi kufikir aku tak bisa melakukannya. Aku cukup memiliki hati untuk tidak menyakiti seorang perempuan, karena aku dilahirkan dari rahim perempuan.